
Malam telah tiba …
Seperti biasanya, rembulan selalu muncul. Kebetulan malam ini sedang terang bulan. Udara sejuk terasa nyaman saat menerpa tubuh. Pohon-pohon bergoyang lembut melambai seperti lambaian kekasih.
Kelelawar berdecit bersahutan diselingi suara lolongan serigala ataupun jangkrik.
Di rerimbunan pohon, lima sosok sedang berdiri dalam jarak berdekatan.
Mata mereka mencorong tajam di bawah gelapnya malam. Persis seperti harimau yang sedang mengincar mangsanya.
Mereka tak lain adalah Huang Taiji, Chen Li, Ye Xia Zhu, Yuan Shao, serta Li Meng Yu. Lima orang itu sedang mengawasi puluhan tenda darurat yang terdapat beberapa puluh tombak di depan mereka.
Obor menyala di setiap sudut. Lentera menyala di setiap tenda. Suasana di sana, sekarang jauh lebih terang daripada malam kemarin. Sepertinya orang-orang tersebut memperketat penjagaan setelah mengalami kejadian pahit yang harus rela kehilangan nyawa beberapa puluh prajurit dan tiga Pendekar Dewa.
Saat ini Huang Taiji dan yang lainnya sedang menunggu waktu yang tepat untuk memulai rencana mereka. Pendekar Pedang Tombak sedang menunggu rembulan tepat di atas kepala.
Saat itu menandakan tengah malam. Di mana orang-orang di dalam tenda sedikit banyak pasti terlelap bersama mimpinya masing-masing. Saat itulah orang-orang tersebut akan melancarkan gebrakan pertama.
"Hahh, waktunya tinggal sebentar lagi. Sebentar lagi bulan tepat di atas kepala kita," kata Huang Taiji sambil memandangi rembulan dari celah-celah rimbunnya daun pohon.
Yang lain juga ikut menengadah ke langit. Bagaimanapun juga, orang-orang tersebut merasa tegang. Mereka tahu bahwa hal yang akan dilakukan adalah sesuatu yang sangat berbahaya.
Sedikit saja salah bertindak, bukan tidak mungkin kalau nyawa mereka jadi jaminannya. Apalagi dengan jumlah musuh yang beberapa kali lipat jauh lebih banyak.
Walaupun kekuatan mereka terbilang tinggi, tetap saja bahaya selalu mengintai. Kapanpun, nyawa mereka bisa melayang.
"Nona Zhu, kau bersama Shao'er dan Yi'er pergi ke sebelah Barat. Kalian menyerang dari sana. Sedangkan aku dan Li'er menyerang dari sini. Dua titik ini menjadi pusat berkumpulnya para penjaga. Dengan begitu kita akan menghabiskan mereka secara cepat. Aku minta jangan ada rasa belas kasihan, lebih cepat membunuh mereka akan lebih baik," kata Huang Taiji Lu memberikan perintah.
"Baik Tuan Huang. Apakah ada perintah lainnya?" tanya Ye Xia Zhu.
"Ada, kau harus membunuh mereka semua. Jangan ada yang tersisa. Kalau membunuh tanpa suara, aku rasa itu jauh lebih baik lagi. Setelah berhasil, nanti aku akan bersiul. Itu tanda supaya kau segera menerjang membebaskan Xiuhan'er bersama yang lainnya. Setelah itu kalian pergi menyelamatkan mereka dulu, setelah itu kalau mau membantu, kalian boleh turun tangan kembali,"
"Baik. Aku mendengar perintah Tuan Huang,"
__ADS_1
Walaupun bukan seorang kepala tetua, tetapi aura kewibawaan yang keluar dari tubuhnya sangat istimewa. Bahkan lain daripada yang lain. Karena itulah setiap orang akan segan kepada Huang Taiji, di samping bahwa dia adalah kakak angkat dari Shin Shui.
"Bagus. Kalau begitu sekarang kalian segera ke sana. Nanti jika aku bersiul, itu artinya tanda untuk bergerak,"
"Baik, aku akan mengingat semua ini,"
Selesai berkata demikian, Ye Xia Zhu bersama Yuan Shao dan Li Meng Yi segera pergi ke sebelah Barat sesuatu dengan perintah Huang Taiji sebelumnya.
Tiga bayangan melesat bagaikan bayangan setan. Hanya beberapa saat saja, mereka sudah tiba di tempat yang sudah ditentukan.
Tinggal menunggu perintah, maka ketiganya siap untuk menjalankan tugas pertama.
Huang Taiji Lu memandang kembali rembulan. Awan kelabu mulai menutup sedikir cahayanya.
"Suda waktunya …" gumam orang tua itu.
"Li'er, kau siap?"
Kekuatan Mata Dewa Unsur Bumi langsung dia keluarkan hingga titik tertinggi. Saat ini bukan waktunya untuk main-main. Lebih cepat lebih baik.
"Suitt …"
Huang Taiji Lu bersiul nyaring. Suaranya melengking tinggi seperti suara burung elang yang menggema di angkasa.
Chen Li dan Huang Taiji segera melesat menerobos rimbunnya pohon. Di sebalah Barat juga sama. Tiga bayangan melesat ke depan seperti tiga ekor burung lang.
Lima sosok bayangan melesat menuju ke lahan luas yang terdapat puluhan tenda. Kecepatan mereka meluncur sukar untuk dilukiskan.
Orang-orang yang berjaga masih setara dengan sebelumnya. Mereka hanya merupakan Pendekar Bumi tahap tiga sampai lima.
Hal seperti ini bukanlah halangan bagi tiga bocah itu. Apalagi bagi Chen Li.
Kemampuan Yuan Shao saat ini berada di tingkatan Pendekar Surgawi tahap lima pertengahan, sedangkan Li Meng Yi Pendekar Surgawi tahap lima awal, menghadapi Pendekar Bumi, tentu bagi mereka sangat mudah.
__ADS_1
Huang Taiji Lu mencari lawan yang lebih tinggi. Sedangkan para Pendekar Bumi dia serahkan kepada Chen Li. Ye Xia Zhu juga melakukan hal yang sama. Dua tokoh itu mencari lawan yang lebih tangguh supaya mempermudah gerakan mereka selanjutnya.
Tiga naga muda telah tampil. Di sisi sebelah sini, Chen Li sedang melesat di antara kepungan Pendekar Bumi. Pedang Awan sudah di tangan, seruling giol hijau telah digenggam. Apalagi yang harus dia takutkan?
"Wushh …"
Bocah itu mirip sukma gentayangan. Ke mana dirinya bergerak, di situ akan ada nyawa yang melayang. Tak kurang tiga puluh Pendekar Bumi sudah mengepung dirinya.
Dengan tertawa dingin, si bocah Pendekar Tanpa Perasaan itu menerjang maju.
Pedang di tangan kiri menebas dalam kecepatan tinggi. Seruling giok hijau menghantam batok kepala lawan atau menyodok ulu hati.
Hanya beberapa saat bergerak, lima belas Pendekar Bumi tewas di tangannya.
Di sebelah Barat, Yuan Shao meloloskan pedang pusaka miliknya. Sebagai cucu dari Kepala Tetua Sekte Pedang Emas, tentu saja jurus-jurusnya sangat berbahaya. Pedang pusaka miliknya juga sangat tajam.
Yuan Shao membentak nyaring. Dia melompat sambil melancarkan tebasan pedang jarak jauh. Tiga kali gelombang terlihat, enam nyawa telah melayang. Bocah itu tidak berhenti sampai di situ saja, pedangnya memainkan jurus kembali. Kakinya berputar mengikuti gerakan tubuh.
Cahaya emas berkilas. Empat Pendekar Bumi roboh bermandikan darah.
Li Meng Yi. Si gadis kecil itu walaupun wajahnya terlihat lucu dan menggemaskan, ternyata sepak terjangnya tidak mau kalah dengan dua rekan mereka.
Dengan dua pedang di tangan kanan dan kiri, dia memperlihatkan taringnya di balik wajah mungil itu. Dia berteriak, dua pedang kembar segera berputar mengurung lawan-lawannya.
Cahaya seputih salju berkilat. Hawa dingin menyeruak, sepuluh kali bergerak, sepuluh nyawa sudah melayang. Kekuatannya memang istimewa, mungkin dia mewarisi kepandaian kakeknya.
Li Meng Yi bergerak lagi. Pedang di tangan kanan menusuk cepat. Pedang di tangan kiri menebas, dia seperti sedang menari dengan gerakan indah.
Tidak berapa lama, tiga Pendekar Bumi telah tewas di tangannya.
###
Pada zaman ini ukuran tubuh bocah 12-an tahun, mungkin sekarang tubuhnya seperti umur 15-17-an tahun. Tinggi-tinggi
__ADS_1