
Shin Shui kemudian berjalan ke arah Sang Ong dan Ong San. Kedua siluman kera bersaudara tersebut terlihat tidak karuan wajahnya. Wajah itu menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus gembira.
Pendekar Halilintar sendiri hanya tersenyum saat menghampiri kedua sahabatnya itu.
"Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanyanya sambil sedikit tertawa mengejek.
"Tuan, ka-kau hebat sekali. Sungguh, jurus yang tadi kau lancarkan adalah jurus terdahsyat yang pernah aku lihat. Apakah iru tingkatan terakhir dari Kitab Halilintar?" tanya Ong San penasaran.
Sebelum menjawab, Shin Shui lebih dulu mencari tempat untuk duduk. Dia duduk di bawah pohon sakura yang selamat dari terjangan badai tadi.
"Tidak, itu bukan jurus terakhir. Lebih tepatnya Amukan Dewa Naga Halilintar adalah penyempurnaan dari Kitab Halilintar itu sendiri. Itu inti sari yang terdapat di dalamnya," kata Shin Shui menjelaskan kepada dua sahabatnya.
"Berarti singkatnya, kau telah mempelai kitab pusaka itu dengan sempurna?"kali ini giliran San Ong yang berkata. Sama seperti saudaranya, dia juga amat penasaran.
"Cerdas,"
"Hemm, kalau begitu, kau juga sudah mempunyai jurus penyempurnaan dari Kitab Tapak Penghancur? Sama seperti Kitab Halilintar, Tuan juga sudah mempelajarinya dengan sempurna?" tanya San Ong kembali.
"Pintar, memang begitulah adanya. Namun aku jarang sekali mengeluarkan jurus penyempurnaan tersebut. Selain membutuhkan banyak tenaga, jurus itu juga terlalu berbahaya. Aku takut orang-orang tak bersalah menjadi korban. Bahkan tadi saja, itu pertama kalinya aku mengeluarkan jurus Amukan Dewa Naga Halilintar," kata Shin Shui memberitahu keduanya.
Kedua siluman kera putih bersaudara itu merasa senang. Itu artinya, mereka adalah siluman pertama yang melihat kedahsyatan jurus penyempurnaan dari Kitab Halilintar.
"Benarkah apa yang Tuan katakan?" tanya Ong San masih tidak percaya.
"Hemm, kapan aku berbohong?"
"Akhirnya aku beruntung juga bisa melihat sebuah jurus sedahsyat itu," kata siluman kera itu lalu berjingkrak kegirangan.
"Kalian tunggu dulu di sini, aku akan masuk ke dalam untuk mencari sesuatu yang berharga," ucap San Ong kepada saudara dan tuannya.
Keduanya mengangguk. Mereka kemudian berbicara lagi sambil sesekali bercanda.
Sementara itu, San Ong sudah melesat cepat ke arah bangunan mewah. Siluman kera tersebut langsung menuju ke titik penting. Terutama sekali ke ruangan tempat penyimpanan harta.
Hanya dalam sekejap, dia telah menemukan ruangan yang dicari. Begitu pintu dibuka, tumpukan koin emas terlihat seperti bukit. Tanpa banyak berkata, dia segera memasukannya ke Cincin Ruang yang dia temukan di kamar Iblis Seribu Wajah dari Timur.
Hanya dalam sekejap, tumpukan koin emas telah masuk ke dalamnya. Ruangan itu menjadi kosong melompong. San Ong tidak langsung keluar, dia mencari lagi ruangan penting lainnya seperti ruangan yang menyimpan berbagai macam sumber daya.
Sama seperti sebelumnya, hanya dengan waktu singkat, dia telah menemukan ruangan yang dimaksud. Siluman kera putih tersebut segera melakukan seperti yang telah dia lakukan. Sumber daya masuk ke dalam Cincin Ruang.
Setelah semuanya dia dapatkan, San Ong ingin segera keluar. Namun niatnya di tahan karena dia melihat banyak daging dan hidangan mewah lainnya di sebuah meja makan. Ada puluhan guci arak juga di sana. Dia mencobanya seteguk.
__ADS_1
"Arak bagus, arak bagus. Ah ini juga, daging yang empuk. Masakan yang enak," San Ong terus mencoba baik itu makanan maupun minuman.
Yang menurutnya enak, langsung dimasukkan ke dalam Cincin Ruang. Setelah dia kenyang, siluman kera itu segera kembali ke tempat saudara dan tuannya berada.
Begitu tiba di sana, San Ong mendapati bahwa Ong San sedang merayu Shin Shui.
"Ayolah Tuan, aku ingin melihat juga jurus penyempurnaan dari Kitab Tapak Penghancur. Pasti kekuatannya tidak kalah hebat bukan, hemm. Aku sangat penasaran sekali," kata siluman kera itu sedikir merengek.
"Tidak Ong San. Aku tidak ingin mengeluarkan jurus itu secara sembarangan. Bisa-bisa tempat sekitar sini akan hancur rata dengan tanah,"
San Ong hanya diam memperhatikan mereka berdua bicara. Dia belum paham betul ke mana arah pembicaraannya. Namun setelah paham, tak sadar sifat usilnya keluar.
Dia menatap Ong San yang terlihat kesal. Tatapan mata mereka bertemu. Sebagai saudara, tentu keduanya dapat merasakan perasaan yang sama.
"Tuan, aku ingin bertanya," kata Sa Ong.
"Katakan,"
"Apakah kau menganggap kami berdua sahabatmu?"
"Bukan hanya sahabat. Bahkan keluarga,"
"Benarkah?"
"Hemm, baiklah. Menurutmu, seorang sahabat atau keluarga, apakah harus membahagiakan keluarga lainnya?"
"Tentu saja. Bahkan menurutku merupakan kewajiban,"
"Baiklah. Apakah kau ingin membuat kami bahagia?"
"Sudah pasti. Aii, kenapa kalian ini malah berbelit-belit. Mau bicara, bicara saja," kata Shin Shui sedikit kesal dan heran.
"Tidak mau. Kami ingin Tuan berjanji dulu akan menuruti permintaan kami,"
"Haishh, baiklah aku berjanji. Katakan apa yang kalian inginkan,"
"Hahaha … itu baru bagus. Kalau begitu, sekarang coba kau perlihatkan kepada kami jurus penyempurnaan dari Kitab Tapak Penghancur. Kalau kau mau melakukannya, kami sebagai sahabat sekaligus keluargamu, akan merasa bahagia sekali,"
Skakmat!!!
Shin Shui terkena jebakan kedua sahabatnya.
__ADS_1
Dia menoleh, menatap San Ong dan Ong San secara bergantian.
"Kalian, berani sekali mengerjaiku," katanya geram.
"Ehh, tunggu dulu. Kau tahu janji seorang pria sejati?"
"Kalau sudah berjanji, seumur hidup takkan diingkari," kata Shin Shui.
"Nah, kau sendiri tahu. Berhubung kau sudah berjanji, maka sekarang coba perlihatkan jurus itu," kata San Ong sambil tersenyum penuh kemenangan.
"San Ong, Ong San …" teriak Shin Shui saking gemasnya.
Dia ingin marah, tapi tidak bisa.
"Awas kalian,"
"Hahaha, sudahlah Tuan. Laksanakan saja janjimu," ejek Ong San.
"Cihh, dasar. Lihat baik-baik," katanya sambil melangkah pasrah.
Dia maju beberapa langkah ke depan. Tubuhnya mengarah ke bangunan mewah. Walaupun sebagian hancur, tapi sebagian lagi masih tampak berdiri kokoh.
Shin Shui mengumpulkan seluruh kekuatannya. Langit yang gelap, bertambah lebih gelap. Angin berhembus kencang seperti sebelumnya. Tubuh Shin Shui mendadak diselimuti aura berwarna hitam mengerikan.
Di belakangnya ada satu sosok. Sosok monster bertanduk tiga dengan mata merah mencorong tajam.
"Menghancurkan Bumi Menggetarkan Alam Nirwana …"
"Gelegarr …"
"Roarrr …"
Suara bergemuruh dan suara satu sosok mirip iblis itu terdengar beriringan.
Shin Shui memukulkan telapak tangan kanannya ke tanah. Seketika tanah berguncang keras. Langit bergetar hebat.
Bangunan mewah yang tadi berdiri kokoh, tiba-tiba ambruk rata dengan tanah karena secara mendadak, bumi meledak menghancurkan semuanya. Bahkan sampai area diluar bangunan tersebut terkena imbasnya.
Sebagian hutan hancur tidak karuan. Tempat di sekitar sana seolah baru saja dilanda badai yang sangat mengerikan. Berbarengan dengan tadi, sosok iblis bertanduk tiga tersebut melesat meratakan apa yang tersisa.
"Jurus yang mengerikan sekaligus sangat menyeramkan," gumam San Ong saat melihat kedahsyatan jurus Shin Shui barusan.
__ADS_1
"Tuan memang benar-benar luar biasa," timpal Ong San dengan tatapan tidak percaya