Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kejutan


__ADS_3

"Hahaha, kalau anggapanmu seperti itu, apa boleh buat?" wakil kepala tetua Sekte Serigala Putih itu tampak tenang walaupun di hadapannya berdiri dua puluhan pengawal Pendekar Dewa


Bahkan dia memperlihatkan senyuman yang mengejek. Walaupun dalam hatinya dia sendiri belum yakin dapat mengalahkan Jendral Besar dari Selatan, tetapi setidaknya dia yakin mampu bertahan beberapa puluh jurus.


Saat ini, si wakil kepala tetua tersebut baru mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap enam akhir. Bahkan dia naik tahapan belum lama ini. Bisa dibilang masih baru dan pondasinya belum sempurna betul.


Sedangkan si Jendral Besar dari Selatan, saat ini dia merupakan seorang Pendekar Dewa tahap tujuh awal. Hanya kira-kira membutuhkan waktu sekitar satu atau dua tahun, mungkin orang tersebut akan naik tahapan lagi.


Kedua orang itu keluar menuju halaman yang luas. Ratusan murid mulai mengelilingi halaman yang sekarang dijadikan tempat untuk pertarungan wakil kepala tetua mereka.


Dua puluh pengawal Jendral Besar dari Selatan mengawal di belakang. Mereka semua berjejer rapi dan selalu siap siaga. Kapanpun dan siapapun yang akan menyerang tuan mereka secara tiba-tiba, maka dua puluh pendekar tersebut akan langsung melindungi.


Rasanya mustahil ada seorang pendekar yang mampu menyerang Jendral Besar dari Selatan secara mulus. Sebab pengawal mereka sangat rapat dan dapar di andalkan.


Jendral Besar dari Selatan sudah berhadapan dengan wakil kepala tetua Sekte Serigala Putih. Jendral besar tersebut berpostur tubuh tinggi. Hampir menapai dua meter. Badannya kekar dengan otot menonjol. Sorot matanya sangat tajam.


Di punggungnya ada dua batang pedang berwarna merah, sama seperti warna pakaian yang paling dia sukai.


Merah.


Kata orang, warna merah itu melambangkan keberanian dan orangnya suka marah.


Entah ungkapan tersebut benar atau tidak. Tapi yang jelas, sosok Jendral Besar dari Selatan, memang bersifat seperti itu. Pemberani, mudah marah, dan yang pasti berani bertindak kejam tanpa ampun.


Kedua sosok telah bersiap. Si wakil kepala tetua memakai pakaian kebanggaannya dari Sekte Serigala Putih. Dia menggunakan senjata berupa cakar yang terbuat dari baja murni dileburkan dengan beberapa mustika siluman serigala.


Sehingga cakar tersebut dia beri nama Cakra Serigala Putih.


Baru saja wakil kepala tetua itu bersiap, secara tiba-tiba, satu pukulan melayang dengan cepat ke ayahnya.


Jendral Besar dari Selatan ternyata memulai pertarungan tanpa bicara terlebih dahulu.

__ADS_1


Dia memang tidak pernah memakai tatakrama dunia persilatan ketika sedang bertarung. Selama dirinya masih ada harapan untuk menang, maka cara apapun akan dilakukannya.


Untung bahwa lawannya seorang wakil kepala tetua. Walaupun dia diserang secara mendadak, tapi pendekar tua itu masih dapat menghindarinya dengan gesit.


Serangan pertama gagal. Serangan kedua sudah menerjang kembali, padahal waktunya hanya selang beberapa detik.


Dari sini saja dapat disimpulkan bahwa Jendral Besar dari Selatan, memang memiliki kemampuan tinggi. Kecepatannya di atas rata-rata. Dan setiap serangan yang dia lancarkan, sudah pasti mengandung tenaga dalam besar.


Dua buah pukulan melayang lagi. Incarannya kali ini ke kepala dan pangkal lengan.


Kalau sampai pukulan tersebut mengenai kepala dengan telak, bisa dipastikan kepala itu akan remuk bersama jeroannya.


Si wakil kepala tetua memiringkan kepalanya supaya terhindar dari pukulan keras lawan. Detik selanjutnya, tangan kanan langsung memapak serangan lawan. Tangan kanannya melancarkan pukulan ke arah perut.


Walaupun kekuatannya berada di bawah Jendral Besar dari Selatan, tetapi dalam segi kecepatan, nampaknya si wakil kepala tetua itu masih unggul satu tingkat.


Terbukti sekarang, Jendral Besar dari Selatan tidak mampu menangkis pukulan tersebut. Lebih tepatnya, tidak sempat karena gerakannya lebih lambat dari gerakan lawannya.


"Bangsat. Ternyata kau memang benar ingin mencari masalah denganku. Hari ini, kalau Sekte Serigala Putih tidak hancur lebur bersama tanah, maka jangan sebut aku Jendral Besar dari Selatan," kata dia sangat marah sekali.


"Apakah yang kau katakan itu benar? Hahaha … aku sangat tidak percaya dengan omong kosongmu itu Jendral busuk," balas si wakil kepala tetua sambil tertawa terbahak-bahak.


Sebuah suara tawa yang menggelegar di telinga. Bahkan mengeluarkan kekuatan tersebut yang dia tujukan khusus untuk musuh-musuhnya.


"Apakah kau mengira ucapanku bercanda? Hahaha … kau salah besar. Aku bisa menyuruh para pengawalku untuk mencari bantuan. Kau kira murid-muridmu mampu menghentikannya?" kali ini gantian, giliran si Jendral Besar dari Selatan yang tertawa penuh rasa percaya diri.


Namun saat dia tertawa, wakil kepala tetua ternyata ikut tertawa pula. Hal ini menjadikan Jendral Besar dari Selatan terheran-heran.


Apakah dia sudah gila? Andai seorang mendapat ancaman bahwa sektenya akan hancur, sudah pasti orang tersebut akan kebingungan dan sedih. Atau mungkin sangat marah.


Tetapi orang yang ada di hadapannya, dia malah tertawa seolah tidak takut sama sekali. Apa yang terjadi dengannya?

__ADS_1


Jendral Besar dari Selatan nampak berpikir keras. Dia ingin mengetahui apa alasan sehingga si wakil kepala tetua bisa tertawa seperti itu.


'Pasti ada sesuatu di balik semua ini. Hemm, rasanya tidak mungkin dia tertawa tanpa ada alasan,' batin pria kekar tersebut.


Namun sayangnya, sekalipun dia telah berpikir bolak-balik, tetapi tetap saja tidak mendapatkan jawaban apapun.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Jendral Besar tidak tahan lagi menahan rasa penasaran.


"Aku mentertawakan kebodohanmu. Sebegitu percayanya kah kau percaya bahwa sekte ini akan hancur? Hemm, kalau dengan para murid yang ada tidak bisa menghentikanmu, apakah jika dengan ini bisa?"


Selesai berkata, wakil kepala tetua Sekte Bukit Halilintar kemudian bersuit. Suaranya melengking tinggi menembus angkasa raya.


Tidak berapa lama, puluhan murid pilihan menampakkan diri dari tempat persembunyian mereka. Semua sudut langsung tertutup rapat tanpa celah sedikitpun.


Kejutan itu belum membuat Jendral Besar dari Selatan kaget.


Tapi setelah muncul Pendekar Halilintar dan orang-orang yang berada di pihaknya, terlihat raut muka pria angkuh itu mulai berubah.


Jelas bahwa dia sangat terkejut sekali. Rasa gentar dan takut bercampur menjadi satu. Hatinya bergetar juga saat melihat orang-orang tersebut ternyata mempunyai kekuatan yang dapat di andalkan.


Apalagi ada si Pendekar Halilintar. Lengkah sudah masalah yang akan dia hadapi.


"Inikah Jendral yang kau maksudkan wakil kepala tetua?" tanya Shin Shui berbasa-basi.


Seperti kebiasaannya dari sejak dahulu sampai sekarang. Saat ada orang sombong di depan ataupun didekatnya, maka Shin Shui tidak akan tinggal diam. Sifat gilanya keluar.


"Benar tuan. Inilah jendral besar," kata si wakil kepala tetua.


"Hemm, aku kira orangnya gagah. Tidak tahunya hanya seperti ini, sudah jelek, bau, hidup pula," ejek Snin Shui tanpa beban sedikitpun. Bahkan sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut.


Kalau Shin Shui sudah 'gila', maka jangan pernah bicara dengannya. Bisa-bisa kau menjadi sasaran mulut pedasnya.

__ADS_1


__ADS_2