
"Pasti, pasti tuan. Kami akan melindungi tanah air walau nyawa taruhannya. Biarlah kalau ada orang yang berpandangan buruk terhadap aliran hitam karena prilakunya. Tetapi di balik itu semua, ada suatu hal penting yang mungkin tidak dimiliki oleh setiap aliran putih," tegas Hyu Ri.
Ucapan Hyu Ri memang benar. Sesuatu yang belum tentu dimiliki orang-orang aliran putih yang dia maksud adalah rasa kepedulian dan rasa tanggungjawab terhadap Kekaisaran Wei. Tanah air mereka sendiri.
Setiap orang, siapapun di dunia ini, sudah pasti bisa kalau hanya berucap. Banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya benar, memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Dan lain sebagainya.
Tetapi yang jadi pertanyaan, apakah ucapan tersebut dibarengi juga dengan tindakan nyata? Kalau hanya ucapan, bocah kecil pun bisa berucap.
Di muka bumi ini, apapun itu, yang dibutuhkan adalah tindakan nyata. Bukan ucapan semata.
Shin Shui semakin kagum terhadap kepala tetua itu. Rasa hormat dalam dirinya juga bertambah.
"Kagum, sungguh kagum. Semoga karena kejadian yang menimpa Kekaisaran kita ini, akan banyak melahirkan orang-orang seperti senior," kata Shin Shui memujinya dengan tulus.
"Ah, tuan terlalu memujiku. Aku yang tua ini mana pantas menerima pujian semacam itu," ujarnya merendah.
Shin Shui mengangguk. Dia menenggak arak dalam gelasnya. Semua orang yang ada di sana berbincang ringan membahas semua persoalan.
"Senior, kapan kau rencana membetulkan sekte?" tanya Shin Shui.
Saat ditanya demikian, Hyu Ri tidak menjawab. Dia hanya menggeleng sambil tersenyum kecut.
Bagaimana mungkin dia mampu merenovasi sekte? Sedangkan semua harta telah habis dilahap api. Cincin Ruang? Cincin Ruang miliknya meskipun terdapat harta kekayaan, tetap tidak akan cukup unruk merenovasi sektenya yang telah hangus terbakar.
Semua bangunan hancur. Belum lagi keadaan lainnya. Tentu hal tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Untuk membuat kekacauan di Kekaisaran Wei, rasanya tidak mungkin. Apalagi sekarang sedang dilanda bencana.
Karena alasan itulah dia tidak menjawab pertanyaan Shin Shui.
Terkadang sebuah senyuman bisa bermakna lebih dalam dari sebuah ucapan.
Shin Shui paham betul dengan keadaan Sekte Kayu Hitam sekarang. Karena itulah jiwa kepeduliannya muncul ke permukaan.
"Senior, dalam Cincin Ruang ini terdapat semua yang kau butuhkan. Pil dan sumber saya juga tersedia. Kau gunakan saja untuk membangun kembali sektemu," ucapnya sambil memberikan Cincin Ruang.
__ADS_1
Cincin Ruang yang dia berikan adalah cincin hasil rampasan setelah bertarung di Hutan Misteri beberapa waktu lalu. Ternyata harta yang ditinggalkan di sana cukup banyak. Dan Shin Shui mengambil semuanya lalu dia simpan di Cincin Ruang yang diberikan kepada Hyu Ri.
"Tuan, aku tidak bisa menerimanya. Ini terlalu berlebihan bagiku. Biarlah, masalah sekteku, untuk beberapa waktu ke depan Sekte Kayu Hitam akan menutup diri dari dunia luar," kata kakek tua itu.
Hyu Ri bukan berniat untuk menolak pemberian Shin Shui. Tetapi kakek tua itu lebih kepada sada diri. Sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa.
Bahkan bertemu dengan Shin Shui pun baru beberapa kali. Itu pun hanya selewat-selewat. Baru kali ini saja dia duduk dan minum arak bersamanya.
Namun tiba-tiba, pendekar terkuat di Kekaisaran Wei itu ingin memberikan bantuan besar kepadanya, bagaiamana mungkin dia bisa menerima?
"Senior, kalau kau menolak pemberianku, berarti kau tidak memandangku sama sekali," tegas Shin Shui.
"Bu-bukan begitu, ma-maksudku …"
"Kalau kau tetap bersikeras menolak, maka anggap saja kita tidak pernah kenal,"
Kakek tua tersebut menjadi lebih bingung. Ucapan Shin Shui benar-benar membuatnya serba salah. Namun karena terus dipaksa, akhirnya dia mau menerima juga.
"Ba-baiklah. Kalau begitu terimakasih. Kebaikan tuan pendekar tidak akan pernah aku lupakan. Kapan pun kau membutuhkan bantuan, Sekte Kayu Hitam siap membantumu. Bahkan kalau perlu sampai berkorban nyawa sekalipun," ujar Hyu Ri penuh rasa terimakasih yang mendalam.
"Kau jangan terlalu sungkan senior. Sudah seharusnya sesama manusia itu untuk saling membantu,"
Kekaguman terhadap Pendekar Halilintar semakin bertambah. Baik itu bagi Hyu Ri, maupun bagi para tetuanya.
"Senior, tolong kau panggilkan pendekar asing yang sempat aku totok," kata Shin Shui.
"Baik,"
Dia segera menyuruh seorang tetua untuk membawa pendekar yang dimaksud. Tidak berapa lama, seorang tetua telah masuk ke ruangan kembali sambil membawa seorang pendekar.
"Duduk," kata Shin Shui kepada pendekar tersebut.
Shin Shui melepaskan totokannya. Dia tidak takut kalau pendekar itu menyerang. Lagi pula, bagaimana mungkin seorang pendekar sepertinya mampu melukai Pendekar Halilintar?
"Siapa namamu?" tanya Shin Shui.
__ADS_1
Orang yang ditanya tidak mau m gtenjawab. Bahkan memandang Shin Shui pun tidak.
Beberapa kali dia melemparkan pertanyaan yang sama. Dan beberapa kali juga dia mendapat jawaban serupa.
Shin Shui mulai geram dibuatnya. Hampir saja dia mengayunkan tangan untuk memberikan sebuah tamparan. Tapi hal itu tidak jadi dia lakukan.
Karena ketika baru saja tangannya di angkat, targetnya telah jatuh terkulai dengan mulut penuh darah segar.
"Keparat. Dia bunuh diri," geram Shin Shui.
"Bagaimana dia melakukannya?"
"Dia menggigit lidahnya sendiri sampai putus," jawab Pendekar Halilintar.
Orang-orang yang ada di sana sangat kesal. Mereka merasa di permainkan. Dan lagi-lagi Shin Shui gagal mendapatkan informasi pasti siapa mereka sebenarnya.
"Senior, aku pamit dulu. Orang-orang masih menungguku di Sekte Serigala Putih, urusanku masih banyak,"
"Baiklah kalau begitu. Sekali lagi terimakasih atas semua yang telah tuan berikan kepada kami," kata Hyu Ri mengucapkan tanda terimakasih lagi.
Shin Shui hanya tersenyum lembut. Dia keluar lalu segera terbang tinggi dan melesat dengan cepat supaya dapat mempersingkat waktu perjalanan.
Saat dia melakukan perjalanan untuk kembali ke Sekte Serigala Putih, saat itu langit perlahan mulai cerah. Sebentar lagi waktu mentari terbit akan tiba.
Pendekar Halilintar mempercepat laju terbangnya. Dia tidak ingin membuat orang menunggu lama.
Tepat saat fajar baru menyingsing, Shin Shui baru saja tiba di Sekte Serigala Putih.
Para penjaga dan murid-murid memberi hormat ketika tahu akan kedatangan Shin Shui.
Pendekar Halilintar itu langsung menuju ke ruangan di mana para tetua mendapat perawatan.
Begitu dia masuk, Yun Mei segera menyambutnya penuh kehangatan dan rasa cinta.
"Kau sudah pulang Shushi, bagaimana, apakah masalah yang kau hadapi sudah selesai?"
__ADS_1
"Sudah Memei. Kau tenang saja, semuanya baik-baik saja. Karena itulah aku segera kembali ke sekte ini untuk melihat situasi," kata Shin Shui sambil mencium kening istrinya.
Walaupun di sana terdapat beberapa tetua, toh obrolan suami istri itu tidak di ruangan yang sama. Mereka bicara di tempat yang agak jauh dan sepi. Sehingga keduanya tidak merasa malu kalau hanya sekedar berciuman.