Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Ketakutan


__ADS_3

"Pergi!!!" bentak Pendekar Tanpa Perasan dengan geram.


Empat Pedang Bulan Merah seketika itu juga langsung terlempar beberapa langkah ke belakang.


Bersamaan dengan itu, bayangan merah kembali terlihat.


Crashh!!!


Satu kepala menggelinding ke tanah. Seorang di antara mereka telah mampus hanya dalam beberapa kali gerakan.


Kejadian itu amat cepat. Amat tepat. Tebasan yang dilancarkan oleh Pendekar Tanpa Perasaan sangat pas mengenai sasaran. Darah segera menyembur dari kutungan leher itu. Satu sosok tubuh manusia langsung ambruk ke tanah.


Tiga Tetua Sekte Bulan Merah terbengong melihat satu orang rekannya tewas hanya dalam hitungan detik saja. Terlebih lagi, di antara mereka tidak ada yang melihat bagaimana caranya pemuda dingin dan angkuh itu melakukan pembunuhan barusan.


Sebenarnya sekuat apa dia? Sedshayat apa Mata Dewa miliknya?


Keempatnya terpaku di tempatnya masing-masing. Mereka masih tidak percaya. Sampai kapanpun tidak akan percaya kalau tidak menyaksikan secara langsung.


Yun Jianying menampilkan ekspresi yang sulit digambarkan. Dia takut, ngeri, tapi juga merasa kagum dengan ketinggian ilmu Pendekar Tanpa Perasaan.


Bagaimana mungkin tidak disebut tinggi? Keempat Tetua Sekte Bulan Merah yang dia bawa merupakan Pendekar Dewa tahap empat. Kerja sama dalam permainan pedangnya pun sangat hebat, hal itu diketahui oleh semua orang.


Tapi kenapa satu orang di antara mereka bisa mampus dengan begitu mudahnya? Apakah orang-orangnya melakukan kesalahan?


Kalau membunuh seorang Pendekar Dewa tahap empat saja dapat dilakukan dengan mudah olehnya, lantas semudah apa jika ingin membunuh dirinya yang sekarang baru merupakan Pendekar Surgawi tahap tiga?


"Lebih baik pergi saja. Kalian belum pantas untuk mampus di ujung pedangku," kata Pendekar Tanpa Perasaan.


Nada suaranya sangat dingin. Sedingin hawa saat ini.


Hujan mulai reda. Hanya tinggal gerimis saja yang masih turun ke bumi. Tapi meskipun begitu, hawa kematian masih terasa kental. Bahkan semakin lama semakin kental.


Air hujan turun rintik-rintik ke atas dahan pohon lalu jatuh ke tanah membasahi rumput. Bunga teratai yang mekar sekarang sudah basah karena diguyur air hujan.


Wajah tiga anggota Empat Pedang Bulan Merah yang tersisa mendadak merah padam. Sepasang mata mereka melotot dengan tajam ke arah pemuda serba putih itu.


Mereka tidak terima dengan ucapan yang baru saja dilontarkan olehnya. Meskipun ucapan itu singkat, namun luka yang diakibatkan justru sangat dalam.


Karena secara tidak langsung, Pendekar Tanpa Perasaan telah menghina mereka.

__ADS_1


"Pemuda yang sombong. Aku ingin tahu setinggi apa ilmu pedangmu sehingga kau berani berkata demikian," jawab salah seorang di antara ketiganya.


"Bukankah kalian sudah tahu? Bukankah kalian telah melihat pula bagaimana aku bisa membunuh rekanmu dengan sangat mudah?"


"Kami tahu,"


Mereka memang tahu. Karena pada dasarnya kejadian itu berlangsung di depan mata mereka. Bahkan pada saat kejadian, ketiganya sedang bertarung sengit melawannya.


"Kalau sudah tahu, setidaknya kalian sudah dapat memperkirakan sampai di mana ketinggian ilmu pedangku,"


Chen Li sengaja berkata demikian. Karena kalau mereka sudah tahu, setidaknya orang-orang tersebut mengerti pula sampai di mana kelihaiannya dalam bermain pedang.


Sayang, tiga orang Tetua Sekte Bulan Merah itu sudah terburu nafsu. Sehingga dia tidak mengindahkan perkataan Chen Li.


"Jangan karena berhasil membunuh satu orang di antara kami sehingga kau berani berucap sesombong itu,"


Mereka benar-benar telah dikuasai oleh nafsu.


Apakah orang yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu selalu seperti itu? Selalu tidak melihat fakta yang sudah terjadi?


"Baik, kalau kalian masih merasa penasaran, silahkan maju sekarang juga. Biar aku buka mata kalian selebar mungkin,"


Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!


Empat Pedang Bulan Merah kembali melesat ke depan. Mereka masih penasaran dengan kemampuan Pendekar Tanpa Perasaan yang dikabarkan sangat dahsyat itu. Mereka juga ingin tahu sampai di mana hebatnya Mata Dewa tersebut.


Kalau kekuatan dan Mata Dewa dikeluarkan secara keseluruhan, benarkah orang-orang itu masih dapat bertahan hidup?


Pedang Merah Darah telah digenggam di tangan kiri. Begitu melihat ketiga musuhnya sudah mulai mendekat, pemuda serba putih yang dingin serta angkuh itu segera melancarkan sebuah serangan hebat.


Satu tusukan yang amat cepat dan dahsyat dilayangkan.


Wutt!!!


Bayangan merah dan putih menyatu dalam tiga serangan yang dikeluarkan oleh Tetua Sekte Bulan Merah. Bayangan itu tampak bergerak beberapa kali.


Slebb!!!


Darah muncrat. Percikan darah menetes perlahan membasahi permukaan tanah.

__ADS_1


Pendekar Tanpa Perasaan mencabut pedangnya. Satu sosok segera jatuh terkapar. Tidak berhenti sampai disitu, dia kembali melayangkan satu serangan lagi. Tebasan yang mengandung hawa kematian segera dilancarkan.


Crashh!!!


Satu tubuh manusia yang tadinya utuh, sekarang telah terpotong menjadi dua bagian. Tubuh itu ambruk ke tanah. Suara jatuhnya tubuh tersebut terdengar berat, bahkan sedikit membuat tanah di sekitar bergetar.


Darah segar langsung mengalir dengan deras. Air hujan yang menggenang mendadak berwarna merah darah.


Pertarungan kembali berhenti.


Chen Li berdiri lagi di posisinya semula. Caranya berdiri masih sama persis seperti sebelumnya.


Satu orang anggota Empat Pedang Bulan Merah yang masih hidup merasa takut setengah mati. Tubuhnya bergetar. Namun bukan karena kedinginan, melainkan bergetar karena ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Dia mundur beberapa langkah ke belakang.


Yun Jianying tidak berbeda jauh dengan tetua sekte itu. Malahan wajah gadis itu dua kali lebih pucat darinya. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Terutama sekali kedua lututnya.


Kalau tidak mengerahkan tenaga sekuat mungkin, niscaya saat ini dia juga sudah jatuh berlutut karena saking takutnya.


Pemuda yang ada di hadapannya ini ternyata benar-benar kejam. Bahkan si tetua sekte pun beranggapan demikian. Seumur hidupnya, belum pernah dia menemukan pemuda sekejam Pendekar Tanpa Perasaan.


"Kau, kau bukan manusia," kata Yun Jianying sambil menunjuk ke arahnya. Pada saat dia bicara, mulutnya yang merah muda itu tampak sedikit bergetar.


Chen Li tersenyum dingin. Dia tidak pernah ambil peduli apa kata orang lain. Apa yang dia lakukan, sejatinya mempunyai suatu alasan. Pun, apa yang dilakukan oleh orang lain, pasti juga memiliki alasan.


"Aku sudah mengingatkan kalian, tapi kalian tidak mendengar. Aku sudah menunjukkan bukti, tapi kalian masih juga tidak percaya. Sekarang setelah semuanya sudah terlambat, kau malah menyebut aku bukan manusia? Kalau aku bukan manusia, lalu kau sendiri bagaimana?"


Yun Jianying langsung terbungkam. Dia tidak mampu menjawab ucapan tersebut. Gadis manja itu ingin menangis, sayang, air matanya sudah tidak mau keluar.


Kalau sudah seperti ini, siapa yang pantas untuk dikalahkan?


Apakah Pendekar Tanpa Perasaan yang katanya kejam, ataukah dirinya yang tidak mau mendengarkan peringatan orang lain?


Wushh!!!


Tiba-tiba puluhan senjata energi bersama segulung angin dahsyat menerjang Pendekar Tanpa Perasaan dari arah samping kanan dan kiri.


Blarr!!!


###

__ADS_1


Kalau keburu, satu lagi nanti ya mhehe


__ADS_2