
Setelah rombongan Hek Jiu Lin pergi, keadaan menjadi sunyi sekali. Orang-orang yang tadi mengerumuni pun kini perlahan mulai membubarkan diri.
Di sana yang ada tinggal Shin Shui dan Kakek Tua Jubah Hitam. Keduanya sedang berdiri menghadap ke danau yang tenang dan jernih itu. Semilir angin mengibarkan jubah dua sosok tersebut.
"Terimakasih karena senior telah sudi membantuku. Aku yakin senior juga sudah tahu siapa sebenarnya," kata Shin Shui membungkuk hormat kepada orang tua itu.
Si Kakek Tua Jubah Hitam memperhatikan sosok yang ada di hadapannya ini. Ada rasa kagum tersendiri kepada pendekar tersebut. Entah karena sifat jantannya, atau karena sifat dia yang tidak memperdulikan latar belakang orang lain.
Karena seperti yang kita ketahui, bagi Shin Shui, tidak ada aliran putih maupun aliran hitam. Karena semua alasan itu tergantung dari orangnya sendiri. Untuk apa mengaku aliran putih tapi melakukan hal sesat? Sedangkan yang mengaku sebagai aliran hitam, justru memiliki sifat baik.
Baik dan buruknya manusia itu tidak selalu tergantung bagaimana latar belakangnya. Tak jarang anak seorang pencuri justru melakukan hal baik sehingga jadi orang alim. Tidak sedikit juga anak seorang alim malah melakukan hal sesat dan menjadi pencuri.
"Sudah, sudah. Tidak perlu seperti itu kepadaku. Aku memang sudah tahu siapa kau sebenarnya. Oleh sebab itulah aku mau membantumu. Sebelumnya Hwe Koan sudah menceritakan tentangmu dan juga tentang keadaan di negeri kita ini," kata Kakek Tua Jubah Hitam.
"Terimakasih senior. Berarti, sedikit banyak senior sudah mengetahui banyak tentang badai yang melanda dunia persilatan kita ini?" tanya Shin Shui.
"Benar. Aku sudah mengetahui, marilah kita bicara saja ditempatku. Sekalian melihat kondisi anakmu apakah sudah siuman atau belum," kata Kakek Tua Jubah Hitam.
Shin Shui mengangguk. Keduanya lalu segera pergi dari sana. Pendekar Halilintar mengikuti Kakek Tua Jubah Hitam dari belakangnya.
Setelah beberapa saat melakukan perjalanan, akhirnya dua pendekar tersebut sudah tiba di suatu tempat.
Di sebuah bukit yang rimbun nan sunyi. Tak ada kehidupan lain kecuali para binatang liar penunggu hutan. Tak ada suara teriakan manusia kecuali suara nyanyian burung dan binatang lainnya.
Keadaan di sana sungguh tenang dan nyaman sekali. Kakek Tua Jubah Hitam membawa Shin Shui ke sebuah bangunan tua. Ukuran bangunan itu layaknya rumah biasa. Tidak terlalu besar, bahkan sangat sederhana.
Hanya saja di sekelilingnya banyak sekali tumbuhan beracun yang biasa dia pakai untuk membuat racun-racun ganas. Ada juga beberapa hewan beracun lainnya yang sengaja dia pelihara di sana.
__ADS_1
Shin Shui di bawa masuk ke dalamnya. Walaupun banyak tanaman dan hewan beracun, tetapi aroma di dalam rumah sederhana itu justru wangi.
Si kakek tua pergi ke belakang memasuki sebuah kamar. Terdengar dia bertanya kepada seseorang yang sudah ada di sana sejak tadi.
"Eng Kiam, bagaimana keadaan tuan muda?" tanya Kakek Tua Jubah Hitam.
"Sudah membaik guru. Tuan muda hanya perlu istirahat beberapa saat lagi. Sebentar lagi dia juga akan segera sadar. Dia hanya kelelahan saja," jawab orang yang bernama Eng Kiam tersebut.
Si kakek tua mengangguk. Kemudian dia membawa muridnya keluar dan memperkenalkannya kepada Shin Shui.
"Beri salam kepada pahlawan," perintah Kakek Tua Jubah Hitam.
"Eng Kiam memberikan salam hormat kepada Pahlawan Kekaisaran Wei. Harap pahlawan tidak terlalu mencemaskan tuan muda. Dia sudah membaik dan sebentar lagi akan segera sadar," kata Eng Kiam yang merupakan seorang gadis.
Usianya tidak jauh dari Chen Li. Paling Eng Kiam baru berusia lima belas tahun. Tubuhnya tinggi sedang dengan kulit kuning langsat. Wajahnya bulat telur dengan sepasang alis cukup tebal. Sekilas saja dapat di lihat bahwa dia memang akan tumbuh menjadi gadis cantik dan menggiurkan setiap pria.
Kakek Tua Jubah Hitam sudah duduk kembali bersama Shin Shui, mereka mulai bicara tentang kondisi dunia persilatan Kekaisaran Wei.
Ternyata kondisinya sudah semakin mengkhawatirkan. Bahkan kabarnya, di bagian Timur perbatasan juga mulai terjadi berbagai macam kekacauan yang menggemparkan. Banyak para tokoh dan perguruan kecil dihancurkan oleh kelompok-kelompok asing. Kalau di bagian Selatan ini, jangan ditanya lagi.
Sedikit banyak Shin Shui sudah mengetahuinya. Hanya saja yang membuat dia kaget, ternyata kekacauan ini berlangsung secara bersamaan. Entah suatu kebetulan atau memang ini merupakan rencana yang sudah disusun matang oleh sekelompok orang.
Yang pasti, dalang di balik semua ini tentu sangat ahli dalam menyebarkan propaganda, fitnah dan lain sebagainya.
"Pahlawan, apakah kau sudah mempunyai rencana untuk langkah selanjutnya?" tanya kakek tua itu.
Shin Shui tidak langsung menjawab. Karena dia sendiri belum mempunyai rencana pasti yang akan dilakukannya.
__ADS_1
"Belum senior. Bahkan aku sendiri belum pulang ke sekte. Karena beberapa waktu lalu aku ada urusan penting. Begitu urusan selesai, aku langsung berkeliling di daerah Selatan ini untuk memastikan keadaan. Karena aku mendengar bahwa kekacauan sudah terjadi di sini. Dan ternyata memang benar, bahkan aku sendiri sudah mendengar percakapan antara sekelompok orang dengan orang lain yang dipanggil Tuan Tang," jelas Shin Shui.
"Apakah yang dimaksud Tuan Tang itu adalah Kaisar Tang Yang dari Kekaisaran Tang?" tanya Kakek Tua Jubah Hitam penasaran.
"Entahlah. Aku sendiri belum bisa memastikan. Walaupun dulu guruku pernah memberitahu lewat mimpi bahwa Kekaisaran Tang dan Kekaisaran Sung memang mengincar negeri kita ini. Hanya saja kalau masalah Tuan Tang, aku tidak berani menarik kesimpulan. Setidaknya untuk saat ini. Sebab semuanya masih suram,"
"Informasi apa saja yang sudah pahlawan dapatkan terkait semua ini?"
"Banyak, tapi masih perlu pembuktian lebih. Namun yang jelas, kelompok itu sudah berhasil mendirikan berbagai perguruan dengan nama berbeda di berbagai penjuru, mereka juga berhasil menyusup ke berbagai sekte. Yang lebih parah lagi, mereka berhasil memasuki sekte aliran putih,"
"Hemm, kalau masalahnya seperti ini, tidak bisa dibiarkan lagi," kata kakek tua itu.
"Senior benar. Bahkan kita sudah melihat sendiri bagaimana orang-orang Sekte Langit Merah, mereka sudah jelas aliran putih, tapi kenapa melakukan hal tercela seperti itu? Pasti ada sesuatu besar di balik ini. Bahkan sepertinya kelompok yang ingin menghancurkan negeri kita ini sudah berhasil mendapatkan "kartu" sekte tertentu dan mungkin beberapa pendekar lainnya,"
"Maksud pahlawan?" tanyanya belum mengerti.
"Senior, logikanya begini, sesuatu apa yang membuat orang-orang hebat dan sekte yang mempunyai nama seperti contohnya Sekte Langit Merah mampu melakukan tindakan tercela kalau bukan karena "kartu" mereka sudah terpegang?"
"Hemm, kau benar. Mereka berani melakukan hal seperti itu mungkin karena rahasia besar atau aibnya takut terbongkar. Orang-orang seperti mereka lebih baik menerima sebuah tawaran daripada rahasia atau aib mereka tersebar,"
"Nah maksudku seperti itu. Berarti kalau begini caranya, jelas bahwa orang-orang yang ada di balik semua ini bukanlah orang biasa. Apalagi mereka mampu melakukan sesuatu yang mustahil," jelas Shin Shui.
Kakek Tua Jubah Hitam termenung. Dia sedang memikirkan perkataan Shin Shui. Dan menurutnya memang benar, tidak ada hal lain yang dapat menggerakan sekte besar ataupun pendekar terkenal untuk melakukan perbuatan hina kecuali dikarenakan kartu mereka sudah terpegang.
"Tapi rahasia atau aib apa yang mungkin mereka miliki?" tanya Kakek Tua Jubah Hitam.
"Entah. Yang pasti, setiap manusia mempunyai aib dan rahasianya tersendiri," jawab Shin Shui singkat.
__ADS_1
Keduanya terdiam beberapa saat. Nampaknya badai semakin melanda Kekaisaran Wei ini.