Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Mata Unsur Bumi


__ADS_3

Pertarungan para tetua Sekte Pedang Emas bisa dibilang paling beruntung nasibnya. Sebab empat tetua sekte itu melawan musuh yang terbilang paling lemah.


Akibatnya, empat Tetua Sekte Pedang Emas sudah menyelesaikan pertarungan mereka karena masing-masing lawannya sudah terkapar tak bernyawa.


Mereka pun mengalami nasib yang sama dengan tetua lainnya, yaitu sama-sama terluka. Hanya saja, luka mereka lebih ringan daripada para tetua lain. Dan kini, empat tetua itu sudah bergabung bersama Yiu Jiefang dan yang lainnya. Mereka sedang memulihkan tenaga dalam sekedar untuk berjaga-jaga.


Dua tetua Sekte Bukit Halilintar yaitu Ong Kwe Cin dan Thai Lu juga sudah mencapai pertarungan puncak. Keduanya melancarkan berbagai macam jurus dahsyat yang selama ini mereka simpan.


Masing-masing dari lawan mereka berusaha untuk menangkis jurusnya. Sayang, lawan dua tetua itu sedikit terlambat.


Sehingga detik selanjutnya mereka telah tewas terkena sebuah jurus yang mengerikan. Tubuh mereka ada yang terpotong dan ada juga yang hancur organ dalamnya.


Beberapa pertarungan masih terus berjalan. Pertarungan Yuan Shi sama seperti pertarungan Shin Shui. Paling seru dan menegangkan. Hanya saja, dia sedikit lebih mujur karena yang di hadapinya hanyalah tiga tetua berkekuatan Pendekar Dewa tahap dua.


Untuk setengah babak, Yuan Shi si Raja Seribu Pedang memang tampak terdesak hebat. Bahkan beberapa kali tubuhnya menjadi sasaran jurus lawan.


Tetapi sebenarnya, semua itu dilakukan dengan sengaja karena dia ingin mengetahui sampai di mana tingkat kekuatan lawan.


Setelah berhasil mengukur kelihaian lawan, tanpa sungkan lagi orang tua itu mengeluarkan jurus dahsyatnya.


"Seribu Pedang Melayang di Udara …"


"Wushh …"


Pedang Emas Pembelah Samudera bergerak. Kali ini serangan yang dia lancarkan jauh berbeda dari jurus-jurus sebelumnya. Jurus pamungkas yang baru dia ciptakan setelah perang besar, kini dia gunakan di medan pertarungan untuk yang pertama kalinya.


Pedang Emas Pembelah Samudera seperti berubah menjadi seribu banyaknya. Cahaya emasnya menebarkan rasa mengerikan dan membuat suasana bertambah mencekam.


Hanya dengan waktu yang tidak terlalu lama, tiga tetua sudah tewas terkena tebasan seribuan pedang tersebut. Mereka tewas dengan tubuh koyak dan kondisi yang mengkhawatirkan.


Bahkan walaupun lawan sudah jelas tewas, Yuan Shi masih saja menggempurnya untuk melampiaskan kemarahan yang sudah menggunung.


Setelah dia merasa puas, baru kemudian jurusnya lenyap hanya dalam waktu satu tarikan nafas. Setelah itu, dia segera melesat kembali mencari lawannya.

__ADS_1


Sementara itu di pertarungan lain, korban mulai berjatuhan di pihak Sekte Bukit Halilintar. Sepuluh dari lima belas murid utama sudah tewas. Kematian mereka berjarak tidak jauh dari kematian rekan yang lainnya.


Hati Shin Shui sangat pilu saat mendengar jeritan mereka untuk yang terkahir kalinya. Bagaimanapun juga, mereka adalah sebagian murid utama. Itu artinya mereka salah satu pilar Sekte Bukit Halilintar.


Di dalam kecemasan tersebut, Shin Shui membulatkan tekad untuk membantu murid utama yang masih berjuang. Rasa tanggungjawab sebagai seorang pemimpin keluar dari tubuhnya.


Dia melesat secepat kilat. Dengan niatan untuk membantu para tetua. Tetapi sia yang menyangka, ketika tubuhnya melesat menuju para murid yang sedang bertarung, tiba-tiba saja beberapa jurus dari titik berbeda menyerang ke arahnya.


Salah satunya adalah jurus dahsyat dari Dewi Iblis. Hujan jarum kembali muncul. Jarum itu menebarkan kematian kepada semua orang yang ada di sana.


Tiga jurus lainnya melesat tidak kalah hebat. Berbagai macam sinar dari macam-macam jurus dahsyat menghantam telak tubuh Shin Shui.


Bahkan hujan jarum juga mengenai tubuhnya tanpa mampu dihindari lagi. Tidak cukup sampai disitu, Selendang Malaikat Pencabut Nyawa juga menghantam ulu hatinya.


Semua serangan tepat menghujani tubuhnya hampir secara bersamaan. Kalau orang lain yang menjadi korban, tentu mereka akan tewas sebelum tubuhnya mengenai tanah.


Tapi Shin Shui tidak. Dia masih bertahan. Namun sebagai gantinya, tubuhnya kini penuh dengan racun ganas. Selain itu, dia juga memuntahkan darah hitam yang sangat banyak.


Shin Shui menjerit sangat keras karena tidak tahan akan rasa sakit yang sudah menggerogoti tubuhnya. Dia bergulingan untuk beberapa saat karena belum bisa menguasai dirinya sendiri.


Berbarengan dengan terpental dan menjeritnya Shin Shui, dari arah pinggir pertarungan, Chen Li juga menjerit sangat keras.


"Ayahhh …"


Teriaknya panik. Bahkan teriakan itu hampir menyamai ledakan keras akibat beberapa jurus yang mengenai Shin Shui. Suara Chen Li sangat menggelegar dan mengerikan sekali.


Tubuhnya langsung melesat sangat cepat melebihi apapun. Kemarahannya memuncak tanpa mampu dia kendalikan lagi.


Kejadian aneh dan luar biasa segera nampak di hutan Bukit Awan. Udara semakin mencekam. Angin berhembus sangat kencang bahkan mampu merobohkan pepohonan.


Suara halilintar menggelegar tiada hentinya. Kilat menyambar bumi. Sebuah kekuatan dahsyat menekan tempat sekitar.


Chen Li sudah marah. Bahkan sangat marah karena melihat ayahnya di serang dari belakang. Tanpa ada yang mengetahui bagaimana caranya, Shin Shui sudah ada di pinggir bersama tetua yang sedang menyembuhkan diri.

__ADS_1


Sedangkan bocah berjuluk Pendekar Tanpa Perasaan itu, entah sejak kapan dia sudah berdiri tepat di hadapan Dewi Iblis.


Aura kegelapan sudah menyelimuti tubuhnya. Kain sutera penutup matanya terlepas tanpa ada yang tahu.


Mata Chen Li terbuka. Tapi kali ini berbeda. Kalau saat pertama kali yang terbuka melambangkan lima unsur, kini hanya satu unsur saja.


Unsur bumi.


Matanya berubah jadi berwarna cokelat seperti melambangkan keagungan bumi.


Tatapannya sangat tajam melebihi apapun. Tanpa sadar, Dewi Iblis tergetar di buatnya. Dia mundur beberapa langkah karena tidak kuasa menahan tatapan mata bocah tersebut.


"Siapa yang berani melukai ayahku. Maka dia pantas untuk mati," katanya dengan suara yang menggelegar.


Awalnya Dewi Iblis merasa sangat takut. Tali setelah mengingat bahwa yang bicara seperti itu hanyalah anak kecil. Suara tertawa yang menyeramkan segera terdengar.


"Hahaha, bocah kecil sepertimu ingin membunuhku? Jangan mimpi," katanya sambil memberikan senyuman mengejek.


"Mati, kau pantas mati. Mati, kau harus mati …"


Hanya itu saja kata yang keluar dari mulut mungil Chen Li. Berulang kali dia mengucapkan mati.


Selanjutnya, kaki kanannya menggebrak tanah. Terlihat seperti pelan, tapi akibat yang ditimbulkan sungguh hebat.


Tanah bergetar keras. Bahkan tanah itu langsung menelan pepohonan hingga ke perut bumi. Keadaan menjadi lebih mengerikan.


Semua pertarungan berhenti karena tekanan yang dihasilkan oleh Chen Li.


"Grrrr …"


Chen Li menggeram. Kedua tangannya memukul tanah sangat kuat.


Tanah itu segera berubah seperti layaknya air. Bahkan selanjutnya, gelombang tanah yang mirip tsunami di laut segera melesat menerjang Dewi Iblis.

__ADS_1


Si wanita ingin menghindar, tapi terlambat. Karena tiba-tiba, sebuah pukulan dahsyat menghantam punggungnya dari arah belakang sehingga tubuhnya terdorong jauh ke depan menyambut gelombang tanah.


__ADS_2