Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Amarah Huang Taiji dan Yuan Shi


__ADS_3

Satu persatu korban keganasan Pedang Halilintar mulai ambruk ke tanah. Tidak ada darah, tidak ada teriakan. Yang ada hanyalah kematian.


Kematian seolah ditentukan di ujung Pedang Halilintar. Seolah Pedang Halilintar bukanlah senjata. Melainkan wakil dari Malaikat Pencabut Nyawa.


Selama ini, berapa banyak nyawa yang mampu bertahan dari ketajamannya? Berapa banyak manusia yang bisa melihat bagaimana kecepatannya dengan jelas?


Lima orang musuh yang tersisa tidak mampu berkata apa-apa lagi. Mereka hanya mampu menahan amarah serta kebencian kepada tiga tokoh besar Kekaisaran Wei itu.


Bukankah Kekaisaran Wei adalah Kekaisaran terlemah dari dua Kekaisaran lainnya? Lantas kenapa kekuatan mereka justru sangat diluar dugaan?


Lima orang tersebut masih mematung. Mereka tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Sayangnya, mereka tetap harus percaya. Sebab apa yang mereka saksikan adalah sebuah kenyataan. Bukan hanya impian.


Terkadang impian memang tidak seindah dan sejalan dengan kenyataan.


"Meruntuhkan Alam Nirwana …"


Huang Taiji berteriak sangat keras. Suaranya menggelegar seperti raungan Raja Iblis. Langit berguncang seketika. Bumi bergetar hebat saat itu juga.


Jika seorang pengawal para Dewa marah, maka langit dan bumi juga tidak akan tinggal diam.


Grrrr!!!


Suara menyeramkan yang entah dari mana mendadak terdengar menusuk gendang telinga.


Huang Taiji melesat sangat cepat sekali. Serangan beruntun dia layangkan menggunakan pusaka Pedang Tombak Surga Neraka.


Kecepatan Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding sangat cepat. Jauh lebih cepat dari pada biasanya. Pria tua itu meraung dengan amarah yang menggebu.


Tanpa tanggung lagi, tiga lawannya langsung menjadi sasaran telah kemarahannya. Empat tokoh kelas atas bertarung sengit dengan segenap kemampuan.


Di sisinya, Yuan Shi juga tidak mau kalah dengan Huang Taiji. Kepala Tetua Sekte Pedang Emas itu turut serta mengeluarkan kemampuannya hingga mengejutkan semua orang.


Cahaya emas kembali memenuhi alam semesta. Tebasan yang memanjang membawa kematian. Tusukan yang sangat cepat menebarkan hawa mengerikan.

__ADS_1


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Benturan antar senjata mulai terdengar tanpa henti. Yuan Shi menerjang dua lawannya dengan ganas. Dia benar-benar marah jika mengingat semuanya.


Hanya dalam dua puluh lima jurus, dua lawannya tewas di ujung pedang pusaka miliknya. Darah menyembur. Teriakan tertahan mengiringi kematian dua tokoh besar dari masing-masing Kekaisaran tersebut.


Yuan Shi tersenyum dingin memandangi dua manusia yang mulai ambruk ke tanah tersebut.


Huang Taiji lebih ganas dari Yuan Shi. Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding menyerang tanpa henti. Sepak terjangnya membuat gentar dan ciut hati semua lawannya. Pedang Tombak Surga Neraka berputar sangat cepat.


Tebasan pedang dan tusukan tombak dilancarkan secara bergantian. Hanya beberapa jurus, satu nyawa melayang. Beberapa saat kemudian, nyawa manusia kembali keluar dari raga.


Tidak berselang lama setelah itu, lawan yang tersisa juga meregang nyawa. Orang itu tewas di bawah pedang dan di ujung tombak Huang Taiji.


Luka yang dalam dan melebar terlihat menganga. Luka itu seperti sebuah harapan yang sirna.


Sepanjang jalannya dua pertarungan terakhir itu, Shin Shui si Pendekar Halilintar tidak membantu sedikit pun. Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar itu hanya berdiri sambil memandangi dua rekannya melangsungkan pertarungan dahsyat.


Meskipun pertarungan mereka membwa hawa mengerikan dan akibat yang dapat menghancurkan, tetapi selama itu, Shin Shui tidak bergeser sedikitpun.


Sepertinya meskipun dunia hancur. Tapi jika Pendekar Halilintar sudah bertekad, maka kehancuran itu tidak akan sanggup meruntuhkan tekadnya.


Tiga pertarungan dahsyat telah berakhir. Teriakan kemenengan terdengar menggema dari para prajurit yang masih tersisa. Mereka bersorak-sorai, mereka berteriak lantang penuh semangat yang menggelora.


Walaupun seluruh tubuh mereka mengalami luka, tetapi luka itu tidak dapat melunturkan semangat dalam dadanya. Seolah mereka lupa dengan derita. Yang mereka ingat hanyalah kemenangan yang terjadi di depan mata.


"Hidup Pendekar Halilintar …"


"Hidup Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding …"


"Hidup Raja Seribu Pedang …"


"Hidup Kekaisaran Wei …"

__ADS_1


Teriakan seperti itu terus terdengar. Semakin lama semakin menggelora. Tanpa sadar, dada tiga tokoh besar dunia persilatan itu tergetar. Ada aliran tenaga dahsyat yang mengalir ke seluruh tubuh mereka.


Semangat untuk mempertahankan dan membela tanah air tumbuh dan menjadi berakar lebih jauh dalam diri mereka.


"Kau bisa mendengar bagaimana teriakan mereka yang penuh semangat?" tanya Shin Shui kepada Huang Taiji dan Yuan Shi.


Keduanya mengangguk perlahan. Bagaimana mungkin mereka tidak mendengarnya? Para prajurit berteriak tepat di belakang mereka, jika tidak mendengar, bukankah itu artinya ada masalah dengan sepasang telinga mereka?


"Mendengar teriakan para prajurit, aku jadi rela melakukan apapun. Semangat dalam diriku terasa dibakar kembali," kata Huang Taiji.


"Benar. Aku juga merasakan hal yang sama," timpal Yuan Shi.


Ketiganya segera pergi dari sana. Tidak ada perkataan yang diucapkan oleh Shin Shui kecuali hanya kata "semangat,".


Tiga bayangan yang diselimuti cahaya emas, putih dan biru melesat sangat cepat. Ketiganya berlari dengan kecepatan mereka yang sangat luar biasa.


"Ke mana tujuan kita sekarang?" tanya Yuan Shi.


Dalam keadaan seperti ini, meskipun dia merupakan tokoh kelas atas dan seorang kepala tetua dari sebuah sekte besar, namun Yuan Shi tidak mau bertindak gegabah. Bagaimanapun juga, dia harus berkoordinasi dengan Shin Shui selaku pendekar terkuat di Kekaisaran Wei dan merupakan pemimpin dunia persilatan.


Menghadapi masalah seperti sekarang ini, bergerak secara sendiri-sendiri hanya akan mendatangkan kerugian. Karena itulah semua orang memutuskan untul bekerja sama dengan baik.


"Kita kembali ke Sekte Bukit Halilintar lebih dulu. Di sana sudah banyak para tokoh yang siap menunggu. Mereka sedang menanti perintah dariku," ujar Shin Shui.


Mau itu kepala tetua dari sekte kecil ataupun besar , ketua perguruan terkenal ataupun tidak, jika menghadapi masalah sekarang, mereka harus tetap mematuhi apa kata Shin Shui. Jika tidak patuh, itu artinya mereka sudah berani menentang pemimpinnya sendiri.


Untuk selanjutnya, orang tersebut akan dicari dan dibunuh karena dianggap telah berkhianat.


"Baiklah. Aku juga akan menanti perintah dari bengcu (pemimpin dunia persilatan) Shin Shui," ucap orang tua itu penuh hormat.


Mereka mempercepat langkahnya. Hanya dengan sekejap mata, tiga tokoh tersebut telah jauh dari jarak sebelumnya.


Lima belas kemudian, Shin Shui, Huang Taiji dan Yuan Shi telah tiba di tempat tujuan utamanya. Enam orang murid penjaga gerbang memberikan hormatnya saat melihat kedatangan sang kepala tetua.

__ADS_1


Shin Shui hanya mengangguk perlahan. Ketiganya langsung masuk ke dalam. Sepanjang jalan, tiga tokoh tersebut memasang wajah serius.


Sekarang ini bukan saatnya untuk main-main. Karena itulah, mereka tidak banyak bicara.


__ADS_2