
Karena pengalaman bertarungnya sudah lumayan banyak, sekarang Chen Li semakin matang. Apalagi dalam bergerak senyap dan membongkar suatu kejadian. Dengan kecerdasan yang dia miliki, dengan firasatnya yang kuat, rasanya tidak sulit untuk menghadapi berbagai macam bahaya.
Serangan jarak jauh yang pertama melesat secepat angin. Lima orang yang tadi keluar tidak sempat bertindak karena mereka tidak mendengar apapun. Hanya saja mendadak seperti ada sesuatu yang mendorong tubuhnya dengan kuat sehingga mereka tersungkur.
Lima orang tersebut langsung berdiri setelah mendapatkan posisi. Mereka berniat untuk menyerang, sayangnya sebelum hal itu terjadi, sebuah cahaya biru berkilat di pagi hari.
Hanya dalam beberapa gerakan cepat, lima penjaga tersebut roboh bersimbah darah.
Bagi sebagian orang, Chen Li mungkin dianggap kejam dan tidak berperasaan.
Perkataan tersebut mungkin hanya akan keluar dari mulut orang-orang yang tidak mengerti tentang kerasnya dunia persilatan. Dunia persilatan lebih kejam daripada dunia manusia biasa.
Di dunia persilatan, hukum rimba masih berlaku hingga detik ini. Siapa yang kuat, dia yang akan bertahan. Siapa yang lemah, dia yang akan mati di bawah ujung pedang lawan.
Kematian selalu mengikuti orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan. Siapapun tidak terkecuali. Termasuk Chen Li sendiri. Kapan dan di mana saja, dia bisa tewas dalam sekejap.
Karena itu, bocah tersebut lebih memilih untuk melatih diri dengan keras. Lebih memilih untuk bertindak daripada malah ditindak.
Di sungai telaga dunia persilatan, membunuh atau dibunuh sudah menjadi hal lumrah. Di dunia ini nyawa seolah tiada artinya.
Lima penjaga sudah menjadi mayat. Darah masih menggenang di sekitar tubuh mereka masing-masing. Chen Li segera membuang mayat-mayat itu ke pinggir.
Sebelum mereka menemui ajal, dua orang korbannya sempat berteriak cukup keras. Hal ini tentu akan mengundang para penjaga atau prajurit lainnya.
Chen Li bersembunyi kembali di posisi semula. Dia seperti seekor harimau buas yang sedang menanti datangnya mangsa.
Di posisi Huang Taiji, terlihat ada sepuluh rombongan yang membawa kereta kuda dan barang-barang lainnya. Tujuan mereka mungkin untuk ke perkotaan menjalankan misi.
Entah itu menjarah, membunuh, atau apapun itu. Yang jelas Huang Taiji tidak peduli.
Lagi pula, tujuan dia bukan untuk menyelidiki kegiatan mereka. Tujuannya kemari adalah untuk menyelamatkan Mepi Xiuhan bersama murid seniornya dan juga tentu membunuh semua orang-orang yang ada di sana.
Di mana orang-orang tersebut merupakan penjajah dari negeri lain yang ingin menghancurkan Kekaisaran Wei.
Saat sepuluh orang itu sudah beberapa jarak dari jalan keluar, orang tua itu langsung bertindak. Dia mematahkan ranting pohon berukruan sedang lalu memotongnya kecil-kecil.
__ADS_1
Begitu sudah ada sepuluh potong, hanya dengan mengibaskan tangan kanan, ranting-ranting tersebut melesat dengan sangat cepat seperti anak panah yang semalam hampir mengenai dirinya.
Bedanya ini hanyalah ranting pohon. Namun kecepatan dan ketepatannya, tidak ada duanya.
Sepuluh ranting pohon tadi, tepat menembus punggung hingga ke jantung. Sepuluh orang roboh seketika. Kereta kuda hampir terguling. Kudanya sendiri meringkik keras.
Suara ringkikan kuda jelas menggambarkan ketakutan. Tidak berapa lama, lima belas prajurit lainnya segera berlarian ke sana.
Sayangnya mereka juga harus mengalami nasib yang sama, bedanya sekarang Huang Taiji tidak lagi menggunakan ranting pohon.
Dia merebut salah satu pedang yang terdapat di tubuh mayat prajurit. Walaupun hanya pedang biasa, tetapi jika sudah dipegang oleh orang seperti Huang Taiji, maka pedang tersebut bisa langsung berubah sangat tajam seperti pedang pusaka.
Begitu lima belas prajurit tersebut tiba di sana sambil terkejut karena melihat seluruh rekan mereka tewas, orang tua itu langsung meluncur dari dahan pohon dengan kecepatan tinggi.
Jika seekor burung elang ingin menangkap ayam, maka rasanya mustahil jika ayam itu akan lepas. Kecuali memang ayam yang sedang bernasib mujur.
Huang Taiji juga seperti itu, dia seperti seekor elang yang akan menerkam mangsa. Bedanya, ayam yang sekarang adalah manusia. Dan mereka tidak mempunyai nasib mujur.
Cahaya pedang berkilat terkena sinar matahari pagi. Desiran angin tajam bercampur dengan hembusan angin pagi.
Hanya beberapa kali cahaya pedang terlihat, lima belas orang prajurit sudah kembali tewas seperti prajurit sebelumnya. Darah mengenang. Tanah yang hitam dan rumput hijau, seketika berubah menjadi warna merah pekat.
Tidak berbeda jauh dengan Huang Taiji, Chen Li juga melihat ada sepuluh orang prajurit yang menuju ke arahnya.
Prajurit itu sudah mengambil sikap waspada. Golok dan pedang sudah diacungkan.
Mereka melihat ke sekeliling tempat di dekat rekan-rekannya tewas. Para prajurit itu yakin bahwa pelakunya masih ada di sana.
"Kalian mencari siapa?" tanya Chen Li sambil duduk santai di sebuah dahan pohon.
"Siapa kau?" bentak seorang pemimpin.
"Aku? Aku Malaikat Pencabut Nyawa. Sebelumnya rekan kalian sudah tewas ditanganku. Apakah kalian juga ingin mengalami nasib yang sama?"
"Setan cilik yang besar mulut,"
__ADS_1
"Kalian tidak percaya? Baik, perhatikan ini,"
Selesai dia berkata, tubuhnya langsung meluncur ke bawah. Kedua tangannya dibentangkan siap untuk melancarkan serangan.
"Wushh …"
"Bukkk …"
Sepuluh hantaman dia layangkan dalam sekejap mata. Hanya sesaat, para prajurit itu mengalami nasib yang sama seperti rekan-rekannya.
Mereka tewas hampir dalam waktu yang bersamaan. Dari mulutnya keluar darah segar yang meleleh seperti lahar gunung berapi.
Pagi hari yang cerah. Pagi hari yang indah, seharusnya dilewati dengan kesenangan ataupun minum teh sambil menikmati pemandangan. Namun sayangnya, semua hal itu tidak bisa dinikmati untuk sekarang.
Karena bocah itu terpaksa harus melewati pagi hari kali ini dengan membunuh orang.
Pagi yang memakan korban.
Di halaman luas yang terdapat tanda darurat, dua orang masuk ke dalam tenda paling besar.
Di sana duduk seorang pria yang sudah cukup umur.
Orang itulah pemimpin di rombongan ini. Dan dia juga yang sebelumnya menyamar menjadi seorang Walikota.
"Tuan, puluhan orang prajurit Pendekar Bumi telah tewas di jalan masuk dan jalan keluar," kata seorang prajurit memberikan laporannya.
"Apa? Siapa yang berani melakukannya?"
"Pelakunya belum bisa diketahui siapa Tuan. Yang pasti, mereka bukan orang-orang biasa,"
"Arghh, sial. Selalu saja ada masalah. Perintahkan empat Pendekar Dewa untuk ke sana. Cari pelakunya hingga dapat. Bawa kepalanya ke hadapanku,"
"Baik. Perintah akan segera dilaksanakan,"
Prajurit tersebut segera keluar. Dia langsung memberitahukan perintah pemimpinnya kepada empat orang Pendekar Dewa tahap dua pertengahan.
__ADS_1
Tanpa bertanya lebih jauh, empat pendekar tersebut segera pergi ke tempat yang sudah ditentukan.
Chen Li dan Huang Taiji masih berada di sana. Mereka sudah melihat para pendekar yang sedang menuju ke arahnya.