
Sahabat.
Hanya satu kata saja. Dan hanya itu saja yang di inginkan oleh Shin Shui. Tidak ada kata yang lain.
Bagi Shin Shui, sahabat jauh lebih penting daripada apapun di dunia ini setelah keluarga. Sahabat bisa menjadi teman, bisa jadi saudara, bahkan bisa jadi keluarga juga.
Andai kata orang yang mencintaimu pergi dari hidupmu, tetapi sahabat akan selalu ada untukmu. Dia tidak akan pergi. Bahkan jika semua orang pergi dari hidupmu pun, sahabat sejati tetap akan bersamamu. Dia akan selalu ada di sisimu. Walau dunia hancur sekalipun, sahabat adalah sahabat.
Dia akan tetap menjadi sahabatmu. Ada mantan kekasih, tapi tidak ada mantan sahabat.
Tapi di kehidupan sekarang ini, berapa banyak seseorang yang mengerti tentang sahabat sejati?
Tidak banyak? Mungkin betul di zaman sekarang tidak banyak. Tetapi akan tetap ada orang yang mengerti tentang sahabat sejati. Baik itu sekarang, maupun di masa depan.
Kaisar Naga Merah tercengang mendengar ucapan Shin Shui. Dia tidak pernah menyangka bahwa 'dewa penolongnya' tidak menginginkan hadiah apapun kecuali kata itu.
Dengan senang hati dia langsung memeluk Shin Shui erat-erat. Tak ada keraguan, tak ada ketakutan. Yang ada hanyalah rasa saling percaya.
"Sampai matipun, aku akan tetap menjadi sahabatmu pendekar. Apapun yang terjadi bahkan jika harus mati terbunuh, aku akan tetap berkata bahwa kau sahabat baikku," kata Kaisar Naga Merah sambil meneteskan air matanya.
"Terimakasih … sahabat. Aku harap, kita bisa saling membantu satu sama lain," kata Shin Shui.
"Tentu. Aku akan membantumu kapan saja kau butuh,"
"Begitupun aku sebaliknya," jawab Shin Shui.
Keduanya melepaskan pelukan mereka secara perlahan. Tak ada lagi kata yang mereka ucapkan. Yang ada hanyalah senyuman hangat.
Senyuman seorang sahabat sejati.
Chen Li memilih untuk diam saja. Dia tidak bicara maupun bergerak. Bocah itu memilih untuk diam seperti patung dan mengambil pelajaran dari apa yang sedang terjadi di depan matanya.
"Saudara kecil, kau minta apa?" tanya Kaisar Naga Merah sambil tersenyum lembut kepada Chen Li.
"Aku tidak ingin apa-apa Kaisar," jawab Chen Li tersenyum.
"Eh jangan begitu. Jangan ikut-ikutan seperti ayahmu yang bodoh ini," katanya sambil tertawa, Shin Shui pun ikut tertawa bahagia.
"Tapi …"
"Sudah-sudah, biar aku saja yang menentukan," kata Kaisar Naga Merah.
Kemudian dia berjalan mengelilingi ruangan tersebut. Setelah beberapa saat, dia akhirnya kembali lagi. Di kedua tanganya ada beberapa benda.
__ADS_1
"Ini namanya Kitab Dewa Seruling. Ini namanya Seruling Dewa, pasangan dari kitab ini. Dan ini namanya Pedang Merah Darah. Ketiga benda ini bukanlah pusaka sembarangan. Ribuan tahun lalu, ketiganya pernah mengguncangkan langit dan bumi. Tetapi kau jangan menggunakan ketiganya sebelum umurmu mencapai delapan belas tahun. Sebab itu akan membahayakan nyawamu. Namun jika kau sudah sampai pada umur tersebut, kau boleh memakainya. Ingat, simpan baik-baik ketiga benda ini," ucap Kaisar Naga Merah sambil memberikan benda yang sangat berharga tersebut kepada Chen Li.
"Terimakasih Kaisar. Aku akan mengingat kebaikan Anda sampai kapanpun," katanya sambil memberi hormat lalu memasukan tiga benda tersebut ke dalam Cincin Ruang miliknya.
"Ah satu lagi, sebentar," dia kembali berjalan mengelilingi ruangan. Tak berapa lama sudah kembali lagi.
"Ini," katanya sambil memberikan sebuah telur warna merah sebesar kepalan tangan orang dewasa.
"Apa ini Kaisar?"
"Ini adalah telur burung Phoenix Raja. Sudah puluhan tahun belum menetas. Menurut yang aku tahu, telur ini akan menetas setelah seratus tahun. Dan dua tahun lagi, telur ini akan menetas. Harap kau menjaganya dengan baik, sebab telur ini paling dicari-cari oleh seluruh pendekar," kata Kaisar Naga Merah menjelaskan.
"Terimakasih Kaisar. Aku akan menjaga semua pemberian Kaisar dengan segenap kemampuanku," ucap Chen Li.
"Anak baik. Seorang ayah yang baik memang selalu melahirkan anak yang luar biasa," pujinya dengan tulus.
Shin Shui hanya tertawa mendengar pujian tersebut.
Setelah selesai, mereka segera kembali lagi ke Istana Kekaisaran. Ruangan tersebut segera tertutup rapat kembali seperti sedia kala.
Ketiganya sudah sampai di ruangan awal. Mereka berbicara panjang lebar lagi sambil menikmati keindahan alam.
"Pendekar …"
"Jangan sebut aku pendekar lagi," kata Shin Shui memotong ucapan Kaisar Naga Merah.
"Barang apa itu?"
Tanpa banyak bicara, Kaisar Naga Merah kembali mengeluarkan lencana bergambar kepala naga. Tetapi lencana yang ini terlihat lebih indah dan antik.
"Ini adalah lencana khusus. Tidak semua siluman dapat memilikinya. Melihat ini, akan sama seperti melihatku. Kau bisa menggunakannya suatu waktu. Selain itu, aku juga bisa mengetahui jika ada bahaya yang mengancam dirimu," ucap Kaisar Naga Merah sambil memberikan lencana tersebut.
"Baik terimakasih. Aku juga ingin memberikan sebuah lencana. Aku harap kau mau menerimanya. Ini adalah lencana Kepala Tetua, siapa yang mempunyai lencana ini, maka semua perkataannya akan dituruti," ujar Shin Shui sambil memberikan sebuah lencana khas Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar.
"Baiklah. Terimakasih," jawab Kaisar Naga Merah.
Chen Li berdiri di dekat jendela yang terbuka. Matanya menyapu seluruh pemandangan.
Rambutnya berkibar tertiup angin lembut. Udara hari ini sangat cerah, kehidupan terlihat sangat damai.
Chen Li mengeluarkan seruling giok hijau. Dia mulai memainkan sebuah lagu yang merdu dan indah. Tapi di balik keindahan itu, ada sebuah perasaan yang sulit digambarkan bagi Shin Shui dan Kaisar Naga Merah. Chen Li meniup seruling sambil terkadang membacakan sebuah syair yang dia buat secara asal-asalan namun penuh perasaan.
Syair itu tentang perpisahan dua orang sahabat.
__ADS_1
Sahabat
Dia bukan saudara
Bukan pula keluarga
Tapi dia, mampu jadi keduanya
Sahabat tetaplah sahabat
Apapun yang terjadi
Dia akan menjadi sahabatmu
Walau bumi hancur, dia tetaplah sahabatmu
Sahabat di dunia ini teramat banyak
Tapi sahabat sejati teramat sedikit
Sahabat sejati tidak perlu kenal lama
Cukup sesaat, namun saling percaya
Kelak, walaupun sahabat sejati jauh
Dia tetap menganggapmu sebagai sahabat
Sahabat yang jauh di sana, ingatlah
Bahwa aku selalu menunggumu kembali
Tak terasa air mata kedua sahabat baru itu berderai. Syair ini sungguh mengisahkan tentang mereka. Keduanya baru kenal sebulan lebih, tetapi rasanya itu saja sudah cukup untuk menjadikannya sebagai sahabat sejati.
###
Hari yang dinantikan telah tiba. Kaisar Naga Merah dan yang lainnya mengantar kepergian Shin Shui dan Chen Li. Sebuah portal cukup besar berwarna merah sudah tersedia.
Perpisahan telah tiba. Kedua sahabat baru akan berpisah. Keduanya meneteskan air mata. Entah kapan akan bertemu lagi, tetapi bagi keduanya, mereka sudah mengerti satu sama lain.
Tanpa banyak berkata, Kaisar Naga Merah dan yang lainnya hanya berpelukan hangat dengan Shin Shui beserta anaknya.
Ayah dan anak itu sudah masuk portal. Keduanya melambaikan tangan sambil memberikan senyum perpisahan. Tak berapa lama, portal pun perlahan menghilang.
__ADS_1
"Selamat jalan sahabatku. Semoga suatu saat nanti kita bisa berjumpa kembali," gumam Kaisar Naga Merah dengan senyumnya.
Perpisahan memang selalu menyedihkan.