
Yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Di ujung mata memandang, terlihat banyak sekali titik hitam yang sedang berjalan menuju ke lapangan luas di Istana Kekaisaran Wei. Jumlahnya entah puluhan ribu atau ratusan ribu. Yang jelas, sangat banyak sekali. Belum pernah terlihat titik hitam sebanyak ini sebelumnya.
Titik hitam tersebut datang dari dua sisi berbeda. Meskipun begitu, tapi keduanya tampak sangat kompak sekali.
Pasukan Kekaisaran Wei sudah siap seluruhnya. Mereka telah berada di posisinya masing-masing. Puluhan ribu pemanah api sudah siap sedia. Puluhan ribu pelempar bahan peledak juga sudah siap. Pasukan yang memegang tombak dan senjata lainnya, semuanya siap.
Tinggal menunggu komando diberikan, maka mereka akan bergerak secara bersamaan.
Chen Li dan di bayangan merah sudah berada dalam posisi siaga. Kedua pendekar muda itu siap bergerak jika melihat musuhnya memulai.
"Serang!!!" tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras sekali. Lebih keras dari suara halilintar, lebih keras dari raungan iblis di neraka.
Titik hitam yang merupakan pasukan musuh dari Kekaisaran lain langsung bergerak sangat cepat. Mereka berlari, ada juga yang menunggang kuda. Semuanya mempercepat langkah guna memulai perang besar ini.
Dua Kekaisaran telah berteriak lantang kepada pasukannya untuk memulai perang. Pihak Kekaisaran Wei tentunya tidak mau malah, sebuah suara yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan terdengar dari arah belakang.
"Hancurkan mereka!!!"
Gelegar!!!
Halilintar menyambar beberapa kali. Angin bertiup kencang secara tiba-tiba. Langit mendung. Hari masih siang, tapi terasa seperti tengah malam. Gelap. Mencekam. Menyeramkan.
"Serang!!!" satu suara terdengar lagi. Kaisar Wei An memerintahkan kepada semua pasukan untuk menyerang musuh yang baru saja tiba tersebut.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan merah dan putih melesat ke depan dengan kecepatan tinggi.
Wushh!!!
Satu bayangan putih lainnya mengikuti dari arah belakang.
Duarr!!!
Ledakan pertama terjadi. Tanah berhamburan ke atas lalu turun dengan deras seperti hujan badai di tengah hari. Baru satu kali serangan, puluhan pasukan musuh sudah ada yang meregang nyawa.
Chen Li benar-benar berbahaya. Dia nekad. Tidak peduli siapapun lawannya, pendekar muda itu telah bertekad untuk tetap menghajarnya. Karena itulah, tidak tanggung-tanggung, dirinya langsung menyerang dengan segenap kekuatan dahsyat.
Pendekar Tanpa Perasaan bergerak lagi. Pedang Hitam yang tergenggam di tangan kiri mulai diayunkan tanpa henti. Puluhan sinar hitam berkelebat dari jarak jauh dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Seruling giok hijau juga sudah dimainkan. Suara alunan nada seruling terdengar menyayat hati. Awalnya suara itu terdengar merdu, tapi lambat laun suara seruling tersebut berubah menjadi menyeramkan.
Suaranya terasa merobek gendang telinga. Puluhan prajurit musuh terkapar. Dari seluruh lubang di tubuhnya, merembes keluar darah segar yang tidak pernah berhenti.
Si bayangan merah tidak mau kalah. Dia melancarkan serangan jarak jauh tanpa kenal lelah. Meskipun kekuatannya tidak seberapa kuat, tetapi tekadnya sangat kuat.
Suara lolongan serigala terdengar sangat mengerikan. Dia melesat dengan kecepatan tinggi lalu melancarkan serangan beruntun.
Wushh!!! Crashh!!!
Satu pedang pendek mendadak ada dalam genggamannya. Pedang itu meliuk seperti ular yang mengamuk. Setiap pedang pendeknya bergerak, beberapa nyawa pasti melayang karenanya.
Awal perang besar sudah benar-benar terjadi.
Dua pasukan Kekaisaran yang bersatu telah bertemu dengan pasukan Kekaisaran Wei. Ribuan anak panah yang telah dilumuri api melesat ke segala arah membakar orang-orang yang menjadi mangsanya.
Lesatan senjata peledak dilontarkan sangat akurat. Suara ledakan terdengar setiap detik. Korban dari kedua belah pihak mulai berjatuhan. Semuanya bercampur menjadi satu. Darah mereka menyatu. Mayatnya juga menyatu.
Dentingan suara senjata pusaka beradu mulai terdengar. Pasukan dari kedua belah pihak berperang dengan semangat yang menggebu-gebu. Mereka semua mengerahkan segenap kekuatan demi melumpuhkan musuh yang ditemui.
Ratusan tokoh kelas atas juga sudah turut mengambil bagiannya masing-masing. Mereka bertarung melawan satu atau dua orang musuhnya.
Jurus-jurus kelas atas yang jarang terlihat di dunia persilatan, sekarang bisa disaksikan secara gamblang. Ribuan sinar menyelimuti muka bumi dan seisinya. Semuanya terlihat membawa perasaan ngeri tersendiri.
Wushh!!!
Pendekar Halilintar telah bergerak.
Sekali dia bergerak, seratus pasukan musuh sudah meregang nyawa. Entah bagaimana cara dia melakukannya. Yang jelas semua orang langsung merasa ngeri. Ternyata kekuatan Pendekar Halilintar semakin hari semakin mengerikan.
Pedang Halilintar sudah digenggam. Aura yang menyelimuti seluruh tubuhnya semakin kental. Seekor naga yang mengelilingi dirinya meraung-raung dengan keras. Naga itu sangat marah. Semarah tuannya. Naga itu sangat benci. Sebenci Pendekar Halilintar melihat semua musuhnya.
"Amukan Dewa Naga Halilintar …"
Roarrr!!!
Gelegar!!!
Kepala naga mendadak muncul dari langit. Suaranya mampu menggetarkan bumi dan mengguncangkan langit. Naga itu melesat sangat cepat. Dia menghajar semua musuh tuannya dengan beringas. Brutal. Dengan ganas.
__ADS_1
Hanya dalam waktu yang singkat, dua ribuan pasukan musuh dilahap habis oleh Dewa Naga Halilintar.
Naga itu tidak berhenti. Justru semakin menjadi. Dia terus memutari musuh-musuhnya sambil terus melahapnya dengan ganas tanpa kenal kata ampun.
Shin Shui tidak main-main lagi. Dia menerjang semua lawan yang menghalangi dirinya. Mau itu tokoh kelas atas, pasukan rendahan atau sebagainya, dia sudah tidak peduli lagi. Niatnya hanya satu, siapapun yang ada di depan mata, orang itu harus mati.
Crashh!!!
Delapan kepala manusia terlempar cukup jauh hanya sekali tebasan. Mereka langsung ambruk tanpa mengeluarkan suara.
Jurus Tarian Ekor Naga Halilintar milik Shin Shui telah keluar dalam kekuatan tertinggi.
Gerakan pedang pusaka miliknya sangat cepat. Sangat indah. Namun juga sangat berbahaya.
Kepala manusia terus menjadi incaran utamanya. Puluhan manusia telah menjadi korban keganasan jurus dahsyat tersebut.
Huang Taiji yang berada di belakang Chen Li juga tidak diam saja. Dia membabat habis siapapun yang berani mendekati Pendekar Tanpa Perasaan.
Pedang Tombak Surga Neraka sudah bergerak. Hawa panas membakar zirah pasukan musuh. Hawa dingin terasa membekukan tulang belulang.
Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding seperti Dewa. Sepak terjangnya membuat siapapun ngeri.
Hanya sebentar, tak kurang dari dua ratus nyawa telah melayang di tangannya.
"Menghancurkan Alam Nirwana …"
Gelegar!!!
Langit berguncang. Alam nirwana tempat para Dewa seolah mendapat gempa. Bumi juga sama. Bumi bergetar sangat hebat.
Raungan kematian terdengar. Rintihan menahan sakit keluar dari setiap mulut manusia yang menjadi korban keganasan jurus yang luar biasa tersebut.
Huang Taiji sudah mengeluarkan kekuatannya hingga ke titik tertinggi. Karena itulah, rasanya sungguh wajar jika tiga ratus nyawa langsung melayang sesaat setelah jurus itu dikeluarkan.
Chen Li semakin menggila. Sekarang bocah itu tidak terlihat seperti pendekar muda.
Pendekar Tanpa Perasaan justru tampil paling depan. Padahal tidak ada yang menyuruhnya. Shin Shui sudah memperingatinya beberapa kali, tetapi dia tetap tidak mendengarkan.
Chen Li yang sekarang tidak terlihat seperti Chen Li yang biasanya.
__ADS_1
Dia tampak seperti seorang Dewa.
Dewa yang membawa maut bagi manusia.