
Pedang Merah Darah mengamuk. Senjata pusaka yang menggetarkan alam semesta itu terus meminta korban jiwa. Setiap kali benda tajam itu bergerak, sudah pasti bakal ada nyawa manusia yang terancam.
Seruling Dewa tidak mau kalah dengan Pedang Merah Darah. Seruling itu terus menghancurkan segala yang ada di sisinya. Entah berapa puluh pohon yang tumbang karena suaranya. Nyawa musuh Pendekar Tanpa Perasaan sebagian ada yang melayang karena tidak kuat menahan suara lengkingan dari pusaka unik tersebut.
Pertempuran maha dahsyat terus berlangsung. Semakin kalam semakin mendebarkan. Orang-orang yang sengaja datang untuk melihat pertempuran hebat ini merasa tubuh mereka seperti ditindih oleh sesatu yang sangat berat sekali.
Jangankan untuk beranjak pergi dari sana, bahkan untuk berdiri pun mereka harus mengerahkan tenaga yang tidak sedikit. Sebagian yang menonton tragedi ini bukan hanya mereka dari kalangan pendekar saja. Bahkan ada juga yang berasal dari kalangan masyarakat biasa.
Mereka ingin menyaksikan kejadian yang mungkin tidak bakal terjadi lagi di muka bumi ini.
Semua orang menahan nafasnya masing-masing. Tidak ada yang bersuara di antara mereka. Semuanya membungkam mulut. Orang-orang tersebut bahkan tampak tidak berkedip. Seolah mereka takut kehilangan momen dari kejadian hebat ini walau hanya sekejap.
Di arena pertempuran, musuh Pendekar Tanpa Perasaan yang tersisa paling hanya sekitar dua puluhan orang saja. Selebihnya sudah mampus di ujung senjata dan jurus pemuda yang dikenal selalu dingin itu.
Dua puluh tokoh kelas atas melancarkan serangan dahsyat secara bersamaan. Berbarengan dengan itu, mereka pun melayangkan pula jurus kelas atas yang dapat mengguncangkan alam semesta.
Delapan pedang energi melesat secepat kilat dari arah belakang Pendekar Tanpa Perasaan. Puluhan pisau energi yang tidak kalah tajam dan kuatnya juga sudah menyerang dari segala penjuru.
Bersamaan dengan jurus-jurus tersebut, terdapat juga jurus lainnya yang mengerikan. Sayangnya hal yang terjadi kemudian masih sama seperti sebelumnya.
Semua jurus jarak jauh yang dilancarkan oleh dua puluh tokoh kelas atas itu gagal mengenai sasaran. Semuanya hancur di tengah jalan. Lenyap begitu saja. Bagaikan segumpal debu tertiup oleh angin kencang. Hilang tanpa jejak yang pasti.
Serangan delapan belas musuh Pendekar Tanpa Perasaan telah tiba di depan mata. Tusukan, bacokan dan tebasan siap mencincang tubuh pemuda serba putih itu.
Wushh!!
Tubuh pemuda itu melesat ke depan menyongsong semua serangan. Dia menari di balik setiap serangan tersebut. Bayangan putih berputar dengan cepat. Pedang Merah Darah menghilang dari pandangan mata semua orang.
Cahaya merah berkelebat kembali. Beberapa kali cahaya itu terlihat. Bentakan nyaring, teriakan kematian dan jeritan kesakitan berkumandang dengan sangat keras. Suaranya sungguh menyayat hati setiap orang yang mendengar.
Crashh!!! Crashh!!!
"Ahh …"
"Keukhh …"
Kepala manusia terlempar kembali. Nyawa melayang dari raga. Semua kejadian berjalan dengan sangat singkat. Seluruh pakaian Pendekar Tanpa Perasaan dibasahi oleh cairan berwarna merah kental.
__ADS_1
Darah.
Tapi bukan darah Chen Li. Melainkan darah semua tokoh kelas atas yang tewas karena keganasannnya.
Pertarungan masih berlanjut. Yang tersisa hanya lima orang saja. Siapapun tidak ada yang dapat membayangkan bagaimana pemuda itu membunuh semua lawannya. Hanya dalam waktu sekitar dua puluhan menit, lima belas manusia telah dikirim ke neraka.
"Hahaha …" Pendekar Tanpa Perasaan tiba-tiba tertawa sangat lantang.
Tapi suara tawanya jelas berbeda dengan sebelumnya. Suara tawa yang sekarang jauh lebih mengerikan. Lebih menakutkan dan lebih mencekam.
Suara itu bukan hanya terdengar dari satu suara. Melainkan lima suara.
Lima siluman naga para Dewa sepertinya merasa puas akan pembantaian seratus tokoh pada malam ini.
Setelah sekian lama terkurung, setelah sekian lama memendam kekesalan kepada Huang Taiji pada beberapa tahun silam, akhirnya semua itu terlampiaskan saat ini.
Mereka benar-benar memperlihatkan seluruh kekuatannya.
Gelegarr!!!
Semuanya menjadi satu.
Setelah itu, semuanya selesai. Pertempuran dahsyat berhenti. Sebab seratus tokoh Organisasi Elang Hitam telah mampus.
Pendekar Tanpa Perasaan masih berdiri dengan tenang di tengah udara. Di bawahnya ada Hong Hua yang sedang ketakutan setengah mati.
Wushh!!! Wushh!!!
Lima belas bayangan hitam tiba-tiba muncul dari segala penjuru. Lima bayangan tersebut segera memberikan. Jurus yang dahsyatnya bukan alang kepalang.
Kejadian ini diluar dugaan Pendekar Tanpa Perasaan sehingga pemuda itu dibuat sedikit terkejut. Untungnya dia dapat menguasai dirinya dengan segera.
Wushh!!! Wutt!!!
Tiba-tiba tiga bayangan lain juga melesat dari sekitar tubuh Pendekar Tanpa Perasaan.
San Ong, Ong San dan Phoenix Raja ternyata tidak mau ketinggalan.
__ADS_1
Kedua siluman kera putih itu sepertinya menerjang segel Kantong Siluman sehingga mereka dapat keluar tanpa perlu dibuka segelnya oleh Chen Li lebih dulu.
Sekarang ketiganya sudah mengambil bagiannya masing-masing. Lima belas bayangan hitam yang sebelumnya sempat menerjang ke depan ke arah Pendekar Tanpa Perasaan, sekarang telah dihadang oleh masing-masing dari tiga siluman istimewa tersebut.
Satu tameng transparan diciptakan oleh ketiganya dalam waktu yang hampir bersamaan. Serangan jarak jauh dari lima belas bayangan hitam langsung berhenti saat itu juga.
Awalnya mereka berada di tengah udara, tapi sekarang setelah serangannya berhasil digagalkan, mereka semua langsung turun ke bumi. Tiga siluman istimewa pun turut melakukan hal yang sama.
Sekarang setelah berada di atas tanah, siapapun dapat melihat dengan jelas bahwa lima belas bayangan hitam itu bukan manusia.
Mereka adalah iblis.
Iblis kera hitam yang mempunyai sepasang bola mata merah bagaikan darah. Di sepasang tangannya terdapat sepasang pedang kembar. Warnanya putih mengkilap. Di lihat sekilas saja siapapun akan segera tahu bahwa pedang itu teramat tajam.
Tinggi mereka kira-kira setara dengan orang dewasa. Seluruh bulu ditubuhnya hitam legam dan sangat keras. Mungkin bulu itu mirip duri yang tajam.
"Hehehe, iblis jelek yang menyeramkan. Jangan harap kau bisa menyentuh tubuh Tuan mudaku," kata Ong San sambil tertawa khas siluman kera.
Lima belas iblis kera hitam mendengar ucapan tersebut. Mereka pun mengerti akan apa yang dikatakan oleh siluman kera putih itu.
Belasan iblis tersebut bertambah marah. Sambil menjerit dengan keras, kelima belasnya langsung melompat ke depan. Mereka melancarkan serangan berkelompok yang hebat.
Wushh!!! Wushh!!!
Kilatan cahaya perak memenuhi udara mal yang kelam. Dentingan nyaring mulai terdengar riuh di atas sana.
Tiga siluman istimewa peliharaan Pendekar Tanpa Perasaan tampak tenang dan santai. Wajah mereka pun dingin. Dingin seperti majikannya sendiri.
Apakah ketiganya sudah ketularan sifat asli Pendekar Tanpa Perasaan? Atau sifat mereka pun memang demikian?
San Ong melompat tinggi ke atas. Sepasang tangannya segera menggenggam pedang iblis kera hitam. Setelah itu dia segera mematahkannya dengan mudah. Seperti mematahkan sebuah ranting pohon.
Clangg!!! Clangg!!!
Hanya beberapa kali tangannya bergerak, dua pasang pedang kembar milik para iblis itu telah patah menjadi dua bagian.
Bukk!!! Prakk!!!
__ADS_1