Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kematian Jendral Besar dari Selatan


__ADS_3

Tiga puluh jurus sudah terlewatkan dalam pertarungan Pendekar Halilintar melawan Jendral Besar dari Selatan. Kedua tokoh itu silih berganti saling mendesak lawan satu sama lainnya.


Jendral Besar dari Selatan semakin berusaha keras untuk mendesak Shin Shui. Kedua tangannya berubah menghitam legam layaknya arang. Bedanya, kedua tangan itu mengeluarkan bau yang sangat busuk.


Seperti janji-janji mantan kekasih di masa lalu.


Jurus tersebut merupakan salah satu jurus pamungkas yang dimiliki Jendral Besar dari Selatan. Dia jarang mengeluarkan jurus itu kecuali dalam keadaan terdesak hebat dan nyawanya terancam. Atau kalau tidak, jurus itu akan dia keluarkan ketika menghadapi seorang pendekar sakti.


Dan sekarang, karena dia sedang melawan pendekar terkuat di Kekaisaran Wei, maka Jendral Besar mengeluarkan jurus tersebut.


Setiap kali kedua tangannya bergerak, selalu terlihat kelebatan sinar berwarna hitam. Terlihat dedaunan pohon di sekitar langsung layu karenanya.


Shin Shui merasa sedikit kewalahan. Tetapi hal tersebut hanya berlaku sesaat saja. Karena ketika Pendekar Halilintar menaikkan kekuatannya, situasi menjadi berubah.


Aura biru terang yang menyelimuti tubuhnya kini semakin pekat dan memancarkan kekuatan jauh lebih kuat. Kilatan halilintar sering terlihat dan menebarkan hawa menekan.


Shin Shui mulai bergerak. Jurus-jurus dari Kitab Tapak Penghancur mulai dia keluarkan. Benturan antara jurus kelas atas terjadi kembali.


Si Jendral Besar dari Selatan beberapa kali terlempar setiap beradu jurus dengan Pendekar Halilintar.


Enam puluh jurus telah terlewati. Jendral Besar itu mulai terdesak karena gempuran serangan tapak Pendekar Halilintar tidak ada hentinya.


"Tapak Kemarahan Budha …"


"Wushh …"


Gelombang membentuk tapak melesat cepat ke arah Jendral Besar dari Selatan.


Tidak mau mengambil resiko, pria tersebut mengeluarkan juga jurus yang tidak kalah hebatnya. Sebuah energi besar mulai terasa menyeruak ke area sekitar.


"Bommm …"


Ledakan dahsyat terjadi. Akibatnya bumi berguncang dan benteng Sekte Serigala Putih sebagian dibuat hancur karenanya.


Jendral Besar dari Selatan terlempar sampai dua puluh langkah jauhnya. Dari mulutnya mengeluarkan darah kehitaman. Dadanya terasa sesak dan punggungnya terasa remuk.


Shin Shui sendiri hanya terlempar sejauh sepuluh langkah. Dia tidak terluka kecuali sedikit darah keluar dari sudut bibirnya, nafasnya sedikit tidak beraturan akibat benturan barusan.

__ADS_1


Dia segera menyalurkan tenaga dalam ke seluruh tubuh untuk memulihkan diri. Kekuatan besar segera dia keluarkan lagi. Kali ini, Shin Shui mengeluarkan kekuatannya sampai delapan puluh persen.


Dari jarak dua puluh langkah, terlihat ada tiga sinar merah melesat cepat ke arahnya. Kekuatan yang terasa cukup untuk membuat seseorang kencing di celana.


Pendekar Halilintar tidak mau berdiam diri menanti datangnya jurus musuh. Dia langsung mengeluarkan Pedang Halilintar dari Cincin Ruang miliknya.


Alasannya karena Shin Shui tahu bahwa tiga sinar tersebut berasal dari tubuh Jendral Besar dan dua pedang pusaka miliknya.


Setelah Pedang Halilintar tergenggam di tangan, dia segera melesat jauh ke depan untuk menyambut Jendral Besar dari Selatan.


"Trangg…"


Benturan senjata pusaka terjadi. Percikan api terlihat indah di malam yang gelap. Kedua tangan Jendral Besar dari Selatan bergetar menahan kekuatan dahsyat milik Shin Shui yang disalurkan lewat Pedang Halilintar.


"Bukkk …"


Sebuah tendangan keras menghantam perut Jendral itu.


Shin Shui tidak mau berhenti, dia langsung menggelar Jurus Tarian Ekor Naga Halilintar.


Pedang pusaka tersebut mulai berputar dengan gaya permainan yang cepat, rumit, dan pastinya berbahaya.


Dua jurus pedang kelas atas sedang beradu saat ini. Keduanya sama-sama cepat dan membawa kabar kematian.


Kilatan merah setiap saat berbenturan dengan kilatan sinar biru terang. Shin Shui menambah daya kecepatannya.


Menjelang jurus kedelapan puluh sembilan, Pendekar Halilintar mengeluarkan Jurus Tarian Ekor Naga sampai ke titik puncak. Akibatnya pedang pusaka tersebut menghilang dari pandangan lawan.


Tidak terlihat bentuk pedang lagi. Yang ada hanyalah kilatan sinar biru terang yang terus menggempur Jendral Besar dari Selatan.


Pedang Halilintar berputar membentuk putaran. Kadang kala pedang tersebut menusuk dan memberikan sabetan.


"Trangg …"


"Slebb …"


Pedang Halilintar berhasil mengenai incaran utamanya. Pedang pusaka tersebut menembus kerongkongan Jendral Besar dari Selatan.

__ADS_1


Darah merah kehitaman menyembur. Baik itu dari kerongkongan maupun dari mulut lawan.


Shin Shui berhasil menusukan pedangnya karena dia sudah berlaku nekad. Untung bahwa gerakannya setingkat lebih cepat dari lawan. Sehingga senjatanya lebih dulu bersarang.


Kalau dia kalah cepat, sudah pasti saat ini kepalanya terpisah. Sebab serangan terkahir tadi merupakan babak penentuan. Jendral Besar dari Selatan menyabet dari sisi kanan dan kiri, sedangkan Pendekar Halilintar menusuk ke depan.


Pertarungan yang paling menegangkan selesai juga. Jendral Besar sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Dua pedangnya telah jatuh ke tanah.


Darah keluar semakin banyak. Wajahnya pucat pasi seperti mayat.


"Ka-kau menang. Se-selamat. Aku bangga bisa tewas di tanganmu," kata Jendral Besar dari Selatan sambil berusaha untuk tersenyum kepada Shin Shui.


Senyuman itu bercampur dengan darah. Bukan senyuman pahit ataupun kesedihan. Tetapi lebih kepada senyuman kebahagiaan.


"Selamat jalan …" kata Shin Shui sambil mencabut Pedang Halilintar dari kerongkongan lawan.


Begitu pedang tercabut, nyawa Jendral itu turut tercabut pula.


Di sisi lain, pertarungan sepuluh tetua berlangsung tidak kalah serunya. Mereka bertarung saling berusaha secepat mungkin untuk membunuh masing-masing lawan.


Benturan keras antara senjata dengan senjata lainnya terus terjadi seiring berjalannya waktu.


Halaman Sekte Serigala Putih yang luas ini sudah tidak karuan lagi. Kerusakan terjadi di mana-mana.


Shin Shui menyaksikan pertempuran hebat itu di sisi bersama dengan anak dan istrinya. Sejak awal, Yun Mei dan Chen Li memang tidak turut serta. Keduanya memilih untuk berdiam diri karena merasa bukan bagiannya.


Sepak terjang Tetua Sekte Bukit Halilintar mampu membuat para pengawal itu jeri. Setiap kali tangan atau senjatanya beradu, meraka selalu kalah. Setiap kali jurus bertemu, pihak lawan selalu terlempar.


Pertempuran tersebut sudah melewati delapan puluh jurus lebih. Pertempuran ini berjalan lebih lama karena kekuatan masing-masing pihak hampir seimbang.


Noda darah telah mewarnai pakaian para pengawal Jendral Besar dari Selatan.


Dua puluh orang itu tahu bahwa tuan mereka telah tewas terbunuh oleh Pendekar Halilintar dalam pertarungan tadi. Akibatnya, semangat bertarung mereka menjadi jauh menurun.


Seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Tidak tentu arah, dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan kecuali melampiaskan amarah sampai ke titik puncak.


Jurus yang keluar semakin hebat. Kekuatan yang terasa semakin menekan area.

__ADS_1


Namun hal tersebut belum cukup untuk menumbangkan para Tetua Sekte Bukit Halilintar.


Semakin lawan mengeluarkan seluruh kemampuannya, maka semakin bersemangat pula para tetua tersebut.


__ADS_2