
Li Meng Li juga melemparkan tawanya. Sebuah tawa yang membuat orang lain akan merasa gemas kepadanya. Gadis itu terlihat sangat lucu. Bila dia tersenyum, lesung pipi di bagian kiri pasti akan nampak. Rambutnya kadang-kadang di kepang dua dengan sutera putih.
Walaupun bagi orang tidak pantas, tapi baginya sangat pantas. Bagi orang akan membuatnya jelek, justru baginya akan membuat cantik.
Dan memang begitu juga kenyataannya.
"Tentu saja aku berani. Kenapa harus takut?" jawab Li Meng Li lalu tersenyum sehingga membuatnya bertambah lebih cantik.
"Hehehe, bagus, bagus,"
"Kau banyak bicara sekali jelek. Katakan saja niatmu itu apa sebenarnya?" tanya Yuan Shao tidak sabar lagi.
Bocah itu memang segera ingin mencoba senjata pusaka barunya. Apalagi puluhan orang tersebut tak lebih hanya merupakan Pendekar Bumi tahap tujuh.
Walaupun jumlahnya beberapa kali lipat lebih banyak, tetapi empat bocah tersebut tidak merasa takut sedikitpun. Apalagi kekuatan di antara mereka sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap empat ke atas.
Yang terlihat paling lemah hanyalah Chen Li. Dia terlihat seperti Pendekar Surgawi tahap satu akhir.
Tentu saja hal itu hanya bualan belaka. Karena memang Chen Li menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya.
"Kau yang paling tinggi kekuatannya. Pantas saja kau sangat kurang ajar dan tidak sabaran. Tapi aku memuji keberanianmu bocah. Kami datang kemari tentunya untuk merampas harta kalian," kata seorang yang diduga pemimpin mereka.
"Kalau kami tidak mau?" tantang Yuan Shi.
"Hehe, bukankah sudah aku katakan sebelumnya? Kalau kalian tidak mau, maka kepala kalian akan segera menggelinding ke tanah,"
"Baik, kalau begitu aku akan memberikan keduanya kepadamu. Kau bisa mendapatkan harta kami setelah menggelindingkan kepala, bagaimana?"
"Usul yang bagus. Aku setuju denganmu," jawab si pemimpin sambil tersenyum menyeringai.
Tiga bocah segera bersiap dengan senjata baru mereka. Sedangkan Chen Li lebih memilih ke pinggir mencari tempat yang sekiranya aman. Seperti yang dikatakan oleh Huang Taiji sebelumnya, dia harus menyembunyikan kekuatan aslinya.
Bahkan kalau tidak terdesak, dia tidak diizinkan untuk turun tangan. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya bahaya.
Para manusia iblis tentu akan mengincar dan membunuhnya karena di anggap bisa menjadi bencana di hari nanti bagi mereka. Karena itulah, Chen Li tidak bisa gegabah dalam bertindak. Apalagi sekarang tanpa Huang Taiji di sisinya.
Selesai si pemimpin berkata demikian, dia langsung memberikan perintah kepada sembilan belas anak buahnya untuk segera mengurung Yuan Shao bersama rekan-rekannya.
Pedang sudah terhunus. Cahaya putih berkilat ketika terkena terpaan sinar matahari. Pertanda bahwa pedang tersebut adalah senjata yang sangat tajam, meskipun bukan termasuk jajaran pusaka kelas atas.
__ADS_1
"Wushh …"
Enam orang telah menerjang Li Meng Li dan Moi Xiuhan. Sedangkan delapan orang sisanya, termasuk si pemimpin, langsung menerjang ke arah Yuan Shao.
Gerakan mereka meskipun tidak sangat cepat, tetapi masuk dalam kategori cepat.
Dari gerakan awal ini bisa diduga bahwa mereka sudah terbiasa melalukan pekerjaan semacam ini. Terlihat kerja sama mereka yang lumayan rapi.
Moi Xiuhan langsung membuka kipas pusakanya.
"Wush …"
Bau harum seperti bunga sakura sedang mekar segera menyeruak ke seluruh tempat tersebut. Kipas Dewi Sakura telah siap untuk memperlihatkan kemampuannya kepada sang majikan baru.
Sebelum enam lawannya tiba ke ayahnya, Moi Xiuhan lebih dahulu menerjang. Kipasnya dikibaskan cepat dari kanan ke kiri, begitu juga sebaliknya.
Suara angin menderu seperti hempasan badai segera terdengar. Tidak berhenti sampai di situ saja, gadis kecil itu telah bergerak kembali dengan lincahnya.
Dia seperti seekor kelinci yang lucu sekaligus imut. Kipas Dewi Sakura benar-benar menunjukkan taringnya.
Enam orang sempat terpaku beberapa saat. Walaupun hanya sekitar lima detik saja, tetapi hal tersebut sudah membawa keuntungan untuknya.
Kipasnya memberikan angin besar yang menggulung-gulung seperti hantaman ombak. Tubuhnya bergerak sangat lincah di bawah sinar merah muda yang tercipta.
Nampak indah, nampak anggun, tapi juga nampak mengerikan.
Hanya dalam sepuluh jurus, enam lawannya telah mengalami luka berat. Begitu dia bergerak kembali sambil melancarkan jurusnya, keenamnya langsung terpengal ke belakang.
Suara jeritan terdengar pilu. Mereka roboh seketika dan tidak akan bangun lagi untuk selamanya.
Mati.
Di sisinya, Li Meng Li pun mengalami hal yang sama. Pedang Kembar Bunga Lotus Es meminta tumbal.
Enam orang menjadi bahan percobaan senjata barunya. Dua sinar putih membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Dua sinar tersebut melesat ke depan seperti dua ekor naga yang menari di angkasa.
Memberikan hawa dingin. Menebarkan ketakutan. Mendatangkan kematian.
Tubuhnya berputar seperti baling-baling. Kakinya bergerak mengikuti irama permainan pedang kembar miliknya.
__ADS_1
Gadis kecil itu sepertinya kelak akak menjadi ahli pedang kembar. Bakatnya sudah terlihat sejak dini.
Enam orang itu tampak tidak berdaya di hadapan seorang gadis kecil. Pedang yang mereka anggap tajam, pedang yang selalu mereka banggakan, sekarang justru tidak dapat membantunya sama sekali.
"Trangg …"
Enam kali suara yang sama itu terdengar menggema. Enam pedang pula telah patah menjadi dua atau tiga bagian.
Li Meng Li mengeluarkan jurusnya. Hawa dingin semakin menusuk.
Dia bergerak cepat, jerit menyayat hati terdengar keras dan membuat burung-burung ketakutan.
Enam orang tewas di bawah pedang kembar miliknya. Dada mereka robek besar dan mengalami luka sabetan pedang yang cukup dalam.
Yuan Shao lain lagi. Dia melawan musuh lebih banyak daripada dua sahabatnya. Walaupun hanya selisih dua orang, tetapi yang satu orang itu ternyata kekuatannya hampir seimbang.
Siapa lagi kalau bukan si pemimpin itu sendiri?
Pedang Phoenix Emas mengeluarkan sinar kuning keemasan yang menyilaukan setiap mata. Sinar emas itu tampak seperti dua naga yang mengamuk.
Tubuhnya terbungkus oleh sinar emas. Suara angin menderu-deru terdengar seperti raungan naga.
Tujuh orang menyerang lebih dahulu. Pedang mereka bergulung-gulung datangnya dan tanpa celah.
Tetapi Yuan Shao tidak panik. Justru dia melemparkan senyuman.
"Cahaya Pedang Menyinari Bumi …"
"Wushh …"
Sinar keemasan berkilat lebih terang. Ketujuh orang yang menyerangnya menutup mata karena tidak tahan. Apalagi sinar tersebut menimbulkan rasa sakit jika memandangnya.
Sayangnya mereka telah melakukan kesalahan. Di saat masing-masing berusaha menutup matanya, saat itulah Yuan Shao bertindak lebih cepat.
"Srett …"
Dia bergerak dari samping kanan ke kiri. Pedangnya bergerak di bawah kurungan lawan. Gerakannya cukup cepat. Entah apa yang sudah terjadi sebenarnya.
Tapi terlihat dari ujung Pedang Phoenix Emas, masih ada darah segar yang menetes perlahan ke tanah.
__ADS_1
Tubuh orang roboh secara berbarengan. Ternyata mereka terluka dibagian lehernya. Masing-masing leher itu hampir buntung dibuatnya.