
Peristiwa singkat sudah dijelaskan. Sebuah bukti yang kuat juga sudah diberikan. Kalau kau ingin menyampaikan sebuah kabar kepada seseorang atau bahkan orang banyak, maka kedua hal di atas harus kau persiapkan sebelumnya.
Jika keduanya sudah diberikan kepada target sasaran, siapa lagi yang tidak akan percaya?
Siapapun pasti akan segera percaya bahwa apa yang kau katakan dan perlihatkan, pastinya memang benar dan dapat dipercaya.
Begitu pula dengan puluhan atau bahkan ratusan orang-orang aliran hitam itu. Mereka pun amat percaya terhadap apa yang telah disampaikan oleh Hong Hua.
Orang tua itu punya nama. Punya cerita tentang peristiwa terkait, dan punya bukti yang otentik.
Akibat dari semua itu, orang-orang tersebut langsung bertepuk tangan dengan meriah. Mereka juga bersorak sorai dengan bangga. Akhirnya Pendekar Merah yang sempat mengguncangkan dunia persilatan beberapa hari lalu telah tewas.
Pemuda yang berbahaya bagi aliran mereka sekarang telah tiada. Ancaman bagi umat persilatan sudah lenyap. Artinya, bencana yang mungkin akan terjadi, sekarang sudah pasti tidak akan terjadi.
Suara lantang orang-orang itu saat berteriak terdengar menggetarkan bumi. Mereka saling berpelukan dengan rekannya masing-masing. Seperti seorang anak kecil yang sedang kegirangan karena dibelikan mainan oleh ayah atau ibunya.
"Hahaha … akhirnya dia mampus,"
"Baguslah. Pemuda sepertinya memang pantas untuk mati …"
"Sekarang kita tidak perlu lagi mencarinya. Karena bocah ingusan itu telah tewas,"
"Pendekar Merah telah tiada, maka kita kembali bebas leluasa,"
Suara lantang dari orang-orang aliran hitam itu terus terdengar. Semakin lama semakin meriah. Di atas mimbar, Hong Hua juga amat gembira karena rencananya berhasil.
Orang tua itu masih berdiri mematung. Sepasang matanya memandang jauh ke depan. Dia tidak bergerak sedikitpun. Karena pada dasarnya, sekarang Hong Hua sedang membayangkan sesuatu.
Sesuatu yang amat dia impikan. Sesuatu yang selalu dia dambakan.
Langkah pertama untuk mengejar cita-citanya yang selama ini belum terwujud telah berhasil dia laksanakan dengan mulus. Impiannya ingin mempunyai lebih banyak harta dan mendapatkan kedudukan sepertinya akan segera tercapai.
Wajahnya hanya berseri sambil terus melemparkan senyuman. Wajahnya saja amat gembira, apalagi hatinya?
Hati orang tua itu jauh lebih gembira lagi. Kalau tidak takut akan ketahuan, mungkin dia akan tertawa sekeras-kerasnya karena saking gembiranya.
Lain lagi dengan Pendekar Merah. Di balik topeng hitam legam yang dia pakai sekarang, pemuda itu sedang tersenyum sinis sambil memandangi orang-orang yang ada di bawahnya tersebut.
__ADS_1
Senyuman itu amat sinis. Amat misterius dan amat dingin. Lebih dingin dari apapun di dunia ini.
'Untuk sekarang kalian boleh berbangga diri. Pendekar Merah mungkin telah tewas. Tapi dia hanya tewas sementara waktu. Kelak, dia akan kembali dengan nama yang berbeda namun dengan orang yang sama. Tunggu tanggal mainnya nanti,' batin Chen Li sambil memandang ke sekeliling orang-orang tersebut di balik topeng dan ikat sutera putih miliknya.
###
Sore hari tiba.
Chen Li dan Hong Hua telah duduk di sebuah meja makan. Mereka duduk berhadapan satu sama lain.
Kedua orang itu bertemu kembali di tempat sebelumnya. Ruangan yang sama. Tempat duduk yang sama. Dan restoran yang sama pula.
Di sana hanya ada mereka berdua. Kalau kemarin Chen Li yang menyewa ruangan tersebut, maka sekarang gantian. Giliran Hong Hua yang menyewanya.
Cahaya merah merona menerpa alam semesta. Air di danau tampak kemilau terkena sinar temaram senja. Danau itu terlihat lebih indah. Gunung yang berdiri nun jauh di sana juga lebih indah lagi.
Ternyata keindahan pemandangan di sekitar restoran tersebut jauh lebih mempesona saat senja tiba. Pada saat itu, seakan semuanya berubah. Setiap orang yang menyaksikan seakan bukan berada di dunia. Tapi berada di surga.
"Rencana kita ternyata berjalan dengan mulus," kata Hong Hua sebelum menenggak arak dalam cawannya.
"Terimakasih. Keahlianku yang lainnya memang dalam hal tersebut,"
Chen Li diam saja. Dia tidak menjawab perkataan tersebut. Sebaliknya, dia malah minum arak harum yang telah tersedia di atas meja tersebut.
"Sekarang kau hanya tinggal menunggu kabar baik lainnya," ucap Chen Li setelah diam beberapa saat.
"Benar, aku hanya perlu menunggu sebentar lagi. Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya balik Hong Hua.
"Apalagi? Tentu saja aku akan pergi sejauh mungkin lalu menyembunyikan diri. Aku belum ingin mati, masih banyak tugas yang harus aku lakukan,"
"Hahaha … selain mudah diajak bekerja sama, ternyata kau juga pandai menepati janji," kata Hong Hua tertawa lantang.
"Pria sejati adalah dia yang selalu menepati janjinya,"
"Kau benar. Karena itulah, aku juga berjanji bahwa kali ini nyawamu akan selamat,"
"Terimakasih,"
__ADS_1
Keduanya bersulang minum arak. Di ruangan bawah restoran juga banyak orang yang sedang minum arak. Ternyata Hong Hua bukan hanya menyewa ruangan lantai tiga saja. Orang tua itu malah menyewa seluruh restoran tersebut sebagai tempat orang-orangnya melangsungkan pesta.
Kalau rencana besar berhasil, bukankah hal ini pantas bahkan wajib untuk dirayakan?
Peduli berapapun besarnya biaya yang diperlukan untuk menggelar pesta itu, selama keuntungan yang akan didapat bakal jauh lebih lebih besar lagi, kenapa tidak?
Selain mempunyai nama besar, Hong Hua juga merupakan orang yang sangat kaya raya. Kalau orang yang sangat kaya menggelar sebuah pesta, bisa dibayangkan bagaimana meriahnya pesta tersebut.
Suara teriakan dan tawa genit seorang wanita mulai banyak terdengar. Restoran itu adalah restoran terbesar yang ada di sana. Sehingga semakin lama, semakin banyak juga suara wanita yang terdengar. Ada yang merintih perlahan, ada pula yang tertawa cekikikan.
"Kapan kau akan pergi menyembunyikan diri?" tanya Hong Hua kepada Chen Li.
"Sekarang,"
"Sekarang juga kau akan pergi?"
"Benar,"
"Ke mana kau akan pergi?" tanyanya lebih lanjut.
"Ke mana pun aku pergi, hal itu bukan urusanmu," jawab Chen Li mulai dingin.
Hong Hua segera menyadari bahwa dirinya telah salah berucap. Karena itulah dia langsung berkata lebih lanjut lagi.
"Ah, maaf, maaf. Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya sekedar bertanya saja,"
"Aku pergi," jawab Chen Li singkat.
Baru saja ucapannya selesai, orangnya telah menghilang dari pandangan Hong Hua.
Gerakan Chen Li amat cepat. Bahkan orang tua itu pun tidak mampu melihatnya dengan jelas. Dia hanya bisa melihat sesosok bayangan manusia pergi lewat jendela yang kebetulan masih terbuka.
Chen Li masih berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh. Pemuda itu tidak terbang karena takut menarik perhatian banyak orang. Sebaliknya, Chen Li malah berlari menyusuri hutan belantara.
Ke mana tujuan pemuda itu sekarang? Apa pula yang hendak dia lakukan selanjutnya?
Perlahan namun pasti, bayangan anak dari Pendekar Halilintar itu sudah menghilang. Dia menghilang di balik kerimbunan pepohonan. Dan ditelan oleh kegelapan malam.
__ADS_1