Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Dua Kakek Misterius


__ADS_3

Wushh!!!


Pendekar Tanpa Perasaan mengibaskan tangan kanannya. Kejadian seperti hari lalu kembali terjadi saat ini. Semua mayat tokoh Organisasi Elang Hitam yang jumlahnya seratus orang, ditambah lagi lima belas bangkai iblis kera hitam, kini semuanya lenyap tanpa bekas.


Sekali kibasan saja, para mayat dan bangkai itu menghilang tidak karuan. Entah ke mana perginya mereka. Yang jelas, sekarang keadaa di sana tampak normal seperti sedia kala.


Semuanya kembali seperti semula, kecuali bekas pertempuran dahsyat yang menghancurkan segalanya, rasnaya tiada lagi sesuatu yang dapat disaksikan.


Setelah mengibaskan tangannya, Chen Li berjalan mendekati ketiga siluman tersebut. Wajahnya masih dingin dan kaku seperti mayat yang menyeramkan.


"Benarkah kalian akan menerima hukuman apapun yang bakal aku berikan?" tanyanya sekali lagi dengan nada suara yang sinis.


"Apapun kami siap. Bahkan kalau harus menyerahkan nyawa, kami pun akan dengan hati menyerahkannya kepada Tuan muda," jawab Ong San mewakili dua rekannya.


"Bagus. Ikut aku," ucap pemuda serba putih tersebut.


Wushh!!! Wushh!!!


Satu bayangan putih berkelebat di bawah kegelapan malam. Diikuti pula oleh tiga bayangan lainnya. Mereka berada dalam kecepatan yang hampir bersamaan.


Hanya sekejap mata, empat sosok tersebut telah berada jauh dari padang rumput Gunung Bok San.


Sekarang di sana tidak ada siapa-siapa lagi kecuali hanya orang-orang yang berasal dari kalangan yang sempat menonton kejadian dahsyat tadi.


Mereka belum beranjak. Orang-orang tersebut masih tertegun atas semua yang sudah mereka saksikan belum lama ini. Tubuh semua orang itu masih mengigil karena merasa takut. Wajah mereka masih juga pucat pasi.


Mayat pasti pucat dan dingin. Kalau kau sudah pernah melihat mayat terbujur kaku, maka seperti itulah gambaran orang-orang itu saat ini.


Setelah suasana dicekam keheningan untuk beberapa waktu lamanya, di antara kerumunan orang itu mendadak ada suara helaan nafas yang terdengar dengan sangat jelas.


"Hahhh …" suara helaan nafas itu membuat semua orang melirik ke arahnya.


Ternyata pelakunya adalah seorang kakek tua yang sudah berumur sekitar tujuh puluh lima tahunan.


Kakek tua itu memakai pakaian berwarna abu-abu lusuh. Dia tidak memakai jubah, tidak juga memakai perhiasan lainnya. Kakek tua tersebut hanya memegang sebuah tongkat sepanjang satu depa. Bahkan tongkat kayunya saja sudah jelek, sama jelek dengan pakaian yang dia pakai.


Wajahnya penuh keriput. Sepasang matanya tajam, bola matanya bersinar. Di balik bola mata itu, siapapun dapat menebak bahwa kakek tua tersebut mempunyai tenaga dalam yang sudah sempurna.


Sepasang alisnya putih tebal. Dia pun memelihara beberapa jenggot kambing yang sudah putih pula. Tubuhnya sedikit bungkuk.


Setelah tadi menghela nafas, akhirnya kakek tua itu berkata, "Aii, bocah itu sungguh berbahaya sekali. Baru kali ini aku melihat ada pemuda yang sangat berbahaya seperti dirinya," katanya mengeluh.

__ADS_1


"Dia memang berbahaya. Sepertinya tidak ada orang lain yang mampu mengalahkannya," sambung seorang kakek tua lainnya yang ada di pinggir.


Semua orang lainnya belum ada yang ikut bicara. Mereka masih berusaha untuk diam mendengarkan.


"Tapi baguslah. Kehadiran pemuda itu membawa kabar baik bagi aliran putih," kata si kakek tua yang memakai pakaian abu-abu itu.


"Benar. Tapi bagi aliran hitam, dia justru akan menjadi ancaman yang menakutkan," sahut kakek yang ada di pinggirnya.


"Perduli setan, siapapun yang mencari masalahnya, maka dia adalah orang terbodoh yang pernah ada,"


Para pendekar yang mengerubungi dua kakek misterius itu mulai merasa geram setelah keduanya berbicara tentang aliran hitam yang posisinya mulai terancam.


Pasalnya mereka yang hadir memang sebagian besar berasal dari aliran sesat. Sedangkan yang berasal dari aliran putih tidak seberapa banyak.


Mereka yang berasal dari aliran sesat merasa tidak terima. Sedangkan yang berasal dari aliran putih menyambut ucapan dua kakek tua itu dengan gembira. Tapi orang-orang tersebut lebih memilih untuk tidak memperlihatkan kegembiraannya.


"Apakah orang-orang yang berani mencari masalah dengan pemuda itu adalah orang bodoh?" tanya seorang pria bertubuh tinggi kekar.


Pakaiannya hitam. Seperti juga kulitnya. Wajahnya sangat bengis, senyuman yang dia lemparkan juga terkesan begitu dingin dan sinis.


"Sangat bodoh, bukankah begitu?" tanya si kakek tua sambil melirik kepada rekannya.


Si pria tinggi kekar tadi bertambah kesal. Dia paling benci melihat ada orang terlalu memuji orang lainnya.


"Perduli setan bodoh atau tidak bodoh. Yang jelas aku sendiri akan mencoba mencari masalah dengannya," ujar si pria kekar.


"Kau tidak akan sanggup,"


"Mengapa aku tidak sanggup? Toh pemuda itu hanya bocah ingusan yang baru lahir,"


"Karena kemampuanmu masih jauh di bawahnya,"


Meskipun dia tahu dan bahkan melihat sendiri kejadian dahsyat tadi, namun amarah sudah membutakan mata hatinya. Si pria kekar tetap bersikeras ingin mencari masalah dengan Pendekar Tanpa Perasaan.


"Omong kosong. Kalian dua kakek tua bau tanah yang sok tahu. Coba kau lihat, apakah benar kemampuanku masih berada jauh di bawah pemuda keparat itu," bentak si pria hitam tersebut.


Selesai berkata demikian, dia lantas segera mencabut goloknya yang hitam legam itu.


Wushh!!!


Satu bacokan dilayangkan dengan cepat ke arah si kakek tua berpakaian abu-abu lusuh.

__ADS_1


Bacokannya sangat keras. Tenaga luar dan tenaga dalamnya sudah terhitung tinggi. Serangan itu dilancarkan dengan penuh perhitungan matang.


Crapp!!!


Golok berhenti tepat satu buku jari di atas kepala si kakek tua. Rekannya yang sama tua sudah menjepit golok tajam tersebut.


Clangg!!! Patah.


Golok yang mengkilat itu patah menjadi dua bagian.


Trakk!!!


Dengan satu kali sentilan, tubuh pria tinggi kekar itu langsung terlempar hingga sepuluh langkah. Mulutnya segera mengeluarkan darah segar. Dia tidak dapat bangun kembali, sepertinya orang tersebut mengalami luka dalam.


Kejadian ini membuat semua orang terkejut.


Semua orang-orang aliran hitam saling pandang. Setelah suasana mulai kembali normal, dua kakek tua tadi ternyata telah menghilang.


Siapa kedua orang tua itu? Ke mana perginya?


Pertanyaan ini masih menjadi misteri orang-orang tersebut.


###


Saat ini Chen Li bersama tiga siluman peliharaannya sedang berada di sebuah danau. Danau yang luas dengan air berwarna hijau jernih. Selain danau, di sana pun terdapat halaman yang cukup luas.


Rembulan sudah menggeser ke Barat. Sepertinya Sang Dewi Malam akan kembali ke peraduannya.


Pendekar Tanpa Perasaan mengibaskan tangan kanannya. Seratusan tubuh manusia dan lima belas ekor siluman tanpa nyawa melayang di tengah udara.


Wushh!!!


Api tiba-tiba melesat dari balik telapak tangan pemuda itu. Semakin lama semakin membesar lalu segera membakar habis ratusan mayat tersebut. Hanya sekejap mata, semuanya telah sirna.


Bau gosong tidak tercium. Sebab tepat setelah ratusan tubuh itu hancur lebur, Pendekar Tanpa Perasaan segera mengeluarkan jurus elemen angin untuk menerbangkan bau tak sedap tersebut.


Semuanya langsung sirna hanya dalam beberapa tarikan nafas.


Setelah itu, Pendekar Perasaan segera duduk di bawah pohon besar. Tiga siluman masih berdiri di sekitarnya tanpa berkata apapun.


"San Ong, pijiti aku. Seluruh tubuhku terasa pegal," perintah Chen Li.

__ADS_1


__ADS_2