
Di ruangan khusus di Sekte Bukit Halilintar, puluhan orang tokoh dunia persilatan dari berbagai macam aliran sedang duduk di tempatnya masing-masing. Mereka sengaja diundang oleh Shin Shui.
Pendekar Halilintar mengundang para tokoh itu untuk menanyakan informasi dan perkembangan di berbagai daerah yang belakangan ini sering dipakai sebagai medan perang.
Pertemuan ini telah terjadi beberapa kali. Setiap dua minggu sekali, Shin Shui selalu mengumpulkan para tokoh itu untuk memberikan berbagai macam informasi yang mereka dapatkan di daerah yang mereka awasi masing-masing.
Pendekar Halilintar sengaja melakukan hal ini guna lebih mudah menghadapi dan membaca pergerakan musuh. Selama ini, Shin Shui belum memberitau pihak Kekaisaran karena menganggap para tokoh dunia persilatan masih mampu untuk menghadapi serbuan musuh.
Hanya saja, sekarang adalah pengecualian. Pendekar Halilintar beranggapan bahwa saat ini sudah seharusnya pihak Kekaisaran menerjunkan langsung tokoh utama untuk turun ke lapangan guna membantu perjuangan para pendekar.
Jadi bisa dipastikan, sebentar lagi Shin Shui akan pergi ke Istana Kekaisaran untuk membicarakan rencana selanjutnya.
Puluhan tokoh serentak berdiri dan langsung memberikan hormat mereka ketika melihat kedatangan Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar.
Shin Shui bersama Huang Taiji dan Yuan Shi duduk di tempat yang sudah di sediakan. Jumlah tokoh yang hadir di sini kurang lebih ada sekitar dua puluh orang.
Semuanya adalah tokoh-tokoh pilihan. Termasuk jajaran tokoh terkuat di Kekaisaran Wei juga hadir.
Setelah berbasa-basi beberapa saat, akhirnya Pendekar Halilintar mulai bicara lebih serius lagi. Dia menanyakan berbagai macam laporan dari para tokoh-tokoh tersebut.
Selama mereka memberikan hasil laporannya, tidak ada satu orang pun yang berani memotong. Semuanya diam mendengarkan dengan seksama. Jika tidak disuruh bicara, maka siapapun tidak akan ada yang berani untuk angkat suara.
Dalam kondisi seperti saat ini, Shin Shui tidak pernah main-main. Beberapa waktu lalu pernah terjadi suatu kejadian yang sampai sekarang masih membekas di benak masing-masing.
Saat itu pertemuan seperti ini sedang berlangsung. Saat seorang tokoh menyampaikan laporannya di lapangan, ada dua orang tokoh lain yang selalu memotongnya bicara. Bahkan dengan berani mereka berdua bercerita tanpa menghiraukan yang lainnya.
Semua tokoh yang hadir saat itu merasa kesal. Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berani bertindak lebih jauh. Semuanya menunggu perintah dari Pendekar Halilintar.
__ADS_1
Sedangkan Shin Shui sendiri, saat itu berusaha untuk tetap sabar. Dia beberapa kali memberi peringatan dengan lembut. Tetapi keduanya selalu mengabaikan. Hingga empat kali kemudian Shin Shui melakukan hal yang sama, kedua orang itu masih memberikan jawaban yang sama juga.
Mereka sama sekali tidak mengindahkan peringatan Pendekar Halilintar.
Saat kelima kali keduanya masih seperti itu, tanpa banyak bicara lagi Pendekar Halilintar langsung mencabut pedang pusaka miliknya.
Kedua orang tersebut menyadari bahaya mengancamnya. Mereka sudah bersiap untuk melawan. Sayangnya sebelum keduanya memberikan perlawanan, ujung Pedang Halilintar milik Shin Shui sudah menembus batang lehernya.
Dua orang itu tewas tanpa mampu memberikan balasan. Semua kejadian tersebut terjadi sangat-sangat cepat sekali. Bahkan di antara banyaknya tokoh yang hadir, tidak ada yang sanggup melihatnya dengan kelas kecuali jajaran tokoh terkuat dan Huang Taiji sendiri.
Semenjak kejadian itulah para tokoh tersebut menjadi lebih segan kepada Pendekar Halilintar. Bahkan semua orang juga sudah menyadari betul bahwa Pendekar Halilintar yang sekarang sudah jauh berubah dari Pendekar Halilintar yang beberapa tahun lalu.
Ilmunya sudah tidak terukur. Jurusnya juga sudah tidak bisa dibandingkan dengan siapapun di Kekaisaran Wei ini.
Apalagi Jurus Pedang Cahaya.
Jurus pedang itu memang jarang dikeluarkan kecuali belakang ini setelah kondisi semakin gawat. Meskipun jarang keluar, namun saat jurus tersebut muncul, tidak ada yang pernah selamat di antara para korbannya.
Semua yang menjadi korban keganasan Jurus Pedang Cahaya, tewas dalam kengerian tersendiri.
Saat ini semua orang masih mendengarkan satu tokoh yang memberikan sebuah laporannya. Menurut orang tersebut, kondisi di bagian Utara Kekaisaran Wei sudah darurat.
Ratusan bahkan hampir tiga ribuan nyawa prajurit gabungan dari Kekaisaran dan berbagai sekte telah tewas menjadi korban dalam medan peperangan.
Shin Shui diam seribu bahasa. Hatinya merasa sakit mendengarkan kenyataan seperti ini.
"Tapi apakah kau berhasil mendesak mundur pihak musuh?" tanya Shin Shui.
__ADS_1
"Untungnya aku berhasil. Bahkan sebagian dari mereka sudah aku tumpas habis, termasuk dengan pimpinan mereka. Walaupun banyak korban jiwa di pihak kita, tetapi banyak nyawa juga yang sudah berhasil diselamatkan," kata tokoh tersebut mengakhiri laporannya.
Seorang tokoh kemudian menyambung laporannya. Dia ditugaskan di bagian Selatan, laporan yang dikatakan oleh tokoh tersebut hampir sama persis dengan tokoh sebelumnya.
Singkatnya, para tokoh kelas atas yang ditugaskan di empat penjuru mata angin melaporkan kejadian mereka yang sama persis. Dari empat penjuru itu, yang paling parah adalah laporan dari bagian sebelah Selatan.
Di bagian Selatan, korban yang berjatuhan jauh lebih banyak lagi. Bahkan hampir mencapai enam tujuh ribu orang pasukan. Banyak rakyat yang menjadi korban amukan prajurit pihak musuh. Anak-anak juga tidak lepas dari amukan mereka.
Beberapa desa hancur lebur menyatu dengan tanah. Kobaran api membakar habis rumah-rumah mereka. Puluhan pernah tewas bergelimpangan menyatu dengan bumi.
Adakah kepedihan yang lebih pedih dari semua ini?
Shin Shui hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Wajahnya terlihat lelah. Semua beban kehidupan manusia seolah berada dalam pundaknya. Senyumannya masih sama seperti hari-hari sebelumnya, hanya saja sekarang ada kesedihan di balik senyuman itu.
Pendekar Halilintar tahu bahwa perang yang lebih besar sudah di depan mata. Bukan tidak mungkin sebentar lagi perang tersebut akan terjadi. Apalagi sekarang, perang sudah pecah di seluruh penjuru Kekaisaran Wei.
Keadaan di dalam ruangan tersebut mendadak hening. Tidak ada yang bicara satu orang pun. Semua tokoh yang hadir merasakan perasaan yang sama. Mereka merasa sedih, merasa pedih, merasa benci, dan merasa sangat marah.
Rakyat negara mana yang tidak akan merasakan hal seperti itu jika tanah airnya dijajah secara terang-terangan?
Di saat suasana hening itu, dari luar mendadak ada seseorang yang mengetuk pintu. Bahkan tanpa menunggu jawaban apapun, orang yang mengetuk tersebut langsung menerobos masuk ke dalam.
"Kepala Tetua …" dia tidak bisa melanjutkan bicaranya karena nafasnya tidak teratur. Wajahnya tampak sangat cemas sekali.
"Tenanglah. Atur nafas dulu, apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Shin Shui sambil memandangi orang itu yang ternyata merupakan murid penjaga Sekte Bukit Halilintar.
"Di-diluar …"
__ADS_1
"Diluar kenapa?" tanya Shin Shui mulai penasaran terhadap murid penjaga tersebut.