Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Luka Huan Ni Mo


__ADS_3

Sebuah cahaya kuning membentuk seperti sebuah mangkuk lalu meledak seketika itu juga.


Langit berguncang. Bumi bergetar sangat hebat. Dunia seakan mau kiamat. Puluhan batang pohon, mulai dari yang besar hingga kecil, semuanya tumbang tersapu sebuah gelombang yang sangat dahsyat.


Getaran ini sampai ke radius lima ratus meter. Semua yang ada dalam jangkauan jarak tersebut, dilibas habis oleh keganasan jurus Pukulan Neraka Kesembilan milik Huang Taiji.


Selama menjalankan tugasnya menjaga Chen Li dan membantu Kekaisaran Wei, baru kali ini dia mengeluarkan jurus pukulan terdahsyat yang dimilikinya.


Empat orang yang tadi mengeluarkan jurus terdahsyat secara bersamaan, terpental hingga seratus meter jauhnya. Keempat orang itu muntah darah cukup banyak. Meskipun luka dalam yang diderita tidak terlalu parah, namun untuk beberapa saat mereka tidak dapat bangun kembali.


Huang Taiji menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri sambil membawa Huan Ni Mo si Wanita Tombak Asmara yang sedang terluka sangat parah.


Hanya dalam beberapa tarikan nafas, orang tua itu sudah menghilang. Dia seperti hantu yang tiba-tiba lenyap. Datang tak disangka, pergi tak terduga.


Alasan Huang Taiji sengaja melarikan diri karena dia harus segera menyelamatkan nyawa Huan Ni Mo. Walaupun dia bukan seorang tabib yang terkenal ke seantero negeri, namun pengetahuannya tentang obat dan dalam dunia pertabiban, rasanya masih tidak kalah di bawah kemampuan tabib manapun.


Dia tahu bahwa luka yang diderita oleh Wanita Tombak Asmara sangatlah parah. Terlambat sedetik saja, bisa dipastikan nyawanya tidak akan tertolong.


Selain karena alasan di atas, alasan Huang Taiji "lari" dari medan pertarungan juga karena dia sadar bahwa empat orang tadi bukanlah pendekar biasa.


Masing-masing dari mereka merupakan Pendekar Dewa Tahap enam pertengahan. Jika digabungkan kekuatannya, maka dia sendiri belum tentu kuat menahannya.


Untuk beberapa waktu mungkin dia masih bisa bertahan dan memberikan perlawanan. Tapi jika sampai seratus jurus lebih, dia sendiri tidak yakin bisa bertahan lebih lama lagi.


Bagaimanapun juga, untuk sekarang ini, dia sedang menyamar menjadi seorang manusia seperti pada umumnya. Kalau dia mengeluarkan kekuatan sebagai pengawal pribadi Dewa Lima Unsur, maka empat orang itu masih bukan tandingannya.


kira-kira mungkin masih kalah satu atau dua tingkat.


Tapi sayangnya hal tersebut tidak bisa dia lakukan karena hal itu merupakan pantangan tersendiri baginya.


Huang Taiji tahu betul bahwa gabungan kekuatan mereka sangat mengerikan. Manusia biasa yang bisa menahannya atau ada kesempatan untuk memenangkan pertarungan, mungkin hanya Shin Shui saja yang mampu melakukannya.

__ADS_1


Selain Pendekar Halilintar, rasanya tidak ada lagi yang bisa mengalahkan mereka berempat sekaligus.


Saat ini dirinya sedang membopong tubuh Huan Ni Mo. Orang tua itu berlari sangat cepat sekali. Ilmu meringankan tubuhnya dia keluarkan hingga ke titik tertinggi.


Jika orang biasa, sudah tentu dia tidak akan dapat melihat dirinya. Paling-paling mereka hanya bisa merasakan ada sebuah desiran angin yang lewat di hadapannya.


Di tempat kejadian tadi, setelah beberapa saat menghimpun hawa murni, akhirnya empat orang itu bisa berdiri kembali. Meskipun memang lukanya belum pulih sepenuhnya.


"Siapa orang yang melakukannya?" tanya seorang di antara mereka merasa sangat penasaran.


Tiga rekannya menggelengkan kepala.


"Aku sendiri tidak tahu dia siapa. Bahkan wujudnya saja tidak terlihat dengan jelas. Aku hanya merasakan adanya hembusan angin dahsyat bersama kekuatan mengerikan. Selamanya, baru kali ini aku mengalami hal seperti barusan," timpal yang lainnya.


"Apakah mungkin kalau dia Pendekar Halilintar?"


"Bukan. Itu jelas bukan dia. Aku tahu kalau Pendekar Halilintar mempunyai tenaga dalam dan aura yang khas. Hanya saja, aura orang yang barusan menghajar kita, rasanya aku baru pertama kali ini merasakan aura yang demikian aneh,"


Tiga rekan lainnya mengangguk setuju. Mereka juga merasakan sendiri bagaimana tingginya kekuatan orang misterius tadi.


"Sudahlah, untuk sekarang, kita kembali dulu ke markas. Luka kita harus segera disembuhkan,"


"Baik, aku setuju,"


Empat orang tersebut kemudian segera melesat dari hutan itu. Hanya dalam tiga tarikan nafas, orang-orang itu lenyap tanpa jejak sama sekali.


Huang Taiji dan Huan Ni Mo sudah tiba di sebuah penginapan terbesar yang ada di sana. Tanpa banyak bicara lagi, Huang Taiji segera masuk ke dalam dan menemukan Chen Li sedang menunggunya di ruang makan.


"Bawa Paman ke kamar," kata Huang Taiji sambil lebih dulu naik ke atas.


"Baik Paman,"

__ADS_1


Chen Li lalu melompat. Sekali lompatan, tubuhnya sudah sampai di atas dan mendarat tepat di kamarnya.


Orang-orang yang ada di sana memandanginya dengan seksama. Ada yang takjub, ada yang heran, ada juga yang biasa saja.


Cheli Li segera membuka pintu. Sedangkan Huang Taiji langsung masuk dan mebaringkan Wanita Tombak Asmara.


Bocah kecil itu menutup pintu lalu menguncinya.


"Apakah lukanya separah itu Paman?" tanya Chen Li sambil berjalan mendekati.


"Sangat, sangat parah sekali Li'er. Terlambat sedikit, nyawanya pasti tidak akan tertolong lagi," jawab Huang Taiji sambil siap-siap melakukan pengobatan.


"Hemm, orang seperti Huan Ni Mo mampu dilukai sampai separah ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana mengerikannya mereka," ucap Chen Li sambil menerawang jauh.


Bocah itu adalah bocah yang cerdas serta istimewa. Sekilas melihat keadaan Wanita Tombak Asmara saja, sedikit banyak Chen Li sudah tahu seberapa parah luka yang dialaminya.


Dia tahu bahwa Huan Ni Mo adalah tokoh wanita terkuat di Kekaisaran Wei. Bahkan dia masuk dalam jajaran sepuluh tokoh terkuat, dan posisinya paling akhir.


Jika tokoh terkuat saja sampai dilukai sedemikian parahnya, berarti seberapa hebat musuhnya?


Otak Chen Li berputar. Dia jadi merasa ngeri sendiri. Bagaimana kalau perang nanti terjadi? Sulit dibayangkan bagaimana keadaan muka bumi ini.


Tanpa sadar, Chen Li menggertakkan giginya. Kedua tangannya mengepal kencang. Tekad untuk mencapai pendekar tanpa tanding, tekad untuk menjadi pendekar terkuat, semakin membara dalam dadanya.


"Kekuatan gabungan mereka sungguh mengerikan Li'er. Sepertinya sepanjang perjalanan kita kali ini, hanya mereka saja yang akan menjadi musuh tangguh," kata Huang Taiji dengan ekspresi serius.


Chen Li semakin tertegun. Dia tahu dan dia sadar betul sampai di mana kemampuan pamannya itu. Kalau dia saja sampai bicara demikian dan mengakui kehebatan musuh, maka kebenarannya tidak bisa dibantah lagi.


"Aih, sepertinya urusan sekarang akan lebih panjang dan lebih rumit lagi," keluh Chen Li sambil menghela nafas dalam-dalam.


Jika musuh utamanya sekuat itu, maka sudah dipastikan bahwa masalah yang akan mereka hadapi nantinya, pasti jauh lebih sulit dari yang diperkirakan.

__ADS_1


__ADS_2