Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Cahaya Dari Neraka


__ADS_3

Shin Shui telah berada diluar Istana Kekaisaran. Sekarang, Pendekar Halilintar itu sedang berada di tengah-tengah sudut Kotaraja. Sepasang matanya memandang ke sekeliling tempat yang ada di sana.


Sepi. Sunyi. Tidak ada siapapun. Tak seorang pun yang bisa dia saksikan. Kejadian ini cukup aneh, sebab semua orang tahu betul bahwa Kotaraja adalah tempat yang tidak mati dan tidak akan pernah mati.


Tempat itu akan selalu ramai. Baik itu siang hari maupun malam hari. Kehidupan di sana selalu berjalan seiring berputarnya waktu. Tanpa berhenti walaupun sesaat.


Tapi kenapa keadaan sekarang nampak sekali berbeda? Ke mana perginya orang-orang yang biasa berlalu lalang? Ke mana mereka yang meronda? Para penjaga, para tentara, bahkan para penjudi sekalipun tidak nampak batang hidungnya.


Hati Shin Shui semakin curiga. Dia semakin yakin bahwa di sekitaran Kotaraja telah terjadi sesuatu. Tetapi, sesuatu apakah yang telah terjadi itu?


Shin Shui tidak dapat menjawabnya. Dia langsung pergi untuk melihat ke tempat lainnya. Tujuannya sekarang hanya satu, yaitu mencari seseorang yang masih berkeliaran di luar.


Apakah dia akan menemukannya?


Setelah beberapa lama mencari orang lain, akhirnya Shin Shui menemukannya. Orang itu berada di depan sebuah gubuk yang sudah sangat tua.


Usianya juga setua gubuk itu. Dia merupakan kakek-kakek yang sangat lanjut usianya. Orang tua itu sedang duduk dengan santai sambil menikmati seguci arak murahan. Kakinya berselonjor, dia sendiri duduk di atas sebuah kursi kayu yang sudah usang.


Gubuk tersebut berada di pinggiran Kotaraja. Selama mencari orang lain, hanya orang itu saja yang dapat Shin Shui temui. Selebihnya, jangankan manusia, bahkan nyamuk pun tidak berhasil dia temukan.


Letak desa pinggiran itu lumayan jauh dari Kotaraja. Jika diingat kembali, di sekitar tempat sini lah cahaya merah tadi terlihat. Hanya saja sampai sekarang pun Shin Shui belum bisa mengetahui cahaya apakah itu.


Pendekar Halilintar berjalan mendekat kepada kakek tua itu.


"Semua orang-orang yang ada di sekitar Kotaraja tidak akan berani keluar rumah," kata si kakek tua secara tiba-tiba.


Shin Shui tercekat, bagaimana mungkin kakek itu bisa tahu apa yang akan ditanyakan olehnya?


Belum sempat Pendekar Halilintar menjawab, kakek tua itu telah bicara kembali.


"Mereka takut karena sempat melihat sinar merah tadi. Jadi walaupun kau mencari sampai beberapa jam lagi, para warga tetap tidak akan ada yang mau keluar. Bahkan para tentara pemerintah juga sama, mereka merasa takut dan ngeri kepada sinar merah itu,"


"Bagaimana Kakek bisa tahu bahwa aku akan menanyakan hal ini?" tanya Shin Shui tidak bisa menahan rasa penasaran lagi.

__ADS_1


"Hanya kau yang berani keluar seorang diri, dan hanya kau pula yang mencari orang lain. Jika bukan untuk menanyakan kenapa para warga tidak ada yang keluar, apa lagi?"


Pendekar Halilintar tidak tahu harus menjawab apa. Walaupun ucapan si kakek tua itu ada benarnya, tapi dalam hatinya Shin Shui masih merasa curiga. Menurutnya, kakek ini mempunyai rahasia besar.


"Ternyata pengetahuan Kakek sungguh luas sekali. Kalau boleh tahu, pertanda apakah cahaya merah tadi?"


"Cahaya itu adalah tanda kematian. Setiap orang yang melihat cahayanya, pasti akan mampus, tak terkecuali para tentara pemerintahan sendiri,"


"Kalau pasti mampus, kenapa mereka masih memilih untuk bersembunyi?"


"Karena bersembunyi bisa menyelematkan nyawa. Setiap orang yang melihat cahaya tadi memang bakal mampus, tapi bagi mereka yang langsung bersembunyi ke dalam rumah, merupakan pengecualian,"


"Jadi maksudmu, yang bakal mampus adalah mereka yang telah melihat cahaya merah tapi tidak segera bersembunyi?"


"Tepat sekali,"


Shin Shui terdiam untuk sesaat. Dia mengingat-ingat memori ingatannya. Mendengar penuturan singkat si kakek tua, Pendekar Halilintar juga mendadak ingat terhadap sesuatu.


"Apakah cahaya merah tadi benar-benar tanda kematian?"


"Benar,"


"Benar, dari mana kau tahu?"


"Aku tahu semua yang ada di dunia ini," jawab Shin Shui secara singkat sambil sedikit menyombongkan diri.


"Tapi kenapa dia berani beroperasi di Kotaraja? Bukankah itu artinya dengan mengantar nyawa?"


"Jika ingin mendapatkan sesuatu yang besar, maka kita harus siap menempuh jalan yang beresiko besar pula,"


"Benar,"


Shin Shui menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Semakin besar sesuatu yang kita inginkan, semakin besar juga resiko yang harus dihadapi.


Hanya saja yang menjadi pertanyaan Shin Shui, sesuatu apakah yang diinginkan di Maling Seribu Tangan?


Maling Seribu Tangan adalah seorang yang tidak pernah gagal dalam menjalankan aksinya. Di Kekaisaran Tang sendiri, dia sudah sangat terkenal hingga ke seluruh pelosok negeri.


Selain dikenal keahliannya dalam mengambil sebuah barang atau sejenisnya, Maling Seribu Tangan juga dikenal sebagai sosok yang ditakuti. Baik itu oleh aliran hitam maupun aliran putih, semuanya merasa segan kepada orang itu.


Keahliannya benar-benar mengerikan. Apalagi dalam hal maling. Jika dia berkata ingin maling mahkota Kaisar, maka dia benar-benar mampu melaksanakannya.


"Jadi, barang apa yang dia inginkan sehingga berani memunculkan dirinya di Kotaraja ini?" tanya Shin Shui lebih lanjut merasa si kakek tua.


"Kenapa kau malah bertanya kepadaku?" jawab si kakek tua.


"Jika bukan kepadamu, lantas kepada siapa lagi? Bukankah kau sendiri si Maling Seribu Tangan?"


Ucapan yang dikatakan oleh Shin Shui di utarakan sepatah demi sepatah kata. Sangat lambat, sangat tegas.


Si kakek tua terlihat sedikit terkejut. Tetapi selanjutnya dia malah tertawa. Suara tawanya menggema ke seluruh jagat raya. Kekuatannya sudah tinggi, tenaga dalamnya juga tidak diragukan lagi, sehingga wajar kalau dia mampu melakukan hal tersebut.


"Ternyata kau benar-benar bermata tajam," puji si kakek tua yang ternyata memang si Maling Seribu Tangan.


"Bukan mataku yang tajam. Tapi kau sendiri yang membongkar rahasiamu,"


"Benarkah?"


"Tentu saja. Bukankah kau berkata bahwa siapapun yang tidak segera bersembunyi, maka akan mampus. Kau bicara seperti itu, tapi kau sendiri dengan tenang duduk diluar sambil menikmati arak. Bukankah ini aneh?"


"Kau benar,"


"Selain itu, aku lihat kau juga sangat tahu tentang si Maling Seribu Tangan. Padahal menurutku, seorang kakek tua sepertimu tidak akan tahu apa-apa. Jangankan begitu, untuk mendengar bicaraku yang pelan saja mungkin tidak bisa, tapi kau malah kebalikan dari semua itu. Karena alasan itulah aku bisa tahu bahwa si Maling Seribu Tangan adalah kau sendiri,"


Untuk yang kedua kalinya si Maling Seribu Tangan tertawa kembali. Suara tawanya kali ini lebih keras, lebih melengking dan tenaga dalam yang disalurkan dalam gelombang suaranya juga jauh lebih kuat dari sebelumnya.

__ADS_1


Shin Shui sendiri hanya diam di tempatnya berdiri. Dia tidak bergerak, Pendekar Halilintar benar-benar tidak melakukan apapun. Padahal jika orang lain yang mendengar suara tawa si Maling Seribu Tangan, orang itu pasti akan mengeluarkan darah dari kedua telinganya.


Tetapi Shin Shui tidak. Dia masih berdiri kokoh, seolah tenaga dalam yang disalurkan lewat gelombang suara itu tidak mampu melukai dirinya.


__ADS_2