Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Hancurnya Sekte Langit Merah


__ADS_3

"Tuan pahlawan, apakah, apakah tuan muda tidak terluka?" tanya Eng Kiam dengan perasaan malu.


"Tentu saja tidak Kiam'er. Bocah ini hanya membohongimu. Entah apa tujuannya, mungkin hanya sekedar ingin tahu apakah kau akan khawatir atau tidak," kata Shin Shui tersenyum.


Dia paham akan apa yang dirasakan oleh Eng Kiam. Dan dia juga tahu tujuan anaknya melakukan hal bodoh seperti itu. Dia tahu dua muda mudi ini, sebab Shin Shui sendiri pernah mengalami hal-hal seperti mereka.


Mendengar penjelasan Shin Shui, Eng Kiam semakin merasa malu. Wajahnya bertambah memerah. Untuk beberapa saat dia tidak berani menunjukan wajahnya.


Kini perasaannya sedang campur aduk. Entah apa yang dia rasakan, dia sendiri bingung. Tapi saat melihat Chen Li seperti tadi, gadis kecil itu benar-benar merasa sedih sekaligus khawatir sekali.


Sementara itu, Chen Li yang melihat Eng Kiam malu, dengan segera dia meminta maaf kepadanya. Bagaimanapun juga, dia memang telah melakukan kesalahan.


"Maafkan aku kakak Kiam. Li'er hanya bercanda saja. Li'er tidak ada maksud membuatmu khawatir ataupun merasa malu. Sungguh, Li'er minta maaf," kata Chen Li dengan tulus.


Eng Kiam masih terdiam. Bahkan gadis kecil itu masih tidak berani menunjukkan wajahnya.


"Kakak Kiam, aku minta maaf. Jangan seperti itu kepada Li'er. Jangan marah," ucapnya agak sedikit menaruh wajah belas kasihan sambil memegangi kedua tangan Eng Kiam.


Tanpa sadar gadis kecil itu mengangkat wajahnya saat merasa ada tangan lembut menggenggam tangannya sendiri. Tapi dengan segera dia kembali menarik tangan itu malu-malu.


"Sudahlah, tuan muda tidak bersalah. Aku saja yang terlalu bodoh karena dapat kau bohongi," katanya sedikit ketus.


Tapi itu hanya di mulutnya saja. Karena di hatinya dia merasa senang saat tangannya digenggam walaupun hanya sebentar.


"Ehemm …"


Tiba-tiba Shin Shui berdehem agak keras sehingga menyadarkan dua bocah yang kini bersamanya itu.


"Li'er, Kiam'er, kalian menjauhlah," perintah Shin Shui.


Keduanya mengerti. Mereka segera menjauh dan menunggu di dekat pintu gerbang.


Shin Shui berdiri sendiri di tengah halaman Sekte Langit Merah yang sudah berantakan.


Tubuhnya melesat ke dalam sekte secepat kilat. Beberapa saat kemudian, dia sudah kembali. Tujuannya pergi ke dalam adalah untuk menjarah harta yang dimiliki sekte ini.

__ADS_1


Tetapi semua harta itu bukanlah untuknya sendiri. Melainkan untuk orang-orang yang lebih membutuhkan. Lagi pula, apa gunanya semua harta itu buat Pendekar Halilintar?


Baginya, kekayaan sekte ini bahkan tidak ada seperempat dari harta yang dia miliki.


Setelah semuanya selesai, Shin Shui segera berteriak sekencang mungkin.


Dia mengerahkan jurus tingkat tinggi, yaitu Dewa Halilintar Mengguncangkan Semesta untuk menghancurkan sekte tersebut.


Hanya sekejap saja, badai halilintar kembali menggelegar. Bumi berguncang keras. Tanah bergetar hebat.


Hanya dalam hitungan menit saja, seluruh bangunan di sekitar Sekte Langit Merah sudah rata dengan tanah.


Kini di sana tidak ada lagi sekte megah. Tidak ada lagi bangunan-bangunan mewah. Yang ada hanyalah puluhan mayat manusia dan reruntuhan bangunan saja.


Shin Shui segera pergi menemui Chen Li dan Eng Kiam.


Ketiganya segera pergi dari sana secepat mungkin.


Hal ini dia lakukan bukan karena takut, tetapi karena Shin Shui merasa masih banyak persoalan yang harus dia selesaikan dengan segera.


Dua minggu telah berlalu dari kejadian saat Shin Shui menghancurkan Sekte Langit Merah.


Hancurnya salah satu sekte besar di daerah Selatan itu menjadi berita heboh beberapa waktu terkahir. Dan yang paling mengejutkan semua pendekar adalah karena pelakunya merupakan pemimpin dunia persilatan.


Semua pendekar tahu siapa itu Shin Shui. Tahu bagaimana sifat dan kelakuannya. Banyak yang percaya bahwa Shin Shui melakukan itu karena sebuah alasan kuat. Bahkan sebagian pendekar dari berbagai sekte yang telah mengetahui pengkhianatan Sekte Langit Merah, membenarkan apa yang dilakukan oleh Shin Shui atas sekte tersebut.


Tetapi di samping itu semua, tidak sedikit juga orang-orang dunia persilatan yang menyalahkan tindakan Shin Shui dengan berbagai macam alasan. Apalagi mereka yang sudah terkena hasutan sebagian orang. Di mana si penyebar berita mengatakan bahwa Shin Shui sudah bekerja sama dengan sekte aliran hitam.


Padahal semua pendekar juga tahu bahwa Shin Shui itu berada di garis lurus. Dia tidak mengaku sebagai orang beraliran lurus, terlebih lagi, Shin Shui juga tidak pernah menyebutkan bahwa dia merupakan orang beraliran hitam.


Tetapi, orang-orang yang menyebarkan propaganda itu sungguh hebat. Bahkan orang tersebut mampu membuat nama Shin Shui sedikit jelek di mata para pendekar.


Shin Shui sendiri sudah mendengar akan semua berita mengenai dirinya tersebut. Tetapi pendekar itu tidak ambil pusing.


Setelah perang sepuluh tahun lalu berakhir, Shin Shui memang sudah berubah total. Dia menjadi orang yang masa bodoh dalam menghadapi orang-orang seperti ini.

__ADS_1


Terserah orang lain mau membicarakannya bagaimana. Terserah mereka mau menilainya seperti apa. Yang penting selama sebuah hal menurutnya benar, maka sebisa mungkin dia akan melakukannya.


Masalah pandangan orang terhadapnya, dia tidak pernah peduli. Toh nanti mereka akan tahu dengan sendirinya.


Kita juga sebisa mungkin harus sepertinya. Jangan pernah pikirkan omongan orang lain terhadap dirimu. Karena terkadang, pujian adalah bentuk cacian dalam cara halus. Sedangkan hinaan adalah bahwa mereka iri terhadapmu.


Hari ini waktu sudah sore, kurang lebih dua tiga harian lagi Shin Shui akan sampai di Sekte Bukit Halilintar. Tempat yang selama ini selalu dia rindukan.


Karena jaraknya sudah dekat, maka dia berlaku santai saja. Seperti kebiasaannya sejak dulu, dia sangat gemar menikmati makanan enak dan mewah.


Karena alasan itu, Shin Shui mengajak Chen Li dan Eng Kiam untuk makan di sebuah restoran mewah di daerah yang sekarang dia singgahi.


Ketiganya memasuki restoran paling ternama di sana. Restoran itu memiliki tiga lantai. Semakin tinggi lantai, semakin mahal dan semakin enak juga makanan yang disuguhkan.


Dan tak perlu ditanyakan lagi, Shin Shui sudah pasti memilih lantai tiga. Suasana di sana sangat ramai sekali. Mulai dari lantai satu sampai lantai tiga, semuanya penuh.


Tetapi begitu melihat Shin Shui datang, keadaan langsung sunyi. Semua orang memberikan hormatnya kepada pahlawan sekaligus pemimpin dunia persilatan ini.


"Terimakasih para senior. Mohon kalian jangan sungkan," ucap Shin Shui ramah.


Semua orang segera berdiri setelah Shin Shui berkata demikian. Bahkan ada enam orang pendekar yang langsung mengikutinya tanpa perlu disuruh. Mereka ingin menjaga dan memastikan keamanan Shin Shui.


Dari sini saja bisa di lihat bagaimana wibawa Shin Shui di mata semua pendekar. Terkadang, karena alasan inilah dia malas untuk melakukan hal-hal di luar. Dia suka merasa risih kalau diperlakukan seperti ini.


Shin Shui amat sangat dihormati dan disegani. Terlebih oleh mereka kalangan pendekar.


Kalau dipikirkan memang lucu, orang seperti dia yang memiliki banyak jaringan kuat dan orang-orang hebat, ternyata masih saja ada yang berani mencari masalah dengannya.


Shin Shui kemudian menaiki lantai ketiga. Dia duduk di meja paling ujung. Sebenarnya banyak yang menawarkan tempat duduk untuknya, tetapi dia lebih suka duduk di meja paling belakang.


Pelayan segera datang saat Shin Shui baru saja duduk. Dia memesan makanan untuknya dan untuk orang-orang yang menjaganya.


Setelah memesan menu makanan, mata Shin Shui langsung memandang ke sekeliling. Tatapannya berhenti ketika memandang sebuah meja yang di kelilingi enam kursi.


Ada perasaan curiga di hatinya. Tetapi dia masih perlu mempelajarinya lebih jauh lagi.

__ADS_1


__ADS_2