
Di tempat lain, di sebuah lembah yang memiliki pemandangan indah, Huang Taiji sedang duduk sendiri. Orang tua itu memperhatikan Chen Li yang terbaring tidur di depannya.
Rasa sayangnya kepada bocah itu semakin bertambah tebal. Apalagi dengan keadaannya sekarang yang sangat memprihatinkan. Sekarang, Chen Li hanya seorang diri. Tanpa ayah, tanpa ibu, juga tanpa sanak saudara.
Untuk sekarang dan ke depannya dia bakal hidup sebatang kara. Akibat perang kemarin, dia kehilangan rekan-rekannya. Akibat perang besar beberapa hari lalu, Chen Li kehilangan sanak saudara. Bahkan kedua orang tuanya.
Para pendekar muda yang seangkatan dengannya menghilang entah ke mana. Mereka lenyap begitu saja seperti ditelan bumi. Para pendekar Kekaisaran Wei, baik yang muda maupun yang tua, semuanya menghilang tak jelas rimbanya.
Huang Taiji masih duduk. Sepasang matanya memandang jauh ke depan. Pikirannya melayang-layang membayangkan segala macam yang sudah dia lewati baru-baru ini.
Orang tua itu tidak habis pikir tentang apa yang sudah dilakukan oleh para manusia. Dia tidak mengerti kenapa manusia tega mengorbankan nyawa sesama hanya demi melancarkan niat utamanya.
Huang Taiji merasa geram melihat tingkah laku para manusia. Dia amat kesal dengan semua yang mereka lakukan. Kenapa manusia rela mengorbankan nyawa sesamanya? Apakah mereka tidak punya hati? Hanya demi sebuah kekuasaan, para manusia rela melakukan segalanya, sekeji itukah yang namanya manusia?
Huang Taiji juga merasa menyesal karena tidak bisa memberikan bantuan lebih. Kemarin saat perang besar, dia tidak mengeluarkan seluruh kekuatannya sebagai seorang pengawal Dewa Lima Unsur karena sebuah alasan.
Dirinya telah disumpah untuk tidak mengeluarkan seluruh kekuatan para Dewa jika saatnya belum tiba. Itu adalah sumpah yang sangat tidak boleh untuk dilanggar. Kalau sampai sumpah tersebut dilanggar, maka akibatnya sulit untuk dibayangkan.
Oleh sebab itulah dia tidak mengeluarkan kekuatan para Dewa.
Pancaran cahaya matahari semakin terasa. Sang Surya semakin meninggi. Angin berhembus lirih menerbangkan dedaunan kering yang ada di sekitar tempat tersebut.
Chen Li mendadak bangun dari tidurnya setelah tiga hari belakangan tidak sadarkan diri karena totokan Huang Taiji.
Bocah itu langsung duduk lalu memandang ke sekeliling tempat tersebut. Keningnya berkerut, Chen Li tidak tahu di mana dirinya sekarang berada. Dia merasa sangat asing, seumur hidup, bocah itu baru merasa pertama kali ada di tempat yang sedang dia diami saat ini.
"Paman, di mana aku sekarang? Tempat apa ini?" tanya Chen Li terlihat kebingungan.
Huang Taiji tersenyum. Dia menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan bocah itu.
__ADS_1
"Saat ini kita sedang berada di Lembah Ketenangan. Yang ada di sini hanyalah para binatang dan makhluk lain penunggu lembah. Di sini juga tidak ada manusia kecuali kita berdua," jawab Huang Taiji.
"Lembah Ketenangan?" Chen Li terlihat semakin kebingungan. Seumur hidupnya, bocah itu baru mendengar tentang nama lembah tersebut. Selama ini ayahnya, Shin Shui, tidak pernah bercerita terkait nama Lembah Ketenangan.
"Benar. Lembah Ketenengan ini berada di ujung Barat dari tiga Kekaisaran. Manusia biasa tidak ada yang mengetahui tentang lembah ini. Yang tahu hanyalah mereka para pendekar yang ingin menjadi Pendekar Keabadian, selain orang-orang itu, Paman rasa tidak ada yang mengetahuinya,"
"Kalau begitu, tidak setiap pendekar bisa memasuki tempat ini bukan?"
"Benar,"
"Lantas kenapa kita bisa memasukinya?"
"Karena kita merupakan pengecualian,"
Meskipun Chen Li belum mengerti sepenuhnya, namun bocah itu tidak mau terlalu bertanya lebih jauh lagi. Sekarang setelah benar-benar sadar dari tidur, Pendekar Tanpa Perasaan mendadak teringat tentang perang besar yang terjadi beberapa hari lalu.
"Paman, bagaimana dengan perang besar itu? Bagaimana nasib Kekaisaran Wei?" tanya Chen Li tergesa-gesa.
Mendengar jawaban tersebut, Chen Li amat terkejut. Kalah? Bagaimana mungkin tanah airnya bisa kalah? Bukankah di Kekaisaran Wei banyak para pendekar dan tokoh pilih tanding?
"Apakah Paman mengatakan yang sebenaranya?" Chen Li masih tidak percaya.
"Tentu saja. Aku tidak pernah berbohong,"
"Lalu, bagaimana nasib orang-orang Kekaisaran Wei?"
"Tidak ada yang tahu nasib ke depannya. Yang jelas nasib orang-orang Kekaisaran Wei sekarang berada dalam ancaman bahaya,"
"Di mana Ayah dan Ibu?"
__ADS_1
Ditanya demikian, Huang Taiji bingung harus menjawab apa. Karena pada dasarnya dia sendiri bingung dan tidak tahu ke mana serta bagaimana nasib Shin Shui serta Yun Mei.
"Sampai saat ini, Paman belum mengetahui bagaimana nasib mereka. Tapi yang pasti, mereka berada dalam keadaan baik-baik saja," ujarnya berupaya menghibur Chen Li.
"Benarkah Paman? Lalu di mana mereka sekarang? Aku ingin bertemu dengannya,"
"Paman belum mengetahui hal tersebut. Tapi suatu saat nanti, kau pasti akan bertemu dengan mereka kembali,"
Chen Li yang sempat gembira, sekarang menjadi murung lagi. Kapan dia akan bertemu dengan kedua orang tuanya? Benarkah dia bisa bertemu dengan mereka kembali? Bagaimana kalau kenyataannya tidak dapat bertemu lagi?
Bocah itu tidak tahu. Bahkan saat ini, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya.
"Sudahlah Li'er, kau harus bisa menerima kenyataan. Semua yang terjadi sudah ditentukan oleh sang pencipta, kita hanya bisa pasrah dan menerima ketentuannya dengan lapang dada. Paman tahu apa yang kau rasakan, Paman juga mengerti, hanya saja, kau juga harus memahami bahwa semuanya memang sudah seharusnya," kata Huang Taiji penuh kasih sayang.
Chen Li tidak menjawab apapun. Dia juga tidak ingin bicara apapun. Saat berada dalam ruang lingkup kesedihan, seseorang terkadang lebih memilih untuk membungkam mulutnya.
Kalau bicara tidak bisa menghilangkan kesedihan, lantas untuk apa angkat suara?
Suasana dicekam keheningan untuk beberapa saat. Chen Li yang biasanya ceria dan periang, sekarang justru menjadi sebaliknya. Bocah itu saat ini sedang merenung, dia duduk dengan tenang memandang jauh ke depan sana.
Chen Li mengeluarkan arak harum dari Cincin Ruang. Dia langsung meneguk arak tersebut tanpa berhenti.
Huang Taiji tidak melarangnya. Dia membiarkan keponakannya untuk minum arak sepuas mungkin.
Saat seseorang sedang berada dalam kesedihan, lebih baik kau membiarkannya dari pada mengganggunya.
Setelah merasa puas, Chen Li melemparkan guci arak itu ke sembarang tempat. Saat keadaannya mulai tenang, secara perlahan Huang Taiji memberikan nasihat kepadanya.
"Lepaskan semua kesedihanmu sekarang. Lampiaskan semuanya, setelah kau merasa puas, baru bicara dengan Paman lagi. Jika kesedihan dan amarahmu belum reda, jangan bicara dulu denganku," kata Huang Taiji.
__ADS_1
Setelah bicara demikian, dia langsung pergi begitu saja. Entah pergi ke mana, karena sesaat kemudian, dia telah menghilang dari pandangan mata.
Semilir angin berhembus lagi. Chen Li masih duduk berdiam tanpa bergerak sedikitpun.