Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Rahasia Huang Taiji


__ADS_3

"Kau berhasil lagi Li'er. Kau bukan hanya berhasil keluar sebagai pemenang dan menyelesaikan semua ujian yang aku beri. Bahkan kau juga berhasil membuat kami berdua bangga," kata Dewa Lima Unsur sambil tersenyum lembut ke arahnya.


Chen Li tersenyum hangat. Mendengar gurunya memuji demikian dengan tulus, hatinya menjadi gembira.


Memangnya murid mana yang tidak gembira saat mendapat pujian dari gurunya?


"Sekarang, apa yang harus Li'er lakukan guru?" tanya Chen Li perlahan.


"Tidak ada. Kau tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Untuk selanjutnya, kau harus menjalankan tugas yang sudah seharusnya kau jalankan," kata Dewa Lima Unsur.


"Membalaskan dendam semua orang-orang Kekaisaran Wei dan terutama membalaskan dendam kedua orang tua Li'er?" tanya Chen Li memastikan.


"Benar, tapi itu hanya salah satu saja. Tugas utama yang harus kau jalankan adalah mempergunakan semua ilmu dan pengetahuan yang kau miliki untuk menolong orang lain. Gunakan semua bekal yang telah kau miliki saat ini untuk orang banyak. Tolong mereka yang tertindas, ulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan," ujar Dewa Lima Unsur memberikan nasihatnya.


Chen Li hanya mendengarkan. Kalau gurunya sudah berkata seperti demikian, pemuda itu tidak mau banyak bicara. Dia lebih memilih untuk tetap diam dan terus mendengarkan sampai gurunya selesai bicara.


Setelah menghela nafas beberapa kali, Dewa Lima Unsur kembali melanjutkan, "Kau harus ingat Li'er bahwa dirimu telah dipilih oleh para Dewa untuk menanggung sebuah tugas. Meskipun tugas itu memang berat, tapi kami para Dewa yakin bahwa kau dapat melaksanakannya dengan baik. Kami yakin kau mampu, oleh sebab itulah kami percaya kepadamu,"


"Kau harus bisa mewujudkan semua impian umat manusia. Semua menginginkan perdamaian, meskipun tidak abadi, namun setidaknya kau harus tetap mewujudkan impian mereka. Siapapun yang membuat kekacauan, selama kau masih hidup dan selama telingamu mendengar, maka kau harus membasminya. Siapapun dia, selama membuat kekacauan di muka bumi, maka kau harus menghancurkannya. Apapun yang terjadi, kau harus menjalankan tugas yang paling utama ini,"


"Gurumu ini tidak meminta banyak darimu. Selain kau harus menjalankan semua yang baru saja aku bicarakan, aku juga meminta agar dirimu bisa menjadi manusia yang bermanfaat. Manusia terbaik adalah dia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Apakah kau sudah mengerti apa yang baru saja aku katakan?" tanya Dewa Lima Unsur.


"Li'er paham semua perkataan guru. Semua ini pasti akan Li'er ingat baik-baik dalam hati," ujar Chen Li dengan rasa hormat mendalam.


Pemuda itu berkata dengan sungguh-sungguh. Semua ucapan Dewa Lima Unsur barusan, meskipun terdengar singkat, tapi dia tahu bahwa makna di dalamnya tidak singkat.


Apa yang dikatakan oleh gurunya barusan, semuanya ilmu tentang kehidupan.


Terlebih lagi ucapan yang terakhir.

__ADS_1


Manusia baik adalah dia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.


Kata-katanya singkat. Tapi maknanya lebih dalam dari samudera sekalipun.


Tanpa terasa hari baru telah tiba. Pagi telah datang. Suara burung bernyanyi terdengar sangat merdu. Hewan-hewan yang ada di kedalaman hutan mulai riuh menyambut pagi ini.


Sinar mentari mencorong indah di kejauhan sana. Seindah khayalan. Seindah harapan.


"Li'er, ada sesuatu yang ingin aku katakan," kata Huang Taiji secara tiba-tiba.


Wajahnya berubah serius. Perkataannya juga terdengar sungguh-sungguh.


"Li'er siap mendengarkan," jawab Chen Li.


Huang Taiji tidak langsung bicara. Orang tua itu tampak menghela nafas dalam-dalam beberapa kali. Wajahnya mulai memperlihatkan ekspresi yang sulit untuk diceritakan.


Entah apa yang sebenarnya sedang dia rasaka. Yang jelas, siapapun tidak akan ada yang tahu.


Pendekar Tanpa Perasaan terlihat kaget. Ucapan Huang Taiji barusan seperti sambaran petir yang tepat menyambar ubun-ubun kepalanya.


Apakah yang dikatakan pamannya benar? Sungguhkah dia seorang Dewa yang sedang menjadi manusia?


Pemuda itu melirik kepada Dewa Lima Unsur. Mulutnya tidak berkata. Tapi sorot matanya seperti menanyakan apakah yang dikatakan Huang Taiji barusan benar tidaknya.


"Apa yang dia katakan memang benar demikian. Bahkan aku sendiri yang mengutus untuk menjagamu selama ini," kata Dewa Lima Unsur membenarkan apa yang diucapkan oleh Huang Taiji.


Chen Li semakin kaget. Itu artinya dia telah didampingi dan diajarkan oleh seorang Dewa selama beberapa tahun belakangan ini.


Perasaan pemuda itu sekarang menjadi campur aduk. Entah itu bahagia, atau bahkan kecewa.

__ADS_1


Dia bahagia karena dirinya ternyata didampingi oleh pengawal pribadi seorang Dewa selama ini. Namun diapun juga kecewa, kenapa Huang Taiji tidak memberitahunya selama ini? Kenapa baru sekarang dia mengakui dan mengatakan siapa dirinya?


Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding paham apa yang saat ini sedang dirasakan oleh anak dari Pendekar Halilintar itu. Karenanya, diapun segera berkata sebelum Chen Li bertanya.


"Aku sengaja merahasiakan hal ini karena pertama, Tuanku Dewa Lima Unsur mengatakan bahwa aku tidak boleh membocorkan siapa aku sebenarnya. Kedua, karena belum saatnya. Tugas yang diberikan kepadaku hanyalah menjagamu, mendampingimu dan mendidikmu sebelum beliau langsung yang turun tangan. Sekarang semuanya sudah tiba pada saatnya, oleh sebab itulah aku memberitahu kepadamu siapa aku sesungguhnya," ucapannya terdengar jauh berwibawa dari biasanya.


Aura agung sebagai ciri khas para Dewa keluar memancar dari seluruh tubuhnya. Cahaya putih menyilaukan mata mendadak menyelimuti alam semesta. Sesaat kemudian, keadaan di sana menjadi terang sekali. Saking terangnya sampai-sampai Chen Li tidak mengetahui apa yang sudah terjadi.


Sesaat kemudian, keadaan berubah total. Huang Taiji yang biasanya Chen Li lihat telah berubah wujud menjadi Huang Taiji yang baru.


Sosok Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding yang sekarang sangat berbeda. Penampilannya tidak berbeda jauh dari Dewa Lima Unsur. Sama mewah, sama megah dan sama mengagumkan.


"Inilah wujudku yang sebenarnya," katanya kalem.


Chen Li hanya menghela nafas dalam-dalam. Pemuda itu tidak tahu apa yang harus dia katakan saat ini.


"Ja-jadi …"


"Benar. Jadi selama belakangan ini, kau telah ditemani oleh seorang Dewa. Kau pasti tidak menyangkanya bukan?" tanya Dewa Lima Unsur lembut.


"Li'er tidak pernah menyangka sama sekali. Sebenarnya ada satu persoalan yang ingin ditanyakan, tapi Li'er tidak berani mengatakannya,"


"Kau jangan khawatir, katakan saja apa yang ingin kau katakan,"


"Tidak guru. Li'er takut disebut kurang ajar," kata Chen Li seperti tidak enak hati.


Walaupun dia terkenal dengan sifatnya yang dingin dan angkuh, namun pemuda itu tidak pernah memandang sebelah mata tentang etika dan sopan santun.


Apalagi dirinya merupakan anak dari Pendekar Halilintar. Dia tidak mau mempermalukan ayahnya, oleh sebab itulah, Chen Li memilih untuk tidak mengatakan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


"Jangan pernah ragu untuk berkata. Kalau memang kau masih memandang aku sebagai gurumu, silahkan katakan sekarang juga," kata Dewa Lima Unsur sedikit menekan.


__ADS_2