
Dalam hatinya, Shin Shui sendiri merasa terkejut. Dia tidak menyangka bahwa di hutan ini, bahkan di saat musim salju, ternyata sekelompok siluman harimau emas berani menampakkan dirinya.
Memang ini merupakan hutan, hutan yang menjadi rumah bagi para binatang dan siluman. Hanya saja, Pendekar Halilintar tidak pernah menyangka akan bertemu dengan siluman harimau emas.
Sebab dia tahu betul bahwa siluman harimau emas jarang sekali berkeliaran di siang hari. Apalagi di saat musim salju seperti ini. Mereka biasanya lebih menyukai untuk berdiam di rumah mereka. Atau setidaknya memilih untuk tidur dan berkumpul bersama keluarga.
Tapi kenyataan sekarang lain lagi. Dan karena alasan tersebut, Shin Shui menjadi curiga.
"Sepertinya ada sesuatu lain di balik kedatangan kawanan harimau ini," kata Shin Shui kepada Maling Sakti.
Si Maling Sakti sangat setuju dengan apa yang diucpakan oleh Shin Shui barusan. Dia juga tabu betul kebiasaan siluman harimau emas. Bahkan hampir setiap jenis kebiasaan siluman, sedikit banyak dia mengetahuinya.
"Aku setuju denganmu Adik Shin. Sepertinya hutan ini menyimpan sesuatu. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya kepada Shin Shui.
"Mau bagaimana lagi? Mereka sudah datang, sudah tentu kita harus menyambut kedatangannya kalau mereka memulai," jawab Shin Shui.
"Ide yang bagus. Baiklah, kita tunggu saja dulu sampai mereka benar-benar dekat,"
Ketiga orang tersebut menunggu dengan penuh rasa tegang. Hal itu cukup wajar, sebab lima kawanan siluman harimau emas yang datang sekarang, bukanlah siluman biasa.
Kalau aumannya saja mampu menggetarkan seisi hutan, sudah pasti kekuatannya juga mengerikan.
Setelah beberapa saat menunggu kedatangan para siluman, akhirnya mereka benar-benar datang. Seekor harimau emas yang memakai mahkota di kepalanya maju ke depan.
Di lihat dari segi kekuatan, setidaknya mereka setara dengan Pendekar Dewa tahap lima. Sedangkan yang tiga, setara dengan Pendekar Dewa tahap tiga. Satu lagi masih rendah. Paling setingkat Pendekar Langit tahap tiga.
"Siapa di antara kalian yang sudah membunuh anak buahku?"
Si pemimpin siluman harimau angkat bicara. Suaranya besar dan sedikit menyeramkan hingga mampu membuat bulu kuduk berdiri.
__ADS_1
Sebagai catatan, beberapa siluman memang ada yang dapat bicara layaknya manusia pada umumnya. Biasanya yang mampu bicara seperti ini, kalau bukan dari spesies, bisa juga karena umur mereka telah lama sekali. Minimal setidaknya sudah dua ratus tahun. Atau satu alasan lain, biasanya dia memang mendapatkan anugerah dari para dewa.
"Tidak ada yang membunuh. Kau salah orang, bahkan kami bertiga baru saja tiba," jawab si Maling Sakti.
Dia bukan takut. Namun hanya karena ingin tahu apa yang akan dilakukan siluman tersebut.
"Kau jangan berdusta manusia. Sudah beberapa tahun lamanya, belum ada lagi manusia yang berani menginjakkan kaki ke sini,"
"Hemm, kalau memang ada seorang di antara kami yang sudah membunuh anak buahmu, kau mau apa?"
"Meminta ganti rugi. Aku ingin nyawa si pelaku, kalau kalian tidak ingin tewas, segera serahkan kepada kami,"
"Kalau kami tidak mau?"
"Maka kalian semua harus mati!!"
"Grrr …"
Setelah aumah lenyap, empat kawanan siluman harimau emas segera menyerang Shun Shui dan yang lainnya.
Si pemimpin dan seorang rekannya menyerang Shin Shui. Dua siluman harimau lain menyerang si Maling Sakti Hidung Serigala. Sedangkan yang paling rendah, segera menerjang Chen Li lebih dulu.
Tiga sosok manusia tersebut tidak menghindari serangan. Mereka sudah tahu bahwa hal seperti ini sudah pasti akan terjadi. Sehingga begitu di serang, ketiganya sudah merasa sangat siap.
Shin Shui melompat kemudian mencari tempat yang luas. Begitupun dengan yang dilakukan oleh Maling Sakti Hidung Serigala. Sedangkan Chen Li, dia memilih untuk bertarung di tempatnya berdiri.
Walaupun siluman itu berada di atas tingkatannya saat ini, tapi bocah yang mendapat julukan Pendekar Tanpa Perasaan itu, sama sekali tidak merasa takut. Bahkan dia merasa sangat senang.
Setelah keluar dari Negeri Siluman, Chen Li belum pernah lagi bertarung dengan bangsa siluman. Karenanya ketika sekarang ada kesempatan, dia sangat gembira.
__ADS_1
Pedang Awan sudah dia keluarkan dari sarungnya. Bukan hanya itu saja, seruling giok hijau yang merupakan warisan dari kakek guru juga sudah dia cabut.
Dua senjata pusaka siap menghadapi lawan. Begitu siluman tersebut menerjang, Chen Li melompat tinggi untuk kemudian mengirimkan serangan balasan.
Hanya saja si harimau juga tidak bodoh. Dia sudah tahu apa yang akan dilakukan si bocah, sehingga ketika serangan pertamanya gagal, dia sudah menyiapkan diri untuk menerima balasan.
Pedang Awan sudah bergerak. Seruling giok hijau telah berkelebat membelah hawa yang dingin. Dua senjata segera melesat ke arah siluman harimau emas hanya dalam satu kali serangan.
Chen Li langsung mengeluarkan jurus hebatnya karena dia tidak mau berlama-lama. Pamor dari Pedang Awan telah keluar. Kekuatan tersembunyi dari seruling giok hijau juga sudah menebarkan ancaman kepada lawan.
Bocah kecil tersebut telah melancarkan serangkaian gempuran serangan dengan cekatan sekali. Gerakannya semakin gesit. Si harimau emas tidak mau kalah, sesekali dia juga berusaha untuk melancarkan serangan balasan yang cukup berbahaya.
Di sisi lain, Shin Shui si Pendekar Halilintar juga sudah memulai pertarungannya melawan pemimpin serta satu rekan siluman harimau emas. Pertarungan ini tentu sangat jauh berbeda dengan pertarungan Chen Li.
Sebab jurus-jurus yang mereka keluarkan mampu memberikan kerusakan yang tidak main-main. Berbagai macam sinar dan jurus sudah berkelebat. Ketiganya saling serang dan bertahan sebisa sebisa mungkin.
Walaupun menghadapi dua siluman berkekuatan tinggi sekaligus, Shin Shui tidak merasa keberatan sama sekali. Bahkan dia nampak tenang.
Berbagai macam jurus jarak jauh sudah digelar. Tubuhnya telah terselimuti aura biru terang yang agung. Melawan dua siluman seperti ini, dia tidak perlu mengeluarkan kekuatan utamanya yang dahsyat.
Hanya perlu menggunakan serangkaian jurus dari Kitab Tapak Penghancur, menurutnya itu saja sudah cukup.
Berbagai macam serangan tapak jarak jauh sudah melesat entah berapa banyaknya. Namun dua siluman itu mampu menghindarinya walaupun sedikit kewalahan.
Gerakan siluman tersebut juga tidak kalah cepat dengan lesatan jurus Shin Shui. Terlebih si pemimpinya, sehingga sesekali jika mendapatkan kesempatan, di pemimpin juga turut melancarkan serangan balasan yang tidak kalah hebatnya.
Pertarungan mereka menjadi bertambah seru ketika semakin lama semakin beralih ke jurus-jurus kelas atas. Walaupun lawan Shin Shui hanya jenis siluman, tapi kekuatan mereka tidak bisa di anggap remeh.
Kalau ada seorang Pendekar Dewa tahap tiga melakukan pertarungan dengannya, maka jangan pernah berharap untuk bisa menang dari para siluman tersebut.
__ADS_1
Selain jurusnya hebat, kekuatan mereka juga dahsyat. Sehingga kerusakan terjadi di mana-mana karena jurus yang salah sasaran.