Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Mencari Pang Meng


__ADS_3

Pedang Ular sangat marah karena melihat rekannya tewas. Dengan bentakan nyaring, dia melompat ke atas lalu menerjang Pendekar Tanpa Perasaan. Belasan tusukan cepat dilancarkan. Tebasan hebat juga dikeluarkan.


Trangg!!! Trangg!!!


Keduanya kembali beradu jurus pedang. Pusaran debu mengelilingi tubuh keduanya. Hawa kematian menyelimuti arena pertarungan. Suara bergemuruh dari jurus kegelapan begitu memekakkan telinga.


Beberapa puluh pedang energi dan puluhan iblis kera hitam kembali terlihat. Ternyata si Pedang Ular juga menguasai jurus sesat itu.


Di sisi lain, Pendekar Tanpa Perasaan tidak gentar. Begitu melihat lawan mengeluarkan jurus dahsyat, dia pun segera melayaninya.


Kekuatan dari Mata Dewa keluar.


Lima elemen alam semesta segera menyelimuti bumi. Semua elemen mengamuk. Langit dan bumi berguncang. Alam nirwana juga bergetar dibuatnya.


Roarr!!!


Raungan lima naga menggelegar di atas sana. Sambaran halilintar menggetarkan telinga.


Puluhan iblis kera hitam yang sebelumnya tampak menyerang Pendekar Tanpa Perasaan, sekarang mereka telah mampus diamuk oleh kekuatan Mata Dewa yang maha dahsyat itu.


Sepuluh jurus kemudian, Chen Li melancarkan serangan terakhirnya.


Tiga tebasan jarak jauh terlihat membentuk tiga buah jalur yang menyala terang berwarna merah darah.


Detik berikutnya, Pedang Ular tahu-tahu sudah tewas. Tubuhnya terpotong menjadi tiga bagian. Darah segar mengalir deras. Arena pertarungan dibasahi oleh darah itu.


Semuanya sudah selesai.


Dua lawan cukup tangguh Pendekar Tanpa Perasaan telah tiada. Sekarang yang ada di sana hanya Pendekar Tanpa Perasaan dan Wan Jie si Tapak Keabadian.


Chen Li segera menghampiri orang tua itu. Dia langsung membebaskan totokan di tubuhnya.


"Terimakasih Tuan muda," kata Wan Jie sambil menjura kepada Chen Li. .


Meskipun dirinya belum mengetahui alasan kenapa pemuda asing itu turut campur dalam masalahnya, namun bagaimanapun juga dia tetap harus mengucapkan terimakasih.


"Kau tidak perlu berterimakasih kepadaku, mereka memang musuhku. Bahkan kedatanganku kemari pun sengaja karena aku ingin membunuh ketiganya," jawab Pendekar Tanpa Perasaan dengan dingin.


Si Tapak Keabadian mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Sedikit banyaknya dia sudah mengetahui alasan pemuda serba putih itu mengambil alih dirinya saat tadi bertarung.

__ADS_1


"Mereka memang pantas untuk mati," gumamnya.


"Kalau boleh tahu, benarkah mereka menghancurkan perguruanmu karena murid di sini membunuh kekasihnya?" tanya Chen Li penasaran.


"Benar Tuan muda. Tapi muridku melakukan hal itu tentunya karena ada alasan kuat," jawab Wan Jie.


"Kalau boleh tahu, kenapa alasan muridmu membunuhnya?"


"Kekasih dari Xhiang Yu adalah orang yang mempunyai watak sama dengan dirinya. Wanita itu wanita iblis, dia sering kali melalukan pembunuhan tanpa alasan jelas. Bahkan pada saat terjadi pembunuhan itu, wanita tersebut sedang melakukan perbuatan keji seperti yang sudah disebutkan. Dia membunuh warga desa yang tidak bersalah. Kebetulan muridku melihatnya, maka tanpa basa-basi lagi, dia segera menyerang lalu kemudian membunuhnya," jelas Wan Jie kepada Chen Li.


"Perbuatan muridmu tidak salah. Bahkan dia melakukan apa yang harus dilakukan, ternyata kau berhasil mendidik seorang murid yang tidak suka melihat kekejaman,"


"Niat awal berdirinya perguruan Tapak Sakti pun sebenarnya karena aku ingin menciptakan para generasi muda pembela kebenaran," jawab si Tapak Keabadian dengan jujur.


Pendekar Tanpa Perasaan merasa senang. Dia suka terhadap orang-orang seperti Wan Jie ini. Setidaknya, dia bersyukur karena bisa bertemu dengan manusia pembela kebenaran.


"Bagus, aku suka mendengarnya. Sekarang katakan berapa banyak biaya yang kau butuhkan untuk membangun kembali perguruan ini?"


Ditanya demikian, Wan Jie merasa bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Orang tua itu memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membangun kembali perguruannya.


"Ini …"


"Tu-tuan muda … ini," ucapnya terkaget-kaget.


"Sudah, jangan banyak bicara. Terima saja, aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Masih banyak urusan yang mesti diselesaikan,"


"Kalau begitu baiklah, terimakasih," katanya setelah berpikir beberapa saat lamanya.


"Bagus, bangun kembali perguruanmu hingga menjadi sebuah sekte. Teruskan niat awalmu, sekarang aku pergi,"


Suitt!!!


Wushh!!!


Belum sempat Tapak Keabadian membalas ucapan Pendekar Tanpa Perasaan, pemuda itu malah sudah pergi lebih dulu. Seekor burung Phoenix Raja tiba-tiba muncul di angkasa lalu bertengger di pundaknya.


Hanya sesaat saja Chen Li sudah berada jauh dari tempat tersebut.


###

__ADS_1


Dua minggu sudah berlalu. Sekarang Chen Li bersama Phoenix Raja telah berada di sebuah tempat. Tempat sebelah Timur dari Kotaraja Kekaisaran Sung.


Tempat yang dimaksud adalah sebuah sungai berair biru. Sungai itu mempunyai lebar puluhan tombak. Airnya benar-benar biru jernih. Banyak bunga teratai yang tumbuh di pinggir sungai. Pemandangan seperti itu membuat suasana tampak lebih indah lagi.


Gerombolan burung camar berkumpul di pinggir sungai. Mereka sedang menantikan ikan yang muncul ke permukaan air.


Suasana siang hari, banyak para warga yang hilir mudik ke sana. Angin berhembus menerbangkan bau harum bunga mekar.


Pendekar Tanpa Perasaan berdiri di pinggir sungai tersebut. Jubahnya berkibar dengan megah. Phoenix Raja berada di pundaknya.


Keduanya masih diam. Belum ada yang bicara di antara mereka.


Tujuan Chen Li dan Phoenix Raja datang ke Sungai Biru adalah karena dia ingin menyelidiki tentang masalah yang sedang dihadapi oleh Perkumpulan Pengemis.


Di mana menurut informasi yang dia dapatkan, pemimpin utama dari Perkumpulan Pengemis yang bernama Tiong Jong si Pengemis Berwatak Aneh lenyap begitu saja di tempat tersebut.


Sekarang mereka sedang mencari jejak dari Pang Meng si Macan Kumbang Liar Dari Barat. Sebab menurut keterangan Beng Koan dan To Cun, secara tidak langsung orang tua yang juga merupakan datuk sesat dari Timur itu terseret dalam masalah ini.


"Menurutmu, apakah Pang Meng terlibat dengan kejadian hilangnya Tiong Jong si Pengemis Berwatak Aneh?" tanya Chen Li kepada Phoenix Raja.


"Bisa saja. Sebab sedikit banyaknya hal itu sangat masuk akal,"


"Jadi dia menghilangkan jejak agar dirinya tidak berhasil ditemukan oleh anggota Perkumpulan Pengemis?"


"Kurang lebih seperti itu," jawan Phoenix Raja.


"Hemm, kau bisa membantuku?" tanya Chen Li.


"Mencari jejak tua bangka itu?"


"Tepat sekali, kau memang pintar," jawab Pendekar Tanpa Perasaan sambil tersenyum kepada burung siluman kesayangannya tersebut.


"Cihh, hal seperti ini pasti aku yang dibuat repot," gerutu burung itu.


"Ehemm …" Chen Li mendehem cukup keras.


Phoenix Raja tidak berani berkata lagi. Dia langsung terbang begitu saja tanpa sempat mengucapkan perkataan apapun.


Keakk!!!

__ADS_1


Phoenix Raja mengeluarkan suaranya. Lengkingan suara yang tinggi segera terdengar ke segala penjuru bumi. Sesaat kemudian burung itu telah menghilang dari pandangan mata.


__ADS_2