Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Mo Lin


__ADS_3

Fajar telah menyingsing. Pendekar Tanpa Perasaan tampak duduk seorang diri di bawah sebuah pohon besar. Di tangan kanan pasti ada guci arak. Di pundaknya, sudah tentu ada seekor burung. Burung langka serta sangat istimewa.


Mereka hanya berdua. Tiada orang lain lagi. Ah Kui tidak ada di sana. Entah ke mana perginya orang tua tersebut.


Suara burung yang terdengar di pagi ini sangat nyaring. Membuat suasana semakin tenteram dan nyaman. Hawa sejuk menerpa tubuh kekar dari pemuda itu.


Burung-burung mulai terbang mencari makan untuk keluarganya. Para warga di sekitaran Kotaraja juga sama. Mereka pun sudah memulai aktivitasnya di pagi ini.


Keadaan di kota sudah ramai kembali. Tapi keadaan di sekitar area tempat Pendekar Tanpa Perasaan masih sepi. Sama sepinya seperti hati dia sendiri.


Sepi. Sunyi. Apakah dua kata ini selalu hadir dalam benak setiap manusia bernyawa?


"Tuan muda, apakah kita masih lama berada di Kekaisaran Sung?" tanya Phoenix Raja.


"Tidak, setelah pertempuranku melawan seratus tokoh Organisasi Elang Hitam, maka semuanya akan selesai,"


"Benarkah? Bukankah kau ingin melenyapkan semua pendekar aliran hitam di Kekaisaran ini?"


"Melenyapkan semuanya tidaklah mudah. Bahkan tidak mungkin, karena setiap saat orang-orang seperti mereka pasti akan bermunculan kembali. Namun setidaknya aku sudah memberikan peringatan kepada golongan mereka lewat pertempuran nanti. Kalau aku bisa mengalahkan mereka, setidaknya pendekar aliran hitam yang tidak tergabung di dalam organisasi itu pasti akan merasa jeri untuk melakukan tindakan kejahatan lagi,"


Phoenix Biru menganggukkan kepalanya pertanda bahwa dia mengerti atas apa yang diucapakan oleh Chen Li. Semua perkataan pemuda itu memang benar, melenyapkan aliran hitam merupakan sesuatu yang mustahil.


"Dulu kau bilang bahwa Organisasi Elang Hitam merupakan organisasi yang dipelihara langsung oleh Kekaisaran, kalau kau melenyapkan organisasi tersebut, itu artinya pihak pemerintah akan memburu dirimu. Kalau hal itu benar terjadi, lantas apa yang akau Tuan muda lakukan?"


"Masalah itu urusan nanti. Semuanya bisa diatur. Yang pasti, setelah aku berhasil membunuh seratus tokoh Organisasi Elang Hitam, kita akan segera pergi dari sini,"


"Bagaimana dengan pembangunan di desa miskin itu?" tanya Phoenix Raja mengingatkan.


"Aku akan mempercayakan hal itu kepada Ah Kui,"


"Baiklah, setelah masalah di sini selesai, kita akan pergi ke mana lagi?" tanya Phoenix Raja kepada Tuan mudanya.


"Pergi ke Kekaisaran lainnya. Seluruh Kekaisaran ingin aku datangi,"


"Tuan muda tetap akan membalaskan dendam?"


"Selama nyawaku masih ada, maka dendamku juga ada," tegas Chen Li.


Phoenix Raja tidak bicara lagi. Dia sudah menemani Chen Li selama bertahun-tahun. Segala macam sifat dan watak tuan mudanya, siluman istimewa itu sudah mengetahui semuanya.


Dendam pemuda itu abadi. Siapapun mungkin tidak akan ada yang dapat menghilangkan dendam tersebut dari dirinya.

__ADS_1


Dendam adalah Chen Li. Dan Chen Li adalah dendam itu sendiri.


Pada saat keduanya membungkam mulut, tiba-tiba saja ada sekelompok orang-orang berpakaian beragam yang lewat tepat di hadapannya.


Jumlah mereka ada enam orang. Semuanya pria yang sudah cukup umur. Pakaiannya sederhana. Di beberapa bagian tubuhnya terdapat senjata yang berbeda.


Di lihat sekilas saja, siapapun bakal tahu bahwa mereka merupakan orang-orang dunia persilatan.


"Sepertinya pertempuran nanti akan berlangsung dengan sengit," kata salah seorang yang bertubuh tinggi kurus.


"Pertempuran siapa?" tanya orang di sisinya.


"Aii, kau belum mendengar kabar yang tersiar dengan luas di Kotaraja?" tanya balik orang paling ujung.


"Belum, sama sekali belum,"


"Padahal berita itu sudah tersebar sangat luas. Tapi ternyata kau tuli sehingga tidak mendengar berita yang menghebohkan itu. Pada saat bulan purnama nanti, pertempuran hebat antara Pendekar Tanpa Perasaan melawan seratus tokoh Organisasi Elang Hitam bakal dilangsungkan di padang rumput Gunung Bok San," kata si tinggi jurus memberitahu kepada rekannya tersebut.


"Benarkah? Aii, kalau benar, pertempuran itu pasti bakal sangat dahsyat. Aku ingin menyaksikannya. Bagaimana dengan kalian?"


"Tentu saja. Memangnya siapa yang tidak ingin melihat kejadian dahsyat itu?"


Pemuda itu tidak menyangka kalau apa yang akan dia lakukan nanti ternyata sudah tersebar dengan luas. Padahal Chen Li tidak mengatakannya kepada siapa-siapa.


"Bagus. Semakin tersebar luas semakin bagus," gumam Chen Li sambil tersenyum dingin.


Pemuda itu tidak takut, justru malah senang. Bahkan kalau bisa, dia ingin pertempuran nanti dihadiri pula oleh seluruh pendekar aliran hitam yang ada di negara ini.


Semakin banyak semakin baik.


Phoenix Raja masih diam. Dia sama sekali tidak membalas ucapan tuan mudanya.


Setelah orang-orang tadi tidak terlihat batang hidungnya, pemuda itu segera melompat turun ke bawah lagi.


"Kau yang ada di balik semak-semak tolong keluar. Jangan bersembunyi seperti itu," ucap Chen Li secara tiba-tiba. Matanya memandang ke semak belukar di sebelah kanan.


Setelah ucapannya selesai, tidak lama kemudia telah melompat satu bayangan berwarna merah muda.


Bayangan itu sekarang telah berdiri beberapa tombak di depan Pendekar Tanpa Perasaan.


Chen Li memandangi bayangan itu dengan seksama. Ternyata dia seorang gadis. Gadis cantik bertubuh padat berisi dengan tinggi sedang. Sepasang matanya bersinar cerah, secerah sinar mentari saat ini.

__ADS_1


Rambutnya sebagian disanggul ke atas dan sebagian lagi dibiarkan terurai. Di punggungnya ada sepasang pedang kembar. Sarungnya pun mempunyai warna yang sama dengan pakaiannya.


Warna merah muda yang cantik. Secantik pemiliknya.


"Siapakah nona ini?" tanya Chen Li dengan suara yang datar.


"Namaku Mo Lin," jawabnya lalu kemudian tertunduk malu.


"Kenapa Nona Mo mengintip diriku? Apakah ada yang salah? Atau ada masalah lain?"


"Ti-tidak. Aku … aku hanya tidak sengaja saja. Maafkan aku Tuan pendekar,"


"Hemmm …" Chen Li hanya mendengus.


Kriukk!!! Kriukk!!!


Suara perut yang meminta diisi tiba-tiba terdengar.


Mo Lin meras malu. Pipinya memerah seperti kepiting rebus. Ternyata suara itu adalah suara perutnya sendiri.


"Apakah Nona Mo lapar?" tanya Chen Li.


"Ti-tidak,"


"Jangan berpura-pura lagi. Kalau iya, kemarilah. Aku punya makanan," ucap Chen Li mulai ramah.


Sepasang tangannya mengibas pelan, tiba-tiba saja beberapa porsi makanan sudah ada di depannya.


Mo Lin maju tersendat-sendat. Bagaimanapun juga dia merasa malu. Apalagi jika di hadapan pemuda asing seperti sekarang ini.


"Jangan malu-malu, makanlah semua makanan ini. Kebeetjlan aku sudah makan," ucap Chen Li.


"Ba-baik. Terimakasih,"


Mo Lin langsung makan dengan lahap. Semua menu makanan yang ada di hadapannya langsung dicoba tanpa banyak bicara.


Chen Li sendiri memilih untuk tetap minum arak. Sambil minum, sesekali dia memperhatikan gadis asing tersebut.


Usianya paling banter dua puluhan tahun. Tapi penampilan tubuhnya lebih tampak seperti wanita berumur sekitar tiga puluhan tahun.


Pendekar Tanpa Perasaan tiba-tiba tersenyum. Senyuman datar yang misterius.

__ADS_1


__ADS_2