
"Li'er, apakah lukamu parah?" tanya Shin Shui kembali setelah bicara dengan Hwe Koan menunjukan rasa khawatir kepada anaknya.
"Tidak terlalu ayah. Li'er masih mampu untuk beryahan," jawab Chen Li tidak mau merepotkan ayahnya.
"Pahlawan, bagaimana kalau kita mampir dulu ke tempatku? Yah, walaupun sekteku tidak semegah sekte besar lainnya, kalau pahlawan mau ke sana, sungguh menjadi suatu kehormatan bagiku," kata Hwe Koan.
"Selain itu, di sana kita juga bisa lebih leluasa mengobati luka-luka ini," lanjutnya.
Usulan Hwe Koan memang terdengar bagus. Bagaimanapun juga, mereka membutuhkan waktu untuk beristirahat sekedar memulihkan tenaganya.
Shin Shui lalu melirik ke beberapa orang lainnya, tentu saja mereka mengikuti Shin Shui. Lagi pula, orang-orang yang di bawa oleh Chen Li masih ada hubungannya dengan Hwe Koan.
"Aku jadi tidak enak malah merepotkan Kepala Tetua Hwe," ucap Shin Shui.
"Ah, justru ini menjadi sebuah kebanggan. Kalau begitu, mari kita segera ke sana," ajak Hwe Koan.
Mereka semua mengangguk setuju. Kesepuluh orang tersebut langsung berangkat saat itu juga. Shin Shui yang tidak tega melihat kondisi Chen Li, memilih untuk menggendongnya.
Awalnya bocah itu menolak, tetapi setelah Shun Shui mengeluarkan sifat keras sebagaimana ayah kepada anaknya, Chen Li tidak mamu berkata lagi. Dia sudah paham benar bagaimana sifat ayahnya ini.
Perjalanan ke Sekte Gunung Batu Hitam tidaklah memakan waktu yang lama. Hanya dalam tiga puluh menit saja, mereka sudah tiba di sekte tersebut.
Sekte Baru Hitam terletak di puncak sebuah gunung. Seperti namanya, gunung tersebut berwarna hitam seluruhnya. Karena alasan itulah tempat itu dinamakan Gunung Batu Hitam. Dan nama sekte yang Hwe Koan pegang pun, di ambil dari nama gunung tersebut.
Karena letaknya di puncak gunung, maka sepanjang perjalanan ke puncak, Shin Shui dan Chen Li disuguhkan dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya.
Di kanan kiri mereka terdapat pohon-pohon rimbun. Beberapa rumpun bambu juga terlihat sangat indah dan menawan. Ada juga air terjun beserta bunga-bunga yang hanya tumbuh di pegunungan saja.
Dibandingkan dengan pemandangan Sekte Bukit Halilintar, jelas bahwa pemandangan di sini lebih indah lagi.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, akhirnya mereka sudah tiba di pintu gerbang sekte. Gerbang itu di jaga ketat oleh enam orang murid Pendekar Surgawi tahap empat.
Saat mereka mengetahui siapa yang datang, keenam murid penjaga langsung membungkuk memberikan hormatnya.
Mereka pun segera masuk ke dalam. Halaman yang dimiliki oleh sekte terbilang luas. Kira-kira berdiameter tiga puluh tombak besarnya.
Untuk diketahui, sebuah sekte besar pasti mempunyai halaman yang sangat luas sekali. Mulai dari pintu gerbang ke pintu utama, biasanya membutuhkan waktu. (Bisa di lihat bagaimana besarnya sebuah perguruan di berbagai film cerita silat).
Hwe Koan dan yang lainnya berjalan dengan santai. Sepanjang perjalanan, ratusan murid pasti akan membungkuk hormat ketika mengetahui siapa yang datang itu.
Saat rombongan itu hampir tiba di pintu utama, tiba-tiba saja dari arah kanan Shin Shui melesat sebuah jurus yang lumayan hebat. Andai kata itu orang lain, pasti mereka akan mengeluarkan jurus pula untuk menghalaunya.
Tetapi hal itu tidak berlaku bagi seorang pendekar bernama Shin Shui. Masih dalam keadaan menggendong Chen Li, dia hanya perlu mengibaskan satu tangannya untuk melenyapkan jurus tersebut.
Hwe Koan yang menyadari hal ini sangat kaget. Dia tahu siapa yang melakukan perbuatan semacam itu.
"Huang Xu, jangan bertindak tidak sopan. Kemari kau!" bentak Hwe Koan dengan nada sangat marah.
Shin Shui sendiri tidak kenal siapa dirinya. Sehingga dalam hati, dia merasa aneh juga kenapa ada seseorang yang berani menyerangnya seperti itu. Apalagi si penyerang ternyata orang-orang Sekte Gunung Hitam.
"Maaf guru. Murid sudah tidak bisa lagi menahan emosi. Bagaimanapun juga, kematian adik seperguruan harus terbalaskan. Karena itulah aku menyerang Pendekar Halilintar," kata pria bernama Huang Xu yang ternyata salah satu murid utama Hwe Koan.
"Laknat,"
"Plakk …"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Walaupun tamparan itu mengandung hawa panas dan perih, tetapi sebisa mungkin Huang Xu menahan dasa sakitnya.
"Cepat berlutut dan memohon maaf. Membuat malu saja," bentaknya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Huang Xu segera bersujud di depan Shin Shui seraya meminta maaf. Tetapi buru-buru juga Shin Shui memegang pundak Huang Xu dan menyuruhnya untuk berdiri. "Pergilah," kata Shin Shui.
"Kepala Tetua Hwe, ada apa sebenarnya? Kenapa dia menyerangku secara tiba-tiba?" tanya Shin Shui kepada Hwe Koan.
"Ah, nanti saja kalau sudah di dalam baru aku akan menceritakannya. Harap pahlawan mengerti," pintanya.
Karena tuan rumah sudah bicara seperti itu, maka Shin Shui pun lebih memilih untuk diam dan menuruti semua perkataannya.
Mereka pun segera masuk dalam lalu terlebih dahulu berdiam di ruangan khusus bagi tamu kehormatan.
Hwe Koan benar-benar menyuruh beberapa orang muridnya untuk menjamu Shin Shui.
Arak sudah tersedia. Daging pun sudah bertebaran di meja berlukiskan burung rajawali. Tetapi sebelum menikmati semua itu, Shin Shui lebih dulu mengobati beberapa orang tadi yang terluka.
Dia memberikan pil dan menyalurkan tenaga dalam untuk mempercepat pemulihannya. Setelah itu, kini giliran Chen Li yang dia obati.
Shin Shui duduk di belakangnya sambil menempelkan kedua tangan ke punggung Chen Li. Sinar biru terlihat keluar dari telapaknya dan mulai memasuki punggung bocah itu. Beberapa saat kemudian, luka yang diderita oleh Chen Li sudah membaik.
Pengobatan yang sederhana tapi terbilang luar biasa. Hanya saja tidak semua pendekar bisa melakukannya.
Untuk diketahui, Sekte Gunung Batu Hitam ini adalah salah satu sekte besar aliran hitam yang berada di daerah Selatan. Gunung Batu Hitam memang terkenal dengan sepak terjangnya lima tahun terakhir ini.
Sekte itu sudah berhasil menaklukkan beberapa sekte aliran hitam lainnya. Sehingga, Sekte Gunung Batu Hitam mempunyai beberapa sekte yang berada di bawah kekuasaannya.
Tetapi, menurut kabar angin, beberapa bulan belakangan ini justru Sekte Gunung Batu Hitam tidak terdengar lagi melakukan kejahatan-kejahatan seperti sebelumnya. Malah yang terdengar justru sekte ini membantu mengusir para pendekar asing. Dan kontribusi terkait hal itu terbilang cukup besar.
Seperti yang telah diceritakan, daerah Selatan ini mendapatkan sebuah gangguan yang diduga dalangnya adalah seorang bernama Tuan Tang. Entah siapa Tuan Tan itu, karena sampai sekarang pun, belum ada yang mengetahui secara pasti.
Yang jelas, badai mulai melanda di bagian Selatan wilayah Kekaisaran Wei.
__ADS_1
Kejadiannya belum lama, paling hanya beberapa bulan terakhir. Tetapi walaupun begitu, justru badainya lebih cepat membesar sehingga cukup menggemparkan dunia persilatan.