
Shin Shui mengangguk. Ketiganya mulai melangkah masuk ke dalam perguruan. Walaupun malam belum larut malam betul, tapi suasana di sana sudah sepi. Sebagian murid perguruan telah terlelap.
Kedua penjaga pintu yang mengantar Shin Shui masih terlihat ketakutan. Padahal justru orang yang mereka takuti tidak bereaksi apa-apa. Bahkan sesekali Shin Shui memberikan senyumannya.
Sayang, kedua penjaga pintu gerbang telah dilanda rasa takut lebih dulu. Sehingga yang mereka lihat bukan senyuman penuh kehangatan, tapi justru senyuman menyeramkan.
Di mata keduanya, mungkin Shin Shui bagaikan iblis pencabut nyawa.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya Shin Shui bersama dua murid penjaga tiba di depan sebuah ruangan yang cukup besar. Di depan pintu ruangan tersebut ada juga dua murid penjaga lainnya.
Awalnya kedua penjaga tersebut belum mengetahui siapa yang datang. Namun setelah melihat pakaian yang dipakainya, dua murid itu langsung memberikan hormat mendalam kepada Shin Shui.
"Salam hormat untuk Pendekar Halilintar. Adakah yang bisa kami bantu?" tanya seorang murid penjaga penuh kesopanan.
Sepertinya mereka lebih beruntung dari pada dua teman mereka sebelumnya yang telah bertindak bodoh. Ya, mereka beruntung karena langsung dapat mengenal siapa orang yang datang.
"Berdiri, kalian tidak perlu sungkan. Apakah guru kalian ada di dalam?" tanya Shin Shui.
"Ada Tuan, apakah Tuan ingin bertemu dengan beliau?" tanya seorang murid penjaga.
Shin Shui mengangguk. "Benar, ada urusan penting yang ingin aku bicarakan dengannya,"
Sementara itu, dua murid penjaga pintu gerbang utama sudah kembali lagi ke posisi mereka. Di sana hanya ada Shin Shui dan seorang murid. Sebab yang satunya lagi masuk ke dalam untuk melaporkan kepada gurunya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya si murid yang tadi masuk ke dalam, kini sudah keluar lagi.
"Silahkan Tuan, Guru menunggu di dalam," kata murid tersebut penuh kesopanan.
"Baiklah terimakasih. Ini, buat kalian berdua," ucap Shin Shui sambil memberikan dua keping emas bagi mereka.
Dua murid tersebut ingin menolak, tapi begitu melihat tatapan mata Shin Shui yang menyeramkan, keduanya tidak jadi bicara. Mereka langsung berterimakasih kemudian kembali menjalankan tugas.
Shin Shui masuk ke dalam ruangan.
Sebuah ruangan yang cukup indah walaupun nampak sederhana. Kayu hitam menjadi bahan utama ruangan ini. Meja dan kursi yang ada di sana juga terbuat dari bahan kayu hitam.
Kayu hitam sendiri adalah jenis kayu yang konon katanya sangat keras bagaikan baja. Bahkan tidak jarang juga, sebagian pendekar membuat senjata mereka dari kayu ini.
__ADS_1
Shin Shui masuk semakin dalam. Di sana terlihat ada seorang pria tua sedang duduk bersemedi memakai pakaian kuning tua. Orang tua itu berambut panjang acak-acakan. Mukanya sudah keriput, tapi kekejaman tergambar jelas di wajahnya.
Begitu melihat Shin Shui masuk, orang tua tersebut segera berdiri dan menyambut kedatangan Pendekar Halilintar.
"Selamat datang di Perguruan Mata Iblis Tuan Pendekar Halilintar," katanya kalem.
"Terimakasih senior, Anda terlalu sungkan," ucap Shin Shui sambil membalas hormatnya.
"Silahkan duduk," lanjut si orang tua.
Shin Shui duduk diikuti oleh tuan rumah. Arak sudah tersedia di meja. Daging hangat tersedia pula di sana.
Di dalam ruangan tersebut tidak ada siapa-siapa lagi kecuali mereka berdua. Jadi tak heran kalau situasinya sepi.
"Ada angin apakah sehingga membuat Tuan datang ke tempatku yang jelek ini?" tanya orang tua tersebut.
"Senior terlalu merendah. Aku kemari hanya ingin berbincang-bincang barang sedikit, apakah itu tidak menggangu waktumu?" tanya Shin Shui.
"Hahaha … siapa yang berani mengatakan bahwa kedatanganmu mengganggu? Siapapun tidak berani. Termasuk aku Wi Tiong Lo, justru kedatangan Tuan sudah aku nantikan sejak lama," kata orang tua yang mengaku bernama Wi Tiong Lo tersebut.
"Tentu saja benar. Di hadapanmu, mana berani aku berbohong?"
"Semua orang tahu bahwa Mata Malaikat Iblis memang tidak suka berbohong," jawab Shin Shui sambil menyebutkan julukan Wi Tiong Lo.
"Hahaha, Tuan terlalu memujiku yang sudah tua ini. Bagaimana kalau sambil bicara, kita sambil menikmati arak ini?"
"Usul yang bagus,"
"Baiklah, satu cawan pertama aku serahkan atas keberuntungan karena dirimu datang kemari," Wi Tiong Lo langsung menuangkan arak ke gelasnya. Dia menenggak arak dalam gelas hanya dengan satu kali tegukan.
Keduanya terus bersulang arak hingga beberapa kali teguk. Setelah merasa mulai pusing, barulah Shin Shui bicara lebih serius lagi.
"Kedatanganku kemari adalah meminta uluran tangan senior. Aku ingin minta pertolongan,"
"Pertolongan apa? Selama aku sanggup, maka aku akan melakukannya," ucap Wi Tiong Lo.
"Aku minta kepadamu tolong jaga Kota Sokhia ini. Karena menurutku, ancaman dari luar bisa terjadi kapan saja. Kalau kita tidak bekerja sama melawan mereka, maka rasanya percuma saja. Semua rakyat yaebg tidak bersalah akan menjadi korban segelintir manusia," kata Shin Shui menerangkan.
__ADS_1
Orang tua itu justru tertawa. Tawa yang penuh kegembiraan.
"Hahaha … kau jangan khawatir Tuan. Aku sudah menyebarkan beberapa murid perguruan, selain itu, perguruan dan organisasi yang ada di Kota Sokhia ini, juga sudah bekerja sama untuk mempertahankan kota dari orang asing,"
Shin Shui senang mendengar kabar tersebut. Setidaknya kalau sudah begini, hatinya menjadi sedikit lebih tenang. Karena mengingat orang-orang seperti Wi Tiong Lo ini dapat diandalkan.
Dia juga bersyukur atas semua bencana yang sekarang sedang melanda tanah airnya. Sebah karena bencana tersebut, justru aliran hitam yang tadinya terkenal ganas dan suka menindas, kini malah sebaliknya.
Semenjak Kekaisaran Wei diserang orang asing, justru aliran hitam maju di garda paling depan. Mereka tidak memikirkan nyawanya. Asalkan rakyat selamat, maka taruhan nyawa bukanlah suatu yang menakutkan.
Karena semua usaha aliran hitam dalam melindungi rakyat, sedikit banyaknya persepsi publik terkait aliran hitam menjadi berbeda. Sedikit lebih baik.
Termasuk Perguruan Mata Iblis sendiri.
Perguruan ini memang dikenal sebagai salah satu perguruan aliran hitam yang terkenal di Kota Sokhia. Muridnya memang tidak banyak, paling hanya seratusan orang saja. Tapi yang seratus itu justru semuanya sudah merupakan Pendekar Surgawi tahap enam dan tujuh.
"Baguslah. Aku turut senang mendengarnya. Sejak kapan kau menyebarkan murid-muridmu itu?"
"Sejak salah satu anggota Serigala dari Lembah Kematian berkunjung kemari bersama Kakek Tua Jubah Hitam,"
"Mereka kemari?"
"Benar Tuan,"
"Kapan mereka kemari?" tanya Shin Shui penasaran.
"Sekitar satu bulanan yang lalu," ujarnya.
"Hemm, baiklah. Jadi, kau sudah tanggungjawab penuh terkait keamanan di Kota Sokhia ini?" tanya Shin Shui memastikannya kembali.
"Sangat siap Tuan. Kau jangan khawatir. Perguruan Mata Iblis siap berkorban nyawa demi menjaga tanah air," tegas Wi Tiong Lo.
"Bagus. Aku bangga mendengarnya. Ini, ada sedikit keping emas untuk biaya kalian dan membantu merdeka yang membutuhkan," kata Shin Shui sambil memberikan Cincin Ruang berukuran kecil.
"Apa ini Tuan?"
"Kau buka saja nanti setelah aku pergi," ujar Shin Shui.
__ADS_1