
Secepat dia bicara, secepat itu pula dia menerjang kedua lawannya yang tersisa.
Pedang Halilintar diayunkan sehingga mengeluarkan suara bergemuruh sekaligus sinar biru terang yang membelah malam.
Kedua pendekar tersebut berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Keduanya sama-sama terdesak. Untuk berlari rasanya tidak mungkin. Pula, hal itu sungguh sangat memalukan sekali.
Walaupun memang mereka aliran sesat, tapi pantang menjadi orang pengecut.
Para pendekar kebanyakan lebih memilih mati di medan pertempuran daripada harus melarikan diri dari kematian. Kecuali kalau memang ada alasan kuat dia melakukan hal tersebut, maka ceritanya lain lagi.
Dua pendekar itu sudah membentangkan masing-masing senjata mereka yang berupa pedang. Dua pedang sudah melintang di atas bumi.
Dua jurus sudah disiapkan untuk menyambut serangan lawan yang akan datang.
Sinar biru terang semakin dekat. Itu artinya kematian akan segera menghampiri mereka.
Tetapi keduanya tidak takut. Tidak sama sekali.
Tewas di tangan seorang pendekar yang namanya sudah terkenal ke seluruh penjuru bumi, adalah sebuah kebanggaan tersendiri.
Saat serangan pedang Shin Shui tiba, keduanya turut serta pula mengeluarkan jurus ampuhnya.
"Blarrr …"
Sinar biru terang berbenturan dengan dua sinar lain. Gelombang kejut menyapu segala yang ada di sana. Mayat rekan mereka berterbangan terkena efeknya.
Lima batang pohon yang berukuran cukup besar dibuat roboh.
Seperti juga dua pendekar yang diserang oleh Shin Shui.
Mereka roboh dengan masing-masing luka di bagia leher. Leher itu hampir putus. Masing untung bahwa Pendekar Halilintar tidak menanggalkan kepalanya.
Tak ada teriakan tertahan. Tak ada jeritan kematian. Karena sebelum mereka sempat mengucapkannya, nyawanya sudah lebih dulu lepas dari raga.
Darah menyembur dari lehernya membasahi tubuh yang sudah tak bernyawa tersebut. Pertarungan melawan anak buah Kiam Mo Kong si Datuk Ular Beracun telah selesai.
Shin Shui mengumpulkan energinya kembali. Dia juga mengkonsumsi pil penambah tenaga dalam.
Pedang Halilintar sudah di sarungkan kembali.
__ADS_1
Jurus hebat telah tiada.
Tapi langit masih nampak gelap. Awan masih terlihat kelam. Dan angin masih membawa kabar kematian.
Pendekar Halilintar itu berjalan dengan santai. Gerakannya teratur dan ringan. Tidak sedikitpun mengeluarkan suara langkah kaki. Bahkan bekasnya saja tidak nampak.
"Sekarang giliranmu tua bangka. Kalau kau tidak mau menyerahkan obat penawar itu, maka aku pastikan nasibmu tidak berbeda jauh dari semua anak buahmu," kata Shin Shui kepada Kiam Mo Kong si datuk dunia persilatan dengan sorot mata yang tajam.
Dalam hatinya, si kakek tua itu merasa terkejut juga. Usia Pendekar Halilintar belum ada empat puluh tahun. Tapi namanya sudah berkibar di mana-mana. Kekuatannya juga sangat mengerikan.
Dan semua orang tahu itu.
Dia merasa sedikit gentar setelah melihat pertarungan barusan. Apalagi saat menyadari bahwa semua jurus Pendekar Halilintar tidak terlihat ada titik kelemahan, kecuali hanya sedikit.
Kelemahan dalam setiap serangan dan pertahanan Shin Shui memang ada. Tapi peluang tersebut sangatlah kecil.
Salah sedikit mengambil posisi, bisa-bisa nyawanya akan terancam.
Seumur hidupnya selama malang melintang dalam dunia persilatan, baru kali ini dia dibuat gentar oleh seorang pendekar sepertinya.
Dan Pendekar Halilintar lah orangnya.
Shin Shui sudah tahu kakek tua itu akan menjawab seperti barusan. Karena tidak mungkin ada seseorang yang dengan mudah memberikan penawar racun begitu saja. Apalagi dia memintanya kepada si pelaku sendiri.
Kecuali kalau ada syarat tertentu. Maka kejadiannya akan berbeda.
"Bagus. Kau memang mempunyai nyali besar. Sepertinya kau sudah memakan nyali harimau sehingga berani bertingkah di depanku. Tidak sia-sia juga kau menjadi datuk sungai kuning (dunia persilatan-sebutan dalam novel wuxia),"
"Hahaha, tentu saja. Kau pikir aku takut kepadamu? Hemm, nanti dulu. Selama matahari masih terbit dari timur, selama itu pula aku tidak takut kepada siapapun," kata Kiam Mo Kong sambil berusaha menguatkan nyalinya yang sempat merosot.
Shin Shui tertawa dalam hatinya. Dia tahu bahwa kakek tua yang ada di hadapannya kini sudah kalah mental. Nyali dia sudah ciut sebelum bertarung. Hal tersebut bisa dia lihat dari tatapan matanya yang tajam tapi dibuat-buat.
"Bagus kalau begitu. Nah sekarang, kita buktikan kalau kau memang tidak takut kepada siapapun,"
"Mau apa kau?"
"Tentu saja mencabut nyawamu. Kalau bukan itu, apa lagi?"
"Kapan kau akan melakukannya?"
__ADS_1
"Sekarang. Banyak bicara kau tua bangka …" teriak Shin Shui lalu menjejakkan kakinya ke tanah.
Tubuhnya langsung melesat ke depan dalam kecepatan tinggi. Tangan kanan dia julurkan sambil di kepalkan.
Serangan pertama berupa pukulan. Pukulan yang terlihat sederhana namun mengandung kekuatan besar di dalamnya.
Si Datuk Ular Beracun sudah bersiap dari tadi. Sehingga begitu melihat Pendekar Halilintar melancarkan serangan pertamanya, dia sudah menyiapkan langkah untuk menangkis.
"Plakk …"
Dua tangan bertemu. Suara dua tulang beradu terdengar sedikit ngilu.
Kedua pendekar itu terdorong ke belakang. Keduanya merasakan tangan mereka sedikit perih. Terlebih lagi si Datuk Ular Beracun itu.
"Lumayan juga kau," ucap Kiam Mo Kong.
"Kalau tidak lumayan, bagaimana mungkin aku bisa membunuh semua orang yang ada di sini?"
Selesai berkata demikian, Shin Shui segera memulai kembali serangan keduanya. Dua tangan mengirimkan serangan tapak. Gelombang energi tak kasat mata terbentuk lalu melesat ke arah lawan.
Datuk Ular Beracun tahu bahwa ini bukan serangan biasa. Karena itu, dia langsung menyalurkan tenaga dalam dengan jumlah besar ke seluruh tubuh. Terlebih kepada kedua telapak tangannya.
Telapak bertemu telapak.
Benturan keras terdengar menggema. Suara ledakan itu menerbangkan batu kerikil dan dedaunan kering.
Kali ini mereka tidak berhenti. Keduanya langsung melancarkan kembali serangannya masing-masing. Adu pukulan dan tendangan mulai mewarnai pertarungan kelas atas itu.
Shin Shui menggempur Kiam Mo Kong dengan serangkaian pukulan beruntun. Sesekali dia memberikan tendangan maut mengarah ke beberapa titik dalam tubuh.
Kedua tangannya mengeluarkan cahaya biru. Ada kekuatan dahsyat di dalamnya.
Kiam Mo Kong tidak mau kalah. Tubuhnya kini telah diselimuti oleh sinar merah yang amat pekat. Selain itu, sesekali terlihat ada uap ungu tua yang keluar dari dalam tubuhnya.
Dia telah mengeluarkan racun ganas dalam pertarungan tersebut. Tujuannya tentu untuk mempengaruhi lawan.
Sayang, dia mendapatkan lawan yang salah. Walaupun uap ungu tua tersebut mengandung racun yang sangat mematikan jika dihirup, tapi toh nyatanya sama sekali tidak berarti bagi Shin Shui.
Di tengah pertarungan, bahkan dia masih tetap bernafas seperti dalam keadaan normal. Dia sama sekali tidak terlihat seperti keracunan. Justru serangannya malah semakin dahsyat.
__ADS_1
Duel Maut ini mulai berlangsung seru setelah sepuluh jurus kemudian.