Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Berita Hangat


__ADS_3

Kedua penyerang tersebut tidak menjawab pertanyaan Pendekar Tanpa Perasaan. Lebih tepatnya mereka tidak sanggup menjawab. Sekarang keduanya sedang terkejut karena serangannya dapat digagalkan dengan begitu mudahnya.


Orang yang sedang dalam keadaan terkejut setengah mati, bagaimana mungkin bisa menjawab sebuah pertanyaan tidak penting?


Menyaksikan kedua penyerangnya tidak menjawab, Pendekar Tanpa Merasan merasa kesal.


Plakk!!! Plakk!!!


Dua orang itu langsung ambruk ke tanah saat itu juga. Suara terjatuhnya dua tubuh terdengar cukup keras. Dengan gerakan cepat, pemuda serba putih itu mengambil kembali dua sosok tubuh yang saat ini dalam keadaan tidak sadar tersebut.


Chen Li kemudian menotok seluruh jalan darah yang terdapat di tubuh manusia. Setelah itu, dia langsung menyadarkannya kembali.


"Katakan siapa kalian?" tanya Pendekar Tanpa Perasaan untuk yang kedua kalinya setelah mereka tersadar.


"Kau tidak perlu mengetahui siapa kami," jawab seorang di antara keduanya dengan sinis.


"Baik, tidak masalah. Tapi kalian harus memberitahu siapa yang sudah menyuruh kalian menyerangku?"


"Kami tidak akan mengatakannya,"


"Kalian ingin mati?"


"Sekalipun harus mati, kami tetap tidak akan memberitahumu siapa yang telah menyuruh kami berdua,?" jawab orang itu tegas.


Sepertinya dia sangat teguh kepada pendiriannya. Selain itu, ternyata dua orang tersebut mempunyai watak tidak sudi mengingkari janji. Diam-diam Pendekar Tanpa Perasaan memujinya. Bagi pemuda itu, orang-orang seperti mereka patut mendapat pujian karena keteguhannya dalam memegang sebuah janji.


Sayang, mereka berada di jalan yang salah.


"Apapun yang terjadi, kalian tetap tidak akan memberitahukan siapa dalang di balik layar ini?" tanya Chen Li kembali memastikan.


"Benar,"


"Hahh …" pemuda serba putih itu menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan bicaranya.


"Pergilah," katanya sambil membebaskan totokan di tubuh keduanya.


Dua orang tersebut melongo. Mereka tidak pergi, bahkan sampai sekarang masih tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.


Wajah mereka menatap Pendekar Tanpa Perasaan dengan tatapan kebingungan. Dua orang itu tidak habis pikir, kenapa lawan malah membebaskannya?


"Kau membebaskan kami?" tanyanya masih bingung.


"Benar," jawab Chen Li singkat.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena kalian pria sejati. Pergilah," katanya.


Bersamaan dengan ucapan tersebut, Pendekar Tanpa Perasaan pun kemudian beranjak pergi lebih dulu dari sana. Dia tidak memperdulikan dua orang tadi. Sedikitpun tidak menengoknya kembali.


Alasan Chen Li tidak membunuh mereka karena hal di atas tadi. Keduanya merupakan pria sejati yang bisa memegang janji.


Pendekar Tanpa Perasaan tidak suka membunuh orang dengan tipe seperti itu. Apalagi kalau karena masalah sepele. Ditambah pula, dua orang tersebut hanya orang-orang suruhan. Mereka tidak tahu apa-apa. Lagi pula, pemuda itu tidak membunuh mereka karena dirinya mempunyai alasan lain.


Wushh!!!


Tubuhnya kembali melesat. Tapi bukan ke Kotaraja. Melainkan ke balik semak belukar yang ada di sekitar.


Crashh!!!


Suara tertebasnya sesuatu terdengar sangat jelas. Hanya masuk sekejap, pemuda itu telah kembali lagi ke tempat sebelumnya.


Chen Li sudah keluar hutan. Tidak ada yang berubah di tubuh pemuda itu kecuali sesuatu yang ada di tangan kanannya. Sesuatu itu sedang dia genggam.


Kepala.


Sesuatu yang dimaksud memang kepala manusia yang masih berlumuran darah segar.


Chen Li melemparkan potongan kepala tersebut ke arah dua orang sebelumnya. Meskipun jaraknya sekarang cukup jauh, tapi toh lemparannya tidak meleset sedikitpun.


Dua orang tadi yang sekarang telah berdiri itu terbelalak saat menyaksikan ada satu kepala jatuh tepat di hadapan keduanya.


Wajah itu masih dapat di lihat dengan jelas. Namun kondisinya cukup membuat hati bergidik. Sepasang matanya melotot seakan hendak keluar. Lidahnya terjulur kaku.


"Apakah orang itu yang sudah menyuruh kalian?" tanya Chen Li dari jarak jauh.


Dia mengirimkan suaranya dengan saluran tenaga dalam tinggi sehingga meskipun orangnya sudah tidak terlihat, namun suaranya bisa sampai ke tempat tujuan.


Dua orang tersebut membelalakkan sepasang matanya. Saking terkejutnya, mereka bahkan mundur satu langkah ke belakang. Keduanya saling pandang beberapa saat. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, wajahnya mulai pucat pasi dan keringat dingin sudah membasahi punggungnya.


"Bagaimana dia bisa tahu kalau di semak belukar itu masih ada orang?"


"Karena dia adalah Pendekar Tanpa Perasaan," jawab rekannya sambil menghela nafas.


"Aii, sungguh beruntung kita tidak menjadi korbannya," keluh rekan orang tersebut.


Alasan mereka terkejut setengah mati adalah karena kepala buntung yang jatuh di hadapannya itu benar-benar merupakan orang yang sudah menyuruhnya untuk membunuh Pendekar Tanpa Perasaan.

__ADS_1


Tanpa bicara lagi, dengan penuh perasaan takut, mereka lantas segera pergi dari sana secepat mungkin.


###


Hari telah terang tanah. Chen Li sekarang sedang berada di kedai arak yang terdapat di Ibu Kota Kekaisaran Sung.


Semalam, setelah menebas satu kepala orang yang menyuruh tangan lain untuk membunuh dirinya, dia langsung pergi menyambangi markas Organisasi Elang Hitam dan menjarah semua harta yang ada di sana.


Ternyata harta yang terdapat di tempat tersebut lumayan banyak pula. Pemuda itu mengambil semua lalu menyimpannya di dalam Cincin Ruang.


Dan sebelum memasuki kedai arak itu, Chen Li pun baru selesai membagikan hasil jarahannya kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan.


Suasana di Kotaraja mendadak digemparkan oleh berbagai macam peristiwa yang terjadi dalam waktu satu malam saja.


Di antaranya adalah pembantaian seratus tokoh Organisasi Elang Hitam, hancur leburnya markas organisasi sesat itu, serta ramainya orang-orang yang membicarakan adanya pemuda berhati malaikat yang memberikan sumbangan tidak kepalang banyaknya.


Tapi di antara tiga berita tersebut, yang paling banyak dibicarakan oleh orang-orang, terutama sekali mereka yang merupakan insan persilatan, adalah serangkaian kejadian tentang bencana yang menimpa Organisasi Elang Hitam.


Setiap pasang telinga yang mendengar berita itu tidak ada yang langsung percaya. Mereka semua masih menyangsikan kebenaran berita tersebut.


Bagaimanapun juga, semua tokoh Organisasi Elang Hitam sudah terhitung pendekar kelas atas. Semuanya merupakan Pendekar Dewa.


Dan untuk membunuh seorang Pendekar Dewa bukanlah sesuatu yang mudah. Jangankan seratus, bahkan membunuh sepuluh orang secara serentak saja rasanya semudah saat bicara. Apalagi kalau membunuh seratus orang sekaligus?


"Apakah kau bicara benar?" tanya seorang pengunjung kedai arak memastikan kebenaran berita itu kepada orang yang baru saja menyelesaikan ceritanya.


"Aku tidak berbohong, bahkan aku pun melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana mungkin aku berbohong?"


"Aii, lalu apakah kabar hancurnya markas Organisasi Elang Hitam itu pun benar?" tanya kembali orang tadi.


"Tadi pagi-pagi sekali aku sudah memeriksanya ke sana," jawab orang yang bercerita.


"Bagaimana hasilnya?"


"Sesuai dengan berita yang saat ini sedang ramai diceritakan. Markas Organisasi Elang Hitam memang sudah hancur lebuh bersama tanah,"


Orang tersebut bicara cukup kencang sehingga siapapun dapat mendengarnya dengan jelas. Termasuk Chen Li sendiri. Hanya saja, hingga sekarang pemuda itu masih tetap membungkam mulut di balik penyamarannya.


"Aii, sungguh suatu kejadian mengerikan dan mengagumkan,"


"Tepat sekali," sahut orang lainnya yang berada di meja tersebut.


"Lantas siapakah pelakunya?"

__ADS_1


"Pendekar Tanpa Perasaan …"


__ADS_2