Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Iblis Kera Hitam


__ADS_3

Dua iblis kera hitam langsung mampus dihajar oleh San Ong. Siluman penguasa sebuah gunung itu menangkap langsung dua iblis kera hitam lalu dia membenturkan kepalanya dengan sangat keras. Dua kepala iblis langsung pecah berantakan seperti sebuah gelas kaca yang dijatuhkan dari atas.


Tidak berselang lama setelah itu, siluman kera putih tersebut segera melakukan hal yang sama kembali. Dua iblis kera hitam kembali meregang nyawa dengan cara yang sama. Satu iblis sisanya dihajar dengan sebuah pukulan dahsyat sehingga dia terlempar sampai sebelas tombak ke belakang.


Begitu tubuhnya berhenti bergulingan, iblis itupun sudah mampus. Semuanya tewas mengenaskan.


Di sisinya, ada Ong San yang juga sedang menyiksa lima iblis kera hitam. Sepasang tangan berbulu yang berkekuatan dahsyat itu melancarkan puluhan pukulan tanpa berhenti.


Ong San sangat gemas kepada lima iblis itu. Dia pun merasa kesal karena tidak mendapat bagian menghajar musuh Chen Li, majikannya.


Sekarang setelah dia mendapat giliran, maka kesempatan itu tentunya tidak akan disia-siakan begitu saja.


Ong San terus menghajar tanpa jeda sedikitpun. Kedua kepalan lengannya yang besar itu terus melancarkan pukulan dan tamparan keras secara bergantian.


"Mati kau … mampus kau … rasakan ini … hayo bangun," kata siluman kera putih itu terus menggerutu selama dia melancarkan semua serangan tersebut.


Gerakannya waktu menyiksa lima musuhnya sangat cepat. Dia tidak ubahnya seperti sebuah bayangan putih yang mampu melesat secara bebas. Tendangan yang keras pun pada akhirnya dia lancarkan.


Lima iblis kera hitam itu menjadi samsak bagi Ong San sang penguasa Gunung San Ong.


Gelegarr!!!


Jurus pukulan terdahsyat akhirnya dilancarkan. Serentak kelima iblis kera hitam langsung terlempar dua puluhan tombak ke belakang. Puluhan batang pohon langsung roboh bersamaan dengan tubuh iblis yang menubruk pohon-pohon besar itu.


Tidak jauh dari San Ong dan Ong San, ada pertarungan Phoenix Raja yang melawan iblis kera hitam. Kalau dua siluman kera putih itu bertarung sambil sempat becanda, maka burung siluman istimewa itu malah sebaliknya.


Dia bertarung amat sangat serius. Wajahnya bengis. Seluruh tubuhnya telah diselimuti oleh api yang menyala membara.


Wushh!!!


Phoenix Raja melesat dengan sangat cepat. Bekas luncurannya meninggalkan jejak berwarna merah membara.


Crashh!!! Crashh!!!


Hanya beberapa kedipan mata, lima iblis kera hitam telah terpotong menjadi dua bagian. Para iblis itu terpotong di bagian tengah tubuhnya. Mereka tewas tanpa sempat mengeluarkan suara apapun. Jangankan demikian, bahkan kasarnya bergerak pun belum sempat.


Tahu-tahu kelimanya telah meregang nyawa secara bersamaan.


Tiga pertarungan siluman istimewa itu terjadi secara bersamaan. Ketiganya berhasil membuat semua 'penonton' terpukau. Orang-orang yang melihatnya semakin menahan nafas.


Mereka tidak pernah menyangka bahwa pemuda bergelar Pendekar Tanpa Perasaan itu mempunyai banyak keistimewaan yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia lainnya.


Selama pertarungan barusan, Pendekar Tanpa Perasaan pun sedang berdiri tepat di hadapan Hong Hua. Keduanya masih diam saling tatap.


Bedanya kalau Chen Li menatap dengan penuh amarah, Hong Hua justru menatap dengan penuh rasa takut.

__ADS_1


"Semua tokoh Organisasi Elang Hitam telah mampus," kata Pendekar Tanpa Perasaan dengan bengis.


"Aku tahu," jawab Hong Hua penuh dengan rasa takut.


"Yang tersisa hanyalah dirimu,"


"Aku tahu,"


"Sekarang aku ingin bertanya kepadamu,"


"Silahkan,"


"Siapa yang telah mengirimkan lima belas iblis kera hitam itu?"


Hong Hua tertegun sejenak. Dia sepertinya sedang bimbang antara harus memberitahu atau tidak.


Tapi setelah berpikir kembali, akhirnya dia memutuskan untuk mengatakannya. Alasannya karena dia tahu posisinya saat ini tiada bedanya. Memberitahu atau tidak, dia bakal mati.


Setidaknya kalau memberitahu, Hong Hua mempunyai secercah harapan. Dia berharap bahwa orang yang sudah membantunya itu bisa membalaskan dendamnya.


"Xhiang Yu si Enam Pedang Lima Nyawa,"


Chen Li mengerutkan keningnya. Dia tidak pernah mendebarkan julukan tersebut. Baginya, nama dan julukan itu sangat asing.


"Pemimpin dari Tiga Pedang Tanpa Tanding,"


Pendekar Tanpa Perasaan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Meskipun belum tahu, tapi dia berpura-pura sudah tahu.


"Terimakasih karena kau sudah memberitahu. Sekarang sudah tiba waktunya untuk kematianmu,"


"Aku tahu …"


"Sepertinya kau tidak bisa mengucapkan kata lain selain dua patah kata itu," kata Pendekar Tanpa Perasaan menahan rasa kesalnya.


"Sepertinya begitu. Karena aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku katakan," jawab Hong Hua.


Apakah seseorang yang tahu bahwa kematiannya sudah dekat selalu bersikap seperti Hong Hua?


Apakah dia merasa takut? Pasrah, atau apa?


Chen Li tidak menjawab ucapan tersebut. Karena pada dasarnya ucapan itu memang tidak membutuhkan sebuah jawaban apapun.


"Kelak kau akan merasakan apa yang aku rasakan …" ucap Hong Hua sambil menatap tajam kepadanya


"Semoga ucapanmu ini menjadi kenyataan,"

__ADS_1


Crashh!!!


Darah muncrat ke segala arah. Suara tertahan menjelang kematian terdengar.


Sebagian orang yang menyaksikan kejadian itu menjerit ngeri.


Mereka bertanya-tanya dalam benaknya masing-masing.


Apakah orang tua itu bodoh? Kenapa dia melakukan hal tersebut?


Semua orang tidak akan ada yang tahu alasan pastinya. Yang tahu hanyalah Hong Hua dan Pendekar Tanpa Perasaan sendiri.


Bagi Hong Hua, mati bunuh diri lebih baik dari pada mati di tangan pemuda yang sangat sadis itu. Orang tua tersebut memilih jalan yang menurutnya paling baik.


Tubuh Hong Hua ambruk ke tanah. Tangan kanannya masih menggenggam pisau yang baru saja dia pakai untuk menggorok lehernya sendiri.


Darah langsung menggenangi tubuh yang sudah tua renta itu. Lehernya hampir putus digorok.


Apakah dia mati dengan tenang? Ataukah membawa dendam?


Tiada yang tahu akan hal tersebut. Yang pasti, dia tewas dengan mata melotot. Lidahnya terjulur.


Semuanya telah kembali seperti sedia kala. Hawa kematian mulai memudar. Begitu juga dengan hawa-hawa lainnya. Sepasang Mata Dewa telah menghilang. Yang nampak sekarang hanya sepasang bola mata hitam pekat.


Bola mata yang bening dan memancarkan kewibawaan tersendiri. Bola mata hitam itu sama seperti orang pada umumnya, hanya saja di balik itu ada pancaran tersendiri yang tidak mungkin dimiliki oleh orang lainnya.


San Ong, Ong San dan Phoenix Raja menghampiri Chen Li. Ketiganya tersenyum simpul kepada tuan mudanya tersebut.


"Aku tidak menyuruh kalian turun tangan," kata Chen Li pura-pura marah kepada tiga siluman peliharaannya.


"Benar," jawab mereka secara bersamaan.


"Lalu kenapa kalian turun tangan tanpa bicara kepadaku lebih dulu?"


Ketiganya membungkam. Mereka bingung untuk memberikan jawaban apa.


"Kami semua salah. Kami siap menerima hukuman yang diberikan oleh Tuan muda," ucap tiga siluman itu secara serempak kembali.


"Hemm …" Chen Li mendengus dingin.


Ketiga siluman itu terdiam dengan kepala tertunduk. Sekuat apapun mereka, ketiganya tetap tidak berani kepada Chen Li.


Kesetiaan hewan ataupun siluman biasanya lebih setia dari manusia. Hal seperti ini bisa kita lihat di kehidupan nyata.


Kalau mereka saja bisa setia, lantas kenapa manusia tidak?

__ADS_1


__ADS_2