Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Tiga Wanita Cantik


__ADS_3

Si kakek tua itu hanya tersenyum sinis. Kakinya tidak bergerak sama sekali. Namun entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja pedang yang tadi menusuk ke arahnya sudah patah menjadi beberapa bagian.


Pelakunya langsung melompat mundur menjejakkan kalinya di tengah udara. Matanya melotot tidak percaya. Untuk beberapa saat dia hanya bisa memandangi pedang yang tinggal gagangnya itu.


Sembilan belas orang sisanya sangat terkejut melihat kejadian barusan. Tanpa sadar, belasan orang itu memundurkan kudanya. Seakan mereka sedang berusaha untuk menyelamatkan diri.


Huang Taiji masih melihat kejadian tersebut. Dia belum bergerak sama sekali.


Tidak lama kemudian, dua orang penunggang kuda melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Tapi hasilnya juga sama, pedang mereka tahu-tahu sudah terpotong menjadi beberapa bagian.


Kejadian tersebut terus terjadi berulang kali. Bahkan seorang di antara penunggang kuda telah menjadi korban. Dadanya tertusuk kutung ujung pedang sehingga menyebabkan nyawanya melayang saat itu juga.


Dua puluh penunggang kuda yang mempunyai wajah sangar, hanya dalam sekejap mata saja telah dibuat ketakutan setengah mati oleh seorang kakek tua yang terlihat biasa saja.


Huang Taiji berniat untuk segera bergerak. Hanya saja sebelum dia melancarkan niatnya tersebut, tiba-tiba saja datang tiga orang berpakaian serba kuning.


Ketiganya merupakan seorang wanita. Wajah mereka sangat cantik. Mirip seperti bidadari yang ada di dalam dongeng. Di pinggangnya masing-masing terselip sebuah kipas berwarna putih.


Kalau di lihat secara sekilas, kipas itu memang biasa saja. Seperti tidak ada keistimewaan sama sekali.


Jika yang melihatnya orang lain, sudah pasti mereka akan tertipu. Tapi tidak bagi Huang Taiji. Dia sudah tahu bahwa kipas itu bukanlah kipas sembarangan.


"Kakek tua, lepaskan gadis kecil itu," bentak seorang wanita yang bertubuh paling sempurna.


Tubuhnya padat berisi. Pakaian kuningnya teramat ringkas dan ketat sekali. Sehingga bentuk belahan tubuhnya dapat terlihat dengan sangat jelas. Wajahnya tidak kalah cantik dari dua rekannya.


Sifatnya angkuh, dingin dan berangasan. Namun semua itu justru malah menambah kecantikannya.


"Hahaha, gadis yang sangat cantik. Sayangnya kau galak sekali," ejek si kakek tua.


"Tidak perlu banyak mulut. Serahkan gadis itu sekarang juga atau terpaksa kami akak memaksamu dengan kekerasan," ucap wanita satunya lagi.


Si kakek tua semakin tertawa lantang. Hal ini jelas menggambarkan bahwa orang tua itu sangat meremehkan tiga wanita tersebut.

__ADS_1


"Hemm, boleh saja. Asalkan kau sanggup menghadapi sembilan belas orang-orangku ini," ujarnya sambil memandangi dua puluh penunggang kuda tadi.


Huang Taiji kaget. Sekarang, sedikit banyaknya orang tua itu sudah tahu apa yang sedang terjadi saat ini.


Ternyata dua puluhan penunggang kuda tadi adalah orang-orangnya sendiri. Tujuan kakek tua itu adalah supaya memancaing tiga wanita cantik itu mengejarnya.


Dan si kakek tua sengaja melarikan diri ke tengah hutan supaya mereka bisa bergerak lebih leluasa. Selain itu, anggapan mereka adalah karena jika di tengah hutan, sudah pasti tidak akan ada orang lain.


Maka oleh sebab itulah dia menyuruh seluruh orang-orangnya untuk mengejar dirinya seakan bahwa kakek tua itu musuh.


"Hemm, rencana yang sangat bagus dan matang. Sepertinya rubah tua itu sudah merencanakan ini sebelumnya. Dia sengaja menyuruh dirinya seakan dikejar ke tengah hutan oleh dua puluhan orang penunggang kuda tadi," gumam Huang Taiji.


Tujuannya seperti yang disebutkan di atas. Yaitu untuk menggiring supaya tiga wanita tersebut mengikutinya.


Tak disangka sama sekali, justru semua rencananya telah berjalan dengan sangat mulut.


"Kau kira aku takut kepada dua puluh tikus ini? Hemm, kau salah besar. Kalau memang ingin dimulai sekarang, maka kami tidak bisa menunda lagi. Kami bertiga siap melakukan cara apapun demi mendapatkannya kembali," jawab salah satu dari tiga wanita cantik itu.


"Bagus sekali. Kalau begitu, sekarang juga kita akan menempuh jalan darah,"


"Serang!!!"


Kakek tua itu memberikan perintah. Serentak sembilan belas orang tersebut langsung mengambil posisinya masing-masing. Tiga wanita yang cantik itu dikepung rapat. Berbagai macam senjata sudah diacungkan oleh pihak lawan.


Bahkan beberapa orang sudah terlihat ada yang menyerang.


Huang Taiji masih juga belum turun tangan. Dia tidak mengerti dengan manusia-manusia itu. Demi melancarkan rencana, mereka ternyata rela mengorbankan nyawa rekannya sendiri.


Dia bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah manusia memang selalu seperti ini? Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan tertentu? Apakah manusia benar-benar ada yang lebih rendah dari pada hewan?


Orang tua itu hanya menghela nafas dalam-dalam. Pertarungan semakin panas. Tiga wanita berpakaian kuning itu sudah bergerak menyambut semua serangan yang datang.


Sembilan belas orang sudah melayangkan serangannya langsung gencar menyerang tiga wanita tersebut. Selain jumlahnya jauh lebih banyak, sepertinya pihak lawan juga mempunyai kekuatan yang lumayan.

__ADS_1


Tiga wanita itu hanya merupakan Pendekar Surgawi tahap tujuh akhir. Sedangkan dua puluh orang penyerangnya adalah Pendekar Surgawi tahap tiga. Walaupun kekuatannya cukup jauh, namun jila jumlahnya banyak dan menyerang bersamaan, bisa jadi kedudukan akan berimbang.


Bahkan bukan tidak mungkin jika ketiga wanita itu tidak sanggup untuk menghadapinya.


Dugaan Huang Taiji tidak salah. Pertarungan mereka baru saja berjalan tiga puluh jurus, namun posisi tiga wanita cantik itu sudah terdesak hebat. Bahkan seorang di antara mereka ada yang telah mengalami luka di bagian pahanya sehingga terlihat kulis putih yang begitu menggoda.


Para penyerangnya semakin semangat. Bahkan meraka tertawa tergelak Sesekali orang-orang itu melirik kebagian paha yang putih mulus itu.


Huang Taiji mulai muak melihat kejadian tersebut.


Seperti seekor burung elang, dia meluncur deras ke bawah. Kedua tangannya langsung melancarkan serangan jarak jauh. Hembusan angin besar yang membawa kekuatan dahsyat menerjang ke arah dua puluh orang itu.


Kecepatan serangan yang dilayangkan oleh orang tua itu jangan ditanyakan lagi. Datangnya seperti kilat yang menyambar bumi.


Dua orang terpental hingga menabrak batang pohon. Keduanya merasakan tulang punggung mereka patah.


Debu mengepul tinggi. Udara di sana langsung berubah menjadi sangat panas.


Begitu keadaan kembali normal seperti sedia kala, semua orang yang ada di sana dibuat terkejut setengah mati.


'Siapa orang ini? Mengapa dia tiba-tiba dagang? Hemm, kalau dia pihak musuh, sudah pasti keadaanku akan terancam,' batin seorang di antara tiga wanita.


Huang Taiji membalikan badannya sambil mengibaskan tangan kanan.


"Manusia-manusia rendahan yang hanya beraninya mengganggu kaum wanita," ejeknya sambil melemparkan senyuman sinis.


Dua puluh orang itu langsung menggambarkan ekspresi kurang senang. Mereka ingin bergerak, namun sebagai orang berpengalaman, tentunya mereka tidak bisa asal bergerak begitu saja.


"Siapakah Tuan ini?" tanya salah seorang.


"Wakil Malaikat Maut," jawab Huang Taiji dengan dingin.


Semua orang itu langsung merah padam. Termasuk si kakek tua yang menggendong gadis kecil. Sedangkan tiga wanita tadi, mereka tersenyum penuh tanda terimakasih.

__ADS_1


"Tajam sekali ucapanmu," bentak salah seorang.


"Mulutku memang tajam. Tapi lebih tajam lagi kedua tanganku," jawab Pendekar Pedang Tombak.


__ADS_2