Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Perang Besar XII


__ADS_3

Membaca gerakan musuh dalam sebuah pertarungan besar dan dahsyat adalah sesuatu yang telah menjadi rahasia umum. Apalagi jika pertarungan tersebut milik tokoh kelas atas. Siapapun orangnya, pasti bisa melakukan hal tersebut.


Namun apa yang dilakukan oleh Pendekar Halilintar kali ini merupakan sesuatu yang sangat berbeda. Dia dapat membaca dan mengetahui ke mana serta bagaimana musuh akan bergerak sebelum orang itu melakukan pergerakan apapun.


Seolah semua pergerakan lawan sudah berada dalam kendalinya sendiri. Seolah serangan yang akan dilancarkan oleh lawan telah ditentukan olehnya.


Kejadian seperti ini, meskipun masih mungkin untuk dilakukan, tapi orang yang dapat melakukannya bisa dihitung dengan jari tangan. Tidak setiap tokoh kelas atas bisa melakukannya. Tidak setiap pendekar pilih tanding mampu melaksanakannya.


Yang mampu melakukannya hanya mereka yang sudah berada dalam puncak keilmuan. Yang dapat melaksanakannya hanya mereka yang telah berada di tahap seperti "Dewa".


Shin Shui menyerang lagi. Gempuran serangan yang dia berikan tidak banyak mengalami perubahan. Bahkan serangan yang dilancarkan sekarang sangat sederhana. Tidak kembangan jurus, tidak ada pula tipuan jurus.


Yang ada hanyalah kecepatan. Yang ada hanyalah kematian.


Cahaya biru terang berkelebat. Cahaya itu lebih cepat dari pada apapun yang pernah di lihat oleh mata telanjang.


Slebb!!!


Darah menyembur deras. Satu orang lawan Pendekar Halilintar telah tewas karena tenggorokannya tertusuk oleh ujung pedang pusaka miliknya. Begitu pedang dicabut, korbannya langsung ambruk ke tanah saat itu juga.


Lima orang tokoh lainnya tidak bisa berdiam diri. Mereka merupakan teman dekat. Lalu, teman dekat mana yang akan diam saja jika melihat salah satu rekannya tewas di depan mata?


Lima orang tokoh itu menerjang dari lima penjuru berbeda. Mereka melancarkan berbagai macan serangan dan jurus dahsyat yang sulit untuk ditangkis.


Lima macam senjata pusaka yang teramat tajam melesat ke arah Pendekar Halilintar. Semuanya membawa bahaya maut, semuanya mengancam titik berbahaya yang ada dalam tubuh manusia.


Sabetan dari batang pedang tiba dengan kecepatan tinggi. Tusukan dari dua batang tombak datang dari sisi kiri dan sisi kanan. Tebasan yang mengancam leher datang dari arah belakang.


Semuanya datang secara serempak. Semuanya tiba secara bersamaan.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Benturan nyaring terdengar serempak. Semua gerakan lima tokoh yang menyerang Pendekar Halilintar mendadak berhenti. Mereka terbengong untuk beberapa saat lamanya.


Tidak ada yang bergerak lagi di antara kelima tokoh tersebut.


Clangg!!!


Suara benda keras jatuh bersamaan. Lima pasang mata itu melotot tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

__ADS_1


Masing-masing dari senjata mereka telah patah menjadi dua bagian. Kutungan senjata pusaka tersebut jatuh. Kutungan yang tercipta pun sangat rapi. Sama sekali tidak terlihat bahwa kelima batang senjata itu dipatahkan oleh senjata pusaka lain.


Kejadian ini benar-benar suatu hal baru bagi lima tokoh tersebut. Bagi seorang pendekar, mematahkan senjata lawan memang sudah menjadi hal lumrah. Hanya saja, senjata mereka bukan senjata biasa.


Senjata yang mereka gunakan adalah pusaka tingkat tinggi. Senjata itu mustahil bisa dipatahkan oleh senjata lainnya. Tapi yang terjadi sekarang benar-benar diluar dugaan setiap orang.


Kemustahilan itu ternyata berubah menjadi kenyataan.


Pada saat kelima lawannya termenung memikirkan apa yang baru saja terjadi, saat itulah Pendekar Halilintar bergerak kembali.


Cahaya biru berkilat di tengah medan perang. Sinar terangnya membuat silau setiap mata yang memandang.


Crashh!!! Slebb!!! Srett!!!


Hanya sekejap, hanya sesaat, lima nyawa telah melayang di ujung Pedang Halilintar.


Lima kali sinar biru bergerak, lima sosok manusia telah terkapar di atas tanah.


Semuanya tewas mengenaskan. Masing-masing dari mereka mendapatkan luka yang berbeda. Ada yang ditusuk di bagian tenggorokan, ada yang disabet bagian dadanya, tertusuk bagian jantung dan lain sebagainya.


Shin Shui tersenyum menyeramkan. Dia bangga dengan jurus ciptaannya yang satu ini. Selama ini, jurus Pedang Cahaya tidak pernah mengalami kegagalan. Sama sekali tidak.


###


Pertarungan Pendekar Tanpa Perasaan yang melawan satu orang tokoh dari Kekaisaran Tang sudah berlangsung selama puluhan jurus.


Pertarungan mereka berjalan semakin sengit. Terutama sekali bagi Chen Li, bocah itu merasa sedikit kesulitan untuk melancarkan serangan dengan leluasa.


Hal itu terjadi karena orang tua yang menjadi lawannya setara dengan Pendekar Dewa tahap empat awal.


Itu artinya, Chen Li sedang bertarung melawan tokoh yang baginya sangat tangguh. Jangankan untuk memenangkan pertarungan, untuk menangkis saja dia harus berjuang sekuat tenaga.


Tetapi meskipun begitu, dia sama sekali tidak menyerah. Pendekar Tanpa Perasaan bukanlah orang yang mengenal takut. Selamanya dia tidak akan kenal dengan rasa takut.


Semakin lawannya tangguh, semakin berkobar juga semangat dalam dirinya.


Duarr!!!


Sinar hitam mendadak meluncur dari ujung tongkat si orang tua.

__ADS_1


Pendekar Tanpa Perasaan terlempar cukup jauh ke belakang. Dari sudut bibirnya meleleh cairan kental berwarna merah.


Darah.


Chen Li bangkit secara perlahan. Dia mengusut darah yang keluar itu. Dari sepasang matanya mendadak keluar sepasang sinar yang sangat tajam. Seolah sinar itu mampu menembus batu yang amat keras.


Waktu tiba-tiba terasa berhenti. Semuanya seakan terdiam. Tidak ada yang bergerak sama sekali. Pandangan mata Chen Li mendadak gelap. Dia tidak mampu melihat apa-apa lagi.


Bocah itu sedikit kebingungan. Namun detik selanjutnya, semuanya mendadak terang. Saat pandangan matanya kembali normal, Chen Li telah berada di sebuah tempat. Sebuah tempat yang sangat asing dan belum pernah dia kunjungi sebelumnya.


Di depannya berdiri satu sosok yang telah dia kenal sebelumnya.


Kaisar Naga Merah.


Kaisar dari Negeri Siluman itu tersenyum lembut dan penuh kehangatan kepadanya.


"Apa kabar saudara kecilku?" tanyanya sambil tersenyum simpul.


"Kabarku baik, bagaimana dengan kabar Kaisar sendiri?" tanya Chen Li lagi.


Meskipun dia sedang kebingungan, namun bocah itu tidak mau menanyakannya.


"Kabarku juga baik. Aku kesini hanya karena ingin menyampaikan sesuatu," kata Kaisar Naga Merah.


"Li'er siap mendengarkan,"


"Gunakan dua senjata pusaka yang dulu pernah aku berikan kepadamu,"


"Tapi Kaisar, bukankah kau sendiri yang bicara bahwa dua pusaka boleh Li'er gunakan saat usiaku mencapai delapan belas tahun?" tanya Chen Li kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat si Negeri Siluman.


"Benar. Tapi karena sekarang kekuatanmu sudah lumayan dan pondasimu sudah kokoh, maka aku memutuskan kepadamu agar kau menggunakan dua pusaka itu sekarang,"


"Tapi …"


"Kau jangan khawatir. Semuanya sudah aku perhitungkan. Jika kau tidak segera menggunakan kedua senjata pusaka tersebut, maka nyawamu akan berada dalam bahaya,"


Chen Li sedikit terkejut. Untuk kesekian kalinya dia harus berada dalam bahaya. Tapi bocah itu tidak takut sama sekali.


"Kalau begitu baiklah, Li'er siap melakukan apa yang disuruh oleh Kaisar," jawab Chen Li dengan semangat.

__ADS_1


Menggunakan dua senjata pusaka yang pernah mengguncangkan langit dan bumi, bukankah ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa?


__ADS_2