
Kekuatan dahsyat sebagai seorang pemimpin dunia persilatan, langsung menyebar luas ke seluruh area. Tanah retak dan angin berhembus.
Kemunculan Shin Shui yang secara tiba-tiba ini, membuat kaget kedua belah pihak.
Baik itu pihak Sekte Kayu Hitam, maupun pihak kelompok yang menyerang. Kedua belah pihak tidak percaya, terlebih lagi mereka yang menyerang sekte ini.
Pertempuran di segala penjuru seketika berhenti saat semua orang menyadari kehadiran Shin Shui si Pendekar Halilintar.
Bagi Sekte Kayu Hitam, kemunculan pendekar terkuat di Kekaisaran Wei ini, tentu membaws keberuntungan. Semangat dalam diri mereka yang sempat redup, kini mulai berkobar kembali.
Karena dengan hadirnya Shin Shui, sedikit banyak Sekte Kayu Hitam mempunyai harapan untuk meraih kemenangan.
Tetapi bagi pihak musuh, kedatangan Pendekar Halilintar yang secara tiba-tiba ini, tentunya di anggap membawa sebuah malapetaka. Walaupun dalam hatinya mereka masih yakin dapat meraih kemenangan, tapi bisa saja korban yang jatuh akan semakin banyak.
Atau bisa juga kekalahan yang akan mereka raih.
Kemenangan dan kekalahan bisa diraih oleh siapapun juga.
Shin Shui memandang apa yang ada di sekelilingnya. Matanya menyapu ke segala penjuru.
Seorang kakek tua menghampirinya. Dia memakai pakaian serba hitam dengan ikat kepala merah. Usianya kira-kira sekitar tujuh atau delapan puluh tahun.
Di punggungnya ada sebatang tongkat kayu berwarna hitam. Dia memberikan hormatnya kepada Shin Shui.
"Salam hormat untuk Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar. Mohon maaf kami tidak dapat memenuhi janji, seperti yang Tuan lihat saat ini. Kami mendapat sebuah bencana," kata kakek tua tersebut.
Dalam ucapannya, sangat jelas bahwa si kakek tua merasa amat bersalah kepada Shin Shui. Bahkan dia tetap menunduk meskipun bicaranya sudah selesai.
Dari sini saja kita bisa menyimpulkan bagaimana dihormati Shin Shui ini.
"Kepala Tetua Hyu Ri, jangan seperti itu. Aku tidak mempermasalahkannya. Justru kedatanganku kemari karena ingin memastikan apa yang sedang terjadi terhadap Sekte Kayu Hitam. Firasatku mengatakan lain, lagi pula, aku tahu bagimana orang-orang sepertimu. Sudahlah, jangan seperti itu kepadaku. Ingat bahwa kau adalah seorang kepala tetua," kata Shin Shui kepada si kakek yang bernama Hyu Ri dan ternyata merupakan Kepala Tetua Sekte Kayu Hitam.
Setelah Shin Shui berkata demikian, akhirnya Hyu Ri mau mengangkat kepalanya. Terlihat jelas wajahnya yang sedang menahan amarah besar. Sorot matanya tajam, tetapi ketika bertemu dengan mata Shin Shui, seketika langsung redup.
"Terimakasih Tuan. Kalau tidak ada urusan lain lagi, kelak aku akan mengunjungimu. Untuk sekarang, maaf aku tidak bisa menyambutmu dengan layak. Silahkan kalau Tuan ingin pergi," ujarnya penuh hormat.
__ADS_1
Shin Shui tertawa. Justru dia ke Sekte Kayu Hitam karena sengaja ingin membantunya. Bukan untuk maksud lain.
"Tidak senior. Aku ke sini justru ingin membantu kalian,"
"Tapi, bagaimana mungkin kami berani merepotkan Tuan,"
"Tidak masalah. Untuk saat ini, posisi kita sama. Marilah kita mulai kembali. Mereka sudah memulainya lagi," ucap Shin Shui sambil memperhatikan orang-orang yang mulai bertarung lagi.
"Baiklah kalau begitu. Mari Tuan …"
Selesai berkata, Hyu Ri langsung lari ke tengah-tengah arena untuk melindungi anggotanya.
Sepak terjang kakek itu, walaupun sudah tua, ternyata masih penuh semangat yang berkobar. Terlihat dia sudah mencabut tongkat kayu hitamnya yang menjadi senjata andalan.
Tongkat kayu tersebut merupakan sebuah tanda kebesaran. Tongkat tersebut menjadi tanda bahwa orang yang memegangnya merupakan kepala tetua.
Setiap sekte, baik itu yang besar ataupun kecil, sudah pasti mempunyai tanda kebesaran seperti ini.
Pertempuran pecah kembali. Shin Shui belum bergerak. Dia lebih dulu meneliti siapa saja orang yang berkontribusi besar dalam penyerangan ini.
Bagi pendekar seperti Shin Shui, lebih baik menangkap induknya, daripada anaknya.
Menurutnya, kelompok yang menyerang jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang. Sepuluh orang Pendekar Dewa tahap tiga. Satu orang Pendekar Dewa tahap enam. Dan sisanya merupakan Pendekar Langit tahap empat.
Seperti diceritakan di episode sebelumnya, para pendekar dari Kekaisaran lain, kekuatannya lebih tinggi setahap. Kalau di negerinya Pendekar Dewa tahap empat, maka di Kekaisaran Wei setara dengan Pendekar Dewa tahap lima.
Ini harus di ingat lekat-lekat supaya tidak ada dusta di antara kita. (Eaaa)
Setelah memastikan semuanya, Pendekar Halilintar mulai mengeluarkan kekuatannya yang lebih besar.
Dia akan melawan kepalanya sekaligus. Yaitu si Pendekar Dewa tahap enam. Itu artinya, orang tersebut setara dengan kekuatannya. Hanya berbeda dalam segi tingkatan saja. Kalau Shin Shui tingkat puncak, maka orang itu tingkat awal.
Pendekar Halilintar bergerak. Dia meluncur langsung ke sasaran utamanya. Tanpa banyak tedeng aling-aling, Shin Shui langsung melancarkan dua serangan sekaligus.
Satu serangan jarak jauh, satu lagi serangan jarak dekat.
__ADS_1
Tangannya melancarkan rangkaian pukulan berbahaya. Sinar biru terang berkelebat ketika kedua tangannya bergerak.
Pertarungan mereka baru dimulai, tetapi kekuatan yang dikeluarkan tidak main-main lagi.
Di sisi lain, para tetua Sekte Kayu Hitam sudah bertarung juga bersama pendekar yang menjadi lawannya masing-masing.
Terlihat untuk saat ini pihak musuh sedikit lebih unggul. Baik itu dalam pertarungan para tetua, maupun pertarungan para murid.
Korban yang berjatuhan di pihak Sekte Kayu Hitam, jumlahnya sudah ads sekitar dua puluh orang. Mereka yang tewas adalah murid-murid angkatan baru.
Sekarang murid angkatan lama telah mengambil arah. Mereka turut andil dalam pertempuran ini. Setiap kali terlihat juniornya terdesak, maka seniornya akan datang membantu.
Jumlah tetua yang ada di Sekte Kayu Hitam sekitar delapan orang, dengan dipimpin satu orang kepala tetua.
Dan sekarang, masing-masing dari mereka sedang bertarung sengit bersama lawannya.
Udara di sana sudah tidak karuan lagi. Api yang membakar bangunan sekte semakin membesar. Haww bertambah panas. Asap hitam membumbung lebih tinggi ke angkasa.
Hyu Ri saat ini sedang membantah para pendekar terlemah di pihak lawan. Puluhan nyawa berhasil dia tumbangkan. Pertarungan di sebagian tepat telah berhenti.
Alasannya karena murid pihak lawan hampir habis tanpa sisa.
Sekelompok orang berani menyerang sebuah sekte yang cukup ternama hanya dengan pasukan sedikit, sungguh hal tersebut merupakan perbuatan yang sangat nekad.
Jerit kematian para murid dari dua belah pihak mulai terdengar meramaikan suasana.
Bau amis darah menyebar luas bercampur bau gosong bangunan terbakar.
Bulan di langit semakin bergeser ke sebelah barat. Sebagian bintang yang tadi berkelip, kini mulai tidak terlihat.
Semilir angin terasa lembut. Tetapi bukan membawa bau harum bunga. Melainkan membawa baru harum kematian.
Ketika Hyu Ri sedang membantai para murid, tiba-tiba seorang Pendekar Dewa tahap tiga melancarkan serangan kepadanya dari arah belakang.
Sebuah sinar biru pekat meluncur menyambar tubuhnya.
__ADS_1