Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Tiba di Sekte Bukit Halilintar


__ADS_3

Lawan yang harus Chen Li hadapi tinggal satu orang. Tapi yang seorang paling kuat di antara tiga rekannya.


Semua serangannya terlihat sudah matang dan mahir dalam menggunakan berbagai jurus hebat. Dan Chen Li, kalah dalam segi kematangan.


Bagaimanapun juga, dia tidak bisa mengingkari bahwa dirinya baru terjun ke dunia persilatan. Jadi wajar kalau untuk yang satu ini, dibutuhkan konsentrasi lebih.


Keduanya sudah saling mengeluarkan berbagai macam gaya serangan. Pedang dan seruling Chen Li bergerak dengan gerakan berbeda. Dua macam jurus dalam satu kali serangan.


Tapi lawannya sedikit banyak sudah mempelajari gaya bertarung bocah tersebut. Sehingga walaupun tidak bisa mendesak, setidaknya bisa mempertahankan posisi.


Kilatan pedang dan seruling terus membelah gelap malam. Decitan anginnya bersuit bagaikan cicitan ribuan burung.


Eng Kiam melihat pertarungan Chen Li dengan rasa tegang sekaligus kagum. Perasaan aneh di hati gadis kecil tersebut semakin menjadi setelah melihat kegagahan si tuan muda.


Sementara Shin Shui, dia tidak khawatir sama sekali. Bahkan senyumannya terus tersungging sepanjang mengamati pertarungan anak semata wayangnya tersebut.


Chen Li semakin bersemangat. Seperti yang kita ketahui, semakin kuat lawannya, semakin menggelora juga semangat dalam dirinya.


Pertarungan mereka bertambah dahsyat seiring berjalannya waktu. Ketika memasuki jurus ketujuh puluh, lawan mulai keteteran akibat desakan yang diberikan Chen Li tidak mengenal ampun.


Pedang Awan berkilat dari sisi kiri ke sisi kanan. Seruling giok hijau bergerak dai atas ke bawah.


Gerakan tersebut dilakukan dengan sangat cepat. Bahkan lawan tidak menyangka sama sekali.


Akibatnya, dia tidak bisa menghindari dua serangan maut dari bocah itu. Detik selanjutnya, dia terkapar dengan kepala pecah dan dada robek.


Pertarungan selesai. Chen Li mengatur nafasnya yang sedikit memburu. Sedangkan Eng Kiam segera menghampirinya.


"Tuan muda, kau tidak papa?" tanyanya memperlihatkan kepanikan.


"Aku tidak papa kakak Kiam," jawabnya tersenyum lembut.


"Syukurlah. Kau hebat sekali bisa mengalahkan mereka," kata Eng Kiam memujinya sambil menggenggam tangan Chen Li.


Chen Li sedikit malu dibuatnya. Dan Eng Kiam melihat perubahan wajah si tuan muda itu. Dengan segera dia menarik kembali tangannya.


Kedua bocah sama-sama merasa malu. Walaupun dalam hati mereka merasakan perasaan yang sulit dikatakan.


Di kejauhan, Shin Shui tertawa melihat tingkah laku keduanya. Lucu, pikirnya.


Dia jadi teringat waktu mudanya dulu.

__ADS_1


Karena merasa sudah cukup untuk mengawasi, akhirnya Shin Shui berniat untuk menghampiri keduanya.


Sekali tubuhnya menjejak batang pohon, tak lama kemudian dia sudah ada di hadapan dua bocah.


"Siapa mereka?" tanya Shin Shui pura-pura tidak tahu.


"Mereka orang-orang yang kurang ajar ayah,"


"Kau bertarung melawan mereka Li'er?"


"Benar ayah. Maafkan kalau Li'er lancang,"


"Hahaha, tentu saja tidak. Bagus, kau telah memperlihatkan sikap jantan seorang pria," katanya memuji seolah dia tidak mengetahui semuanya.


Setelah bercakap-cakap sebentar, ketiganya kembali terdiam. Kali ini giliran Shin Shui yang bertindak.


Dia berjalan lalu jongkok untuk memeriksa siapa keempat orang bercadar tersebut. Begitu penutup kepalanya di buka, rasa kaget langsung tergambar jelas di wajahnya.


Chen Li dan Eng Kiam langsung menghampiri saat melihat kekagetan Shin Shui.


"Ayah, ada apa?" tanya Chen Li penasaran.


"Mereka murid-murid dari Sekte Gunung Salju," kata Shin Shui masih dengan tatapan tidak percaya.


Sedikit banyak dia sudah tahu sekte mana saja yang terbesar di Kekaisaran Wei ini.


Seperti yang diketahui, sekte terbesar di Kekaisaran Wei ada lima, yaitu Sekte Pedang Emas dipimpin oleh Yuan Shi si Raja Seribu Pedang, Sekte Gunung Salju dipimpin oleh Li Xu si Kaisar Salju Putih, Sekte Teratai Putih dipimpin oleh Ye Rou si Dewi Teratai Putih, Sekte Serigala Putih dipimpin oleh Ying Mengtian si Kaisar Buas, dan Sekte Bulan Perak dipimpin oleh Xin Wu si Penguasa Malam.


Otak Shin Shui langsung berputar mencerna kejadian yang menurutnya ganjil ini. Baginya, jelas kejadian ini sangat aneh. Bagaimana bisa seorang murid dari sekte terbesar yang bahkan beraliran putih berniat untuk membunuh dirinya dan keluarganya?


Berbagai macam pertanyaan mulai muncul. Tetapi dia tidak mau mengambil kesimpulan cepat. Sebab menurutnya, semua hal yang terjadi di dunia persilatan Kekaisaran Wei saat ini, penuh dengan misteri.


Ada banyak tabir yang harus dia buka untuk mengetahui semuanya dengan jelas.


"Li'er, Kiam'er, mari kita pulang segera," ajak Shin Shui tanpa berbasa-basi.


"Baik ayah,"


"Baik tuan pahlawan,"


Ketiganya segera melesat lagi menembus kegelapan. Hanya dalam beberapa hitungan detik, tiga bayangan manusia itu sudah tidak nampak lagi.

__ADS_1


Shin Shui dan kedua bocah bersamanya tidak banyak berhenti belakangan ini. Sebab menurutnya ada sesuatu hal yang sebentar lagi akan terjadi.


Ketiganya berhenti hanya untuk makan dan istirahat serta melakukan kegiatan utama lainnya. Selain daripada semua kegiatan tersebut, ketiganya terus memacu waktu untuk segera sampai di Sekte Bukit Halilintar.


Perjalanan yang harus di tempuh selama tiga hari, pada akhirnya bisa dipersingkat oleh Shin Shui menjadi dua hari saja.


Pagi-pagi sekali saat mentari baru menampakkan dirinya, tiga bayangan sudah berdiri di depan gerbang sebuah sekte terbesar di Kekaisaran Wei.


Sekte Bukit Halilintar.


Keenam murid penjaga gerbang sangat terkejut dengan kedatangan Shin Shui yang secara tiba-tiba. Seorang di antara mereka segera melaporkan hal ini ke dalam sekte.


Tidak berapa lama kemudian, Lima belas tetua termasuk Yun Mei datang menyambutnya. Di belakang mereka, tepatnya di halaman sekte yang sangat luas, ribuan murid sudah berdiri untuk menyambut Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar.


Eng Kiam terkejut. Dia memang pernah mendengar kemegahan tentang sekte ini, tapi tidak menyangka bahwa ternyata kenyataannya lebih dari apa yang sudah dia bayangkan.


Tentu saja dia merasa malu. Apalagi baru kali ini saja dirinya menghadapi ribuan orang seperti sekarang.


"Kakak Kiam jangan malu, mereka semua tidak akan berani melakukan apapun kepadamu. Ada Li'er di sini," katanya sambil berbisik.


Eng Kiam hanya mengangguk saja. Sebisa mungkin dia mencoba untuk menghilangkan perasaan malu di hatinya.


"Selamat datang kembali Kepala Tetua," kata para tetua Sekte Bukit Halilintar.


"Terimakasih semuanya karena sudah repot-repot menyambutku. Aku jadi merasa sungkan," katanya lembut.


"Akhirnya kau pulang juga suamiku," kata Yun Mei sambil menghampiri Shin Shui.


Tak lupa juga dia menghampiri Chen Li lalu memeluknya erat-erat.


"Kau baik-baik saja kan Chen Li?" tanya Yun Mei.


"Li'er baik-baik saja ibu. Ibu jangan khawatir," katanya tersenyum sambil berusaha melepaskan pelukan.


Setelah penyambutan para tetua selesai, Shin Shui bersama Chen Li dan Eng Kiam di anak untuk masuk ke dalam.


Sambutan yang di dapat justru lebih megah lagi. Ribuan murid mengucapkan selamat datang secara serempak. Akibatnya, suara mereka begitu bergerumuh menggetarkan alam raya.


Shin Shui menyambut semua sambutan itu. Dia berjalan bersama kedua bocah yang menjadi perhatian semua murid.


Seorang yang sangat berpengaruh sudah pasti akan mendapatkan penghormatan besar. Sayangnya, tidak semua orang akan senang mendapatkan penghormatan seperti itu.

__ADS_1


Contohnya saja Shin Shui. Dia tidak suka dengan penghormatan dan sesuatu yang berlebihan. Karena hal seperti itu, akan mendatangkan rasa kesombongan dalam diri.


Untung bagi Shin Shui bahwa dia mampu menahan dorongan nafsunya sendiri.


__ADS_2