
Shin Shui diam. Dia tidak berkata apapun saat wanita cantik namun ternyata mempunyai hati iblis itu berjalan mendekat ke arahnya.
Langkahnya ringan. Penuh daya tarik dan rasa percaya diri yang tinggi. Bahkan bibirnya tersenyum puas. Senyuman yang mengandung makna betapa bahagianya dia karena rencana yang telah di susun berjalan dengan mulus tanpa hambatan sedikitpun.
Begitu jaraknya sudah dua langkah dari Shin Shui, dia menghentikan jalannya. Pendekar Halilintar sendiri bangun tertatih-tatih. Terpaksa tangan kanannya memegangi batang pohon supaya dia bisa berdiri.
"Kenapa kau?" tanya Ling Yang.
"Kenapa apanya?"
"Kau tidak takut mati?"
"Untuk apa takut? Bukankah semua yang mempunyai nyawa akan mati juga? Mau mati sekarang atau dua ratus tahun kemudian, mati tetap saja mati,"
"Apakah benar kau tak takut mati?"
"Tentu saja. Bahkan aku sudah sering berharap bahwa Malaikat Maut au mencabut nyawaku. Sayangnya dia tidak pernah datang. Seolah Malaikat Maut segan kepadaku," kata Shin Shui.
Sifat 'gila' yang sudah bersemayam dan mendarah daging keluar. Kalau dia sudah seperti ini, maka lawan bicaranya harus menyiapkan setidaknya telinga yang tebal dan hati yang keras bagaikan baja.
Sebab jika sifat 'gila' Shin Shui sudah keluar, maka ucapan Pendekar Halilintar akan lebih tajam daripada pedang. Akan lebih sakit daripada ditinggal seorang kekasih.
"Sombong sekali ucapanmu,"
"Kalau tidak sombong, bukan Pendekar Halilintar namanya," kata Shin Shui.
"Kau benar. Pendekar Halilintar memang sombong,"
"Sebelum aku mati, aku ingin mengajukan pertanyaan kepadamu,"
"Katakan,"
"Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa ini aku?"
"Hemm, mudah saja. Kami sudah hafal bagaimana getaran kekuatanmu. Selain itu, aku bisa melihat tatapan matamu bahwa kau memang Pendekar Halilintar. Ditambah lagi, kami sudah menduga hal seperti ini jauh-jauh hari bahwa kau akan datang kemari. Apakah sudah cukup?"
__ADS_1
"Cukup, satu lagi. Di mana letak bangunan besar tempat atasanmu berdiam?"
"Sebelah barat dari sini. Sepuluh atau lima belas menit, kau akan bisa sampai ke sana. Sayangnya sekarang sudah terlambat. Sebab nyawamu sudah berada di tanganku. Apakah jawabanku memuaskan?"
"Sangat memuaskan. Terimakasih, aku jadi merasa tenang," jawab Shin Shui sambil tersenyum.
"Bagus. Kalau begitu waktu untuk kematianmu telah tiba. Terima ini …" kata Ling Yang lalu dia mengayunkan tangan kanannya.
Sebuah hantaman telapak tangan keras berhawa panas mengincar dada Pendekar Halilintar. Kekuatan yang terkandung di dalamnya jelas sangat besar. Sebab hanya hawanya saja sudah terasa berat.
Namun sebelum telapak tangan mulus tapi sadis itu mengenai dada Shin Shui, tiba-tiba tubuhnya terpental cukup jauh ke belakang. Lima orang bercadar mencoba menahan luncurannya, sayangnya mereka tidak kuat.
Baik Ling Yang maupun lima orang bercadar tadi, semuanya jatuh terjerembab terjerat.
Dari mulut wanita cantik itu terlihat ada darah segar keluar. Wajahnya jelas menggambarkan rasa tidak percaya. Sebelumnya dia sama sekali tidak pernah membayangkan hal seperti ini terjadi.
Orang-orang yang ada di sana, semuanya mengalami rasa terkejut yang sama.
Mereka tidak melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Semua orang hanya melihat bahwa wanita cantik bernama Ling Yang itu, terpental secara tiba-tiba.
Setelah kondisi kembali normal, terlihat Ling Yang sedang berjalan kembali ke arah Shin Shui sambil mengusut darahnya.
"Tidak mungkin, bagaimana kau dapat melakukan hal seperti tadi? Bukankah tenaga dalammu sama sekali tidak dapat digunakan?" tanya Ling Yang dengan rasa terkejut, penasaran dan rasa marah. Semuanya bertumpuk menjadi satu.
"Di mataku, apapun menjadi mungkin. Kau pikir apa yang aku lakukan itu semuanya benar? Asal kau tahu saja, sejak awal aku sudah berpura-pura keracunan. Bahkan sejak awal aku juga sudah menduga bahwa kau bukanlah wanita baik-baik," ucap Shin Shui dengan tegas.
Nada bicaranya berubah menjadi lebih serius. Yang tadinya lemah seperti orang keracunan, yang tadi wajahnya pucat, kini semua itu sudah tiada lagi. Semuanya nampak normal.
"Ba-bagaimana kau bisa melakukan semua itu?" tanyanya masih belum percaya.
"Sejak awal aku sudah tahu bahwa makanan dan arak itu beracun. Untung bahwa tubuhku dapat secara otomatis menolak dan mendeteksi racun yang masuk. Selain itu, aku juga meminum Pil Anti Racun saat kau lengah,"
"Ja-jadi, kau sudah mengetahui semuanya?"
"Tentu saja. Kau pikir aku orang bodoh? Hemm, kau sudah salah mengira,"
__ADS_1
"Tunggu, lantas bagaimana pula caramu membuat wajah menjadi pucat seperti mayat?"
"Itu persoalan mudah. Aku menyebarkan sendiri racun yang sudah masuk ke tubuh dalam keadaan masih terkontrol. Sehingga racun itu tidak membawa efek berbahaya bagi organ dalamku. Hanya membawa efek di wajah saja seperti apa yang tadi kau lihat," ujar Pendekar Halilintar merasa puas.
Dia telah puas karena rencananya berhasil. Otak harus dilawan dengan otak. Dan kelicikan terkadang harus dilawan juga dengan kelicikan.
Semua orang kembali dibuat terkejut oleh Shin Shui. Seumur hidupnya mereka baru menyaksikan ada orang yang seperti itu.
"Kekuatan Pendekar Halilintar memang bukan isapan jempol belaka," kata Ling Yang.
"Kau terlambat menyadari hal tersebut. Kesalahanmu adalah terlalu percaya diri. Sebenarnya pertanyaanku tadi hanya untuk mengulur waktu saja karena aku sedang memulihkan diri serta mengumpulkan tenaga dalam . Dan sayangnya kau malah menjawab, andai kau tidak menjawabnya, mungkin aku saat ini telah tewas di tanganmu,"
"Sialan, ternyata aku telah terkena tipu daya nya," gumam Ling Yang.
Karena saking marahnya, dia berniat untuk langsung menerjang Shin Shui tanpa memberikan aba-aba. Bagi pendekar aliran sesat, terkadang peraturan dunia persilatan sungguh menjengkelkan.
Sehingga tak jarang dari pihak mereka selalu menggunakan segala cara untuk membunuh korbannya.
Sayang, lagi-lagi Ling Yang melakukan kesalahan. Saat dia hendak memukul Shin Shui, tiba-tiba tubuhnya justru langsung jatuh terduduk.
Keringat basah dan dingin keluar. Wajahnya pucat. Persis seperti apa yang di lihat dari Shin Shui beberapa saat lalu.
"A-apa yang sebenarnya telah kau lakukan kepadaku. Keparat jahanam," bentak Ling Yang sangat geram.
"Hemm, aku tidak melakukan apapun terhadapmu. Aku hanya mengembalikan serangan tenaga dalam yang kau lancarkan sendiri. Bukankah serangan pertamamu tadi sangat beracun dan mematikan? Kalau iya, maka riwayatmu tidak akan lama lagi. Kau akan tewas karena jurus sendiri,"
Ling Yang ingin sekali menghajar mulut pendekar itu. Hanya saja sekarang, dia benar-benar tidak sanggup untuk melakukan apapun. Bahkan untuk berdiri saja tidak bisa.
Mendadak dia mengejang, tubuhnya kelojotan dan matanya melotot mengerikan. Wajah yang tadinya cantik, kini berubah ke bentuk asalnya menjadi seorang nenek tua berusia enam puluh tubuh tahun.
Tubuh yang sempurna, kini telah berubah menjadi tulang yang hanya dibalut oleh kulit saja.
Kondisi Ling Yang tak ubahnya seperti seorang mayat hidup.
"Hehe, ucapanku benarkan? Malaikat Maut saja enggan mencabut nyawaku. Buktinya usahamu gagal nenek tua," ejek Pendekar Halilintar.
__ADS_1