
"Kalau kalian hanya bisa mengeluarkan jurus seperti mainan anak-anak, lebih baik jangan diperlihatkan kepadaku. Mending kalian bunuh diri saja sekarang, bagaimana?" kata Huang Taiji Lu sambil mengejek enam musuhnya.
"Apa yang dikatakan oleh Pamanku memang benar. Atau bagaimana kalau aku membantu kalian untuk melepaskan nyawa? Hemm, mungkin bakal lebih seru," ucap Chen Li memberikan ejekan seperti pamannya.
Orang-orang yang hadir di sana ingin sekali tertawa, tetapi mereka lebih memilih untuk menahan tawa karena takut malah mengundang masalah baru.
Sedangkan enam Pendekar Dewa tahap dua, semuanya merasakan wajah mereka seperti ditampar oleh sesuatu yang keras. Malunya bukan main. Apalagi seorang bocah kecil yang bahkan belum terkenal, sampai berani mengejek mereka di hadapan banyak orang.
Jelas sudah bahwa ini semua merupakan penghinaan yang tidak bisa diampuni lagi. Bagaimanapun caranya, dua orang asing itu harus tewas di tangan mereka.
Enam orang mendadak mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Ada yang menggunakan tombak, pedang, trisula, bahkan dua kapak kembar juga ada.
Semua senjata tersebut jelas termasuk dalam pusaka kelas atas. Meskipun tidak terhitung pusaka kelas satu, tetapi masih bisa disejajarkan dengan senjata pusaka yang cukup mengerikan.
Kilatan senjata terlihat memancarkan kekuatan tersendiri. Ketajaman dari masing-masing senjata itu dapat di lihat oleh mata telanjang.
"Li'er, kau lawan satu Pendekar Dewa. Dengan kekuatan Mata Dewa Unsur Bumi, aku yakin kau mampu mengalahkannya. Sisanya, serahkan kepada Paman. Sudah lama Paman tidak olahraga," bisiknya kepada Chen Li.
"Ehehe, tenang saja Paman. Serahkan kepada Li'er,"
Bocah itu langsung maju dua langkah ke depan. Pedang Awan sudah digenggam di tangan kirinya. Seruling giok hijau sudah dia pegang di tangan kanan.
Dua senjata pusaka kelas atas sudah digenggam. Kalau sudah begini, maka bocah itu telah berlaku serius.
"Orang tua jelek, kau lawanku. Kita berduel sampai ada yang tewas di antara kita, bagaimana?" tantang Chen Li kepada seorang Pendekar Dewa tahap dua yang bersenjata kapak kembar.
"Hahaha, bocah ingusan sepertimu berani menantangku? Bahkan mengajak duel sampai mampus? Hemm, kau tidak sedang bercanda bukan? Tadi saja kau tidak bisa menahan satu juru serangan, apalagi sekarang," kata Pendekar Dewa itu sambil tertawa terbahak-bahak bertolak pinggang.
"Jangan banyak bicara, berani atau tidak?" tanya Chen Li lagi sambil membentak keras.
"Bocah tidak tahu di untung, biar aku robek mulutmu yang busuk itu,"
Pendekar Dewa tersebut segera meluncur ke arah Chen Li. Serangan pertama yang dia lancarkan berupa pukulan keras yang mengarah ke dadanya. Di susul juga dengan pukulan tangan kiri di belakangnya.
Serangan pukulan beruntun langsung digelar. Namun Chen Li sama sekali tidak merasa kesulitan. Seruling giok hijau dia gunakan untuk menangkis setiap serangan lawan.
"Gunakan kapak lembek milikmu itu," katanya di tengah pertarungan.
Selesai berkata demikian, kaki kanannya segera memberikan dorongan tendangan ke dada lawan. Dia terdorong tiga langkah ke belakang.
Dalam hatinya, orang tersebut jelas sangat kaget sekali. Bagaimana tidak, pukulan beruntun yang baru saja dia lancarkan terbilang berbahaya. Bahkan merupakan salah satu jurus andalannya.
__ADS_1
Tak disangka, bocah yang tadi terpental oleh rekannya itu kini, mampu menahan semua serangan yang dia berikan. Bahkan sampai membuat dirinya terdorong mundur.
Setelah melihat kenyataan diluar dugaannya, Pendekar Dewa tersebut segera mencabut kapak kembar yang sebelumnya sempat dia sarungkan karena terlalu meremehkan lawan. Kini kapak yang menjadi senjata andalannya sudah keluar sesuai permintaan Chen Li.
"Bagus, kalau begini kan seru,"
Nadanya berubah dingin. Tak ada tawa, tak ada nada ejekan.
Yang ada hanyalah kekuatan dahsyat segera merembes keluar dari tubuhnya. Secara tiba-tiba, kain sutera putih pengikat kedua matanya lepas dan jatuh melingkar di leher.
Mata yang sebelumnya tertutup, kini telah terbuka. Saat matanya di buka, tercipta satu gelombang kejut yang membuat semua orang tersentak kaget karena merasa ketakutan.
Mata itu berbeda dengan mata manusia pada umumnya. Mata itu seperti melambangkan satu unsur.
Ya, unsur bumi.
Sebab mata itu memang Mata Dewa Unsur Bumi.
"Wushh …"
Chen Li tiba-tiba melesat ke arah lawan. Pedang Awan memberikan tebasan jarak jauh. Sinar biru tua lebih dulu melesat. Seruling warisan kakek gurunya sudah dia tiup dan langsung mengeluarkan jurus pertama dari Kitab Seruling Pencabut Nyawa.
Irama seruling terdengar sangat syahdu di telinga setiap orang yang mendengarnya. Alam seakan berubah tenang. Suasana seperti ini belum mereka rasakan sebelumnya.
Orang-orang yang melihat, sangat menikmati suara merdu tersebut.
Tetapi bagi sasarannya, suara itu justru sangat mengganggu telinga dan batinnya. Pendekar Dewa itu merasa hatinya bergetar keras. Kekuatan ghaib yang menembus jiwanya terasa sangat kuat.
Konsentrasinya berkurang.
Untung dia bukan pendekar abal-abal.
Tebasan yang dilancarkan oleh Chen Li berhasil ditangkis dengan mudah. Dua kapak kembar miliknya langsung berputar seperti kincir angin.
Dia melancarkan serangan balasan yang jauh lebih ganas lagi. Energi dahsyat terasa. Sinar merah berkilat setiap kali kapak itu bergerak.
Jurus terkuat yang dia miliki telah keluar.
Namun Chen Li bukanlah bocah ingusan biasa. Secepat apapun lawannya menyerang, dia selalu bisa menangkis dan membaca serangannya dengan mudah.
Dua puluh jurus sudah berlalu. Serangan Chen Li berubah semakin ganas. Kekuatan Mata Dewa Unsur Bumi benar-benar keluar.
__ADS_1
Pedangnya bertambah cepat. Kekuatannya bertambah dahsyat.
Seruling giok hijau bergerak membentuk lingkaran dan kadang kala memberikan sodokan berbahaya. Pedang Awan mencecar lawan dengan jurusnya yang sangat cepat.
Posisi Pendekar Dewa itu berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Dia telah dibuat kaget kembali oleh si bocah sehingga pertarungannya menjadi tidak karuan.
Pedang Awan melancarkan tusukan yang sangat cepat. Seruling giok hijau diayunkan dari sisi kanan mengarah ke batok kepala. Sinar hijau melesat lalu menyebar ke segala penjuru. Suara bergemuruh mengiringi serangannya.
"Wushh …"
"Prakkk …"
"Crassh …"
"Ahhh …"
Mati.
Pendekar Dewa itu tewas dalam kondisi mengenaskan. Kepalanya pecah terkena pukulan seruling. Dadanya robek besar akibat sabetan Pedang Awan.
Hanya dalam tiga puluh sembilan jurus, pertarungan telah selesai. Seumur hidupnya, pertarungan barusan lah yang baginya sangat menegangkan karena salah sedikit saja, nyawanya akan melayang.
Kekuatan Mata Dewa Unsur Bumi memang bukan kaleng-kaleng.
Chen Li masih berdiri di hadapan mayat lawannya. Tak ada rasa takut. Tak ada rasa jijik yang terlihat dari wajahnya.
Tentu saja, sebab dia adalah Pendekar Tanpa Perasaan. Bukan Pendekar Bawa Perasaan.
Saat membunuh pun dia tidak merasa menyesal. Justru senyuman dingin yang dia perlihatkan.
Kekuatan dahsyat masih merembes keluar. Hanya dalam waktu singkat, bocah itu ternyata sudah mampu menguasai Mata Dewa Unsur Bumi sepenuhnya sehingga dia bisa mengeluarkan sesuka hatinya.
Dia melesat kembali menuju ke arah pertarungan Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding untuk mencari lawan lagi.
###
Btw maaf ya kalau belum ada romantisnya. Karena Chen Li masih kecil, mungkin nanti sedikit-sedikit akan ada sisipan. Gak baik anak kecil udah main cinta-cintaan wkwk.
Namun yang jelas, perjalanannya akan penuh dengan misteri yang kadang berliku-liku seperti gulungan kabel:v
Terimakasih yang sudah mendukung sampai sejauh ini …
__ADS_1