
Crashh!!!
Satu tubuh terpotong. Lawan dari Pendekar Merah telah mampus. Dia tewas mengenaskan. Kekejaman Pendekar Merah kembali diperlihatkan. Belasan tokoh yang hadir dibuat ngeri untuk yang kesekian kalinya.
Dua lawan yang sebelumnya berusaha menyerang dari dua sisi, mendadak menghentikan serangannya. Mereka terpaku dengan mata melotot tidak percaya.
Rekannya adalah ahli pedang. Kelihaiannya dalam memainkan senjata itu jangan ditanyakan lagi, semua kaum persilatan pun mengakuinya.
Tak nyana, sekarang dia justru harus mampus di tangan seorang pendekar muda yang baru muncul dalam dunia persilatan.
Lain dua lawan, lain juga Pendekar Merah.
Kalau dua tokoh itu menghentikan serangannya, maka Pendekar Merah justru malah meneruskan serangannya. Begitu melihat musuhnya tewas, dia kembali menggerakan pedang pusaka itu.
Hawa kematian di ujung pedang itu semakin membara. Seperti sebuah lahar di gunung merapi yang masih aktif.
Chen Li lenyap dari pandangan. Tubuh pemuda itu seakan tidak dapat di lihat oleh mata telanjang. Yang mampu di lihat oleh dua lawannya hanyalah dua sosok bayangan merah yang melesat ke sana kemarin dengan kecepatan diluar nalar.
Dua sosok bayangan merah. Kalau bukan Pedang Merah Darah dan pemiliknya, siapa lagi?
Wushh!!!
Angin menderu berhawa panas terasa membakar kulit. Dua tokoh itu terkejut. Mereka segera mengambil posisi siap siaga. Hanya saja mereka terlambat, sebab sebelum melakukan gerakan selanjutnya, nyawa mereka telah melayang lebih dulu.
Tebasan Pedang Merah Darah selalu membawa kematian. Pedang itu bagaikan Malaikat Maut yang siap mengambil nyawa kapan saja.
Dua tubuh ambruk kembali ke lantai. Lantai berwana putih, kembali dihiasi oleh cairan merah kental berbau amis.
Darah mereka mengalir. Bau amis semakin tercium.
Hanya beberapa saat saja, empat nyawa tokoh kelas atas dunia persilatan telah diambil oleh ujung Pedang Merah Darah.
__ADS_1
Kematian mereka membuat semua tokoh yang hadir di sana terpaku di tempatnya masing-masing. Di satu sisi, mereka amat terpukau oleh pertarungan dahsyat yang berjalan singkat itu. Namun di sisi lain, mereka juga amat terpukul karena kematian empat orang rekannya.
Hong Hua sendiri mengalami hal yang sama. Pada awalnya, dia tidak percaya bahwa pemuda itu sanggup meratakan markas Organisasi Elang Hitam seorang diri.
Tapi sekarang setelah melihat dengan mata kepala sendiri, mau tak mau orang tua itu harus percaya. Sebab apa yang di lihat oleh matanya, tidak mungkin berbohong.
Suasana bertambah semakin tegang kembali. Hawa kegelapan yang bercampur dengan hawa kematian membawa suatu hawa yang sulit untuk dijelaskan.
Ruangan yang terang itu, sekarang justru terasa gelap. Sangat gelap. Segela hati mereka saat ini.
"Kau sudah membunuh empat rekanku. Kesalahanmu telah bertambah lagi," kata seorang tokoh dari kerumunan rekan-rekannya.
Sekalipun Pendekar Merah tidak dapat melihat bagaimana perawakan tokoh yang bicara barusan, namun dari suaranya saja, pemuda itu sudah tahu bahwa orang tersebut amat benci kepadanya. Dia amat marah, amat kesal, namun apa daya, dirinya di rundung oleh keraguan.
Di dunia ini, memangnya siapa yang tidak akan merasakan hal-hal di atas kalau rekan dekatnya tewas di depan mata?
"Itu bukan kesalahanku. Itu kesalahan mereka sendiri," jawab Chen Li acuh tak acuh.
"Tentu saja mungkin. Sudah tahu mereka bukan lawanku, tapi kenapa mereka masih nekad ingin membunuhku? Kalau hal itu bukan kesalahan sendiri, lantas kesalahan siapa lagi?"
Tokoh itu langsung terdiam. Apa yang dikatakan oleh Pendekar Merah memang benar. Kalau seorang-seorang, sudah tentu pemuda itu bukan lawannya. Apalagi pemuda asing tersebut mempunyai satu kekuatan aneh yang dahsyat dan mengerikan.
"Tua bangka Hong, sekarang bagaimana? Apakah kau mengizinkanku pergi dari sini, atau kau masih tetap akan menahanku?" teriak Chen Li sambil menatap tajam kepada orang tua itu.
Bola mata dari Mata Dewa masih nampak. Hal ini menimbulkan kengerian tersendiri bagi Hong Hua, bahkan bukan hanya dia saja, bagi tokoh yang lain pun sama. Orang tua itu sama sekali tidak berani memandangi sepasang mata yang menyeramkan itu. Sedikitpun tidak.
Dia selalu memalingkan pandangannya ke arah lain saat bertemu dengan sepasang mata tersebut, meskipun hal itu tidak secara sengaja.
"Kali ini kau pergilah. Aku tidak akan menahanmu lagi. Aku mengaku kalah," ucap Hong Hua setelah menghela nafas dalam-dalam.
Sekilas, perkataan tersebut terdengar biasa saja. Namun di telinga belasan tokoh yang hadir, suara barusan tidak berbeda dengan suara ledakan halilintar.
__ADS_1
Mereka sudah datang jauh-jauh, mereka telah menempuh jarak dan perjalanan dengan gerakan kilat hanya demi membunuh Pendekar Merah.
Sekarang setelah target ada di hadapannya, bagaimana mungkin mereka akan diam saja? Kalau seperti itu, bukankah aertinya pengorbanan mereka sia-sia belaka?
"Tidak, tidak bisa. Kami sudah datang jauh-jauh hanya untuk membunuh bocah ingusan ini. Bagaimana mungkin kau dapat melepaskannya begitu saja? Kesempatan ini adalah kesempatan baik, kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Kau pikir membawa bocah itu kemari semudah membalikkan telapak tangan?" teriak seorang tokoh pria berumur sekitar tiga puluh tujuh tahunan.
Saat bicara, orang itu sambil berjalan ke depan lalu berteriak lantang kepada Hong Hua. Suaranya bengis, jelas bahwa dia sangat tidak terima.
"Kau tenang saja. Kapanpun, selama aku belum kembali ke rumahku, aku siap melayani tantanganmu. Untuk sekarang, lebih baik kau diam dan dengarkan perkataan tua bangka itu," kata Chen Li dengan nada suara yang dingin.
Orang yang tadi berteriak marah-marah semakin tidak terima. Tanggung amarahnya sudah berkobar, maka dia bertekad untuk melampiaskan segalanya.
"Bocah bau kencur, kau pikir kau siapa sehingga berani bicara sombong di depanku? Kau bangga karena dapat membunuh mereka? Hahaha … jangan berbangga hati, mereka tewas karena mereka lemah. Sekarang ingin aku lihat, apakah kau bisa bertahan dari jurus-jurus tombakku atau tidak," teriaknya sambil menyerang Pendekar Merah secara tiba-tiba.
Chen Li tersenyum mengerikan. Menurut pandangannya, orang itu hanya merupakan Pendekar Dewa tahap tiga pertengahan. Kalau dulu, orang setingkat itu mungkin masalah baginya. Tapi jika sekarang, ornag itu jelas bukan tandingannya.
Wushh!!!
Tusukan tombak bermata tajam itu telah tiba. Gerakannya cepat seperti terjangan seekor harimau buas yang kelaparan.
Trangg!!! Slebb!!!
Satu kali bunyi nyaring terdengar lalu kemudian segera disusul dengan satu tusukan yang lebih cepat.
Darah kental membasahi seluruh bagian pedang milik Pendekar Merah. Entah bagaimana caranya, orang tersebut sekarang telah tewas.
Tenggorokannya tertusuk oleh Pedang Merah Darah. Pedang itu belum dicabut dari kerongkongan orang tersebut sehingga dia masih berdiri.
Wajahnya tampak sangat mengenaskan. Lidahnya terjulur dan matanya melotot tidak percaya. Jangankan dia, semua yang hadir di sana pun tidak percaya dengan kejadian barusan.
Seorang tokoh yang kekuatannya setara dengan Pendekar Dewa tahap tiga pertengahan dapat tewas hanya dalam satu kali serangan, siapa yang akan percaya tentang kabar ini?
__ADS_1