
Huang Taiji Lu sudah melesat ke arah Chen Li yang kini sedang terluka. Organ dalam bocah istimewa itu terkena hantaman yang cukup kencang oleh lawannya. Sehingga membuat nafasnya terasa sangat engap sekali.
"Li'er, kau tidak papa?" tanya Huang Taiji memperlihatkan ekspresi yang sangat khawatir.
Baginya, Chen Li sudah seperti anak sendiri. Terlepas karena dia sebagai kakak angkat Shin Shui ataupun karena anak dari Yun Mei, dia tetap akan menganggapnya anak.
Bahkan sesekali dia lupa akan tugasnya. Awalnya memang menjaga Chen Li karena ditugaskan oleh Dewa Lima Unsur. Tapi sekarang, setelah beberapa saat selalu bersama. Melewati pertarungan hidup dan mati bersama, menjalankan misi bersama, hingga tidur bersama, pada akhirnya perasaan sayang kepada bocah itu berubah.
Perasaan wajib kepadanya juga berubah.
Jika awalnya karena tugas, maka sekarang karena kasih sayang.
Kasih sayang seperti ayah dan anak.
Jika ada ayah yang sangat menyayangi anaknya, jangankan terluka parah, anaknya mengalami luka sangat ringan pun, pasti akan merasa khawatir.
Begitu juga dengan Huang Taiji Lu sekarang.
"Aku baik-baik saja Paman. Kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku," jawab Chen Li sambil tersenyum lembut.
Walaupun saat bertarung selalu dingin dan tanpa perasaan, namun bukan berarti sebenarnya dia juga tidak berperasaan.
Justru aslinya bocah itu sangat berperasaan dan peka terhadap perasaan orang lain. Seperti yang sekarang terjadi kepadanya.
Dia tahu bahwa Huang Taiji mengkhawatirkan keadaannya. Karena tidak mau membuat panik, maka Chen Li lebih memilih untuk menjawab baik-baik saja. Toh memang lukanya tidak terlalu parah.
Tetapi balik lagi, seorang yang sudah terikat kasih sayang seperti ayah dan anak, maka secara tidak langsung mereka akan memiliki kontak batin yang kuat.
Pada umumnya, seseorang yang menyayangi orang lain dengan tulus, maka dengan sendirinya dia akan memiliki kontak batin.
"Kau jangan berbohong. Cepat duduk bersila dan segera pejamkan matamu," perintah Huang Taiji kepada Chen Li.
Bocah kecil itu ingin menolaknya. Dia bukan anak manja yang merengek bila sedikir terluka. Justru baginya, sebuah luka adalah tanda bahwa dia masih terlalu lemah.
Oleh karena itu, luka adalah pacuan. Semakin lukanya parah, maka semakin besar tekadnya untuk berlatih sehingga menjadi seorang pendekar nomor satu seperti sang ayah.
__ADS_1
Tetapi saat melihat sorot mata pamannya yang setajam mata pedang, pada akhirnya bocah itu tidak dapat menolak lagi.
Dia menuruti apa yang diperintahkan oleh Huang Taiji. Chen Li duduk bersila lalu kemudian memejamkan matanya.
Sedangkan Huang Taiji Lu langsung menyalurkan tenaga dalam yang sangat murni miliknya untuk mengobati Chen Li.
Terlihat ada energi berwarna putih. Seperti asap tipis. Mulai memasuki tubuh Chen Li dari punggungnya.
Hawa hangat segera dia rasakan. Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik. Bahkan sudah normal seperti sedia kala.
Luka yang diakibatkan oleh Pendekar Dewa tadi, kini telah hilang sama sekali.
Huang Taiji lu segera menarik tangannya kembali setelah keadaan Chen Li pulih.
"Bagaimana?"
"Luka Li'er sudah pulih total Paman. Terimakasih atas kebaikan Paman. Seumur hidup, Li'er pasti akan selalu mengingatnya," ucap Chen Li sambil tersenyum menggemaskan.
"Kau jangan seperti itu. Anggap saja aku Ayah keduamu setelah Shin Shui. Apapun yang Li'er mau, selama Paman bisa membantumu, maka Paman akan membantu. Bahkan jika Paman berkorban nyawa untukmu, Paman juga siap. Sangat siap sekali," katanya sambil mengelus kepala Chen Li penuh kasih sayang.
Chen Li merasa terharu. Dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak membuat kecewa orang-orang yang menyayangi dirinya. Kepada orang-orang yang selalu menjaganya. Kepada orang-orang yang selalu ada di sisinya.
"Entah dengan cara apa Li'er membalas kebaikan Paman selama ini,"
"Kau tidak perlu membalasnya. Paman tidak butuh balasanmu. Tapi kalau kau tetap memaksa, maka dengan menjadi orang baik lah kau harus membalas kebaikan paman. Menjadi seorang pendekar yang berjiwa ksatria. Kalau Li'er bisa mewujudkan hal itu, maka Paman akan sangat senang sekali,"
"Pasti Paman. Li'er akan menjadi orang baik dan menjadi pendekar yang berjiwa ksatria,"
"Kau janji?"
"Janji,"
Keduanya lalu berjanji memakai jari kelingking seperti yang biasa dilakukan oleh anak kecil.
Mereka tertawa bahagia. Terkadang kebahagiaan cukup lewat hal-hal yang sederhana.
__ADS_1
Keduanya segera menghampiri San Ong dan Ong San. Walaupun semua musuhnya sudah tewas, tetapi dua siluman tersebut selalu bersikap waspada.
Dalam keadaan seperti ini, apapun bisa terjadi. Teman jadi musuh dan musuh jadi teman pun bukan sesuatu yang mustahil.
Dunia persilatan adalah dunia yang kejam. Kau bodoh, tidak teliti dan sebagainya, bisa dipastikan umurmu tidak akan lama.
Tapi jika kau pintar dan cerdas, apalagi ditambah dengan kekuatan mengerikan, bisa dipastikan kau akan merajai dunia persilatan.
Hal seperti ini bukan hanya berlaku dalam dunia persilatan saja. Bahkan dalam kehidupan nyata juga sama.
"Kalian tidak papa?" tanya Chen Li kepada San Ong dan Ong San.
"Tidak Tuan Muda, Tuan Muda jangan terlalu mengkhawatirkan kami,"
"Syukurlah. Sekarang aku tahu kenapa ayah sangat menyayangi kalian," pujinya setelah tadi melihat bagaimana kekuatan siluman kera bersaudara itu.
Siluman memang banyak, bahkan sangat banyak. Namun bagi Shin Shui, tidak ada siluman yang seperti San Ong dan Ong San ini. Tidak ada dan tidak akan pernah ada.
"Baiklah, kalau begitu kalian segera kembali saja. Aku tidak ingin semua orang tahu tentang keberadaan kalian," kata bocah itu.
San Ong dan Ong San mengangguk. Mereka kemudian dimasukkan kembali ke dalam Kantong Siluman.
Kini yang ada di sana hanya Chen Li dan Huang Taiji. Keduanya duduk di bawah pohon bunga bwee, mereka sedang menunggu kedatangan Moi Xiuhan yang sedang menjemput empat murid seniornya.
Angin malam berembus membawa duka. Bau amis darah tercium semakin menusuk hidung. Burung-burung pemakan bangkai telah berputar-putar di atas halaman tersebut. Seolah mereka sedang menantikan kepergian para manusia itu lalu turun menukuik untuk memakan bangkai.
Suaranya terdengar amat menyeramkan. Apalagi jika ditambah dengan lolongan suara anjing dan serigala. Lengkap sudah.
Setelah beberapa saat lamanya menunggu, pada akhirnya Moi Xiuhan keluar juga. Di belakangnya ada empat murid senior dari Sekte Teratai Putih.
Mereka tampak tersiksa sekali. Penampilannya sudah tidak karuan. Rambutnya acak-acakan. Jelas bahwa mereka mengalami berbagai siksaan.
Lima gadis itu segera menghampiri Chen Li dan Huang Taiji yang sudah sejak tadi menunggunya.
Di perjalanan saat menuju ke sana, mereka tampak sangat kaget karena melihat tak kurang dari lima puluh mayat manusia telah terkapar di tanah.
__ADS_1
Semua murid itu terperangah, siapa yang sudah melakukan semua ini? Sedangkan di sana tidak ada orang lain lagi kecuali Chen Li dan Huang Taiji.
Apakah mereka yang melakukannya?