Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Ribuan Titik Hitam


__ADS_3

Tubuh murid penjaga Sekte Bukit Halilintar yang memberikan laporan itu semakin bergetar. Dia tidak kuat bicara lagi setelah sedikit dibentak oleh Shin Shui.


"Diluar banyak musuh yang sedang menuju kemari," katanya perlahan setelah beberapa saat menguatkan tekad.


"Apa?" Shin Shui membelalakkan matanya. Begitu juga dengan puluhan tokoh yang hadir di sana. Mereka tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi.


Semua tokoh langsung berdiri dari tempatnya masing-masing. Mereka saling pandang satu sama lainnya.


Wushh!!!


Tanpa bicara kepada para tokoh yang lainnya, Shin Shui telah melesat jauh lebih dahulu. Hanya dalam sekejap mata, Pendekar Halilintar telah tiba di pintu gerbang Sekte Bukit Halilintar.


Ternyata sebelum dia sampai di sana, satu sosok berpakaian serba putih telah lebih dulu berdiri di depan pintu gerbang.


Jubah putihnya berkibar indah tertiup angin Barat. Dia berdiri tanpa bergeming sedikitpun.


Shin Shui segera melesat supaya jaraknya lebih dekat lagi.


"Li'er, sejak kapan kau sudah ada di sini?" tanya Shin Shui.


Yang berdiri di sana memang Chen Li, anaknya sendiri. Bocah kecil itu entah sejak kapan berdiri di tempat tersebut. Yang jelas, sebelum orang lain tahu, Chen Li sudah tahu. Sebelum orang lain merasakan kehadiran musuh, Chen Li sudah bisa merasakannya.


"Li'er sudah sejak tadi di sini Ayah. Tapi baru beberapa saat yang lalu menampakkan diri," jawabnya dingin.


Shin Shui tidak bicara lagi. Jika anaknya sudah bicara dengan nada seperti itu, maka dia sudah tahu apa yang akan segera terjadi.


Wushh!!! Wushh!!!


Setelah Shin Shui tiba, tidak berselang lama kemudian, puluhan tokoh lainnya juga telah tiba di sana. Diikuti pula oleh para tetua Sekte Bukit Halilintar, termasuk Yun Mei sendiri.


Puluhan orang itu sedang menanti kedatangan musuh-musuh mereka.

__ADS_1


Di kejauhan sana, ribuan titik hitam terlihat. Bumi terasa bergetar karena banyaknya manusia yang datang secara bersamaan. Suara ringkik kuda dan telapak kaki kuda terdengar serentak.


Debu mengepul tinggi menyatu menjadi sebuah pusaran. Semakin lama, puluhan titik tadi semakin terlihat lebih jelas lagi.


Ribuan pasukan musuh telah nampak. Jumlahnya tidak kurang dari tujuh ribuan. Paling depan tidak kurang dari tiga puluhan tokoh kelas atas hadir di antara barisan para pasukan tersebut.


Hawa kematian menyelimuti muka bumi. Alam nirwana seakan berguncang. Kilatan ribuan tombak dan tameng sudah terlihat meskipun jarak mereka masih ratusan tombak jauhnya.


"Sepertinya mereka sengaja datang kemari, kalau sudah begini, itu artinya perang besar akan terjadi sebentar lagi," gumam Shin Shui entah bicara kepada siapa.


"Mereka menyerang kemari supaya bisa melumpuhkan kekuatan kita. Sekte Bukit Halilintar adalah sekte terbesar dari yang paling besar. Sekte terkuat dari yang paling kuat, karena itulah mereka pertama menyerang kemari. Jika sekte terbesar sudah berhasil di obrak-abrik, maka untuk melakukan rencana lainnya adalah sesuatu yang mudah," ucap Chen Li secara tiba-tiba.


Semua tokoh yang hadir tersentak. Mereka sama sekali menyangka bahwa Chen Li bisa berkata seperti demikian. Meskipun yang bicaranya masih bocah, tapi kata yang keluar justru seperti ucapan orang tua yang penuh akan pengalaman hidup.


Terlebih lagi, apa yang dikatakan oleh Chen Li sangat benar dan sangat beralasan. Jika sekte terbesar berhasil dilumpuhkan paling pertama, bukankah itu artinya semua rencana mereka akan berhasil?


Jika kau ingin membunuh seekor ular besar, maka pastikan dulu bahwa kau sudah menebas kepalanya. Jika kepala sudah kutung, niscaya tubuh lainnya tidak akan bisa bergerak lebih leluasa. Kalau sudah seperti ini, bukankah membunuh ular tersebut akan jauh lebih mudah lagi?


Begitu juga yang dilakukan oleh pihak musuh sekarang. Sekte Bukit Halilintar adalah pusat kekuatan di Kekaisaran Wei. Jangankan sekte terbesar lainnya, bahkan pihak pemerintah sendiri tidak berani mencari masalah dengannya.


Sekte Bukit Halilintar dikenal sebagai tempatnya naga mendekam harimau bersembunyi.


Wushh!!!


Tanpa banyak bicara lebih dulu kepada ayahnya atau tokoh lainnya, Chen Li sudah melesat lebih dulu menyambut kedatangan musuh. Tanpa banyak basa-basi lagi, Chen Li langsung mengeluarkan kekuatan Mata Dewa Unsur Bumi dan tenaga dalam langit bumi warisan dari Shin Shui.


Gelegar!!!


Ledakan terdengar untuk yang pertama kalinya. Tanah langsung hancur berantakan lalu meluncur deras menyerang ke arah musuh. Chen Li terlibat seperti Pangeran Iblis yang sedang mengamuk.


Kekuatan tertinggi yang dia miliki langsung dikeluarkan saat itu juga. Seruling giok hijau dan Pedang Hitam sudah dicabut dari sarungnya masing-masing.

__ADS_1


Kilatan cahaya hitam dan cahaya hijau terlihat menggulung menjadi satu sehingga menciptakan sebuah kekuatan dahsyat.


Di belakang Pendekar Tanpa Perasaan, puluhan tokoh sudah ikut turun ke gelanggang peperangan.


Shin Shui sengaja tidak menurunkan seluruh jumlah muridnya. Dia hanya menurunkan sebagian murid. Untuk menghadapi pasukan musuh yang sekarang, Pendekar Halilintar tidak mau mengeluarkan seluruh kekuatan sektenya.


Meskipun tidak ada yang bicara, tetapi dia sudah dapat membaca situasi. Penyerangan ini hanya merupakan pengalihan. Jika dia terlalu fokus kepada penyerangan saat ini dan menerjunkan semua murid sekte, maka hal tersebut adalah langkah yang paling salah dari yang tersalah.


Suara menggelegar mulai terdengar memenuhi padang rumput yang sangat luas itu. Tanah berhamburan. Berbagai macam jurus dahsyat dan aneh menyelimuti muka bumi.


Chen Li di posisi depan. Dia tidak memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Mau ada yang menjaga atau tidak, mau mati atau tidak, bocah kecil itu sudah tidak lagi memikirkannya.


Yang terpenting baginya saat ini adalah membunuh musuh sebanyak mungkin. Mencabut nyawa manusia sebisa mungkin.


"Pedang Hitam Kematian …"


"Meniup Seruling Mencabut Sukma …"


Wushh!!! Wushh!!!


Dua gulung angin dahsyat menerjang ke arah lawan. Suara seruling yang melengking terdengar mengerikan. Sinar hitam membelah udara. Cahaya hijau menyatu dalam alunan nada.


Chen Li melancarkan dua jurus terkuat yang sudah mampu dia keluarkan. Dalam jurus itu terkandung kekuatan tertinggi yang jarang dia perlihatkan.


Kedua jurusnya memang tidak memberi efek berarti bagi pata tokoh kelas atas yang ada di pihak musuh. Namun meskipun begitu, dua jurus miliknya sudah mampu mencabut puluhan bahkan ratusan nyawa para pasukan musuhnya.


Teriakan kematian menggelora seperti semangat para pejuang pembela tanah air. Mayat manusia mulai bergelimpangan seperti domba kelaparan. Semuanya tewas dalam keadaan mengerikan.


Hanya dalam waktu singkat, para pasukan musuh dibuat ngeri dengan bocah kecil itu. Bagi mereka, dia seperti Malaikat Pencabut Nyawa.


Tanpa ampun. Tanpa belas kasihan. Dan tanpa perasaan.

__ADS_1


Grrr!!!


Chen Li menggeram. Satu pusaran berisi tanah dan bebatuan menyatu menjadi satu. Dia mengibaskan Pedang Hitam dan meniup seruling giok hijau kembali. Bergulung-gulung kekuatan hebat menyerang musuhnya secara serentak.


__ADS_2