
"Guru baru? Siapa lagi dia Paman? Bukankah kau guruku selama ini? Li'er tidak mau mempunyai guru baru, Li'er juga tidak ingin guru yang lain. Cukup Paman saja yang menjadi guru bagi Li'er untuk selamanya," jawab Chen Li tidak terima.
Jika dirinya mempunyai guru baru lagi, bukankah itu artinya dia akan beradaptasi kembali?
Selama ini, Chen Li sudah menganggap Huang Taiji segalanya. Dia telah menganggap Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding sebagai guru, bahkan sebagai ayah serta ibu.
Bertahun-tahun mereka lewati bersama. Suka dan duka dijalani berdua, hal-hal seperti itu tanpa sadar menumbuhkan kasih sayang antara keduanya menjadi lebih mendalam lagi. Baik Chen Li maupun Huang Taiji, sekarang mereka sama-sama takut kehilangan.
Chen Li sudah beranjak dewasa, usianya kurang lebih tujuh belas tahun, sebagai seorang pemuda, apalagi yang mempunyai otak cerdas di atas rata-rata, sudah pasti dia mengerti.
Kalau mendapatkan guru baru, bukankah itu artinya Huang Taiji akan pergi? Kalau dia pergi, bukankah mereka tidak akan bersama lagi?
"Paman paham maksudmu. Tapi kau juga harus mengerti Li'er, yang dapat menjadikanmu pendekar tanpa tanding hanyalah dirinya. Yang dapat mendidikmu hingga mencapai titik tertinggi hanya dirinya. Pun yang dapat membuka seluruh kekuatan elemen Mata Dewa juga hanya dirinya, selain dia, di dunia tidak akan ada yang sanggup melakukannya lagi," ucap Huang Taiji lebih jauh lagi.
Mata Dewa adalah kekuatan para Dewa. Seperti di ceritakan sebelumnya, dalam masing-masing elemen mata itu bersarang satu ekor siluman naga yang mempunyai kekuatan mengerikan.
Mereka adalah peliharaan para Dewa, di dunia ini, siapa yang sanggup melawan kepada Dewa?
"Tapi siapa dia yang Paman maksud itu?"
"Beberapa waktu lagi kau akan tahu sendiri,"
"Benarkah dia sanggup melakukannya?"
"Kau masih ragu kepada Pamanmu ini?" tanya balik Huang Taiji.
Chen Li langsung terbungkam. Bagaimana mungkin dia masih meragukan Huang Taiji? Selama ini, dirinya lah yang selalu ada untuknya. Selama ini, orang tua itu yang mendidik dan menjaganya hingga dia menjadi seperti sekarang.
Selama beberapa tahun bersama, jangankan berniat untuk membunuh, ada niat untuk mencelakai saja tidak. Lantas, bagaimana mungkin Chen Li merasa ragu? Kasih sayang Huang Taiji kepada hampir sama dengan kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Sedikitpun aku tidak pernah meragukan Paman," jawab Chen Li langsung melemah.
"Kalau begitu, kau harus percaya kepada Paman,"
"Li'er pasti percaya. Tapi jika Li'er mendapatkan guru baru, bukankah itu artinya Paman akan pergi dan tidak akan menemani Li'er lagi?"
Huang Taiji tersenyum. Ternyata dugaannya benar. Alasan kenapa bocah itu tidak terima karena dia takut dirinya bakal meninggalkan Chen Li.
Melihat bahwa bocah itu takut kehilangan, tiba-tiba timbul niat Huang Taiji untuk mengerjainya
"Tentu saja, Paman sudah bosan hidup denganmu berdua. Selama ini Paman selalu bersabar, tapi sekarang sudah tidak bisa. Apalagi kau sudah melakukan kesalahan besar kepada Paman, dan kesalahan itu, rasanya tidak bisa dimaafkan," ucapnya tiba-tiba memberikan ekspresi wajah serius.
Jantung Chen Li berdebar kencang saat dia mendengar ucapan Huang Taiji. Seumur hidup bersama, baru kali ini orang tua itu berkata demikian dengan nada seserius itu.
Selama ini, belum pernah rasanya Huang Taiji berkata sedemikian tegasnya.
Jika Huang Taiji berkata A, belum pernah Chen Li melakukan B. Lantas, kenapa pamannya berkata demikian?
"Paman, apa maksud Paman? Kalau Li'er ada salah, lebih baik Paman mengatakannya dengan jujur. Li'er masih kecil, barangkali mungkin memang pernah melakukan suatu kesalahan, mohon Paman sudi memaafkannya," kata Chen Li dengan nada sedih.
"Bukankah Paman juga sudah jujur kepadamu? Apalagi yang harus dikatakan? Kau jelas banyak sekali melakukan kesalahan. Tapi kesalahanmu yang sekarang sudah tidak bisa lagi dimaafkan," tegas Huang Taiji sambil memberikan senyuman licik.
Chen Li semakin tersentak. Hatinya terasa sakit. Seperti ditusuk oleh ribuan batang jarum.
Huang Taiji adalah orang yang selama ini selalu berada di sisinya. Orang tua itu sudah dianggap segalanya, sekarang kalau dia pergi, bukankah itu artinya Chen Li akan sendiri?
"Paman, tolong katakan hal apa yang harus Li'er lakukan agar bisa mendapatkan maaf darimu. Katakan saja, apapun itu, aku pasti akan melakukannya. Kalau perlu, Li'er akan mengorbankan nyawa demi menebus kesalahan itu," ujar Chen Li dengan tegas.
Tiba-tiba bocah itu langsung bersujud tepat di bawah kaki Huang Taiji. Isak tangis kesedihan mulai terdengar.
__ADS_1
Angin berhembus. Bau bunga tercium bersama kepedihan. Pedih. Seperti hati Chen Li saat ini. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Jika orang lain ada yang melihat kejadian ini, mungkin mereka tidak akan ada yang percaya. Seorang bocah bergelar Pendekar Tanpa Perasaan, dia yang selalu membunuh musuh tanpa kenal ampun, tapi sekarang bisa mengeluarkan air mata, siapa yang dapat mempercayai kabar ini jila tersebar ke dunia luar?
Terkadang saking besarnya kasih sayang yang diberikan seseorang, orang itu tak jarang berani melakukan hal apapun. Jangankan terjun ke dalam lautan api, bahkan mungkin mengorbankan nyawa sendiri pun dia akan berani.
Lalu, apakah benar bahwa kekuatan di balik kata "kasih sayang" sekuat itu?
Huang Taiji masih berdiri di tempatnya. Dia memandangi punggung Chen Li yang masih bersujud di bawahnya. Sekarang perasaannya sendiri bercampur aduk. Ada rasa senang, ada pula rasa sedih.
Tidak disangka, ternyata bocah itu benar-benar menyayangi dirinya seperti dia menyayanginya.
Tapi meskipun begitu, seperti Huang Taiji belum mau untuk menyudahi sandiwaranya tersebut.
"Sudahlah. Percuma kau bersujud, bahkan jika kau bersujud seminggu sekalipun, aku tidak akan memaafakanmu," tegas Huang Taiji.
Begitu dia selesai berkata demikian, orang tua itu langsung pergi dari sana. Kecepatannya sangat cepat, bahkan lebih cepat dari pada beberapa tahun lalu.
Hanya sesaat, Huang Taiji telah menghilang. Entah ke mana perginya.
Chen Li sadar apa yang dia lakukan tidak ada gunanya. Setelah Huang Taiji pergi, bocah itu kemudian kembali bangkit berdiri.
Kesepian menyelimuti Lembah Ketenangan. Kesepian mulai menggulung Pendekar Tanpa Perasaan. Hatinya terasa hampa. Begitu juga dengan hidupnya.
Kesedihan beberapa tahun lalu saat berpisah dengan orang tuanya, sekarang terasa kembali. Ternyata kesedihan itu masih sama. Masih sakit, masih pedih.
"Sekarang aku seorang diri. Guru baru yang dimaksud entah siapa dan entah kapan akan datang. Kalau sudah begini, ke mana aku harus pergi?" gumam Chen Li seorang diri.
Semilir angin mengibarkan jubah putih miliknya. Pedang Merah Darah masih digenggam erat di tangan kanannya.
__ADS_1