
Pendekar Merah tahu betul bahwa jika dia memaksakan diri untuk melawan mereka, tentunya hal itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri.
Dia bukan takut. Bukan pula tidak berani.
Hanya saja dirinya bukan orang yang cukup bodoh sehingga berani memaksakan diri tanpa perhitungan apapun.
Sebagai orang yang selalu teliti dan penuh perhitungan matang, Chen Li tentu sudah tahu apa yang harus dia lakukan pada saat-saat seperti ini. Semuanya sudah diperkirakan dengan matang. Semuanya juga sudah diperhitungkan dengan seksama.
Pada saat lima serangan jarak jauh itu hampir tiba di depan matanya, pada saat itu pula Chen Li si Pendekar Merah melakukan sesuatu yang sangat diluar dugaan semua orang.
Wushh!!!
Keakkk!!!
Cahaya merah memenuhi alam semesta. Cahaya itu membawa serta aura agung yang sangat menekan tempat sekitar.
Phoenix Raja dikeluarkan dari Kantong Siluman.
Burung itu terbang berputar tiga kali lalu kemudian turun meluncur dengan deras. Kepakan sayapnya menimbulkan gelombang kejut yang amat dahsyat. Kepakan sayap itu mengakibatkan pepohonan dan atap bangunan Organisasi Elang Hitam terbang berhamburan lalu menggulung menyatu bersama angin.
Gelegarr!!! Duarr!!!
Lima sinar yang merupakan jurus dahsyat dari lima lawannya berbenturan dengan satu jurus milik Phoenix Raja. Benturan jurus tersebut menimbulkan satu ledakan yang amat keras sehingga mengguncangkan bangunan tua itu.
Daun-daun mendadak layu dan berguguran. Tanah berlubang di beberapa tempat.
Phoenix Raja sudah bertengger di pundak kanan Pendekar Merah. Keduanya hanya terdorong empat langkah ke belakang. Sedangkan lima lawannya terlempar sampai dua belas langkah. Mereka jatuh bergulingan. Mereka mengalami sebuah luka dalam yang sangat parah.
Mulutnya memuntahkan darah segar kehitaman. Seluruh tubuhnya juga terasa sangat sakit dan ngilu.
Enam tokoh Organisasi Elang Hitam itu baru mengalami kejadian seperti sekarang ini. Satu orang tokoh yang beberapa saat lalu lengannya ditebas oleh Pendekar Merah telah meregang nyawa.
Dia tewas membawa rasa penasaran dan rasa kengerian ke alam baka.
Lima orang rekannya juga mengalami hal yang sama. Orang-orang itu tidak mengetahui dengan jelas jurus apa yang menghantam jurusnya sendiri. Yang mereka tahu hanya ada secercah cahaya merah menyeruak menerangkan malam untuk sesaat, lalu secara tiba-tiba cahaya itu lenyap kemudian menyambar ke arahnya.
Pada awalnya mereka mengira bahwa cahaya itu tidak akan sanggup untuk mengalahkan jurusnya. Apalagi mereka berlima merupakan Pendekar Dewa yang mempunyai segudang ilmu dan pengalaman.
Siapa sangka, ternyata perkiraannya tersebut malah melenceng. Yang terjadi justru sebaliknya. Cahaya merah tadi ternyata sanggup mengalahkan dahsyat jurus gabungan yang mereka lakukan.
__ADS_1
Malam semakin larut. Rembulan purnama telah tertutup kembali oleh awan kelabu. Keadaan di sana dicekam oleh perasaan ngeri yang sulit untuk dibayangkan.
Lima orang tokoh itu sudah berdiri. Mereka segera menyalurkan hawa murni untuk melanjutkan kembali pertarungan yang sempat berhenti beberapa saat.
Setelah luka yang diderita telah mendingan, kelimanya kemudian bergerak kembali. Meskipun mereka sudah terluka, tapi bagaimanapun juga, membela "rumah sendiri" adalah merupakan kewajiban.
Wushh!!! Wushh!!!
Lima sosok bayangan kembali menyerang Pendekar Merah. Bedanya, kecepatan mereka sekarang telah berkurang setengahnya karena sudah mengalami luka dalam yang parah.
"Kau siap?" tanya Pendekar Merah kepada Phoenix Raja.
"Sangat siap,"
"Bagus. Mari kita lakukan sekarang juga …"
Wushh!!!
Keduanya turut melesat ke depan menyongsong datangnya serangan lawan. Tanpa diperintah sekalipun, Phoenix Raja sudah mengerti apa yang harus dia lakukan.
Burung ajaib itu mehincar tiga tokoh Organisasi Elang Hitam. Sedangkan Pendekar Merah mengincar dua orang sisanya.
Phoenix Raja menyerang dengan ganas. Hembusan angin berhawa panas dia berikan khusus untuk ketiga lawannya. Matanya menyala menjadi merah membara. Burung itu terbang dengan kecepatan tinggi lalu menyambar semua lawannya secara bergantian.
Tiga tokoh tersebut terkejut setengah mati. Mereka terkejut karena kekuatan siluman itu yang mengerikan. Namun di sisi lain, mereka jauh lebih terkejut setelah mengetahui siluman apa yang menyerangnya.
Sebagai tokoh tua dunia persilatan, sudah pasti orang-orang itu mengetahui yang namanya siluman burung Phoenix Raja. Phoenix Raja selalu menjadi incaran setiap orang sejak zaman dahulu kala.
Pasalnya karena siluman itu berbeda dengan siluman lainnya. Menurut legenda, burung phoenix adalah hewan yang diberkati oleh para Dewa. Apalagi Phoenix Raja.
Sekarang yang menjadi pertanyaannya, siapa yang tidak menginginkan seekor siluman yang diberkati oleh para Dewa?
Siapapun pasti menginginkannya. Hanya saja, apakah mereka sanggup untuk mendapatkan siluman tersebut?
Setelah mengetahui bahwa siluman itu merupakan burung Phoenix Raja, tiga orang tokoh tua itu menjadi semangat kembali. Tenaganya terasa mendadak pulih. Luka di tubuhnya terasa mendadak sembuh.
Demi mendapatkan Phoenix Raja, cara bagaimanapun pasti akan dilakukan.
Wushh!!!
__ADS_1
Serangan gabungan keluar lagi. Jurus dahsyat dari ketiganya terlihat kembali. Tiga jurus mengerikan mengurung burung itu.
Sayangnya burung yant dimaksud jauh kebih kuat. Dia tidak perduli sengan semua jurus lawan. Dia tidak berhenti, tidak mundur, juga tidak menghindar. Phoenix Raja justru malah tetap menerjang ke depan dengan jurusnya sendiri.
Gelegarr!!! Blarr!!!
Tiga sosok bayangan manusia terlempar menembus bangunan tua yang menjadi markas Organisasi Elang Hitam. Mereka semua langsung tewas karena tubuhnya terbentur sangat keras dengan dinding dan tiang bangunan.
Darah segar segera menggenangi tubuhnya masing-masing. Tubuh mereka benar-benar hancur seperti seonggok daging tanpa tulang belulang.
Berbarengan dengan kejadian tersebut, Pendekar Merah juga sedang melangsungkan pertarungan hebat.
Dua lawannya merupakan pendekar pedang.
Jiak seorang pendekar pedang menemukan lawan yang sejalan dengannya, sudah tentu hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri.
Di antara mereka pasti ingin mengetahui sampai di mana kemampuannya dalam memainkan senjata tersebut.
Pendekar Merah memberikan dua tusukan yang amat cepat. Dua lawannya menangkis menggunakan batang pedang yang berkilat tajam.
Trangg!!!
Bunyi nyaring terdengar. Percikan api terbawa oleh hembusan angin yang tercipta karena gerakan mereka.
Chen Li tidak mau berlama-lama. Pemuda itu benci dengan sesuatu yang membuatnya harus menunggu lama. Karena alasan tersebut, dia langsung mengeluarkan jurus pedangnya kembali.
Meskipun dia tahu jurus itu belum sempurna, namun dirinya yakin, jurus tersebut sudah tentu dapat membunuh lawannya.
"Menyerang Secepat Kilat …"
Wushh!!!
Jurus terkahir dari Kitab Pembawa Maut yang merupakan pasangan dari Pedang Merah Darah telah keluar.
Tubuh Chen Li lenyap dari pandangan mata. Cahaya merah segera tampak melesat seperti sebuah meteor yang jatuh ke bumi. Hawa kematian bertambah kental beberapa kali lipat.
Slebb!!! Crashh!!!
Darah segar langsung tercium memenuhi arena pertarungan mereka. Dua lawannya telah roboh ke tanah dalam waktu sekejap mata. Entah kapan bocah itu melakukan pembunuhan tersebut, namun yang pasti, bagaimana cepatnya serangan itu, sulit untuk diterangkan dengan kata-kata.
__ADS_1
Jurus itu sangat menakutkan. Padahal Pendekar Merah belum menguasainya dengan sempurna. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau dia telah menguasai secara sempurna.