
Trangg!!!
Dentingan paling nyaring terdengar. Kedua tokoh besar dunia persilatan itu terlempar lima belas langkah ke belakang. Keduanya merasakan darah dalam diri mereka bergolak hebat.
Jika pondasi keduanya tidak kokoh, sudah pasti darah kental akan keluar seperti halnya lahar panas di sebuah gunung.
Langit mendadak mendung. Udara terasa lebih sesak lagi. Angin kencang berembus menerbangkan pepohonan kecil. Puluhan pohon tumbang lalu menggulung menyatu bersama sapuan angin.
Keadaan di sana bertambah mengerikan lagi. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Huan Ni Mo tetap berada dalam jarak aman menjaga Chen Li yang masih pingsan tak sadarkan diri.
Wanita itu mulai merasa khawatir sebab kondisi Chen Li semakin parah. Badannya menjadi dingin. Wajahnya semakin pucat dan nafasnya mulai melemah.
Apa yang sebenarnya sudha terjadi? Separah itukah lukanya? Apakah Chen Li masih bisa bertahan lebih lama lagi?
Tanpa terasa jantung Huan Ni Mo berdegup lebih kencang dari pada biasanya. Keringan panas dan dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan hitam dan putih melesat secara bersamaan lagi. Kecepatan kedua sosok itu sulit untuk dijelaskan. Mungkn seperti cepatnya kilat menyambar, atau bahkan lebih cepat dari pada itu.
"Meruntuhkan Alam Nirwana …"
"Sayap Naga Kobaran Amarah …"
Wushh!!! Wushh!!!
Bergulung-gulung tenaga dahsyat keluar. Langit berguncang hebat dan bumi bergetar keras. Dua jurus dikeluarkan secara berbarengan, dahsyatnya jangan ditanyakan lagi.
Gelegar!!!
Dentuman keras terdengar hingga jarak ratusan meter atau bahkan lebih. Dunia seperti kiamat. Gelombang kejut yang dihasilkan dari dua jurus itu menyapu segala yang ada.
Kepulan debu membumbung setinggi puluhan tombak. Hawa panas menyebar luas dalam radius satu kilo meter. Hawa dingin bercampur dengan hawa panas itu.
__ADS_1
Semuanya menjadi satu. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selajutnya. Apa yang terjadi dengan kedua tokoh besar dunia persilatan itu? Apakah keduanya tewas? Ataukah hanya salah satu saja yang mati?
Angin kencang berhembus membuyarkan kepulan debu itu. Dua sosok yang melangsungkan pertarungan sengit berdiri mematung. Satu sosok bayangan lain telah berdiri di tengah-tengah keduanya.
Masing-masing ujung senjata mereka digenggam erat oleh satu sosok bayangan yang baru muncul itu.
Wushh!!!
Angin berhembus kencang dan tajam. Naga Hitam Bersayap Delapan terdorong ke belakang sejauh sepuluh langkah. Tubuhnya sedikit bergetar karena tidak kuasa menahan kuatnya terjangan angin tersebut.
Seumur hidupnya, selama malang melintang di dunia persilatan, baru sekarang saja dia mengalami kejadian seperti ini.
Satu sosok bayangan yang muncul mulai terlihat jelas. Huang Taiji sangat terkejut. Dia tidak pernah menyangka bahwa orang itu akan datang. Huan Ni Mo juga sama, bahkan dia lebih terkejut dari pada Huang Taiji sendiri.
Si Nenek Pedang Tunggal apa lagi. Tubuhnya langsung terasa lemas, dia mendadak ambruk dan bersimpuh di atas tanah yang hancur itu. Keadaannya tidak berbeda jauh seperti halnya kapas terkena air.
Wajahnya pucat pasi. Persis seperti mayat yang mulai kaku. Seluruh tenaganya mendadak hilang entah ke mana.
Shin Shui si Pendekar Halilintar. Orang terkuat di Kekaisaran Wei saat ini. Siapa yang tidak pernah mendengar kebesaran namanya? Siapa yang tidak pernah mendengar sepak terjangnya yang selalu menimbulkan kegemparan di dunia persilatan? Dan siapa pula yang tidak mengetahui bagaimana mengerikannya kekuatan pendekar besar itu?
"Mundur, dia bukan lawanmu," kata Shin Shui kepada Huang Taiji. Nadanya datar, wajahnya juga dingin.
Pertanda bahwa dia benar-benar berlaku serius. Sebuah kekuatan dahsyat merembes keluar dari seluruh tubuhnya. Aura berwarna biru terang menyelimuti seluruh bagian tubuh Pendekar Halilintar.
Tanah yang dia pijak mendadak hancur lebur. Angin berhembus seperti halnya badai yang mengamuk.
Huang Taiji tidak bicara lagi. Dia menarik Pedang Tombak Surga Neraka lalu melompat mundur ke belakang ke dekat Huan Ni Mo. Dalam hatinya, pria tua itu bersyukur juga. Karena kalau saja Shin Shui tidak mendadak muncul, terpaksa dia harus mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya sebagai pengawal dari Dewa Lima Unsur.
Jika hal tersebut sampai terjadi, hal itu sangat berbahaya sekali. Sebab bukan tidak mungkin Huan Ni Mo akan mengetahui siapakah dia sebenarnya. Kalau sampai dia tahu, maka Huang Taiji telah gagal menjalankan tugas dari para Dewa.
Untungnya langit menolong pria tua itu. Pendekar Halilintar mendadak muncul pada saat yang benar-benar tepat.
Karena menurut Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding, Naga Hitam Bersayap Delapan adalah musuh yang benar-benar tangguh. Baru kali ini saja sia bertarung berhadapan dengan musuh sekuat dirinya.
__ADS_1
Bahkan dia sendiri tidak yakin mampu mengalahkannya kalau tidak mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya. Karena itulah, lawan yang tepat bagi Naga Hitam Bersayap Delapan adalah Shin Shui si Pendekar Halilintar.
Jika bukan Shin Shui, jangan harap ada orang lain yang sanggup melawannya lebih dari seratus jurus.
Shin Shui berdiri kokoh seperti batu karang. Jubah birunya yang agung berkibar tertiup angin. Matanya mendorong tajam seperti ujung mata pedang yang sangat tajam.
Di sisi lain, Naga Hitam Bersayap Delapan juga sudah mendapatkan posisinya. Dia telah berdiri sempurna seperti sebelumnya. Hanya saja, hatinya masih bergetar dan masih tidak percaya bahwa di Kekaisaran Wei ini, ternyata ada orang yang sanggup mementalkannya hanya dengan satu kali gebrakan.
Padahal, di negaranya sendiri, pria tua itu masuk dalam jajaran sepuluh tokoh terkuat yang ada di sana. Dia menempati posisi keenam.
Jika posisi keenam saja sudah mempunyai kekuatan sedahsyat itu, lantas bagaimana kekuatan pendekar yang menempati urutan pertama?
Jika Shin Shui tahu akan hal ini, niscaya dia juga akan merasa gentar jika nanti berada di medan perang.
Sekuat apapun para pendekar Kekaisaran Wei, kenyataannya masih kalah kuat jika dibandingkan dengan kekuatan para pendekar dari Kekaisaran lain. Kekaisaran Wei adalah Kekaisaran terlemah. Semua orang tahu akan kenyataan ini. Termasuk Shin Shui sendiri.
"Kaukah yang berjuluk Naga Hitam Bersayap Delapan?" tanya Shin Shui dingin.
"Dan apakah kau yang berjuluk Pendekar Halilintar?" tanya balik pria tua itu.
"Benar. Aku Pendekar Halilintar,"
Mendengar pengakuan orang tersebut, si Naga Hitam Bersayap Delapan tertawa lantang. Suara tawanya menggema menggetarkan bumi.
"Bagus, bagus. Akhirnya kau muncul juga di hadapanku. Aku jadi tidak susah payah mencarimu," katanya penuh ejekan.
"Meskipun kau tidak mencariku, aku akan tetap mencarimu,"
"Oh? Apakah kau sengaja kemari hanya untuk mencariku?"
"Benar. Tujuanku memang mencarimu, kau sudah banyak menimbulkan bencana di negeriku. Sudah saatnya kau aku kirim ke neraka,"
"Hahaha, mulutmu ternyata memang sombong. Sekarang aku percaya terhadap kabar yang beredar itu. Kalau memang kau mampu, lakukanlah,"
__ADS_1
"Sekalipun kau tidak menyuruhku, aku akan tetap melakukannya,"