
Keduanya mengalami luka yang terbilang cukup parah. Sepertinya dua Pendekar Dewa yang terpental barusan berada di posisi paling depan. Sehingga keduanya mengalami hal demikian.
Shin Shui tidak berhenti. Dia memburu dua pendekar tersebut dengan gerakan yang sulit diikuti oleh mata telanjang. Hanya dua tarikan nafas saja, Pendekar Halilintar telah tiba di hadapan satu orang lawannya.
Pukulan tangan kanan yang keras dan berkekuatan tinggi segera dia lancarkan. Sinar biru berkelebat saat pukulannya melesat mengarah ke kepala lawan.
Pendekar Dewa tersebut sempat menangkis dengan segenap kemampuan. Keduanya bertarung beradu pukulan untuk beberapa jurus. Namun tidak terlalu lama, delapan jurus kemudian, kaki kanan Shin Shui berhasil menendang kepala Pendekar Dewa tersebut sampai remuk.
Dia tewas seketika.
Satu Pendekar Dewa telah mampus. Begitu selesai, dia kembali melesat mengarah ke Pendekar Dewa yang tadi terpental juga.
Saat tiba di hadapan pendekar tersebut, serangkaian pukulan beruntun langsung keluar. Cepatnya bukan main. Juga mengandung hawa panas dan mengerikan.
Seolah tangan Shin Shui berjumlah ribuan banyaknya. Pendekar itu merasa sangat kewalahan. Posisinya benar-benar tidak menguntungkan. Tapi untungnya di saat mereka adu pukulan, tangan pendekar itu berhasil mencengkram bahu Pendekar Halilintar.
Satu buah pukulan mendarat di bahu kanan Shin Shui. Namun bukan dia yang terpental dan kesakitan, justru malah pendekar itu sendiri seketika langsung terjengkang. Dia jatuh terjerembab.
Pendekar Halilintar tidak menyia-nyiakan kesempatan. Satu pukulan keras berkekuatan dahsyat langsung dia layangkan tepat di dada lawan.
Satu kali lagi, seorang lawannya telah tewas.
Semua serangan tadi terjadi sangat cepat sekali. Berbeda dengan menulis kejadiannya yang cukup memakan waktu. Tujuh pendekar lainnya bukan tidak mau membantu rekan mereka.
Apa mau dikata? Gerakan Shin Shui terlampau cepat. Mereka tidak bisa melihat dengan jelas kecuali hanya sinar biru terang yang terus berkelebat ke segala penjuru.
Sehingga terpaksa, ketujuh pendekar tersebut hanya bisa melihat kejadian dengan rasa geram.
Sekarang setelah mengetahui apa yang sudah terjadi terhadap rekan mereka, ketujuhnya merasakan darah mendidih. Dada serasa panas.
Tanpa banyak bicara lagi, tujuh Pendekar Dewa segra melesat menyerang Shin Shui sambil melancarkan jurus dahsyat mereka masing-masing. Berbagai macam sinar terlihat mewarnai kegelapan malam.
Kekuatan dahsyat yang menekan terasa sangat menakutkan sekali. Shin Shui sudah siap dengan keadaan seperti sekarang ini.
Setelah mengumpulkan tenaga dalam dengan jumlah besar, dia lantas berteriak lalu mengeluarkan jurus mengerikan untuk menyambut semua jurus lawannya.
__ADS_1
"Tapak Penghancur Jagat Raya …"
"Wushh …"
Tanah bergetar dengan hebat seperti dilanda gempa bumi besar. Langit berguncang keras. Awan menjadi gelap. Hembusan angin menerpa sangat kencang seperti sedang terjadi badai.
Tanah mendadak berterbangan. Dua buah gelombang tapak raksasa berwarna hitam pekat melesat menyambut semua jurus lawan. Kecepatannya luar biasa.
Jurus ini bukan sembarang jurus biasa. Ini adalah jurus terdahsyat dari Kitab Tapak Penghancur. Salah satu dari tiga kitab terhebat yang ada di Kekaisaran Wei.
Itu artinya, kekuatan yang terkandung dalam jurus tersebut tidak diragukan lagi.
"Duarr …"
Tujuh jurus milik Pendekar Dewa itu berbenturan dengan jurus milik Pendekar Halilintar. Gelombang kejutnya menyapu semua yang ada di sekitar mereka. Dinding bangunan mewah tersebut rusak parah.
Tujuh Pendekar Dewa terpental hingga keluar dinding. Mereka semua tewas karena jurus Tapak Penghancur Jagat Raya milik Shin Shui. Semuanya mengalami luka yang sangat parah.
Di saat efek jurus dahsyat itu belum habis, mendadak ada satu kekuatan besar yang melenyapkan efek jurus Tapak Penghancur Jagat Raya. Entah kekuatan dari mana. Yang jelas mengandung hawa kegelapan yang cukup mengerikan.
Shin Shui tidak langsung mencari sumber kekuatan besar tersebut. Dia lebih dulu mengatur nafas dan menyalurkan hawa murni untuk memulihkan keadaan tubuhnya.
Pertempuran dua siluman bersaudara tersebut sudah mencapai batas akhir. Terlihat jumlah lawan telah berkurang.
Sang Ong tinggal melawan tiga Pendekar Dewa. Sepertinya siluman kera putih itu telah murka. Bulunya berdiri mengeluarkan kobaran api yang membara.
Saat ini San Ong sedang menyerang semua lawan. Gempuran pukulan yang membawa hawa kekuatan panas menerjang tiga Pendekar Dewa.
Serangkaian jurus jarak jauh dikeluarkan juga oleh siluman kera tersebut. San Ong memukul tanah hingga bergetar hebat. Satu detik kemudian, dia telah lenyap dari pandangan tiga lawannya.
Di saat meraka kebingungan karena lenyapnya kera tersebut, tiba-tiba saja tanah tempat mereka berpijak mengalami retakan di sana sini. Sesaat kemudian, muncul suara mengerikan dari dalam tanah.
"Roarrr …"
"Blarrr …"
__ADS_1
Berbarengan dengan suara keras itu, satu jurus dahsyat menerjang.
San Ong muncul dari dalam tanah. Di tangannya telah tergenggam sebatang tongkat emas cukup panjang dan besar.
Sekali tongkat di sapu, tiga Pendekar Dewa tersebut langsung terpental jauh ke belakang. Nyawa mereka melayang sebelum tubuhnya turun menyentuh tanah.
Pertempuran Ong San lain lagi. Empat Pendekar Dewa tersisa kini sedang menyerang siluman kera itu.
Empat batang berbagai macam senjata menghujani tubuhnya dengan ganas. Beberapa luka sabetan terlukis di tubuhnya yang penuh dengan bulu putih itu.
Keempat Pendekar Dewa semakin menjadi, jurus senjata terhebat yang mereka kuasai telah dikeluarkan demi membunuh lawan.
Ong San berada dalam posisi terdesak.
Tapi keadaan itu hanya berlaku untuk beberapa kejap saja. Karana sedetik kemudian, Ong San telah berteriak keras.
Dua taring tajam mendadak memanjang. Tubuhnya bercahaya mengeluarkan aura merah api. Matanya berubah merah membara.
Dua pedang kembar yang mengeluarkan kobaran api mendadak muncul dan sudah berada dalam genggamannya.
"Kalian telah membuatku marah. Sekarang, pergilah ke neraka …"
"Pedang Kembar Menghancurkan Semesta …"
Dia berteriak kembali. Setelah itu, tubuhnya langsung melesat sangat cepat ke depan.
Satu garis sinar merah api terlihat seperti meteor. Ong San telah tiba di hadapan empat Pendekar Dewa. Tanpa berlama-lama, pedang kembar yang sudah dia genggam segera dimainkan.
Dua lesatan sinar merah terlihat. Hawa panas segera menyebar ke tempat sekitar. Kera putih tersebut memainkan pedangnya dengan sangat cepat dan terampil.
Kakinya bergerak mendesak lawan. Pedangnya berkelebat tanpa henti melancarkan sabetan dan tusukan.
Empat Pendekar Dewa tersebut langsung berada dalam kondisi tidak menguntungkan. Semua serangan mereka terhalangi oleh sinar merah membawa milik Ong San.
Satu persatu lawannya mulai terkapar di tanah. Mereka ambruk tanpa nyawa. Sepak terjang Ong San sungguh mengerikan. Dia terlihat seperti iblis yang sedang marah besar.
__ADS_1
Tanpa ampun. Tanpa belas kasihan.
Sepertinya ini adalah kekuatan San Ong dan Ong San yang sesungguhnya. Dari kejauhan, Shin Shui sendiri cukup terkejut ketika melihat dua sahabatnya begitu ganas dan menakutkan.