Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Dua Pedang Kembar


__ADS_3

Pada saat itu dunia seakan marah kepada para manusia. Keadaan di sana benar-benar hancur.


Pasukan dari Kekaisaran Wei yang tersisa tidak bergerak lagi. Hal itu dikarenakan Chen Li. Bocah itu berkata lantang kepada mereka untuk berhenti menyerang.


"Kalian cukup diam dan perhatikan. Orang-orang ini serahkan saja padaku,"


Saat dia berkata sesaat sebelumnya, tiada seorang pun yang berani membantah. Semua pasukan Kekaisaran Wei yang merupakan pasukan gabungan dari segala lini, semuanya tunduk kepada perintah Chen Li.


Entah karena alasan apa sehingga mereka menuruti setiap perkataannya. Apakah karena latar belakangnya yanh berasal dari Sekte Bukit Halilintar? Apakah karena semua orang tahu bahwa dia merupakan anak dari pendekar terkuat di negerinya? Ataukah ada alasan lainnya?


Tidak ada yang tahu pasti terkait alasan semua orang itu mendengar ucapannya. Namun yang jelas, sosok Chen Li tidak berbeda jauh dengan sosok Shin Shui saat muda.


Pasukan musuh yang tersisa sekarang tidak lebih dari seratus lima puluhan orang. Walaupun jumlahnya masih terbilang banyak, tapi mereka semua telah jauh berbeda.


Orang-orang itu sangat ketakutan. Seumur hidupnya, belum pernah merasa setakut ini.


Grrr!!!


Chen Li menggeram keras. Pedang Hitam digenggam lebih erat lagi. Selapis kekuatan dahsyat segera menyelimuti seluruh tubuhnya. Sekarang tubuh Pendekar Tanpa Perasaan telah diselimuti oleh aura berwarna putih yang sangat pekat.


"Pedang Hitam Kematian …"


Wushh!!!


Cahaya hitam terlihat kembali. Bedanya, cahaya yang sekarang jauh lebih pekat. Lebih dahsyat dan lebih mengerikan.


Gelegar!!!


Ledakan terjadi tanpa diduga oleh siapapun sebelumnya. Gelombang kejut yang tercipta mementalkan puluhan pasukan musuh. Sebagian dari mereka ada yang langsung tewas. Ada juga yang mengalami luka cukup parah.


Berbarengan dengan semua kejadian tersebut, Chen Li terlempar cukup jauh ke belakang. Untungnya bocah itu tidak sampai jatuh bergulingan. Chen Li hanya terdorong mundur saja.


Tapi meskipun begitu, tak urung juga dadanya terasa sesak. Cairan merah terlihat di sudut bibirnya.


Chen Li sedikit terluka. Untungnya tidak kelewat parah.


Wushh!!!


Dia langsung melesat kembali ke tempat sebelumnya.

__ADS_1


Sekarang di tempat tersebut telah berdiri dua sosok yang baru saja datang. Keduanya memakai pakaian berwarna merah darah. Usia mereka sekitar enam puluh tahunan. Keduanya mempunyai ciri-ciri yang sama. Senjatanya sama. Bahkan wajah mereka juga hampir sama.


Dua orang tersebut memang merupakan saudara kembar. Mereka biasa disebut Dua Pedang Kembar. Keduanya merupakan pendekar pedang. Di negerinya, orang itu cukup mempunyai nama karena sepak terjangnya yang cukup membuat bulu kuduk berdiri.


Semua pasukan musuh yang tersisa sudah mundur ke belakang. Sekarang di tempat itu hanya berdiri tiga orang saja. Chen Li dan Dua Pedang Kembar.


Tiga sosok itu masih berdiri kokoh. Mereka belum bergerak sedikitpun. Sebagai tokoh yang sudah cukup pengalaman, Dua Pedang Kembar sebenarnya sedang memperhatikan Chen Li. Mereka sedang mengukur sampai di mana kemampuan pendekar muda yang ada di hadapannya tersebut.


Chen Li juga melakukan hal yang sama. Meskipun bocah itu belum mempunyai banyak pengalaman, tetapi dia sudah mendapatkan banyak ajaran. Baik itu dari Huang Taiji, maupun dari Shin Shui.


Ajaran yang dia terima tentu saja yang berhubungan erat dengan dunia persilatan. Termasuk dengan ajaran dalam sebuah pertarungan. Misalnya apa yang harus dilakukan sebelum bertarung, bagaimana membebaskan diri dari kepungan musuh, dan lain sebagainya.


Menurut pandangan matanya, dua orang asing itu merupakan Pendekar Dewa tahap dua pertengahan. Kalau dulu pendekar seperti mereka merupakan lawan berat dan hanya sedikit harapan untuk menang, maka sekarang adalah kebalikannya.


Pendekar Tanpa Perasaan hanya tersenyum dingin kepada dua orang asing tersebut.


"Kalian dari Kekaisaran Tang?"


"Tepat,"


"Bagus,"


"Berarti kalian musuhku,"


"Kami memang musuhmu,"


"Karena itulah aku harus membunuh kalian. Siapa nama kalin?"


"Dua Pedang Kembar,"


"Tapi senjata kalian bukan pedang kembar," kata Chen Li sambil menyelidiki keduanya.


"Tapi kami pendekar pedang. Dan kami adalah saudara kembar. Karena itulah julukan kami Dua Pedang Kembar,"


"Menarik. Kalau begitu, aku ingin lihat apakah pedang kalian tajam atau tidak sama sekali," ejek Chen Li sambil tersenyum dingin.


Wushh!!!


Chen Li bergerak lebih dulu. Pedang Hitam di julurkan memberikan satu tusukan dahsyat kepada satu lawan. Kecepatan Chen Li sudah jauh jika dibandingkan dengan dulu. Karena itulah, hanya sesaat saja, dirinya telah tiba di hadapan lawan.

__ADS_1


Trangg!!!


Dua batang pedang telah beradu. Pedang milik lawan Pendekar Tanpa Perasaan bergetar cukup keras. Keringat sebesar biji kacang kedelai mulai menetes satu persatu dari dahi orang itu.


Dia tidak pernah mengira bahwa pendekar muda itu ternyata mempunyai keahilan pedang yang telah mencapai tingkat atas.


Sebagai pendekar pedang, dirinya sudah dapat membaca bagaimana kemampuan seorang pendekar pedang lainnya hanya dari cara bagaimana orang itu memegang pedang dan melihat bagaimana orang itu menyerang dengan pedangnya.


Dan menurut penilaiannya, Chen Li mendapatkan nilai sembilan. Itu artinya, orang itu sudah menganggap bahwa Chen Li adalah lawan berat.


Bahkan dia sendiri tidak mempunyai keyakian untuk bisa menang darinya.


Trangg!!!


Pedang lainnya mendadak muncul dan menebas kedua pedang yang sedang menempel tersebut. Chen Li terdorong satu langkah ke belakang. Tapi dia tidak berhenti begitu saja.


Pendekar Tanpa Perasaan langsung melayangkan sebuah serangan dahsyat dan mengerikan. Jurus Pedang Hitam Kematian kembali dia layangkan.


Pedang itu mengeluarkan asap hitam yang pekat. Pedang pusaka Pendekar Tanpa Perasaan langsung mengeluarkan hawa kematian yang sangat kental.


Dua orang lawannya terkejut. Tanpa terasa mereka melompat mundur ke belakang sejauh satu langkah sambil tetap memberikan tangkisan.


Benturan pedang terdengar kembali. Si Dua Pedang Kembar terlempar empat langkah. Hampir saja keduanya jatuh tersungkur. Serangan Chen Li itu terlihat sangat sederhana. Tapi di balik kesederhanaan itu, terkandung sebuah ancaman yang sulit dijelaskan.


Dia menyerang lagi. Empat tebasan pedang dilancarkan oleh Chen Li dengan segenap kekuatan.


Sinar hitam memecah cakrawala. Chen Li menggempur Dua Pedang Kembar dengan gerakan yang sulit untuk diduga. Tebasan pedangnya mengarah ke bagian leher.


Dua Pedang Kembar menarik diri ke belakang. Mereka mengira langkahnya benar. Padahal sebenarnya mereka telah salah langkah. Di saat kedua lawannya mundur ke belakang, saat itulah serangan yang sesungguhnya tiba.


Seruling giok hijau dimainkan. Lantunan nada langsung mengunci pergerakan Dua Pedang Kembar tanpa disangka sebelumnya. Tebasan Chen Li mendadak berubah menjadi sebuah tusukan.


Tusukan yang amat cepat. Amat tepat. Dan amat dahsyat.


Slebb!!!


Darah menyembur. Teriakan kematian langsung terdengar. Suaranya terbawa angin sehingga terdengar sampai jarak tertentu.


Dua nyawa melayang hanya dalam satu kali gerakan. Siapapun tidak akan menyangka bahwa pendekar muda itu ternyata mampu melancarkan serangan semengerikan itu.

__ADS_1


__ADS_2