Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Li Feng Dan Li Cun


__ADS_3

Tak perlu membutuhkan waktu yang cukup lama, Shin Shui dan Chen Li sudah tiba di sebuah tempat lapang cukup luas pinggiran hutan. Setelah dia keluar, portal tersebut langsung hilang tanpa jejak.


Kini ayah dan anak itu tidak tahu berada di mana. Yang jelas, di sekeliling mereka hanya ada hutan dengan pohon-pohonnya yang rimbun. Tak lupa juga dengan suara riuh para binatang liar.


"Ayah, ke mana tujuan kita selanjutnya?" tanya Chen Li sambil membersihkan bajunya yang kotor terkena debu.


"Ayah berjanji pada ibumu akan pergi dua bulan, setidaknya masih ada waktu kurang lebih sekitar 26 hari lagi menuju dua bulan itu. Jadi kita gunakan waktu 26 hari untuk berkeliling ke berbagai tempat. Menurut dugaan ayah, pergerakan musuh sudah di mulai dari sekarang. Karena itulah kita akan mencoba menyelidiki semuanya. Tapi kita harus menyamar," ucap Shin Shui menjelaskan kepada anaknya.


"Baik ayah. Li'er ikut apa kata ayah," jawabnya patuh.


"Bagus. Kalau begitu, mari kita segera pergi mencari pasar terdekat untuk membeli alat-alat penyamaran," kata Shin Shui.


Selesai berkata, keduanya segera melesai pergi dari sana. Walaupun kecepatan Chen Li berjarak langit dan bumi jika dibandingkan dengan ayahnya, tapi setidaknya untuk setingkat pendekar seperti dia, sudah bisa dikatakan unggul.


Hanya dalam beberapa saat saja, ayah dan anak itu telah memasuki sebuah kota yang cukup besar. Mereka segera membeli peralatan yang dibutuhkan.


Shin Shui membawa Chen Li ke sebuah toko pakaian dan peralatan lainnya. Mereka membutuhkan pakaian, topeng untuk Chen Li, serta topeng kulit untuk Shin Shui sendiri.


Setelah selesai mengumpulkan barang-barang yang diperlukan untuk menyamar, ayah dan anak itu lalu mencari sebuah tempat sepi. Mereka mulai mengubah penampilan.


Tak perlu waktu lama, keduanya sudah berubah penampilan. Kini Shin Shui dan Chen Li terlihat seperti seorang kakak beradik. Wajah keduanya masih tampan. Tetapi siapapun tidak akan ada yang mengenali mereka.


Khusus untuk Chen Li, dia sendiri memakai topeng setengah wajah berwarna hitam. Pakaiannya serba merah. Dia terlihat kebih gagah dengan penampilan seperti ini.


Sedangkan Shin Shui, dia memakai pakaian serba putih dengan ikat kepala sutera putih pula. Rambutnya dia biarkan menjuntai tertiup angin. Jubahnya yang berwarna putih tetap terlihat mewah.


Keduanya sedang berjalan dengan langkah tenang di tengah kerumunan orang. Shin Shui dan Chen Li mencari sebuah restoran yang ada di pasar kota tersebut.


Sepanjang jalan, terlihat banyak sekali para pendekar yang berkeliaran di sekitar sini. Kebanyakan memang para pendekar Kekaisaran Wei, tapi ada juga sebagian yang merupakan pendekar dari negeri lain.


Keduanya sudah menemukan sebuah restoran mewah. Mereka kemudian memasukinya, seorang gadis cantik bertugas sebagai penerima tamu di luar. Dia mengantarkan ayah dan anak itu ke meja kosong. Mereka segera memesan makanan.

__ADS_1


Sambil menunggu pesanan, keduanya mempertajam indera pendengaran mereka. Sebab sudah hal umum bahwa restoran adalah sumber terlengkap jika ingin mencari informasi.


Menurut pendengaran Shin Shui, dunia persilatan di Kekaisaran Wei sedang dilanda badai kembali. Walaupun badai ini masih terbilang kecil, namun suatu waktu bisa menjadi lebih besar dan dahsyat.


"Kau tahu bahwa ada belasan perguruan baru di Kekaisaran ini. Menurut kabar yang aku dengar, mereka ini merupaka pecahan dari sekte-sekte besar yang ada di seluruh negeri Kekaisaran Wei," kata seseorang yang ada di sana.


"Apakah yang kau katakan itu benar kakak Cin?" tanya seorang yang lain.


"Tentu saja benar. Bahkan aku melihat sendiri ketika beberapa pendekar tingkat tinggi menguji beberapa perguruan baru ini. Walaupun jumlah mereka hanya puluhan, tapi kekuatannya sungguh mengerikan. Kabarnya, para penguji tidak ada yang bisa mengalahkan perguruan baru ini," kata orang yang dipanggil kakak Cin.


"Benarkah? Tapi kan Kekaisaran Wei saat ini sedang berada dalam situasi genting. Bahkan Pendekar Halilintar sendiri memerintahkan semua sekte untuk bekerja sama. Bagaimana mungkin beberapa sekte ini dipecah?"


"Entahlah. Sebab beberapa dari perguruan baru ini memang memiliki pakaian dan jurus yang mirip dengan sekte besar lainnya. Aku sendiri percaya tidak percaya," kata si kakak Cin lagi.


Obrolan mereka terus berlanjut sampai ke masalah-masalah kecil.


Selama menunggu makanan, Shin Shui dan Chen Li mendengarkan cerita mereka dengan seksama. Hanya dalam waktu sepuluh tahun, Kekaisaran Wei sudah muali dilanda badai kembali.


"Ayah, apa yang harus kita lakukan?" tanya Chen Li sambil berbisik.


"Plakk …" kepala bocah itu di tampar oleh ayahnya.


Tapi Chen Li tidak marah. Selama di Negeri Siluman, dia sudah terbiasa dengan semua sifat 'gila' ayahnya. Bahkan dia sendiri sering jahil kepadanya. Sekilas, mereka akan tampak terlihat seperti orang seumuran.


Ayah dan anak memang terkadang bisa lebih cepat saling memahami. Orang sejenis memang cepat untuk saling mengerti. Seperti perempuan yang cepat mengerti tentang perempuan lagi. Begitupun yang terkadang terjadi kepada kaum pria.


"Dalam penyamaran, kau jangan panggil aku ayah. Dasar anak bodoh," kata Chen Li sambil menahan tawa.


"Aish, lalu aku harus memanggil apa?"


Shin Shui berpikir sebentar. Kemudian dia menjawab lirih. "Kau panggil aku Li Feng. Dan namamu Li Cun," kata Shin Shui.

__ADS_1


"Baik kakak Feng, aku mengerti," kata Chen Li menahan tawa pula.


"Sekali lagi kau panggil aku ayah, aku tampar kepalamu," ucapnya penuh canda.


"Aku akan adukan kepada bibi Mei (yang dimaksud adalah Yun Mei),"


"Brengsek juga kau lama-lama," kata Shin Shui tertawa lepas.


Sekilas memang mereka seperti tidak memiliki sopan santun. Tapi itu hanya anggapan orang. Bagi keduanya, tentu saja tidak seperti itu. Alasannya karena mereka tahu batasan. Tahu waktu untuk serius dan tahu pula waktu untuk bercanda.


Terkadang seseorang memang memiliki caranya tersendiri. Dalam hal apapun.


Tak berapa lama, pesanan sudah datang. Arak pun sudah tersedia. Mereka segera makan dengan lahap. Bahkan keduanya kompak untuk menambah lagi porsi makan.


Wajar, selama sebulan ini mereka tidak memakan makanan enak seperti sekarang.


Setelah selesai makan, Shin Shui atau kini yang sudah ganti nama menjadi Li Feng, langsung meminum arak tersebut.


Chen Li atau si Li Cun ingin juga meminum arak. Tetapi Li Feng mencegahnya.


Namun dengan sedikit ancaman, akhirnya mau tidak mau Shin Shui membiarkan anaknya minum arak.


Seumur hidup, ini kali pertama bagi Chen Li meminum arak. Bahkan begitu mencoba beberapa kali, dia sempat terbatuk pula sehinga Shin Shui tidak mampu menahan tawanya.


Dan di saat mereka tertawa itulah sebuah kejadian terjadi.


Di luar, terdengar suara derap langkah kuda yang lumayan banyak. Semua orang yang ada di dalam restoran langsung bungkam. Tak ada lagi suara yang terdengar.


Tak berapa lama, satu rombongan terdiri dari sepuluh orang yang dipimpin satu orang pendekar tua memasuki ruangan. Matanya menyapu ke seluruh tempat restoran.


"Kalian yang ada si sini, pergilah. Tuan kami ingin makan dan minum tanpa ada gangguan," kata seorang pengawalnya.

__ADS_1


__ADS_2