
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Chen Li dan Huang Taiji Lu berhasil menemukan sebuah rumah besar yang mereka maksudkan.
Rumah tersebut berdiri di ujung desa itu. Ukurannya cukup besar. Halaman rumahnya juga cukup luas. Benteng setinggi satu tombak berdiri dengan kokoh.
Tetapi walaupun begitu, keadaan di sana juga sama seperti di tempat lain. Nampak sepi. Sama sekali tidak menandakan ada orang di dalamnya.
Chen Li dan Huang Taiji merasa heran. Namun tanpa banyak berkata lagi, mereka berdua segera melompati benteng tersebut untuk bisa masuk ke dalamnya.
Dua orang yang selalu bersama setiap saat. Sedikit banyak mereka akan saling mengerti dan memahami.
Seperti halnya dua orang itu. Hanya saling pandang, mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Chen Li mengetuk pintu lebih dulu.
"Permisi, apakah di dalam ada orang? Kalau ada, mohon untuk menunjukkan diri, ada sesuatu yang ingin kami bicarakan," kata Chen Li dengan suaranya yang menggemaskan.
Tiga kali lebih dia berkata seperti itu, tetapi hasilnya masih tetap sama. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah.
Huang Taiji Lu mulai kesal. Dia mendobrak pintu itu lalu kemudian mencari orang yang ada di dalam rumah.
Begitu masuk, keduanya terkejut. Ternyata di dalam rumah besar itu justru terdapat banyak orang. Jumlahnya kira-kira ada sekitar lima belas.
Mereka semua memegang senjata. Apapun yang bisa jadi senjata, mereka pegang.
Wajahnya jelas menggambarkan rasa takut. Lutut mereka terlihat sedikit bergetar.
"Ka-kalian siapa? Siluman kah?" tanya seorang tua penuh rasa takut.
"Sembarangan. Kami manusia biasa. Datang kemari karena ada sesuatu yang ingin ditanyakan. Aku kira tidak ada orang, hemm, ternyata ada namun tidak mau menjawab. Sungguh tidak sopan," ucap Chen Li sedikit kesal.
"Ma-maf Tuan Muda, maaf. Kami kira kalian siluman yang telah menyamar menjadi manusia,"
"Bukan, kami bukan siluman. Orang tua, apa yang sebenarnya sudah terjadi? Apakah kau bisa menceritakannya dengan jelas?" tanya Huang Taiji Lu mulai lembut.
"Ta-tapi …"
"Ceritakan saja yang jelas. Kami akan membantumu, asalkan sudah tahu kejadian sebenarnya," kata Chen Li memotong pembicaraan si orang tua.
Si orang tua memandang orang-orang yang lainnya. Semua orang itu segera memberikan anggukkan. Akhirnya, orang tua tersebut mengajak Chen Li dan Huang Taiji Lu ke sebuah ruangan.
__ADS_1
"Sebenarnya Tuan-tuan ini siapa?" tanyanya ketika sudah duduk bersama dua tamunya.
"Aku Chen Li, dan ini namanya Paman Huang Taiji,"
"Salam hormat untuk Tuan sekalian. Sebelumnya mohon maaf kalau kami tidak sopan, tetapi sesuatu telah terjadi di desa kami,"
"Lanjutkan," kata Huang Taiji.
"Sudah hampir semingguan desa kami mengalami musibah yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Setiap minggu ada segerombolan siluman yang datang kemari. Besoknya selalu ada serombongan orang yang katanya meminta jatah untuk mengusir siluman itu pergi. Namun nyatanya siluman itu masih tetap ada, dan setiap kembali ke desa ini, serombongan orang-orang itu selalu memberikan alasan yang tidak masuk akal. Kadang-kadang kalau kami tidak mau memberikan mereka jatah, orang-orang itu akan bertindak kasar,"
"Berapa jumlah siluman dan orang-orang yang kau maksud?"
"Siluman itu lumayan banyak. Ada sekitar tiga puluh ekor, mereka selalu menculik anak-anak. Sedangkan serombongan itu ada sekitar sepuluh orang. Kejadian ini bukan hanya terjadi di desa kami saja. Di beberapa desa sekitar juga sama," kata orang tua itu sedih.
Chen Li dan Huang Taiji saling pandang. Keduanya sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan sekarang.
"Kapak siluman itu datang lagi?"
"Nanti malam. Ya, benar, nanti adalah bulan purnama. Siluman itu biasanya datang saat bulan sudah berada di atas,"
"Baiklah kalau begitu. Kami akan menunggu kedatangannya. Ingin tahu bagaimana wujud dan apa yang akan mereka lakukan," kata Chen Li sambil tersenyum.
Namun belum sempat dia menawarkan makan dan minum, dua orang tamu asing itu mendadak sudah hilang dari hadapannya. Entah kapan mereka pergi, karena dia sendiri tidak mengetahui bagaimana caranya.
"A-apakah mereka juga siluman?" gumamnya merasa takut kembali.
Malam hari telah tiba. Chen Li dan Huang Taiji Lu duduk di sebuah dahan pohon pinggiran desa tersebut. Di tangan dua orang itu terdapat seguci arak.
Sudah cukup lama keduanya menunggu, namun yang ditunggu tak kunjung datang.
"Paman, apakah kau yakin siluman itu akan datang malam ini?" tanya Chen Li sambil melihat ke atas memperhatikan bulan yang sedang purnama.
"Mungkin. Kita tunggu saja di sini," .
Baru saja Huang Taiji berkata demikian, mendadak Chen Li merasakan ada energi lain yang jaraknya sudah lumayan dekat dengan desa itu.
"Meraka datang," kata Chen Li sambil memandang ke tengah-tengah desa.
Huang Taiji Lu memperhatikan arah pandang Chen Li. Dia merasakan hal yang sama. Sesaat kemudian, suara riuh terdengar. Berbagai macam suara menyeramkan menggema. Puluhan siluman serigala berbulu merah darah datang bersama rombongannya.
__ADS_1
Pemimpin rombongan siluman serigala itu bertubuh lebih besar. Ukurannya sama dengan seekor sapi dewasa.
Mereka mulai menghancurkan rumah warga. Suara teriakan para warga terdengar memilukan.
Chen Li dan Huang Taiji berdiri secara bersamaan.
Waktunya beraksi.
Mereka melesat dari dahan pohon tadi langsung menuju ke lokasi di mana terdapat tiga puluhan ekor siluman serigala merah.
Dua gulung angin dahsyat langsung menerjang puluhan siluman tersebut. Suara lolongan serigala marah langsung menggema di angkasa raya.
Chen Li dan Huang Taiji Lu berdiri di tengah-tengah para siluman saling memunggungi.
"Paman, kau diam saja dulu. Biar Li'er yang membereskan siluman keparat ini," kata Chen Li percaya diri.
Di samping itu, sebenarnya dia ingin menggunakan tenaga dalam langit bumi dari ayahnya untuk mengeluarkan jurus baru.
Tentu saja Huang Taiji mengerti maksud bocah kecil itu.
"Baiklah. Paman akan melanjutkan minum arak lagi," ucap Huang Taiji lalu duduk bersila di sana.
Para warga langsung melihat kejadian ini dari balik jendela ataupun kamar mereka.
Chen Li maju ke depan. Seruling giok hijau dan Pedang Awan telah digenggam erat.
Dia segera meniup seruling pusakanya dengan jurus Suara Seruling Penyejuk Jiwa.
Alunan nada yang syahdu dan menenangkan mulai terdengar terbawa arah angin. Semakin lama, suaranya semakin membuat hati tenteram. Puluhan siluman perlahan terbuai dalam alunan nada tersebut.
Tetapi mereka segera sadar setelah melihat sinar biru berkelebat sangat cepat ke arah mereka. Sambil terus meniup seruling, Chen Li telah melancarkan aksi pertamanya.
"Merobek Udara di Tengah Badai …"
"Wushh …"
Tubuhnya bergerak seperti bayangan. Sinar biru memecahkan kegelapan malam. Sepuluh sinar berkelebat ke segala arah. Lima kepala siluman serigala langsung menggelinding. Darah menyembur.
Dua puluh lima siluman lainnya tentu saja sangat marah. Mereka melolong panjang dan menyeramkan lalu balas menyerang Chen Li.
__ADS_1