
Kakek Sakti Manusia tersentak kaget. Seumur hidupnya, dia baru mengalami hal seperti ini. Kejadian ini adalah pertama kali dalam hidupnya.
Dia adalah tokoh tua tanpa tanding di Kekaisaran Wei. Kekuatannya sudah tidak bisa dibayangkan lagi. Pengalamannya dalam pertarungan tidak bisa dihitung lagi. Tapi sekarang sepasang kakinya mendadak tidak bisa bergerak, siapa yang sanggup melakukan hal tersebut kalau bukan tokoh yang setara dengannya?
Kakek Sakti Manusia Dewa berusaha menenangkan diri. Dalam keadaan apapun, dia tidak mau bertindak secara gegabah.
Sesaat kemudian, di hadapannya telah berdiri dua sosok manusia yang mampu mengeluarkan suatu kekuatan sangat dahsyat. Usia dua sosok itu hampir setara dengan dirinya. Kemampuan yang dikeluarkan dari tubuh mereka juga hampir setara dengannya.
Siapa mereka sebenarnya? Dari mana asal mereka?
Debu mengepul tinggi lalu terhempas sangat hebat. Hembusan angin berhembus sangat kencang. Tanah bergetar hebat, seolah dari dalam bumi akan keluar satu sosok raksasa yang sangat besar.
Satu orang di antara memakai pakaian berwarna hitam pekat. Aura hitam selalu terpancar keluar dari setiap pori-pori tubuhnya. Di belakangnya terdapat sebatang pedang bersarung hitam pula. Baik pedangnya ataupun pemiliknya, semuanya sama-sama mengerikan.
Sedangkan yang satu lagi memakai pakaian merah darah. Wajahnya lebih sangar. Rambutnya panjang terurai tertiup angin. Di kedua tangannya terdapat dua batang tongkat sepanjang setengah depa. Tongkat itu terbuat dari besi berwarna merah.
Kedua sosok tersebut diselimuti oleh aura hitam dan merah pekat. Kedua aura itu sangat menekan keadaan sekitar. Saking hebatnya tekanan tersebut, Kakek Sakti Manusia Dewa saja dibuat sedikit sesak. Pergerakannya tidak bisa bebas.
Orang tua itu memandang dua sosok tersebut. Dia sedang memandangnya lekat-lekat. Setelah beberapa saat memandang, akhirnya Kakek Sakti Manusia Dewa berhasil mengenali keduanya.
Saat dia telah mengetahui siapa dua sosok tersebut, Kakek Sakti Manusia Dewa terkejut. Tanpa terasa sedikit bergetar. Sepasang matanya melotot seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.
Orang tua itu mendadak mengeluarkan kekuatannya hingga ke titik maksimal. Tujuannya agar dia dapat sedikit membalas tekanan yang diberikan oleh dua tokoh tua tersebut.
Ketiganya sudah berdiri di posisinya masing-masing. Di antara mereka, belum ada yang bicara. Seolah tokoh tua tersebut sedang mengingat-ingat dan mengukur sampai di mana kekuatan lawan.
"Apakah kalian Dewa Hitam dan Dewa Merah?" tanya Kakek Sakti Manusia Dewa.
"Benar, bukankah kau si Kakek Sakti Manusia Dewa?" tanya orang berpakaian hitam yang dijuluki Dewa Hitam.
"Tepat. Ini aku,"
__ADS_1
"Tak kusangka kau masih hidup … hahaha …" kata si Dewa Merah sambil tertawa lantang.
Suaranya menggelegar seperti sambaran halilintar di tengah malam gelap. Dalam suara itu terdapat sebuah kekuatan dahsyat yang disalurkan lewat gelombang suara.
Kalau ada orang lain yang berada di tempat sekitar itu, mungkin telinganya sudah mengeluarkan darah segar. Sebab siapapun yang mendengar, jika tidak mempunyai kekuatan tinggi, sudah pasti orang itu akan mampus seketika.
"Yang seharusnya berkata seperti itu adalah aku," jawab Kakek Sakti Manusia Dewa dengan nada yang sangat dingin.
"Hemm, sekarang kita sudah berjumpa lagi. Sepertinya dendam dua puluh tahun lalu itu bisa diselesaikan sekarang," kata Dewa Hitam dengan tenang.
Kakek Sakti Manusia Dewa tidak langsung menjawab. Dia masih diam sambil memandangi keadaan sekitar. Sepasang matanya menerawang jauh seperti sedang mengingat kejadian puluhan tahun silam itu.
Sebenarnya di antara mereka mempunyai dendam tersendiri. Mereka adalah teman seperjuangan. Tapi karena suatu masalah tertentu, ketiganya memutuskan untuk bermusuhan sampai kapanpun.
Tak disangka sekarang malah bertemu lagi. Yang lebih parah, saat mereka bertemu, ternyata kekuatan ketiganya hampir setara.
Kakek Sakti Manusia Dewa sedikit merasa menyesal. Kalau dia harus melawan dua rekan masa lalunya secara bersamaan, niscaya dirinya tidak akan sanggup. Sebab kedua tokoh tua itu mempunyai kedudukan yang sama dengannya, mereka juga mempunyai pengalaman dan kekuatan yang hampir setara dengan dirinya.
"Baik, kita selesaikan sekarang," jawab Kakek Sakti Manusiw Dewa.
Meskipun dia ragu, meskipun dia sedikit ngeri, namun apapun yang terjadi, dia harus tetap menghadapi. Sebagai tokoh tua tanpa tanding di Kekaisaran Wei, Kakek Sakti Manusia Dewa tentunya tidak mau mengalah begitu saja.
Bagaimanapun juga, dia tidak akan mundur walau satu langkah sekalipun.
"Bagus. Aku memuji keberanianmu. Sayangnya kali ini kau terlalu nekad dan mengambil resiko, sekarang, bersiaplah!!!" teriak si Dewa Merah.
Baru saja selesai ucapannya, sosok yang kekuatannya setara dengan Kakek Sakti Manusia Dewa itu telah tiba di hadapan si orang tua. Serangan pertama datang sangat dahsyat.
Dua buah tebasan tongkat langsung dilayangkan dengan kekuatan penuh. Sinar merah berkelebat cepat. Sinar itu membawa serta kematian bagi lawannya.
Kakek Sakti Manusia Dewa melayang mundur ke belakang. Tangan kanannya bergerak mengikuti arah serangan Dewa Merah. Meskipun hanya menggunakan sebelah tangan, namun nyatanya kakek tua itu sanggup menangkis semua serangan lawan.
__ADS_1
Pada saat demikian, si Dewa Hitam mendadak bergerak. Dia melesat dengan cepat ke depan. Pedang pusaka yang berada di punggungnya telah dicabut lalu melancarkan serangan berupa tusukan.
Tusukan itu sangat dahsyat. Sangat tepat dan mematikan. Incarannya adalah jantung.
Kakek Sakti Manusia Dewa terkejut. Saat itu dirinya sedang bertarung sengit melawan Dewa Merah sehingga dia tidak sempat melihat datangnya serangan lain. Namun pada saat merasakan ada segulung angin menderu lainnya, kakek tua tersebut segera sadar.
Dia kembali melayang mundur ke belakang lalu melompat tinggi untuk menghindari serangan si Dewa Hitam.
Tiga tokoh tua terkuat dari tiga Kekaisaran telah bertarung dengan sengit. Mereka bertarung dengan serius dan bertekad untuk segera melumpuhkan lawannya masing-masing.
Dewa Hitam dan Dewa Merah bekerja sama untuk melawan Kakek Sakti Manusia Dewa. Serangan dahsyat dari keduanya sulit untuk dilukiskan. Siapapun tidak akan ada yang sanggup bagaimana dahsyatnya serangan dua tokoh tersebut.
Wushh!!! Gelegar!!!
Kelebatan bayangan manusia dan suara menggelegar terdengar tiada hentinya. Ledakan demi ledakan terjadi seiring berjalannya pertarungan mereka.
Pertarungan ini sulit untuk dilukiskan dengan jelas. Namun yang pasti, pertarungan tiga tokoh tersebut merupakan pertarungan dahsyat dari pertarungan lainnya.
Wushh!!!
Kakek Sakti Manusia Dewa mengibaskan tangan kanan dan kirinya. Segulung angin panas dan dingin datang menderu menerjang ke arah Dewa Hitam dan Dewa Merah.
Serangan itu lebih dahsyat dari biasanya. Juga lebih mengerikan dari sebelumnya.
Meskipun sudah bekerja sama, namun nyatanya tidak mudah bagi Dewa Hitam dan Dewa Merah untuk membunuh Kakek Sakti Manusia Dewa.
Kakek tua itu selalu dapat berkelit. Dia selalu bisa menghindar dari setiap serangan dahsyat yang diberikan.
"Dua Tongkat Menerjang Badai …"
Wushh!!!
__ADS_1
Dua batang tongkat milik Dewa Merah menebas dengan ganas. Sepasang tongkat itu mirip dua singa yang menyerang dengan kalap.