Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Lima Pembunuh Kilat


__ADS_3

Sepuluh hari sudah berlalu. Kondisi Tiong Jong juga sudah sangat membaik. Sekarang orang tua itu bisa berdiri bahkan dapat menyalurkan tenaga dalamnya. Pemimpin Perkumpulan Pengemis itu sudah sembuh seperti sedia kala.


Chen Li dan Tiong Jong serta Kepala Tetua Sekte Bulan Merah dan yang lainnya sudah berada di halaman utama. Mereka akan berpisah dengan segera.


"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih kepada Tuan muda karena telah menyelamatkan selembar nyawaku. Budi baik ini pasti akan aku balas di kemudian hari," kata Kepala Tetua Sekte Bulan Merah yang bernama Yun Long.


"Tuan Yun tidak perlu sungkan. Ini hanya sesuatu yang kecil, tidak perlu berlebihan. Aku sendiri mengucapkan terimakasih karena sudah dilayani dengan baik di sini. Sungguh, aku merasa tersanjung," katanya sedikit memaksakan untuk tersenyum.


"Aii, mohon maaf kalau kami tidak dapat memperlakukan Tuan muda dengan lebih. Ini, kami mempunyai sedikit hadiah untuk Tuan muda," katanya sambil memberikan Cincin Ruang.


Chen Li segera menolak. Seumur hidupnya, dia berusaha untuk tidak menerima pemberian orang lain. Selama dirinya masih sanggup, Chen Li akan tetap melakukan hal yang sama.


Bukan karena tidak menghargai pemberian orang lain, namun dia tidak mau mempunyai 'hutang' terhadap orang lain. Bukankah setiap hutang harus dan bahkan wajib untuk dibayar?


"Terimakasih Tuan Yun. Sekali lagi aku sangat-sangat berterimakasih, hanya saja maaf, aku tidak bisa menerima pemberianmu. Bukan karena tidak menghargai, tapi karena aku diajarkan oleh kedua orang tua dan guruku. Kalau mau, berikan saja kepada mereka yang jauh lebih membutuhkan," kata Chen Li menolak dengan perkataan yang halus dan santun.


Yun Long tidak mau melanjutkan hal itu lagi, diapun tidak mau memaksa. Bukan karena apa, tapi karena dia sudah tahu orang seperti apa Chen Li ini.


Selamanya, Yun Long tidak mau mencari masalah dengan orang sepertinya.


"Ah, baiklah kalau begitu. Nanti aku akan menyuruh orang-orangku untuk memberikan sesuatu ini kepada mereka yang membutuhkan," jawabnya sambil berusaha untuk tersenyum.


"Itu jauh lebih baik lagi. Kalau begitu, kami pamit undur diri sekarang juga,"


Mereka berpamitan, bahkan sempat juga bersalaman sebelum perpisahan.


Selama Chen Li dan Yun Long bicara, Tiong Jong si Pengemis Berwatak Aneh hanya diam seribu bahasa. Pada dasarnya orang tua itu memang berwatak aneh. Kadang suka bicara, kadang tidak suka. Kadang menangis, kadang tiba-tiba tertawa. Malah tidak jarang dia juga bisa menjadi orang jahat.


Mungkin oleh sebab itulah dirinya diberi julukan berwatak aneh. Karena wataknya memang lain dari yang lain.


Sebagai tokoh angkatan tua, Yun Long pastinya tahu dan faham akan karakter orang tua yang satu ini. Jadi dia tidak merasa heran, juga tidak merasa kesal karenanya.


"Baiklah, hati-hati di jalan. Lain kali kalau ada kesempatan, mampir saja kemari. Kami pasti akan menyambut baik kedatangan Tuan muda," kata Yun Long.


Mereka saling menjura sebelum akhirnya melangkahkan kaki ke luar sekte.

__ADS_1


Yun Jianying tidak hadir di halaman tersebut. Gadis itu memilih untuk melihatnya dari jarak yang cukup jauh. Dia berada di atas, di kamar pribadinya.


Mungkin ketidakhadirannya dikarenakan dia masih kesal kepada Chen Li. Terlepas apapun itu, hal tersebut adalah haknya sendiri. Rasanya tidak ada yang aneh jika dia kesal hingga saat ini. Yang terasa aneh adalah justru senyuman di balik jendela kamar itu, senyuman dingin. Senyuman sinis seperti mengandung maksud tertentu.


Apakah ada rencana yang sedang dia jalankan?


###


Chen Li dan Tiong Jong sudah berada jauh di luar wilayah Sekte Bulan Merah. Kecepatan ilmu meringankan tubuh kedua orang itu patut diacungi jempol. Apalagi mereka terhitung sebagai tokoh kelas atas yang mempunyai kemampuan sangat tinggi.


Selama di perjalanan, belum ada yang bicara di antara keduanya. Tiong Jong hanya tersenyum-senyum seorang diri.


Pada saat mereka sampai di tepi sebuah hutan belantara, tiba-tiba saja Pengemis Berwatak Aneh itu menghentikan langkahnya. Dia yang sebelumnya tersenyum seorang diri, sekarang mendadak memasang wajah serius. Sepasang matanya berkilat memancarkan aura pembunuhan.


Orang tua itu sedang mengawasi keadaan di sekitarnya.


Chen Li tahu akan hal tersebut. Dia juga merasakan hal yang sama, namun di hadapan tokoh tua seperti Tiong Jong, pemuda itu lebih memilih untuk merendahkan dirinya.


"Ada beberapa orang yang mengikuti kita," katanya dengan suara mendalam.


"Benar, memang ada," kata Chen Li menyetujui ucapannya.


"Sepertinya begitu,"


Tiong Jong melangkah beberapa langkah ke depan. Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam lalu mengumpulkan segenap kekuatannya.


"Kalian yang bersembunyi di sekitar ini, keluarlah jika memang jantan. Jangan hanya berani bersembunyi seperti seorang pengecut," teriaknya.


Suaranya angker, seangker wajahnya saat ini. Amarah memancar jelas dari sorot ata itu.


Wushh!!! Wushh!!!


Lima orang bayangan manusia melayang dengan cepat ke arahnya. Kecepatan mereka patut dipuji, bukan saja sangat cepat, bahkan sangat gesit seperti burung elang yang turun ke bawah.


"Kalian manusia rendahan dari mana yang berani membuntuti kami?"

__ADS_1


"Hehehe, orang tua yang sombong. Berani berlagak di depan Lima Pembunuh Kilat …" ejek seorang pria berumur sekitar empat puluhan tahun.


Dia memakai pakaian merah. Di pinggangnya terdapat sebatang golok bersarung hitam legam.


"Perduli setan siapa kalian. Kalau tidak pergi sekarang, jangan salahkan aku jika nyawa menjadi gantinya," bentak Tiong Jong dengan bengis.


"Benar-benar tua bangka tidak tahu diri,"


Chen Li merasa ada yang tidak beres. Terlebih lagi karena dia melihat empat orang lainnya selalu memandang ke arahnya.


"Kalian mencari aku bukan? Kalian ingin membunuhku? Siapa yang menyuruhnya?" tanyanya dengan tatapan tajam.


Lima Pembunuh Kilat tersentak. Rasa kaget ditunjukkan dengan jelas oleh wajah mereka masing-masing. Tapi itu hanya sesaat, karena detik berikutnya seorang dari mereka yang bicara dengan Tiong Jong malah tertawa lantang.


"Kau tidak perlu tahu siapa yang menyuruh kami. Yang jelas, dia seseorang yang pernah kau buat menangis,"


Chen Li tidak terkejut. Sebab dia sudah menduga sebelumnya. Dia pun tidak ingin bertanya lebih lanjut. Karena dirinya sudah tahu siapakah orang itu.


"Baik. Kalau memang kalian dibayar mahal untuk membunuhku, silahkan lakukan. Tapi jangan menyesal jika aku akan bertindak kejam,"


"Persetan dengan ucapanmu …"


Wushh!!!


Satu bayangan melesat ke arah Pendekar Tanpa Perasaan. Hanya sesaat, orang itu telah tiba di hadapannya. Sebatang golok telah terhunus dan siap untuk melancarkan tusukan maut.


Chen Li tidak gentar. Apalagi, dia dapat mengukur kekuatan lima orang pembunuh bayaran itu. Menurutnya, mereka hanya merupakan seorang Pendekar Dewa tahap dua.


Tahapan yang tinggi bagi orang. Tapi tahapan yang biasa saja bagi dirinya.


Crapp!!! Clangg!!!


Golok tiba-tiba terjepit di sela-sela jari tangan kanannya. Sedetik kemudian, golok itu telah patah menjadi dua bagian.


Hanya dalam waktu singkat, Pendekar Tanpa Perasaan telah sanggup membuat setiap orang yang ada di sana terkejut setengah mati.

__ADS_1


###


Maaf ya baru sempet up. Kemarin sistem sempet problem hehe


__ADS_2