Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Harimau Emas


__ADS_3

Shin Shui percaya kepada saudara angkatnya tersebut. Sehingga setelah mendengarkan penjelasannya, dia menjadi sedikit lebih tenang.


Api unggun sudah menyala. Kehangatan segara terasa di dalam goa tersebut. Maling Sakti Hidung Serigala mengajak Chen Li untuk pergi berburu.


"Li'er, mari ikut paman berburu," anaknya kepada Chen Li.


"Ayo paman. Kebetulan sekali, Li'er memang sedang ingin berburu. Ayah, boleh kan Li' er ikut Paman Yang?" tanyanya kepada sang ayah.


"Baiklah. Tapi kau jangan jauh-jauh darinya. Dan ingat, jangan terlalu berlama-lama," ucap Shin Shhi memberi peringatan.


"Baik ayah. Li'er mendengarkan perkataan Ayah,"


Maling Sakti Hidung Serigala lalu mengajak Chen Li ke dalam hutan. Walaupun udara terasa sangat dingin sekali, tetapi bagi keduanya tidak seberapa.


Keduanya berjalan santai. Jika berburu di hutan, selain dibutuhkan ketelitan terhadap keadaan sekitar, juga dibutuhkan ketenagan yang mendalam. Sebab kalau sampai terjadi kesalahan semisal menimbulkan suara, tentu hal itu akan membuat buruan kabur.


Di tengah perjalanan, Maling Sakti memulai pembicaraan secara perlahan supaya tidak membuat binatang takut.


"Li'er, menurutmu, bagaimana sifat ayahmu?" tanya Maling Sakti.


"Eumm …"


"Katakan saja. Paman tidak akan mengadukan kepadanya,"


"Paman janji?"


"Tentu,"


"Baiklah. Menurutku ayah mempunyai sifat yang kadang tidak jelas. Kepada Li'er misalnya, kadang dia tegas. Kadang juga bertingkah seperti teman,"


"Lalu, bagaimana sikap dia dalam memimpin Sekte Bukit Halilintar?"


"Kalau soal ini, menurut Li'er ayah adalah sosok pemimpin yang luar biasa. Dia tidak pernah pilih kasih jika dalam urusan sekte. Jangankan orang lain, andai Ibu atau Li'er melakukan kesalahan, Ayah pasti akan memberikan hukuman yang sama seperti yang telah ditetapkan," jawab Chen Li jujur.


"Menurut Paman Yang sendiri?"


"Apa yang kau katakan sama dengan yang aku pikirkan. Tapi, sayangnya dia masih terlalu gegabah dalam mengambil tindakan. Untung bahwa kekuatannya sudah di atas rata-rata. Sehingga kekurangannya bisa tertutupi,"


"Apakah karena tujuan itu Paman Yang ingin menjadi saudara angkat Ayah?"

__ADS_1


"Tepat. Kau memang lebih cerdas dari pada ayahmu,"


"Paman Yang Terlalu memuji,"


"Bukan memuji. Memang fakta, suatu saat kalau sudah tiba waktunya, paman akan membawamu ke sebuah tempat. Di sana paman akan memberikan sesuatu kepadamu," kata Maling Sakti sambil mengelus kepalanya.


"Apakah paman serius?"


"Tentu. Kau lihat saja nanti. Asal kau menuruti semua perkataan Paman,"


"Baik, Li'er akan menuruti semua perkataan paman," jawab Chen Li.


Di saat keduanya sedang melakukan percakapan ringan supaya tidak merasa jenuh, tiba-tiba terdengar sebuah suara dari balik semak-semak.


Maling Sakti Hidung Serigala memberi tanda kepada Chen Li untuk menutup mulut.


Si bocah pun segera terdiam. Semakin lama diperhatikan, semak-semak tersebut semakin bergerak dengan jelas.


Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara geraman yang keras dan bahkan merontokkan dedaunan yang tertimpa salju.


Harimau Emas.


Menurut penglihatan Maling Sakti, harimau emas itu setidaknya setara dengan Pendekar Langit satu akhir dua awal. Hampir setara dengan kekuatan Chen Li saat ini.


"Li'er, kau melihat harimau itu bukan?" tanya Yang Lin si Maling Sakti.


"Li'er melihatnya Paman,"


"Bagus. Kau ajak dia bertarung. Kalau bisa bunuh saja. Setelah itu kau ambil mustika yang terdapat di tengah-tengah kepalanya,"


"Tapi Paman …"


"Jangan takut. Paman di sini menjagamu. Kau tidak akan kenapa-napa," kata si Maling Sakti. "Anggap saja ini sebagai latihan untukmu. Kalau kau berhasil membunuhnya, kau akan mendapatkan satu mustika," lanjutnya.


"Hemm, baik. Li'er mengerti,"


Tanpa berlama-lama lagi, Chen Li segera keluar dari persembunyian lalu langsung menyerang siluman harimau emas tersebut. Serangan jarak jauh sudah dia lancarkan.


Sebuah sinar putih melesat cukup cepat. Tetapi nampaknya si harimau juga bersikap waspada. Sehingga ketika instingnya merasakan ada ancaman bahaya, dia segera membalikan tubuhnya lalu mengaum untuk menahan sinar tersebut.

__ADS_1


Auman yang dia berikan sangat hebat. Sinar putih yang merupakan serangan jarak jauh dari Chen Li, mampu dipentalkan oleh harimau emas.


Gelombang kejut tercipta. Sinar putih Chen Li menghantam sebuah pohon besar bahkan hingga patah dahannya.


Karena tidak mau memperlambat waktu, Chen Li langsung melancarkan kembali serangannya. Kali ini dia tidak menggunakan serangan jarak jauh, melainkan jarak dekat.


Pedang Awan sudah dia cabut dari sarungnya. Sebuah tebasan dari atas ke bawah sudah dia lancarkan.


Sinar biru berkelebat memecah udara dingin. Tebasan Chen Li terbilang cukup cepat. Tapi gerakan menghindar si harimau emas juga tidak kalah cepatnya.


Saat Chen Li sudah menginjak tanah, si harimau emas segera menyerangnya. Siluman itu menerkam dengan kedua cakar yang tajam dan kuat.


Chen Li bergulingan beberapa kali supaya terhindar dari serangan dahsyat tersebut. Begitu mendapatkan posisi, dia kembali membalas serangan si harimau emas.


Pedang Awan digerakkan kembali. Chen Li segera melancarkan serangan pedang beruntun. Tangannya semakin lincah saat memainkan pedang tersebut.


Setiap kali pedang bergerak, setiap itu juga sinar biru berkelebat. Karena tidak mau membuat Maling Sakti menunggu lebih lama, Chen Li melancarkan jurus pedang yang cukup berbahaya.


Dengan gerakan yang cukup rumit, bocah kecil itu mulai mendesak siluman harimau emas. Kali ini bukan hanya tangannya saja, bahkan kakinya juga turut andil dalam pertarungan.


Mencapai dua puluh lima jurus, nampak terlihat bahwa siluman harimau emas tersebut mulai kewalahan. Berbagai macam luka sayatan pedang sudah terlihat. Bahkan terus mengucurkan darah.


Gerakan si harimau melambat. Semakin lama semakin tidak bertenaga. Pada akhirnya, dia terkapar sendiri dan tidak bergerak lagi untuk selamanya. Mati.


Setelah dipastikan bahwa siluman tersebut benar-benar tewas, Chen Li segera menghampiri dan mengambil mustika siluman yang terdapat tepat di tengah-tengah kepalanya.


Sebuah mustika berwarna kuning emas sebesar jari telunjuk sudah ada di genggaman Chen Li, dia segera kembali ke Maling Sakti Hidung Serigala setelah mendapatkan mustikanya.


Selama pertarungan, si Maling Sakti terkagum-kagum atas gerakan Chen Li yang mantap dan lincah. Dia sendiri juga tidak menyangka bahwa bocah tersebut ternyata memiliki kemampuan bermain pedang. Bahkan permainannya terlihat mantap. Padahal usianya masih anak-anak.


'Anak ini memang mempunyai bakat luar biasa,' batin si Maling Sakti.


"Paman Yang, aku sudah berhasil mendapatkan mustikanya, ini …" kata Chen Li sambil memberikan mustika tersebut.


"Bagus kau memang berbakat. Nanti malam kalau sedang istirahat, paman akan menyaluran kekuatannya kepadamu," ujar Maling Sakti.


"Memangnya untuk apa gunanya paman?"


"Anak bodoh. Tentu saja untuk menambah kekuatanmu. Semakin banyak kau menghisap kekuatan mustika siluman, maka semakin besar juga kekuatan yang akan kau terima. Hanya saja, kau jangan terlalu berlebihan. Sebab bila itu terjadi, akan ada hal buruk yang menimpamu,"

__ADS_1


"Baik. Li'er mengerti," jawabnya.


__ADS_2