Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pergi Dari Gedung Hong Hua


__ADS_3

Para tokoh aliran sesat yang masih berdiri di sana saling pandang. Tidak lama setelah itu, para tokoh tersebut langsung mengambil sebagian harta dari Cincin Ruangnya masing-masing.


Satu orang tokoh dipercaya untuk mengumpulkan harta kekayaan tersebut. Setelah itu, orang yang dipercaya langsung memeriksa jasad si Gendut Cambuk Maut dan lainnya.


Dia mengambil semua harta yang ada di Cincin Ruang para tokoh yang telah mampus. Setelah semuanya terkumpul, tokoh tersebut segera maju ke depan mendekati Pendekar Merah.


"Semuanya sudah terkumpul dalam Cincin Ruang ini. Berapa jumlahnya, aku tidak tahu pasti. Hanya saja menurut perkiraanku, setidaknya dengan semua harta ini kau dapat membeli satu gedung besar di Kotaraja," kata tokoh tersebut dengan suara datar dan tanpa ekspresi.


Chen Li memandangi Cincin Ruang itu sesaat. Setelah itu, dia langsung mengambil.


"Terimakasih," jawabnya masih dingin.


Pendekar Merah langsung melangkah keluar. Dia tidak lagi mempedulikan semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Chen Li bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arah Hong Hua.


Langkahnya masih ringan dan tenang. Dia melangkah dengan penuh rasa percaya diri. Langkahnya juga sangat mantap.


Semua tokoh yang ada di sana memperhatikan dirinya dengan seksama. Pandangan mata mereka mengandung perasaan dendam tersendiri. Mereka ingin bertindak, tapi sayangnya waktu yang tidak tepat.


Sebagai orang yang kenyang akan pengalaman, sudah tentu mereka mempunyai pikiran matang. Mereka tidak mau mati konyol. Lagi pula, siapa yang mai mati begitu saja?


Pada saat hampir tiba di pintu keluar, Hong Hua tiba-tiba melompat dan berhenti tepat di belakang Pendekar Merah sekitar jarak dua langkah.


"Tunggu dulu," katanya singkat.


"Apa lagi? Apakah kau masih mau menghalangi kepergianku? Bukankah urusan kita sudah selesai?" tanya Chen Li sambil membalikkan badannya.


"Tidak, aku tidak akan menghalangimu,"


"Lalu?"


"Aku hanya ingin bicara empat mata denganmu. Besok tengah malam aku tunggu kau di restoran pinggir danau kota ini," ujar Hong Hua dengan serius.


Pendekar Merah mengerutkan keningnya. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"


"Besok kau akan segera tahu sendiri," kata Hong Hua tidak mau memberitahu maksud tujuannya.


"Baiklah. Besok aku akan datang,"


Dia langsung melanjutkan langkahnya kembali. Pintu yang terbuat dari kayu itu dijebol dengan mudah.


Brakk!!!

__ADS_1


Pintu tersebut hancur berkeping-keping. Para tokoh termasuk Hong Hua hanya memandangi di tempat berdirinya masing-masing. Tidak ada yang bergerak ataupun mengambil tindakan di antara mereka.


Pendekar Merah sudah beberapa langkah berada diluar. Pada saat itu, tiba-tiba lima sinar hitam datang menerjang ke arahnya. Sinar itu amat pekat, hawa pembunuhan terasa kental.


Sinar hitam tersebut datang dari segala penjuru mata angin.


Wushh!!!


Crashh!!!


Cahaya merah mendadak muncul kembali. Cahaya itu masih sama dengan sebelumnya. Masih cepat, masih kejam, juga masih menakutkan.


Suara jeritan tertahan terdengar saat itu juga. Begitu suasana kembali seperti semula, lima tubuh telah ambruk ke tanah. Mereka tewas tanpa kepala.


Darah segar membasahi halaman gedung milik Hong Hua. Kejadian ini amat tak terduga sehingga membuat semua tokoh terkejut.


Begitu juga dengan Hong Hua, orang tua itu menyesalkan apa yang terjadi barusan. Dia hanya bisa menghela nafas dalam-dalam sambil menggelengkan kepalanya.


"Ternyata masih saja ada yang bertindak bodoh," gumanya.


Meskipun suaranya perlahan, namun suara itu dapat terdengar jelas oleh para tokoh.


"Mereka benar-benar bodoh. Lain kali kau harus mengajarkan semua anak buahmu agar dapat membedakan mana manusia dan mana iblis," timpal seorang tokoh.


Di luar, Chen Li sudah tidak terlihat lagi. Entah sejak kapan pemuda itu menghilang dari pandangan mata. Yang jelas, sekarang diluar tidak ada siapa-siapa lagi.


Meskipun orangnya tidak ada, tapi hawa kematiannya masih terasa dengan jelas. Sekalipun pedangnya telah lenyap dari pandangan mata, tapi apa yang sudah dilakukan oleh pedang itu masih belum kenyap dari benak para tokoh tersebut.


Pendekar Merah berhasil memberikan sebuah perasaan tersendiri bagi orang-orang tersebut. Kemunculan pemuda itu masih sangat baru, tapi dengan cepat dia telah membuat gempar dunia persilatan.


###


Malam semakin larut. Malam juga semakin kelam. Hawa dingin mulai menusuk tulang. Sinar rembulan telah tertutup oleh awan kelabu. Keadaan dunia mulai gelap. Tapi dalam kegelapan itu, ada satu sosok yang sedang berjalan.


Chen Li berjalan dengan santai. Dia sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekitar. Pemuda itu sedang memikirkan apa yang akan dibicarakan Hong Hua besok hari.


Wushh!!!


Tiba-tiba segulung angin dingin menerpa ke arahnya dari samping sebelah kanan. Chen Li melompat cukup tinggi tepat sebelum sinar itu mengenai tubuhnya.


Blarr!!!


Satu batang pohon tumbang. Asap putih mengepul tinggi ke langit.

__ADS_1


"Siapa di sana?" tanya Chen Li entah kepada siapa.


"Benarkah Tuan adalah Pendekar Merah?" sebuah suara tiba-tiba terdengar. Dari arah samping kanan, dari balik pepohonan tinggi, tiba-tiba muncul satu sosok.


Sosok itu berpakaian serba putih. Sepasang alisnya tebal. Matanya cekung. Wakahnua pun telah mengkerut. Ternyata dia seorang pria tua.


Pendekar Merah memandangi orang tua itu dengan tatapan penuh selidik.


"Benar, siapakah senior?" tanya balik pemuda itu.


"Aku hanyalah orang tua yang tidak mempunyai nama," katanya lemah lembut.


"Apakah ada urusan yang perlu dibicarakan?"


"Tidak ada, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada saudara muda," katanya sambil tersenyum.


Pendekar Merah mengerutkan kening karena kebingungan. Terimakasih, terimakasih karena apa? Memangnya dia sudah melakukan apa untuk orang tua tersebut?


"Maaf, apakah senior bisa menjelaskan kenapa secara tiba-tiba mengucapkan terimakasih kepadaku?"


"Aku mengucapkan terimakasih karena saudara muda telah berani menghancurkan markas Organisasi Elang Hitam," katanya sambil tersenyum.


"Senior tidak perlu seperti itu, mereka memang pantas untuk mati. Karena itulah aku membunuhnya,"


"Benar, mereka memang pantas mati. Aku memuji keberanian saudara muda karena telah menghancurkan organisasi besar itu,"


"Terimakasih atas pujian senior, kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan, aku harus pergi sekarang. Masih ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan," kata Pendekar Merah merendah sambil menjura memberikan hormat.


"Tidak ada. Aku hanya meminta saudara muda agar lebih berhati-hati lagi karena sekarang dirimu sudah menjadi incaran seluruh kaum persilatan. Terlebih lagi para tokoh aliran sesat,"


"Terimakasih atas peringatan senior. Aku akan selalu mengingat ucapan ini,"


"Bagus. Kau harus ingat bahwa nyawamu terancam. Kematian bisa menghampirimu setiap saat,"


"Baik, sekarang, aku pamit undur diri," ucap Pendekar Merah.


Wushh!!!


Sebelum Chen Li melangkah lebih jauh, tiba-tiba saja sinar putih keperakan mendadak melesat dari arah belakangnya. Sinar itu amat cepat dan membawa kekuatan dahsyat.


Trangg!!!


Benturan pedang terjadi. Si kakek tua yang baru saja bicara dengannya tiba-tiba mendadak menyerang. Untung bahwa Pendekar Merah selalu berada dalam keadaan siap siaga.

__ADS_1


"Kalau mau bersandiwara, setidaknya kau harus dapat melakukannya jauh lebih baik lagi. Jika kau berpikir bahwa diriku bakal lupa segalanya karena sebuah pujian, maka kau sudah melakukan kesalahan besar," kata Pendekar Merah dengan dingin.


__ADS_2